Salsa berdiri di depan pemanggang roti dengan wajah ditekuk. Baru kali ini dalam sejarah kariernya sebagai dokter, dia merasa libur adalah sebuah siksaan.
Biasanya, mendengar kata rumah sakit saja sudah membuatnya ingin memeluk bantal lebih lama karena muak dengan bau obat dan teriakan pasien IGD.
Tapi sekarang? Dia rela jaga double shift demi menghindari atmosfer mencekam di rumah ini.
"Mendingan dengerin curhatan pasien darah tinggi daripada dengerin aturan situ," gumam Salsa pelan.
Di meja makan, Elang sudah duduk dengan kemeja bersih yang sudah rapi—pria ini bergerak sangat cepat, seolah mandi dan berpakaian hanya butuh waktu lima menit.
Di depannya hanya ada secangkir kopi hitam tanpa gula.
Salsa meletakkan dua tangkup roti bakar di depan Elang dengan gerakan sedikit menyentak.
"Makan," cetus Salsa sinis.
Elang melirik roti itu, lalu beralih ke Salsa. "Saya tidak minta sarapan berat."
"Ini cuma roti, bukan nasi padang. Secara medis, situ butuh glukosa buat otak. Kopi doang cuma bakal bikin asam lambung situ naik, terus nanti kena gerd, mual, muntah, ujung-ujungnya saya juga yang repot harus kasih penanganan pertama," cerocos Salsa dengan nada ala dokter yang sedang memarahi pasien bandel.
"Jadi pengacara hebat kalau lambungnya bolong juga percuma."
Elang menatap Salsa datar selama beberapa detik. Salsa sudah bersiap akan menerima denda atau perdebatan panjang, namun tak disangka, Elang justru menarik piring itu dan mulai memakan rotinya dengan gerakan yang sangat sopan dan tenang.
"Terima kasih, Dokter," ucap Elang pendek setelah satu gigitan.
Salsa tertegun. Dia baru saja mau lanjut mengomel, tapi langsung mati kutu karena Elang tidak melawan.
Selesai dengan rotinya—yang dihabiskan tanpa sisa—Elang meminum kopinya sekali teguk, lalu berdiri sambil merapikan jam tangannya.
"Saya pergi sekarang. Ada kasus penting yang harus diselesaikan dengan klien," ujar Elang sambil menyambar tas kerjanya.
Salsa melongo, roti di mulutnya hampir jatuh.
"Hah? Situ... pergi kerja? Sekarang?"
"Tentu saja. Kamu pikir saya hanya diam di rumah?"
"Bukannya situ libur? Maksud saya, kita kan baru ... maksudnya ini kan hari pertama setelah—" Salsa mendadak gagap.
Dia mengira pengacara kaya seperti Elang setidaknya akan mengambil cuti satu atau dua hari untuk pencitraan pernikahan di depan keluarga.
"Klien saya tidak peduli saya baru menikah atau tidak. Mereka butuh kemenangan di pengadilan, bukan alasan pribadi pengacaranya," jawab Elang dingin sambil berjalan menuju pintu depan.
"Jangan keluar rumah tanpa izin saya. Dan tolong, jangan buat rumah ini seperti kapal pecah saat saya kembali."
Salsa menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega karena si kutub utara itu pergi, tapi ada juga rasa kaget yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Gila ya ... beneran nggak ada romantis-romantisnya sama sekali," Salsa mengembuskan napas kasar. "Tapi baguslah! Akhirnya gue bisa napas bebas!"
Baru saja Salsa hendak bersorak kegirangan dan mulai menyusun rencana untuk menguasai rumah, tiba-tiba pintu depan kembali terbuka.
Elang melangkah masuk dengan wajah yang masih sedatar papan gilasan.
Salsa yang sedang berdiri di tengah ruang tamu sambil memegang remah roti, langsung gelagapan.
"Lho? Kok balik lagi?! Katanya mau ketemu klien? Situ lupa naruh otak atau gimana?" cerocos Salsa refleks karena kaget.
Elang tidak menyahut ejekan itu.
Ia berjalan mendekat ke arah Salsa, mengabaikan wajah istrinya yang sudah pucat karena takut omelannya tadi terdengar.
"Berikan ponselmu," pinta Elang sambil menengadahkan tangan di depan Salsa.
Salsa mengerjap, ia memegang saku celananya dengan protektif.
"Hah? Buat apa sih? Ngapain minta-minta ponsel saya? Situ mau periksa riwayat pencarian saya ya? Atau mau pasang alat penyadap?"
Elang tidak sabar menunggu. Tanpa aba-aba, ia merebut ponsel dari tangan Salsa dengan gerakan cepat khas pria yang terbiasa bertindak efisien.
"Heh! Itu privasi, Pak Pengacara!" seru Salsa protes, berusaha mengambil kembali ponselnya namun Elang mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh.
Jari-jari panjang Elang bergerak lincah di atas layar ponsel Salsa. Ia mengetikkan sesuatu, lalu menyimpan nomornya sendiri di sana.
Setelah selesai, ia menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan Salsa yang masih melongo.
"Telepon hanya kalau urgent," ujar Elang singkat dan tegas.
"Jangan kirim pesan sampah, meme, atau keluhan tidak penting soal fasilitas rumah ini. Paham?"
Setelah kepergian Elang, Salsa benar-benar merasa seperti ratu di istana megah itu.
Ia berhasil menemukan harta karun di balik pintu pantri yang ternyata berisi kulkas khusus bahan makanan yang sangat lengkap.
Meski semuanya tersusun berdasarkan kategori warna dan tanggal kedaluwarsa, Salsa tidak peduli.
"Akhirnya bebas dari pengawasan sipir penjara!" seru Salsa kegirangan.
Ia menghabiskan waktu dengan sangat santai. Menyiapkan camilan sehat lalu menguasai sofa ruang tengah yang empuk untuk menonton drama Korea favoritnya di TV layar lebar milik Elang.
Menurutnya, nikah itu harusnya membawa kebahagiaan seperti ini, bukan tekanan batin.
"Enak banget kalau kayak gini terus. Untung aja si pengacara itu nggak libur. Bagus, deh."
Namun saat asyik tertawa melihat adegan komedi di layar, Salsa menyadari piring camilannya kosong. Ia beranjak menuju dapur, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah pintu kayu besar di dekat lorong yang tadinya ia kira adalah bagian dari dinding.
"Ini ruangan apa ya, dari tadi kok gak keliatan ada pintunya," gumam Salsa penasaran.
Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Salsa memutar knop pintu itu. Pintu terbuka dengan suara decitan halus. Ternyata itu adalah akses menuju ruang penyimpanan stok keperluan rumah tangga yang cukup luas. Salsa melangkah masuk, mencari saklar lampu di dinding.
Lampu menyala remang-remang. Salsa berjalan lebih dalam, mengagumi betapa rapinya Elang menyimpan stok deterjen dan tisu.
Namun secara tiba-tiba, sebuah embusan angin dari jendela kecil di ujung ruangan membuat pintu berat itu tertutup dengan kencang.
Brak!
Salsa tersentak dan langsung berlari ke arah pintu, mencoba membukanya dengan paksa.
"Eh, kok nggak bisa?"
Salsa memutar knopnya berkali-kali namun tetap terkunci. Sepertinya kunci otomatisnya aktif dari luar.
Detik berikutnya, lampu yang tadinya remang-remang mendadak berkedip dua kali lalu padam total. Seluruh ruangan menjadi gelap gulita tanpa celah cahaya sedikit pun.
Napas Salsa mendadak tercekat. Tangannya yang memegang pintu mulai gemetar hebat. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di ruangan itu menghilang seketika. Ini adalah ketakutan terbesarnya. Trauma masa lalu yang kembali menghantui, alasan yang sama mengapa dulu ia mendadak lemas dan gagal saat ujian praktik spesialis di dalam ruangan gelap. Pandangannya mulai kabur dan keringat dingin membasahi punggungnya.
"Tolong, siapa pun tolong," suara Salsa parau dan nyaris habis karena rasa takut yang mencekik lehernya.
Ia merogoh saku celananya dengan tangan yang sangat gemetar. Ia ingat punya ponsel. Dengan cahaya layar yang minim, ia membuka daftar kontak.
Hanya satu nama yang melintas di kepalanya.
Persetan dengan aturan jangan menelepon kalau tidak mendesak. Baginya, ini adalah masalah hidup dan mati.
Salsa menekan tombol panggil pada kontak yang ia beri nama Kulkas Dua Pintu.
"Angkat, Elang tolong angkat," bisik Salsa sambil terisak. Tubuhnya perlahan merosot jatuh ke lantai dan meringkuk di sudut pintu yang gelap.
Di sebuah restoran hotel mewah yang tenang, Elang duduk berhadapan dengan seorang klien penting. Suasana serius menyelimuti meja mereka sementara Elang menjelaskan poin-poin hukum dengan intonasi yang sangat teratur.
Namun, fokusnya terganggu saat ponsel di atas meja bergetar, menampilkan nama kontak yang baru saja ia simpan tadi pagi.
Elang mengernyitkan dahi. Ia meminta izin sebentar kepada kliennya dengan anggukan sopan, lalu menggeser layar ponsel dan menempelkannya ke telinga dengan raut wajah datar.
"Ada apa? Kenapa telepon? Saya sedang ada pertemuan," ucap Elang ketus.
Bukannya jawaban ketus balik yang ia terima, Elang justru mendengar suara napas yang memburu dan isak tangis yang tertahan di ujung telepon.
"Tolong, aku terkunci di gudang persediaan. Tolong, aku sesak," suara Salsa terdengar sangat kecil dan gemetar, disusul oleh suara benda jatuh yang menandakan wanita itu sudah tidak sanggup lagi berdiri.
"Halo? Hei, kamu kenapa??!"
Raut wajah Elang yang tadinya tenang mendadak berubah tajam.
Ia teringat kembali pada data riwayat kesehatan Salsa yang sempat ia baca sekilas dari kakeknya, tentang alasan kegagalan Salsa di ujian spesialis. Matanya menyipit, menyadari bahwa situasi ini jauh lebih serius daripada sekadar drama terkunci di kamar mandi.
"Tetap di sana, jangan matikan ponselnya, kamu denger, kan??" perintah Elang sambil langsung berdiri dari kursinya.
"Tolongg...." Suara Salsa terdengar makin lemah.