Penyelamat Salsa

1352 Kata
Tanpa memedulikan tatapan heran klien di hadapannya, ia melangkah lebar meninggalkan area restoran hotel. Saat berada di lorong yang lebih sepi, Elang kembali menempelkan ponsel ke telinga. Suara di seberang sana tidak lagi mengeluarkan kata-kata, melainkan hanya suara tarikan napas pendek yang patah-patah, persis seperti seseorang yang sedang kehilangan akses oksigen ke paru-parunya. "Hei, dengar saya. Kamu harus mengatur napas kamu," ucap Elang dengan nada yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski jemarinya yang menggenggam kunci mobil kini bergetar samar. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gesekan tubuh Salsa yang sepertinya sedang berusaha mencakar pintu atau dinding dalam kegelapan. Elang masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin dengan sekali sentak. Ia menginjak pedal gas lebih dalam dari biasanya, melajukan kendaraan membelah kemacetan kota dengan manuver yang sangat berisiko bagi seorang pengacara yang biasanya taat aturan lalu lintas. "Sial ayo cepat." Elang mendesis saat melihat kendaraan lain yang berjalan sangat lelet. "Ah b******k!" umpatnya tak sadar. Mobilnya kembali melaju kencang, dia tidak mau jika Salsa sampai tumbang sebelum ia tiba di rumah. Sampai di rumah, Ia berlari masuk, mengikuti arah lorong menuju gudang persediaan. Saat ia sampai di depan pintu kayu itu, suasana sangat hening, namun dari dalam terdengar suara rintihan halus, suara Salsa. "Salsa! Minggir dari pintu!" teriak Elang sambil merogoh kunci cadangan di saku jasnya. Pintu terbuka dengan sentakan keras. Begitu cahaya lampu lorong masuk ke dalam ruangan, Elang terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Salsa meringkuk di pojok ruangan. Wajahnya pucat pasi, dibasahi keringat dingin dan air mata, sementara matanya yang terbuka lebar terlihat kosong dan penuh ketakutan hebat. Salsa tidak sadar bahwa pintu sudah terbuka. Ia terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas sambil gemetar hebat. Tubuhnya mengalami tremor traumatis yang sangat kuat. Elang segera berlutut di sampingnya. "Hei, kamu gapapa? Lihat, ini saya, Elang. Pintunya sudah terbuka. Ada cahaya di sini," ucap Elang sambil mencoba menyentuh bahu Salsa yang kaku. Salsa tersentak, ia memekik kecil dan mencoba menjauh lebih dalam ke sudut dinding. Ia benar-benar sedang berada di dalam serangan panik yang akut, di mana otaknya terjebak dalam memori kegelapan yang menghancurkan kariernya dulu. Melihat kondisi itu, Elang tidak punya pilihan lain. Ia meraih kedua tangan Salsa yang dingin dan gemetar, memaksanya untuk melepaskan cengkeraman pada lehernya sendiri, lalu menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. "Bernapas, ayo. Ikuti hitungan saya. Satu, dua, tiga, buang," bisik Elang tepat di telinga Salsa. Elang menggendong tubuh Salsa yang masih lemas menuju kamar utama. Ia merebahkan wanita itu dengan perlahan di atas ranjang, memastikan tumpukan bantal menyangga punggungnya agar Salsa bisa bernapas lebih lega. Sisa-sisa trauma masih terlihat jelas dari jemari Salsa yang terus meremas ujung sprei dengan kaku. Salsa tidak sanggup mengeluarkan suara banyak. Dengan gerakan gemetar, ia menunjuk ke arah tas kerja yang ia letakkan di dekat meja rias. "Obat," bisik Salsa sangat pelan. Elang langsung bergerak cepat. Ia membongkar isi tas Salsa hingga menemukan sebuah botol kecil berisi obat penenang. Tanpa perlu banyak instruksi, Elang mengambil segelas air putih dari nakas dan membantu Salsa meminum obat tersebut. Ia menyangga tengkuk Salsa dengan telapak tangannya, membiarkan wanita itu meneguk air hingga obatnya tertelan sempurna. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Perlahan, napas Salsa mulai kembali ke ritme normal dan tremor di tubuhnya perlahan surut. Elang masih berdiri di sisi ranjang, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah pucat istrinya itu. "Kenapa kamu harus pergi ke gudang itu?" tanya Elang dengan nada yang sulit ditebak. "Ada banyak ruangan di rumah ini, dan kamu memilih masuk ke tempat penyimpanan yang kuncinya otomatis?" Salsa mendongak, menatap mata Elang yang tajam namun tampak menyimpan sedikit sisa kecemasan. Alih-alih menjawab, pertahanan diri Salsa justru runtuh. Ia mendadak menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa sangat terhina oleh kelemahannya sendiri. Elang menggeram frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tidak tahu harus berbuat apa menghadapi wanita yang sedang menangis setelah hampir kehilangan kesadaran di pelukannya. Ia paling tidak bisa menangani emosi yang meluap-luap seperti ini. Salsa menarik napas panjang di balik telapak tangannya, suaranya terdengar serak dan penuh rasa bersalah tanpa berani menatap Elang secara langsung. "Maaf," ucap Salsa lirih. "Kamu pasti rugi besar karena harus pulang mendadak hanya untuk menyamperin aku." Elang mendengkus keras, sebuah tawa hambar keluar dari bibirnya. Ia melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik sejak ia melajukan mobil tadi. "Ya," sahut Elang dingin. "Kamu baru saja membuat klien saya komplain untuk pertama kalinya dalam sejarah Elang Pratama menangani kasus. Reputasi profesional saya sedikit tercoreng hari ini karena ulah cerobohmu." Salsa semakin menenggelamkan wajahnya, merasa benar-benar menjadi beban bagi pria yang baru menikahinya secara kontrak itu. Namun, meskipun kata-katanya pedas, Elang tidak beranjak pergi. Ia justru duduk di kursi dekat ranjang, seolah sedang memastikan bahwa efek obat penenang itu benar-benar bekerja dan Salsa tidak akan pingsan lagi. Salsa tidak lagi menyahut ucapan tajam Elang. Efek zat kimia dari obat yang baru saja ia telan mulai bekerja menyerang sistem sarafnya. Isak tangisnya mereda, berganti dengan helaan napas yang panjang dan dalam. Elang yang sedang memperhatikan jam tangannya menyadari perubahan itu. Ia melihat kepala Salsa perlahan terkulai ke samping, sementara tangannya yang tadi menutup wajah kini terkulai lemas di atas sprei. Wanita itu akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang dipaksakan oleh obat penenang tersebut. Elang berdiri lalu mendekat ke arah ranjang. Ia menatap wajah Salsa yang masih menyisakan jejak air mata di pipinya. Dalam kondisi tidur seperti ini, Salsa tidak terlihat seperti dokter galak yang hobi mendebatnya, melainkan hanya seorang wanita yang tampak sangat rapuh dan menyimpan luka yang dalam. Elang menghela napas panjang lalu menarik selimut hingga menutupi bahu Salsa. Ia sempat tertegun sejenak saat tangannya hampir menyentuh dahi Salsa yang masih dingin, namun ia segera menariknya kembali. "Kamu benar-benar merepotkan, Salsa," bisik Elang pelan, hampir tidak terdengar. Elang kemudian mengambil ponsel Salsa yang tergeletak di lantai, lalu meletakkannya di nakas. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang ada di sudut kamar, berniat menghubungi asistennya untuk menjadwalkan ulang pertemuan dengan klien yang tadi ia tinggalkan. Namun, matanya tertuju pada jasnya yang tergeletak di kursi. Bau parfum Salsa dan sisa aroma obat kini menempel di sana. Sesuai dengan kebiasaan OCD-nya, Elang seharusnya langsung melempar jas itu ke keranjang pakaian kotor dan mandi hingga bersih. Tapi anehnya, ia justru hanya menatap jas itu lama sebelum akhirnya duduk dan mulai mengetik permohonan maaf profesional kepada kliennya. *** Salsa akhirnya bangun. Kepalanya terasa sangat berat, sebuah efek sisa dari obat penenang yang ia konsumsi. Ia mengerjap berkali-kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat tercerai-berai akibat serangan panik tadi. Saat mencoba menggeser posisi duduknya, Salsa baru menyadari bahwa ia tidak sendirian. Di kursi samping ranjang, Elang duduk dengan kacamata bertengger di hidungnya. Pria itu tampak sangat fokus menatap layar laptop yang diletakkan di atas pangkuannya, sementara setumpuk berkas berhamburan di meja nakas. Elang tidak langsung menoleh, namun ia seolah tahu bahwa istrinya sudah terbangun. Jari-jemarinya yang panjang berhenti menari di atas keyboard. Ia menutup laptopnya dengan gerakan tenang, lalu melepas kacamatanya. "Sudah bangun?" tanya Elang dengan nada bicara yang sangat datar. Salsa hanya mengangguk pelan. Ia masih merasa sedikit malu untuk menatap mata Elang secara langsung. "Jam berapa sekarang?" "Hampir jam lima sore," jawab Elang singkat. Ia meletakkan laptopnya ke meja lalu beralih menatap Salsa sepenuhnya. "Bagaimana perasaanmu? Apa napasmu masih terasa sesak?" Salsa menarik napas dalam-dalam, mencoba merasakan paru-parunya sendiri. "Sudah jauh lebih baik. Maaf, saya benar-benar tidak sengaja merepotkan kamu sampai kamu harus bekerja dari rumah begini." Elang mendengkus pelan, namun kali ini tidak terdengar sekasar sebelumnya. "Saya hanya tidak ingin kakekmu menelepon dan menanyakan kenapa cucunya pingsan di rumah saya. Itu akan menjadi masalah hukum yang panjang bagi saya." Salsa mencebikkan bibir. "Tetap saja ujung-ujungnya soal hukum. Kamu benar-benar tidak bisa bicara manis sedikit saja ya?" Elang tidak membalas sindiran itu. Ia justru berdiri dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut di bagian perut, bekas pelukan Salsa saat tidak sadar tadi. Ia teringat kembali bagaimana rasanya tubuh Salsa yang menempel padanya, namun ia segera menepis pikiran itu jauh-jauh. "Kalau sudah merasa kuat, turunlah. Saya sudah memesan makanan karena kamu belum makan siang tadi," ujar Elang sambil melangkah menuju pintu kamar. "Dan tolong, jangan pernah masuk ke ruangan mana pun di rumah ini tanpa tahu cara membukanya dari dalam."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN