Satria : Usaha Pertama

3437 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Satria Ardana: Hi, Kaila Ayunda? Remember the one who chit-chatted you at Perpustakaan Kota a week ago? I’m him.   Apa, ya, yang dipikirin Satria pas tiba-tiba kepingin banget ngechat Kaila? Sampai-sampai ini kayak gak bisa ditahan lagi gitu, loh, keinginannya. Ibaratnya, kalau dia udah kebelet boker dan udah nyampe ujung, gak bisa di-nanti-nanti lagi. Harus sekarang. Well, jawabannya gampang. Seorang Satria Ardana adalah salah satu manusia di muka bumi yang paling gak suka ada sesuatu yang membuat isi kepalanya terdistraksi.  Apapun yang bikin fokusnya buyar, harus segera dia carikan solusinya. Maka hal itu juga berlaku untuk kali ini. Karena Kaila Ayunda belakangan selalu menempati isi kepalaya di setiap sudut, bahkan parahnya Satria sampai seolah ngelihat Kaila dimana-mana padahal bukan, cowok itu memilih menuntaskan rasa penasarannya. Padahal kalau dipikir-pikir, sedikit aneh karena Satria bisa-bisanya jatuh cinta secepat ini lewat hal sederhana. Kagum pada tawanya, cara bicaranya, wajah naturalnya, dress putihnya dari awal dia bertemu, atau... semuanya tentang Kaila. Itu namanya love at a first sight, kata salah satu temannya dari Lima Hari kala memberitahunya kesimpulan atas apa yang dia rasakan. Satria cuman mencibir, tapi dalam hatinya gak menolak. Toh dia merasa itu memang benar walaupun enggan mengakui. Tuhan memang selalu membuat kejutan pada umatnya. Mana pernah Satria pernah kepikiran jatuh cinta kepada gadis yang bahkan hanya satu kali dia temui? Beruntung Satria menikmati perasaannya saat ini. Ia menyukai bagaimana wajah Kaila yang terukir di kepalanya selalu membuat dia tersenyum seorang diri, melamun di antara keramaian, hingga pening di kepala karena Satria ingin jumpa. Mengapa tak dari dulu saja Satria bertemu Kaila? Mengapa baru sekarang? Padahal dia yakin, apa bila mereka ditemukan lebih cepat, maka Satria dan Kaila mungkin sudah menjalin hubungan yang awet hingga bertahun-tahun. Astaga, tolong pukul saja kepala Satria yang terlalu banyak berhalusinasi belakangan ini. Gila. Satria yang sekarang benar-benar bukan Satria Ardana yang dulu. Cinta memang membuat orang jadi bodoh. Satria sendiri yang dulu menciptakan kesimpulan itu kala mendapati salah satu temannya di Lima Hari jatuh cinta hingga seperti orang t***l. Tapi lihat bagaimana karma masih berlaku dan membuatnya mendapat balasan atas apa yang dulu dia cela kepada orang lain? Satria kini seperti laki-laki bodoh, literally. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Kesabaran Satria benar-benar diuji oleh Kaila Ayunda. Pesan singkat yang ia kirim di DM tersebut bahkan harus menunggu hingga empat hari sebelum Kaila akhirnya memberi balasan. Satria jadi curiga sedikit. Apakah gadis itu sengaja tidak membalasnya dan mengulur waktu, atau memang tidak membuka aplikasi sosial media belakangan ini, atau mungkin pesan yang dia kirim itu tidak muncul di notifikasi mengingat keduanya belum saling mengikuti akun satu sama lain? Satria bahkan hampir menyerah kemarin, atau tepatnya dua hari yang lalu. Dia mendapati akun Kaila yang tidak digembok itu sedang membuat InstaStory. Satria padahal belum mengikuti akun gadis itu, tapi dia nekat saja membuat namanya muncul menjadi salah satu akun yang menonton InstaStory Kaila. Gadis itu tak terlalu suka berfoto sepertinya. Karena di hari pertama Satria menemukan akun Kaila, dia memang sudah banyak mencari tahu dan mengambil kesimpulan tersebut. Dari enam belas jumlah foto yang diposting, hanya ada empat atau lima foto yang menampilkan wajah gadis itu, dan di antara beberapa foto tersebut, Kaila tidak pernah dipotret seorang diri. Selalu bersama teman-teman atau keluarganya. Kalau kali ini Satria boleh sok tahu dan sok jadi cenayang—atau akan lebih baik jika dipanggil Psikolog saja agar lebih halus—dia akan memberikan tebakan bahwa Kaila tidak terlalu memiliki kepercayaan diri untuk memotret diri sendiri apa lagi sampai memposting fotonya di sosial media. Sebenarnya ada opsi lain yang akan Satria simpulkan untuk para perempuan yang jarang memposting foto. Yang pertama adalah sesuai dengan tebakannya pada sang pujaan hati—jiakh—alias Kaila, lalu yang kedua adalah karena malas dan tak suka jadi pusat perhatian. Tapi karena bagi Satria, Kaila tidak bisa masuk di opsi kedua, maka opsi pertamalah yang jadi pilihannya. Kali ini, ketika laki-laki itu membuka hape dengan tangan kirinya yang masih sibuk mengusak rambut basahnya dengan handuk karena dia baru selesai mandi,  bibirnya jadi melengkungkan senyum karena tepat saat layarnya menggulir ke arah bawah dari paling atas, dia mendapati ada notifikasi dari Kaila Ayunda di aplikasi Instagramnya.   Kaila Ayunda : Satria?   Hanya satu kata sebagai jawaban. Itu bukan berarti Kaila memanggil namana, tapi memastikan atas kalimat yang dikirim oleh Satria beberapa waktu lalu. Jemarinya segera mengetik balasan, dia sudah tidak peduli dengan tetesan air dari rambutnya yang turun membasahi lantai kamarnya. Fokus Satria sudah sepenuhnya berpindah pada ruang obrolan antara dirinya dengan gadis yang entah kini sedang apa. What a cute ‘pendekatan’ thing. Satria rasa dia bisa gila hanya karena membayangkan wajah gadis itu yang mungkin kini sedang ada di balkon dengan laptop di pangkuan dan beberapa tumpuk buku di meja sampingnya.   Satria Ardana : Iya. Glad to know that you’re still remember   Usai mengirim pesan tersebut sebagai jawaban, Satria malah langsung merutuki diri sendiri. “Anjir, kenapa cringet banget, woi?! Gue tarik aja apa, ya?” Padahal cuman perkara chat. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  I've been running from the pain Trying not to feel the same But it's a shame that we're sinking See, my confidence is shaking And my heart is feeling vacant So you try to fill it in You say "I could fix the broken in your heart You're worth saving darling" But I don't know why you're shooting in the dark I got faith in nothing But love, pray for me I never had somebody So I don't know how to love Pray for me I know I need somebody So I can learn how to love   I know it's been a while Cause my memory's on trial For the way I used to be My head is running miles Round in circles and I try To find the little light in me You say  "I could fix the broken in your heart You're worth saving darling" But I don't know why you're shooting in the dark I got faith in nothing   But love, pray for me I never had somebody So I don't know how to love Pray for me I know I need somebody So I can learn how to love   * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Tapi sayangnya, obrolan Satria dengan Kaila melalui Direct Message di Indtagram tidak cukup efektif. Satria tidak dapat menjangkau gadis itu lebih jauh karena Kaila jarang membuka i********:, sesuai dengan pengakuan Kaila beberapa hari lalu saat ia tanya mengapa gadis itu jarang terlihat online di i********: setelah dia meminta follow back. Malu? Enggak. Satria sudah terlahir jadi manusia yang selalu optimis dalam meraih cita-citanya. Sekali dia mau akan seustau, maka sekuat tenaga ia mencari cara agar apa yang ia inginkan bisa ada dalam genggaman. Bukan berarti dia terbiasa egois dan mau menang sendiri, bahkan orang-orang di sekitarnya tahu betapa Satria banyak mengalah walaupun lebih banyak yang menganggap bahwa dia ini terlalu sentimental atas hal-hal di sekitarnya. Ah, terserah apa kata orang, dia tak mau banyak peduli. Mengenai Kaila, gadis itu benar-benar sejarang itu membuka aplikasi sosial media. Satria kira sejarang apapun manusia milenial begini tidak membuka aplikasi, tetap saja mungkin sehari sekali. Tapi sayangnya, pesan terakhirnya bahkan tidak kunjung dibaca setelah tiga hari berlalu. Satria mencari cara lain, tentu saja dengan bantuan teman baiknya, anak Lima Hari, yang sebenarnya dia sendiri gak sengaja meminta saran. Tapi kayak pada gak apal aja sama anak Lima Hari. Kalau gak kepo dan tukang maksa, ya, namanya bukan anak Lima Hari. Makanya pas mereka lagi kumpul di studio tanpa ada niat latihan karena niat mereka cuman sebatas nongkrong dan istirahat dari riuhnya tugas perkuliahan, Satria yang wajahnya sedang kusut dan kelihatan lagi mikir banget, mana dikit-dikit ngecek hape itu, Jefran jadi memberi bensin di dalam obrolan, yang disambut semangat oleh Brian, Wildan, juga Dafi kemudian. “Cerita, dong, ada apaan.” “Gak usah tanya ada apaannya, Bri. Tanya perkembangan hubungan dia sama si cewek yang kemarin dia incer itu, dong.” “Oooh, jadi masih mikirin yang itu? Emang belum jadian, ya? Perasaan udah dua minggu yang lalu.” “Hampir,” ralat Satria sembari mendengkus ke arah Wildan yang tadi menyahut. “Hampir jadian. Hampir dua minggu yang lalu.” “Intinya almost is never enough.” Brian malah ngakak dengan kalima Jefran yang gak berbobot itu, tapi sayangnya orang-orang di ruangan itu malah sama terbahaknya. Menertawakan entah apa, atau mungkin entah bagian yang mana, tapi yang   Satria cuman bisa menggeleng-gelengkan kepala menatap satu-persatu temannya yang mana emang receh banget dari jaman orok. Tapi setelah itu, mereka juga kembali ke fokus dan berakhir bikin Satria gak ada pilihan lain sebelum akhirnya memilih membuka suara dan menceritakan permasalahannya. Well, gak bisa disebut permasalahan juga, sih, karena mereka bahkan belum memulai apapun. Setelah empat pria disana mendengarkan dengan seksama walaupun tetap dibumbui oleh candaan dan ledekan yang hadir entah dari salah satu atau salah dua atau malah semuanya, akhirnya keluar juga nasihat yang dinantikan oleh Satria sejak dari awal mereka berlima mengobrol. Jefran, walaupun laki-laki itu dikenal slengean dan susah diajak serius, apa lagi kalau udah menyangkut cewek dan t***k bengeknya, bakalan berubah seratus persen menjadi Mario Teguh kalau udah disuruh ngasih saran. Bener-bener seolah cowok itu beneran mau overthinking cuman buat bantuin temennya yang lagi ada problem. Beneran segitunya. Apa lagi ditambah alasan bahwa dia memang pembicara yang baik, maka dari Jefran selalu diterapkan dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya. Karena selain mendapatkan hati seorang perempuan dengan menggunakan satu kali kedipan mata, keunggulan Jefran yang lain adalah kepiwaiannya dalam menaklukan seseorang dan merubah pola pikir orang itu melalui cara yang tak diduga-duga. Lihat saja kali ini. Bahkan baru juga Jefran berdeham demi menarik perhatian, dia udah mendapat perhatian itu dari teman-temannya. Empat orang yang lain tahu apa yang hendak dilakukan oleh Jefran Lee Samuel ini segera memasang telinga baik-baik, siapa tahu dapat petuah dari Baginda Raja Milenium yang satu ini. “Kalau kata gue, sih, ya...” Jefran mematikan ujung rokoknya ke asbak, matanya masih menunduk gak berminat menatap siapapun hari ini karena moodnya lagi jelek. “Lo pernah bilang dia sekelas sama kita, kan?’ “Sekampus kali, anjing,” Brian terbahak. Jefran nyengir. “Iya, sekampus. Salah ngomong,” dia noleh ke Satria kemudian. “Iya, sekampus? Fakultas mana?” “Anak Biologi.” “Buset selara Bapak Satria, nih, emang gak main-main,” Brian ngakak lagi. Dafi sama Wildan cuman geleng-geleng kepala gak paham. Brian kenapa, dah, doyan ngakak sama hal yang bahkan dia dan yang lain gak tahu letak lucunya, tuh, dimana? “Selera dia cewek-cewek pinter, kutu buku, doyan ke perpus, pakai dress floral kemana-mana,” ledek Jefran sambil angguk-angguk kepala. “Noted.” Satria cuman memutar bola matanya. “Jadi lanjut gak lo ngasih saran tadi?’ “Jadi, dong. Sabar, Pak. Waktu kita masih banyak,” Jefran sengaja menggoda biar Satria makin jengkel. “Intinya—“ “Kenapa gue gak samper aja ke Biologi, ya?” gumam Satria tiba-tiba membuat Jefran langsung berdiri antusias. “Ya gue emang mau ngomong gitu, Anjir! Keduluan.” “Iya juga, ya,” Dafi ikut berkomentar. “Tapi jangan ngegas-ngegas amat, dong, Bang. Soft aja gitu pergerakannya.” “Soft kayak apa?” “Ya elah, ini bapak satu emang, ya. Intinya jangan terlalu nunjukin kalau suka. Kalem-kalem aja. Kalau sesuai dari cerita lo, gue yakin, nih, pasti gebetan lo bukan tipe cewek yang bar-bar apa lagi punya mantan banyak.” Satria setuju sama itu. Sekali lihat aja bisa ketebak, kok, kayak apa Kaila Ayunda ini. Mana namanya udah nunjukkin betapa kalem dan gak neko-nekonya perempuan itu. Kalau lagi kayak gini, pepatah yang bilang bahwa jangan menilai sesuatu hanya berdasarkan covernya jadi tak terasa benar. Lihat aja. Ini anak Lima Hari, lima-limanya, pada mikir satu pikiran tanpa mengenal Kaila secara langsung apa lagi sampai mendalam. Benar-benar warning agar adegan ini tidak ditiru. Gimanapun hal yang kayak gini jelas bukan hal yang baik. “Jadi takutnya dia kabur gitu, loh, Bang kalau lo ngebetnya kebangetan. Dia bisa-bisa lari karena takut, dikira lo orang gila atau psikopat.” Satria mengumpat kepada Dafi yang kini nyengir karena merasa senang sudah berhasil sudah memancing amarah Satria. “Anjir lo. Gak begitu juga, Kali.” “Ya, kan, jaga-jaga jeleknya.” Jefran mengangguk setuju. “Yang smooth aja, Sat. Lo kalau mau ke gedungnya Biologi, pura-pura aja ada urusan gitu. Terus gak sengaja ketemu si Kaila. Kalau kayka gitu, dia, kan, bakal mikir kalau lobukan stalker. Jujur, punya stalker agak serem gak, sih, menurut lo pada?” “Iya.” jawab yang lain kompak. “Nah, begitu maksud gue.” Satria kemudian menepuk-nepuk pundak Devon. “Oke, oke. Makasih, ya, Bos. Emang terbaik banget lo kalau soal beginian.” “Gak gratis, ya. Sarapan sebulan di ibu kantin sabi, lah!” Jefran lalu tertawa keras, gak merasa bersalah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Gak perlu menunda-nunda, Satria langsung melaksakan rencananya hari itu juga. Dia gak ngomong ke temen-temennya, sih, kalau hari ini banget mau sok-sokan ke gedung anak Biologi cuman buat nemuin Kaila. Lagi pula buat apa beginian doang aja ngomong dan pamitan dulu ke temen-temennya? Masalahnya, nih, ya, kalau dia ngomong ke mereka, dia harus menghadapi ledekan yang gak ngerti kapan habisnya. Salahin Jefran sebagai kompor dan tukang ngisi bensin yang demen banget kalau ada temennya yang ternistakan. Sebagai persiapan—iya, dia emang niat banget—Satria memilih membawa buku Biologi yang sebenernya dia asal ambil judul aja pas di rak perpustakaan kampusnya. Dia udah menyusun rencana gimana nanti kalau misalnya dia ketemu Kaila dan ditanya kenapa anak Teknik Sipil bisa sampai Fakultas MIPA begini. Well, sebenernya bukan berarti di kampus Satria—atau bahkan Satria jamin di kampus lainnya pula—gak pernah ada larangan buat anak fakultas A ke gedung fakultas B. Bahkan misal mahasiswa kampus A ke kampus B buat main doang juga gak bakal ada yang ngelarang. Alias gak melanggar aturan dan hukum kayak misalnya lempar bom atau minimal main merconan di depan gedung rektorat gitu, deh. Oke, back to the topic. Saat ini, cowok yang baru turun dari motornya yang sudah ia parkirkan dengan rapi juga helm miliknya yang udah bertengger di atas spion motor kesayangannya itu sedang merapikan rambut. By the way, jangan tanya kenapa dia pakai naik sepeda juga karena—man, dari gedung fakultasnya ke gedung fakultas Kaila itu sama sekali gak deket. Yang ada dia keburu capek dan ngos-ngosan pas nyampe di depan Kaila. “Oi, Sat.” Sapaan itu membuat laki-laki tersebut memutar badan lalu menemukan salah satu teman SMA-nya sedang berjalan mendekat sambil tersenyum sumringah. Keduanya memang cukup dekat dulu sebelum kelulusan, apa lagi daftar ke kampus ini juga bareng-bareng, hingga mengurus administrasi dan MOS aja mereka kemana-mana berdua. Namanya Anggoro. “Woi, aduh, apa kabar, nih, Bro? Gak pernah nongol ke rumah perasaan,” ujar Satria sambil ketawa. Agakya dia emang rindu sama teman lamanya ini. “Baik, baik, alhamdulillah,” Anggoro menepuk pundak Satria beberapa kali. “Bukan gue yang gak nongol, ya, Sat. Lo aja yang sekarang lagi sibuk banget. Udah jadi artis sekarang.” Satria tergelak dalam tawa mendengar itu. “Artis apaan, Anying. Gak ada yang begituan.” “Suara lo sekarang ‘kan disetel dimana-mana. Lo gak usah sok merendah gitu, lah. Gue, nih, juga salah satu pendengar Lima Hari, loh.” “Waduh, jadi malu gue.” “Halah taik.” Mereka berdua ketawa. “Lo ngapain anak Teknik tiba-tiba nongol di MIPA? Mau gergaji tumbuhan?” “Bangke,” Satria bener-bener gak bisa banget gak ketawa kalau ngobrol sama Anggoro. Dari dulu, temen baiknya dengan rambut kriwil ini memang suka ngomog asal nyeplos—yang kadang blak-blakan dan bisa nyakitin ati banget—tapi lebih banyak bikin ngakaknya. “Ya, kali.” “Oh, nyamberin cewek lo, nih, jangan-jangan?” Satria mesem aja dalam hati. Ngebayangin suatu hari nanti memperkenalkan Kaila sebagai ‘ceweknya’ agak membuat dia sedikit tersipu. Oke, bohong, gak cuman sedikit, coi. “Kagak, mana ada gue cewek? Gue mau, nih—“ Satria menunjukkan dua buku tebal yang ia bawa di gendongannya, memperlihatkan judul buku pada Anggoro lalu melanjutkan. “Gue mau nganter ini ke temen gue. Dia anak FMIPA.” “Ooh. Repot banget sampe mau nganterin buku. Temen lo namanya siapa emang? Gue anterin misal gue tahu orangnya yang mana.” Ya, sebenernya kalau aja Satria gak bohong, dia jelas mengangguk semangat atas penawaran Anggoro ini. Gimanapun, dia tahu kalau Anggoro memang kenal banyak mahasiswa FMIPA karena jabatannya sebagai ketua HMJ. Tapi masalahnya, dia kan lagi bohong. Emang mau minta anter kemana? Satria meringis sambil menggaruk hidungnya. “Ah, namanya.... Ka... Kiara!” Gak tahu, deh. Dia asal nyeplos aja. “Oh, Kiara anak A9 bukan, sih?” “A... iya, kali, ya?” “Loh? Kok kali, ya?” “Gue lupa nanya dia offering mana.” Anggoro manggut-manggut aja, percaya. Cowok itu otaknya pinter di bidang akademis dan kepemimpinan doang tapi gampang dikibuli ternyata. “Ya udah, ayok, gue anter. Tadi gue sempet ketemu sama Kiara di lantai dua—“ “Oh, gak usah, gue sendirian aja gak papa. Gue.. gue juga mau jalan-jalan juga, sih, soalnya. Liat-liat gedungnya anak FMIPA. Jadi, gue sendirian aje. Santai, lah, Nggor sama gue.” By the way, for your information aja, nih, Anggoro tuh panggilannya Angga. Nama dia emang susah mau dipanggil gimana apa lagi nama lengkapnya cuman Anggoro doang, gak ada embel-embel yang lain. Jadi cowok kriwil itu selalu memperkenalkan diri ke teman-temannya mulai dari SMP dulu hingga kuliah saat ini untuk memanggilnya Angga aja biar gampang. Tapi pengecualian buat temen-temen deket yang selalu manggil dia Nggor. Nggor doang gak pake embel-embel lain. Kedengeran aneh dan gak enak di lidah emang, tapi gak tahu kenapa Satria udah nyaman juga manggil Nggor-Nggor mulu. “Oh, gitu?” “Iye. Tadi lo bilang Kai—eh Kiara dimana? Lantai dua, ya? Oke, oke, gue kesana. Keburu anaknya ngambek. Makasih, ye, infonya.” “Yoi, sans.” “Kapan-kapan ke rumah gue sabi, lah,” ujar Satria sebagai penutupan sambil menepuk-nepuk pundak Anggoro sebagai tanda perpisahan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN