* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Apa alasan gue menciumnya tiba-tiba? Gue sendiri juga gak tahu. Ciuman itu terjadi begitu aja—iya, of course gue sengaja menciumnya, tapi gue gak pernah benar-benar proper buat menyiapkan dan merencanakan ini.
Melihat cewek di depan gue gak mau membagi cerita tentang kesedihan yang membuat matanya tampak tak punya gairah hidup, gue terganggu. Gue gak suka ngelihat dia sedih. Aneh, kan? Padahal siapa, sih, gue di hidup dia? Bukan siapa-siapa, man.
Atas permintaan gue yang berbisik di depan bibirnya bahwa gua gak mau dia sedih, bahwa gue meminta dia untuk gak sedih dan berhenti sedih atas apapun yang bikin dia kayak gini, gue mencumbu bibirnya lagi. Kali ini lebih dalam dari yang sebelumnya.
Dia nampak masih tertegun atas kalimat gue, terlihat bagaimana dia tampak tak membalas gue sampai beberapa detik kemudian kala gue menggigit bibir bawahnya, barulah dia tampak sadar dari lamunannya dan gue rasain dia memberi feedback yang sama seperti gue.
Gue menyukai gimana cara Gea mencium gue. Softly yet sexy. Tangan kanannya bahkan naik ke rahang gue, mengusapnya naik turun dengan jempolnya, membuat darah gue berdesir. Bukan karena gue tiba-tiba nafsu dan pengen ngapa-ngapain dia, bukan, atau setidaknya belum. Tapi yang gue rasain ketika dia semakin memiringkan wajah agar dapat merasai bibir gue lebih banyak, gue merasa hati gue menghangat. Serius.
Kayak apa, ya. Gue mikir, wah beneran, nih, dia nyium gue selembut ini? Apa maksudnya, nih?
Bahkan gue gak bisa menahan senyuman di antara ciuman gue sama dia. Tapi baru gue akan menyentuh pinggangnya dan mengangkat pinggulnya agar dia mau naik ke pangkuan gue, dia melepas ciuman. Padahal tangan gue belum nyentuh sama sekali.
Gue urungkan niat gue itu. Lagi pula untuk pertemuan pertama sama cewek yang bener-bener memberi gue rasa ketertarikan begini besarnya, gue kira ciuman kami memang harus hanya sebatas ‘ciuman’. Gak boleh ada frech kiss, make out, apa lagi sama tahap lebih jauh dari itu.
Kenapa? Bukannya gue juga kepancing pengen yang lebih?
Ya emang.
Tapi bukan berarti gue gak punya manners. Haha, coba aja anak Lima Hari denger gue ngomong kayak gini, pasti diketawain. No wonder juga, sih, karena selama ini gue bodo amat sama manners kalau ke cewek. Suka, tertarik sama fisiknya, gue bawa dia ke hotel, setelah beraktivitas di atas kasur, gue pulang, dia pulang, selesai.
Sayangnya, sama Gea gue gak bisa kayak gitu. Bukan gak bisa, lebih tepatnya gue gak mau.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah ciuman itu, dia menjauh dengan canggung. Gue gak ngerti kenapa juga dia harus canggung sementara yang nyium dia duluan aja gue? Tapi karena pikiran cewe emang susah ditebak, gue memilih mencairkan resiko aja dari pada kebanyakan mikir.
“Lo udah makan?” tanya gue saat dia masih menunduk dengan menggoyang-goyangkan kakinya. Kedua tangan dia Gea taruh di samping tubuh untuk menyangga badan.
Mendengar pertanyaan itu, mau gak mau dia akhirnya mengangkat kepala, menatap gue sebelum menggeleng.
“Ada bahan mentah di kulkas lo?”
“Enggak ada.”
“Oke, kayaknya kita pesen online aja,” usul gue kemudian jempol gue mengarah ke bibirnya, mengusap jejak basah karena saliva kami yang barusan beradu, lalu memberinya senyum manis.
Terus coba apa yang gue dapetin habis itu? Dia blushing! She’s freaking blushing! Bisa lo bayangin gak, sih, gimana bisa cewek sangar ini merona merah pipinya padahal gue cuman ngusap bibirnya—yang mana itu sebenernya juga bentuk tanggung jawab gue karena guelah penyebabnya.
Oh, damn. She’s so cute i can’t help. Batin gue geregetan.
Gue berdeham kemudian memilih buat merogoh ponsel di saku celana, membuka aplikasi berwarna putih dan hijau, lalu mencari makanan yang tepat buat makan malam.
“Lo mau makan apa?” tanya gue di sela kegiatan scroll hape.
Gue meliriknya sekilas yang kini memilih berdiri dari kursi bar dan menaruh gelas minumannya yang mungkin udah kosong karena dia sekarang berjalan ke arah wastafel dan menaruh gelas disana.
“Apa aja yang penting seafood.”
“Lo suka seafood?”
“Gak fanatik, cuman sekarang lagi pengen itu.”
Gue manggut-manggut paham. “Nasi goreng seafood?”
“Boleh.”
“Oke.”
Gue langsung menekan angka dua sebagai berapa banyak makanan yang gue pesan, lalu menaruh ponsel di meja bar. Karena gak tahu mau ngapain, gue memilih berlagak jadi siswa yang patuh dengan menaruh kedua tangan yang terlipat di atas meja, sementara mata gue mengamati setiap pergerakan gadis itu.
Gea lagi membuka kulkas, dia berjongkok untuk mengambil sesuatu sebelum kemudian berdiri dan ternyata tangannya sudah berisi sebuah box es krim. Dia membawa benda itu ke tempat lain. Saat melewati gue, dia berujar.
“Ke ruang tengah aja sambil nonton tivi.”
Lo pada tahu gak apa yang gue pikirin pas dia ngomong kayak gitu?
Dia gak lagi bersikap dingin ke gue, gak lagi jutek, dan terlihat gak terganggu karena gue lagi di apartemennya. Progres yang lumayan cepat, kan, berarti? Gue gak bisa menahan rasa excited di dalam hati. Jadi gue langsung berdiri dan menyusul perempuan itu. Duduk di sampingnya yang lagi ngotak-atik remote TV.
Kebayang, kan, secocok apa gue kalau pacaran sama dia? Hehe.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Intinya yang malem itu terjadi, intimasi di antara gue sama dia gak lebih dari ciuman tersebut. Sembari menunggu makanan datang, gue banyak berbincang sama dia—yang mana gue bakal jujur kalau gue yang lebih banyak bacot. Ya gimana lagi, coba? Dia bukan tipe cewek rame yang bisa cari topik. Itu aja beruntung dia udah gak nyuekin gue lagi dan mau nanya balik beberapa kali.
Dari malam itu, gue bisa mendapat banyak informasi tentang sosok Gea, ya, walaupun bukan informasi berharga kayak rahasia-rahasianya. Lagian pasti dia juga mikir, lah, buat apa nyeritain rahasia ke orang asing kayak gue.
Tapi walaupun begitu, gue tetep seneng. Dari percakapan sederhana antara dia dan gue, banyak kesimpulan yang dapat gue ambil dan itu bikin gue punya banyak clue atas kayak gimana nanti gue harus menghadapi dia ke depannya.
“Main Ask and Ask mau, gak?”
Dia noleh sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Tahu game-nya, kan?”
“Tahu. Kayak wawancara itu, kan?”
Gue ketawa denger jawabannya. “Ya bukan wawancara juga, sih. Kalau wawancara, kan, yang tanya cuman satu pihak dan pihak lainnya bagian jawab. Kalau ask and ask—“
“Iya, tahu. Ask and ask itu gue nanya, lo jawab, abis itu gantian.”
Gue menjentikkan jari. “Nah, itu.”
“Lo gabut banget, ya?”
Kali ini gue mengedikkan bahu. “Buat ngisi waktu aja sambil nungguin makanan dateng. Dari pada hening begini macem du kuburan.”
“Mana ada hening?” dia mendengus geli. “Ini tivi nyala kenceng lo, Jef.”
Gue meringis. Padahal gue tahu dia, tuh, tahu juga kalau gue cuman pengen banyak ngobrol aja sama dia. Cewek kayak Gea gak mungkin gak apal sama kelakuan cowok kayak gue. Dia juga pasti tahu kenapa gue mengusulkan game Ask and Ask alih-alih ada kartu uno, domino, hingga balok kayunya di depan kami. Emang apa lagi kalau karena gue emang pengen tahu banyak soal dia?
Dan hal itu ternyata ditegaskan lagi oleh gadis cantik yang duduk bersila di samping gue dengan toples kue kering di atas pahanya.
“Lo segitu pengen tahunya soal gue, ya?” katanya sambil tersenyum miring.
Gue ngangguk aja. Lagian ngapain bohong kalau dia aja udah tahu? Lagi pula bohong, kan, dosa.
“Not gonna lie, iya.”
Dia mendengus mendengar kejujuran gue. “Gue gak semenarik itu, anyway.”
“Emangnya lo bisa lihat diri lo sendiri? Gak, kan? Lo gak tahu di mata orang lo kayak gimana.”
“Lo yakin gue lagi jomblo?”
Pertanyaan baru yang terlontar cukup mengejutkan gue. Oke, gak cuman cukup tapi mengejutkan gue banget. Tandai, banget. Gue langsung mengumpat dalam hati, kenapa gue gak inget soal yang satu ini? Kenapa dari kemarin-kemarin gue gak mastiin dulu? Iya, iya, kok gue b**o, ya? Gimana kalau dia punya suami malahan? Atau setidaknya tunangan? Atau yang lebih mending lagi pacar. Tapi mana ada yang ‘mending’ kalau deketin cewek yang punya pawang? Jefran, mah, ogah.
Dia diem sebentar sambil ngelihatin Gea yang mengangkat alis, dia masih menyeringai, seolah mengejek gue dan menginjak harga diri gue. Kalau dipikir-pikir, cewek secantik dia emang gak mungkin banget gak ada cowok yang deketin. Tapi gue mencoba positive thinking dulu aja, lah.
“Yakin,” jawab gue sok yakin, padahal mah ragu banget.
“Kenapa bisa yakin?”
“Hmm,” gue bergumam sesaat. “Pertama, kalau lo ternyata punya cowok, lo gak mungkin ke kelab sendirian juga di balkon ngelamun kayak—“
“Punya atau gak punya cowok, dua hal itu bisa dilakuin semua cewek.”
Iya, sih...
“Kedua,” gue memilih lanjut. “Kalau lo punya cowok, lo gak bakal ngizinin gue nganter lo dan mampir kesini, selarut ini.”
Dia diem, gak punya sanggahan, dan itu bikin gue tersenyum sumringah karena kemungkinan tebakan gue benar seratus persen.
“Dan yang ketiga, kalau lo punya cowok, lo gak mungkin bales ciuman gue.”
Skakmat gak lo, Ge? Gue tertawa jahat dalam hati. Seringai gue semakin lebar saat dia memutar bola matanya.
“Bener, kan, gue?”
“Lupain soal ciuman itu.”
“Tapi bener gak gue?”
“...”
“I take it as a yes,” gue tertawa pongah. “And about that sweet kiss, gue gak mau. Kenapa lo minta gue ngelupain? Gue aja suka.”
Dia mengalihkan wajah ke arah lain kala gue menjawab kayak gitu.
“Jadi gimana?”
Kali ini Gea melotot. “Apanya yang gimana?!”
Kayaknya dia mikir ke arah lain. Gue gak bisa menahan tangan gue untuk gak bergerak mengacak rambutnya. “Jadi main Ask and Ask gak, nih?”
“O-oh,” dia menggosok hidungnya. “Oke, ayo.”
Ya elah, Ge, Ge. Mikir kemana, sih, lo?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Ladies first,” gue berujar lalu menyeduh green tea buatannya yang belum habis juga itu.
Dia menggaruk keningnya bingung, lalu menatap gue seolah meneliti. Gue mengangkat alis, penasaran juga pertanyaan apa yang bakal pertama kali dia tanyain ke gue.
“Kenapa lo tertarik sama gue?”
Ah, udah gue duga, sih, kalau ini yang bakalan dia tanyain.
“Lo menarik. Rrr, cantik, hot. Sorry but the looks come first.”
“Tipikal cowok bajingan.”
“Hei,” tegur gue tapi sambil ketawa. “Lo belum lihat alasan kedua gue.”
“Apa?”
“Lo punya sudut pandang berpikir yang berbeda. Inget pas di balkon gue sempet curhat ke elo? Mungkin bagi lo, lo cuman lagi asal ngomong dan asal ngasih saran. Tapi it hits different for me.”
Dia manggut-manggut. “Good reason.”
“I know. My turn. Lo tinggal sendirian di apartemen ini?”
“Iya.”
“Kenapa gak—“
“Satu pertanyaan gak, sih, Jef?”
“Oke, oke,” gue mengangkat kedua tangan tanda menyerah dan mengalah. “Your turn.”
“Tell me your energy.”
Gue menelengkan kepala. Kalau ini adalah pertanyaan ujian sekolah, pasti udah masuk soal kuis pengayaan karena jawabannya bakal panjang. Tapi buat cewek ini apa, sih, yang enggak?
“Positive or negative?”
“Both.”
Gue jadi berasa ditanya sama guru BK yang suka nyuruh ngejelasin sifat-sifat diri sendiri. Ini agak susah karena gue gak pedulian sama diri sendiri. Tapi let me try it.
“Positifnya banyak.”
Baru ngomong dua kata, dia udah senyum geli duluan. Gosh, dibanding gue ngerasa sakit ati karena gue tahu dia senyum karena ngeledek kepercayaan diri gue yang gue akuin di atas rata-rata ini, gue malah seneng, merasakan sesuatu di dalam hati yang membuncah karena senyum Gea, nih, one of a kind dari yang lain. Manis banget.
“Gue loyal—sama temen maksud gue.”
“Kalau di suatu relationship lo gak loyal?”
Gue meringis. Tapi gak mau menjawab lebih lanjut. “Terus gue mandiri, gue bisa cari duit sendiri, gue bisa apa-apa sendiri, gue cakep, gue social butterfly—“
“Jef, Jef,” dia menahan tawanya. “Enough. Sekarang yang negatif.”
“Gue suka kepedean.”
Kali ini Gea beneran ketawa ngakak, gue ngefreez lagi. Serius gak sih ini? Serius dia ketawa gara-gara gue?
“Itu emang harus disebutin nomor satu, sih,” katanya di sela-sela tawa.
“....lo cantik kalau lagi ketawa,” gue jadi melengkungkan senyum pas tawanya jadi luntur, mungkin Gea malu? “Serius, banyakin ketawa. Lo cantik banget.”
Dia langsung berdeham, gue pastiin dia beneran salah tingkah. God please, gue bukan orang pertama yang muji dia, kan, selama dia hidup di dunia?
“Oke, next yang jelek apa.”
Dan malem itu, seperti yang gue bilang di awal tadi, gue sama Gea bertukar banyak cerita melalui game sederhana tersebut. Gue banyak tahu tentang dia, dia banyak tahu tentang gue. Kita berhenti main game kala makanan udah dateng. Lalu setelah makan, gue beneran balik ke dua lantai di atas lantai Gea ini. Yah, walaupun agak berat karena pengennya tetep disana, tapi gue udah punya banyak rencana untuk besok, besok, dan besoknya lagi. Sama Gea.
Gue berterimakasih kepada Tuhan atas malam itu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Terhitung ini udah dua minggu setelah malam permainan Ask and Ask di rumah Gea.
Meninggalkan gadis itu—malam itu—dengan binar cerah di wajahnya karena emang dia banyak ketawa padahal gue ngelawak aja enggak—tapi tetep gue bersyukur atas itu, membuat gue keesokan harinya kebelet nemuin dia banget.
Karena gagal bangun pagi, gue akhirnya baru turun ke lantai apartemennya di pukul satu siang. Gue udah harap-harap cemas, takut kalau dia gak lagi di apartemen mengingat sekarang lagi weekend yang kemungkinan di jam segini dia lagi main atau apa.
Tapi ternyata gue salah. Gea membukakan pintu.
“Ngapain?”
Gue nyengir aja, kemudian bilang kalau gue bermaksud ngajakin dia nonton. Dia bingung banget, tuh. Mana dia nanya mau nonton film apaan di bioskop—padahal gue jawab ngajakin dia nonton itu jawaban dadakan karena gak kepikiran yang lain. Jadilah gue jawab dia pakai cara yang aman aja.
“Nanti gue kasih tahu gue pengen nonton apa.”
Kabar baiknya, dia gak menolak dengan alasan kalau dia gabut di apart dan lagi pengen keluar. Karena suasana di bioskop pada diem banget karena emang gak boleh berisik, artinya gue sama dia juga gak bisa banyak ngobrol. Jadi setelah nonton, gue ngajakin dia ke food court dengan alasan lapar dan sekalian tanggung jawab ke anak orang yang gue bawa main ini.
Dia ngangguk-ngangguk doang.
Oh, tahu sesuatu yang jadi kabar terbaiknya?
Gea mau banyak membuka obrolan lebih dulu. Gak tahu apa gue doang aja yang terlalu lebai, tapi menurut gue ini kemajuan pesat. Kalau diinget gimana dia pas ketemu gue di kelab malam, gue gak nyangka malam bermain Ask and Ask bisa merubah segalanya.
Dia bahkan gak sungkan nanya jadwal gue nanti malem kemana, apa gue ada acara ngeband atau gak—well, gue yang cerita kalau gue punya band namanya Lima Hari makanya dia tahu—dan pertanyaan ringan lainnya.
“Kenapa gak lo putusin pas jauh-jauh hari?” tanya gue ke dia yang barusan cerita soal mantannya.
Sebenarnya gue literally banyak tahu. Kayak soal mantan toxicnya yang main tangan ke dia sayangnya Gea b**o banget dengan bilang dia terlanjur cinta jadi gak mau mutusin.
“It’s like, i’m better feel hurt than feel empty. Paham gak, sih, lo? Jadi gue bertahan dan baru berani mutusin dia pas udah masuk perkuliahan.”
My poor girl.
Cowok g****k mana yang berani nyakitin fisik dan batin cewek sesempurna Gea? Andai waktu bisa diputer, gue bakal cari cara dan maksa Tuhan biar gue ketemu Gea duluan dibanding mantan edannya cewek ini.
“Tapi sekarang gimana? Udah gak gamon?”
“Gak, lah. Gila kali?”
“Good,” gue mengangguk-angguk senang. “Kalau gitu gue gak perlu repot-repot nyingkirin mantan lo.”
Gea udah terbiasa dengan candaan seperti ini. Candaan yang mana padahal gue ngomong serius soal perasaan tapi dia nerimanya as a joke.
Dia ketawa doang denger omongan gue.
Setelah pergi ke bioskop di hari itu, gue banyak main ke apartemennya. Saking gabutnya di apartemen sendiri, juga sekaligus niat PDKT biar makin lancar. Gea gak pernah lagi keberatan tiap gue ajak jalan. Dia kelihata udah fine sama kedekatan kami.
Sampai saat yang gue tunggu tiba.
Terhitung satu bulan penuh gue mendekati Gea, dari kemarin gue udah ngerencanain pengen cepet-cepet nembak dia. Gue gak mikir banyak selain gue tahu dia udah suka gue, gue juga udah nyaman sama dia dan gak pernah noleh-noleh ke yang lain lagi, bahkan hebatnya efek Gea sampai-sampai bikin gue baru inget kalau sebulan ini gue gak pernah ‘jajan’ di kasur orang. Padahal dulu boro-boro, deh, bisa sebulan puasa begini.
Hari ini, gue gak bilang kalau mau ngajakin dia keluar emang, lagi pula gue juga belum tahu mau ngajak kemana. Tapi pas gue menekan bel pintu apartemen, gue dikejutkan dengan dandanan Gea yang macem gembel—tapi dengan catatan gembel cantik, ya.
Rambutnya awut-awutan dan dijepit gak rapi sementara tangannya memegang sapu. Gue masuk sambil nanya.
“Lagi ngapain, dah?”
“Nyari kecoa.”
“Hah, ada kecoa?”
Dia mengangguk, raut wajahnya emosi. Melihat penampilan dia sekarang, gue tebak dia udah lama nyari kecoa ini dan belum ketemu sampe sekarang.
“Kok rambut lo sampe kayak gini, sih?” gue ketawa sambil memberihkan beberapa debu di antara helai rambutnya.
“Nyarinya aja ke kolong-kolong. Lagian apaan banget, sih, kecoa, nih? Bisa-bisanya kemarin gue tidur tiba-tiba ada yang ngerayap di kaki gue.”
Gue bergedik ngeri ngebayangin. Walaupun sebenernya gue juga bukan takut sama kecoa ataupun serangga manapun, tapi ngebayangin ada hewat yang ngerayap di kaki... s**t, siapa yang gak geli, sih?
Karena kasihan ngelihat Gea dan lagi pula gue juga gak mungkin ngajak dia jalan begini, gue memilih menawarkan bantuan untuk mencari kecoa sekaligus membersihkan barang-barang di apartemennya yang tergeser kesana-kemari, gue tebak masih karena cari kecoa.
Gak butuh waktu lama buat nemuin kecoa yang Gea maksud—karena katanya cuman ada satu, jadi gue pastiin kecoa yang gue temuin di bawah wastafel kamar mandi kamar Gea itulah pelakunya. Kemudian gue sama dia sepakat buat beres-beres ngebersih kekacauan kami—iya, gue juga ngeberantakin karena sempet angkat meja dan kursi buat nyari hewan sialan itu.
Gak ada lima belas menit gue nyapu, pinggang gue kerasa encok banget. Gue mengumpat nama hewan dan mengeluh, bikin Gea yang lagi ngelapin meja gak jauh dari tempat gue berdiri jadi noleh dan ketawa.
“Inilah saudara-saudara pentingnya olahraga minimal seminggu sekali,” katanya nyindir.
Gue cuman meringis doang. Emang, sih, gak bisa ngebantah karena gimanapun gue emang males banget kalau disuruh olahraga. Beda sama Gea yang jogging dan ngegym rutin makanya badannya kebentuk bagus, banget.
“Taruh aja sapunya. Gue yang bersih gak papa.”
Gue gak jawab iya atau enggak, melainkan memilih mengamati cewek cakep itu yang lagi telaten banget ngelapin lemari sambil sesekali bersin karena kena debu. Entah dapet keberanian dari mana, otak gue lancang banget tiba-tiba mikirin gimana kalau dia jadi istri gue. Kejauhan banget, iya, gue tahu. Tapi ya mana gue tahu kalau gue tiba-tiba ngehalunya sampai situ.
“Ge,” panggil gue sambil mendekat.
Sapu yang dari tadi gue pegang udah gue sandarin ke dinding sementara yang gue pegang saat ini adalah segelas air mineral buat Gea.
“Nih.”
Dia tersenyum. “Makasih.”
“Kalau capek nanti aja dibersihin lagi. Istirahat dulu.”
“Nanggung, Jef.”
Gue kembali membenarkan rambutnya yang udah berantakan lagi, menggulungnya sembarangan yang penting terlihat lebih rapi dari sebelumnya.
“Sayang gak, Ge, sama gue?”
Itu tiba-tiba banget. Kayak spontan banget sampai gue juga kaget kenapa gue nanya gitu. Tapi namanya juga udah terlanjur, gak ada jalan buat mundur. Jadi gue gak mencoba meralat. Melainkan mempertegas pertanyaan gue dengan memanggil namanya lagi, karena dia terlihat terkejut sama pertanyaan gue.
“Apa, deh, lo.”
“Tanya serius gue. Nyaman, gak, sama gue?”
“...”
“Jadi pacar gue, yuk, Ge?”
Butuh waktu agak lama buat dia memahami kenapa gue tiba-tiba ngomong gini, juga mikir jawaban yang akan dia berikan ke gue. Sampai kemudian dia menggigit bibir bawahnya salah tingkah, dan ‘iya’ adalah jawaban yang kemudian keluar dari bibirnya, gue langsung menghembuskan nafas lega.
Satu bulan gue kira emang udah cukup buat memastikan perasaan masing-masing di antara kami. Gue agak gak nyangka kalau gak sengaja ketemu di balkon dan curhat sebagai orang asing bisa bikin gue mendadak punya cewek yang pengen gue seriusin begini.
Sebagai rasa terimakasih atas segalanya—atas jawaban yang Gea berikan, atas pertemuan kami yang ngajarin gue rasa sayang sesungguhnya ke lawan jenis, atas pelajaran hidup dan canda tawa yang kami bagi sebulan ini, atas kehadiran Gea yang mengisi warna baru dalam hidup gue—gue menciumnya.
Ciuman lembut yang gak bakal berubah makna entah sampai kapan, mendeklarasikan rasa sayang, dengan kecoa mati, debu, lusuh, dan apartemen berantakan Gea yang jadi saksi biksu ; kita resmi pacaran.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *