* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Kenapa tiba-tiba karena orang lain kita jadi bertengkar?” “Sat,” kini gantian Kaila yang menatap kekasihnya sayu, kedua tangannya ia lipat di atas meja, wajahnya menyorot ekspresi kecewa. “Harusnya gak bakal kayak gini kalau aja kamu bisa ngomong baik-baik. Maaf kalau kali ini omonganku terdengar menyakitkan dan mojokin kamu, but you did it first, remember? On the phone, two days ago, you yelled at me and told me that you was tired with the other side of me—“ “I know, aku salah.” “No, you don’t even realize it until this day come.” Satria menatap Kaila nanar. Kedua tangannya berusaha meraih tangan Kaila, dan si perempuan hampir sa

