Brian : The Sarcasm Girl

3331 Kata
NATAMA BRIAN’S POINT OF VIEW * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Hai.” gue langsung berdiri di hadapannya, menghadang jalannya. “Hai, Bri? Brian kan ya nama lo?” dia menjawab sapaan gue sambil mengerutkan dahi. Mencoba mengingat siapa gue. “Kenapa disini?” “Gue manggung, as you see.” “Bukan, maksud gue kenapa lo di depan pintu ruangan gue?” “Hm?” gue lalu melebarkan mata. “Wait, ini ruangan lo sendiri? Lo... siapa?” Dia makin bingung sama pertanyaan absurd gue. “Maksudnya gue siapa, tuh, gimana?” “Maksud gue.. lo kok bisa disini juga? Elo... pegawai disini atau...” “Gue yang punya kafe ini.” “HAH?” gue sampai menyeru agak keras, membuat Nindya langsung melotot. “Sori, sori. Gue kaget. Gila, you are so cool, girl.” “Thank you,” jawabnya agak gak niat dan gak tulus sebelum kembali mencerca gue dengan pertanyaan lain. “Jadi apa yang bawa lo ke depan ruangan gue?” “Ah...” gue menggaruk tengkuk. “Gue cuman mau ngobrol aja, sih. Hehe.” Demi Tuhan, deh, kenapa sih gue langsung kagok banget kalau ngomong sama dia? Nindya, kan, bukan orang asing, malah bisa disebut temen karena kita sering ngobrol walau gak sering-sering amat. Selain itu, kita juga terhubung di salah satu mata kuliah, dan jangan lupa dengan insiden gue nebengin dia ke rumah sakit kala itu. Tapi kenapa? Kenapa gue kalau ngomong sama dia kagok dan gagap dan canggung dan deg-degan kayak lagi ngomong sama Bu Nilam? “Sounds weird and unbeliavable.” Tuh, kan. “I know,” gue meringis. Gila ini cewek kenapa gak bisa berramah-tamah sedikit aja, coba? “Tapi i would love to have a minute to chit-chat with you. Lagi gak sibuk, kan? Boleh masuk?” Oke, Brian. Sekarang kayaknya lo harus udah mulai nunjukkin taring lo ke Nindya. Batin gue mengingatkan diri sendiri. Mengingat gue bukan tipe manusia yang bisa menunda-nunda pekerjaan alias gue sukanya disegerakan aja segala sesuatu untuk mengejar niat, tuh, makanya ini juga berlaku di kehidupan percintaan gue, seorang Natama Brian. Lagian bener, kan? Kalau suka, mah, langsung gas aja. Kalau cewek lo cepet peka, ya, puji Tuhan kalau kagak peka-peka ya udah lo bisa cepet cari yang lain, dari pada nunggu yang gak pasti? Well, bukan gue banget, sih, kalau yang mau disuruh nunggu apa lagi nunggu cewek. Kalau ada yang lain kenapa harus mempertahankan yang gak pasti, kan? Dengan sedikit gemetar—oke, ini lebai—karena menunggu jawaban Nindya atas pertanyaan gue barusan, yang sebenarnya ada nada agak maksa karena gimanapun gue harus mendapatkan cara untuk mengobrol lebih banyak sama dia. Dan sesuai ekspestasi aja, ternyata jawaban dia adalah... “Sori, gak bisa. Gue mau keluar soalnya.” Shit. Emang, ya, ini cewek. Gak bisa banget kalau disuruh baik dan pengertian dikit sama orang yang berniat baik pula sama dia. Gigi gue bergemeletuk genas, mencari cara agar gue bisa ngobrol lebih lama. “Eum, mau kemana emang?” Dia menelengkan kepala, tatapannya menyorot ke arah gue, dan disitu gue menemukan sorot yang artinya, “kenapa dah lo nanya-nanya?” Tapi seperti tebakan gue yang lain, gue tahu Nindya gak sejahat dan sejutek itu buat nyolot ke temen apa lagi yang gak bener-bener punya masalah sama dia, jadi gue gak kaget pas kalimat yang keluar dari bibirnya adalah sesuatu yang kontras dengan arti raut wajahnya. “Ada urusan,” jawabnya mencoba kalem. “Urusan apa?” Dia menambil nafas dan gue langsung nyengir. “Gak, gak. Chill out. Gue gak bermaksud kepo,” gue bohong aja dari pada dia marah karena gue tanyain mulu. “Oke, sekarang gue boleh pergi? Karena jamnya mepet.” Terpaksa, dengan setengah hati—atau malah cuman satu perlima hati, gue menyingkir dan memaksakan senyum ramah. “Silakan.” Kemudian dia balas tersenyum, yang kelihatan banget dia senyum juga cuman buat formalitas bukan macem senyum yang tulus apa lagi sayang—jiakh, tapi gue gak peduli banyak. Gue bahkan sampai balik badan buat ngelihatin cara dia jalan yang sesantai itu ninggalin tamunya—alias gue—sendirian berdiri di depan ruangan yang pintunya tertutup. Bukan maksud gue m***m karena ngelihatin bokongnya, gue bukan cowok m***m walaupun kalau udah pacaran biasanya emang bakal mengarah kesana—wait kenapa gue ngomongnya jadi ngelantur kemana-mana? Ya, intinya begitu. Intinya gue berhasil dibuat sinting sama cewek bernama Nindya Putrianne karena dia penuh dengan tantangan. But, Nindya, lo salah nantang orang. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Take it or leave it Baby take it or leave it But I know you won't leave it 'Cause I know that you need it Look in the mirror When I look in the mirror Baby I see it clearer Why you wanna be nearer   Di salah satu gazebo depan gedung fakultas gue, mata gue menemukan sosok cewek yang dari kapan lalu udah gue cari-cari. Iya, siapa lagi kalau bukan Nindya Putrianne. Sebetulnya, kalau dari kemarin gue sengaja nyari-nyari pas di kampus, justru gue malah gak ketemu-ketemu sama yang dicari. Tapi lihat gimana takdir emang suka ngaco. Giliran kali ini niat gue nyari si anak ayam alias Jefran buat nagih tugas yang dia janjiin mau bantu ngerjain, gue malah ketemunya sama Nindya. Tapi gak apa, yang ada gue malah girang karena dapet yang ini. Sembari langkah gue mendekat ke arah gazebo tersebut, dan by the way gue jalan dari arah punggung Nindya so dia gak tahu kalau gue lagi nyamperin, sayup-sayup gue mendengar lagu Selena Gomez, yang gue tebak Nindya adalah pelaku yang nyetel lagu ini dari laptop yang dia pangku. Gue menyeringai diam-diam. Lihat aja, deh, sama seleranya lagu ini cewek. Kenapa pas banget? Kenapa lagu itu mencerminkan Nindya banget? Walaupun gue menolak disebut bucin karena apa yang gue rasain ke Nindya saat ini masih sekedar tertarik doang, tapi tetep, lagu ini emang cocok buat para cowok di luar sana yang merasakan hal yang sama kayak apa yang gue rasain. Judulnya Fetish. Dan sebagai penggemar mantan Justin Bieber dan Abel The Weeknd itu dari jaman Selena masih main film kartun, jelas gue tahu lagu ini, apal malah dari awal sampai akhir karena dulu gue juga sempet earworm sama ini lagu. I'm not surprised I sympathize, I can't deny Your appetite You got a fetish for my love I push you out and you come right back Don't see a point in blaming you If I were you, I'd do me too You got a fetish for my love I push you out and you come right back Don't see a point in blaming you If I were you, I'd do me too You got a fetish for my love Bahkan dari bait pertama lagu ini terdengar, semua orang—yang pasti pinter nerjemahin bahasa dari Inggris ke Indonesia tahu betapa penyanyi lagu ini memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Pada lagu ini, Selena menceritakan bahwa dia gak terkejut sama sekali ketika menemukan fakta bahwa ada laki-laki yang terobsesi dengannya. Udah pernah ditolak, tapi balik lagi. Bahkan terang-terangan Selena bilang kalau dia gak nyalahin orang-orang yang terobsesi dengannya, karena kalau Selena jadi mereka alias si cowok-cowok itu, dia juga akan punya selera yang sama, alias dia mencoba bilang kalau dia emang pantes dibucinin sama cowok. Tapi alih-alih ngebayangin lirik itu pake muka Selena, kali ini gue justru terpaku sama cewek yang lagi-lagi pakai kemeja, bedanya kali ini warna ijo tua dengan rambut digulung kayak biasanya dan mata fokus ke laptop yang dia pangku, jangan lupakan kaki yang diluruskan untuk mempertegas kalau cewek itu lagi PW banget alias posisi wenak. Lagu ini bukan cuman cocok buat Selena, tapi buat Nindya.  Beneran. Gak bohong gue. Kalau aja gue rela, gue bahkan yakin misal Jefran juga pasti pernah muji-muji cewek ini pas ketemu. Tapi sayangnya, kan, gue gak rela. Enak aja nyolong-nyolong crush dia. Reaching your limit Say you're reaching your limit Going over your limit But I know you can't quit it Something about me Got you hooked on my body Take you over and under and twisted up like origami “You are not surprised, you sympathize?” Gue tiba-tiba duduk di gazebo tanpa menaikkan kaki seperti Nindya, hanya untuk mengiterupsi kegiatannya pakai sapaan gue yang bisa dibilang sapaan juga. Gue cuman ngelanjutin lirik lagu tanpa menyanyi. Nindya kaget, dia bahkan berjengit sesaat sebelum kemudian menghela nafas. Tapi lagi dan lagi, dia seolah menganggap gue ini cuman lalat. Bahkan lalat aja kalau nyamperin dia, gue yakin dia masih bakal nepuk atau nyapa. Lah gue? Berasa kayak gue, nih, transparan dan dia gak bisa lihat. Gue memilih mengajukan pertanyaan lain. “Lo sendirian?” Nindya mengangguk singkat. Gue mencoba sabar. Udah, Bri, gak papa. Masih mending dari pada dia jawabanya, “Mata lo gak bisa lihat gue disini sama siapa? Udah jelas-jelas sendiri!” Gue bergidik ngeri membayangkan cewek ini bisa ngomong begitu kalau misal dia gangguin mulu. “Gak ada jadwal kelas?” gue pura-pura melirik jam tangan yang gue pasang di lengan tangan sebelah kiri gue. “Ini baru jam sepuluh pagi.” “Lo sendiri?” “Hm?” gue bingung karena dia tiba-tiba noleh dan nanya, padahal pertanyana gue aja belum dia jawab, loh. “Apa?” “Lo sendiri gimana? Gak ada jawal kelas sampai-sampai sekarang lo kesini?” Gue tahu ada nada sebal di dalam kalimatnya, tapi gue pura-pura gak peka aja. Jadi gue menggeleng sebagai jawaban. “Ada, kok, jam satuan.” Dia mendengus diam-diam bikin gue menyeringai. Duh ini anak emang, deh. The way you walk, the way you talk I blame you 'cause it's all your fault You're playin' hard, don't turn me off You actin' hard, but I know you soft You my fetish, I'm so with it All these rumors bein' spreaded Might as well go 'head and whip it 'Cause they sayin' we already did it Karena dia gak merespon kalimat gue, lagi dan lagi gue cari topik buat ngobrol. Lagian bukannya gue udah bilang? Makin Nindya bertingkah kayak gini, makin-makin juga gue greget pengen banget naklukin dia in a good way. “Lo suka degerin lagu ini?” Tapi kayaknya cewek ini lagu cosplay jadi setan b***k karena dia sok gak denger omongan gue. Buktinya, dia diem aja, gak merespon omongan gue, padahal tangannya jelas-jelas gak lagi ngerjain apa-apa di barang yang ada pada pangkuannya. “Cocok, sih,” ujar gue tiba-tiba bikin Nindya noleh dengan alisnya yang terangkat. Gue paham kalau dia menuntut penjelasan maksud dari itu, jadi gue auto memasang senyum memikat yang mana harusnya berhasil sama cewek ini mengingat dari dulu senyum gue gak pernah gagal bikin cewek klepek-klepek.” “Apaan?” dia berkomentar bikin gue seneng bukan main akhirnya dia ngerespon juga. “Lagu ini cocok buat lo. Lagunya lo banget.” You got a fetish for my love I push you out and you come right back Don't see a point in blaming you If I were you, I'd do me too You got a fetish for my love I push you out and you come right back Don't see a point in blaming you If I were you, I'd do me too You got a fetish for my love   “Lo punya pacar gak, Nin?”   Ini baru pertama kalinya gue menyebut nama dia di lidah, dan secara langsung di depan orangnya. Dan gue gak tahu kenapa gue ngerasa seneng banget karena akhirnya memanggil namanya. Kayak ada perasaan nyaman dan excited?   Kesalahan gue cuman satu dan terlalu telat menyadarinya bahwa... Wo elah, Bri, Kenapa lo tiba-tiba ngegas nanyain status dia coba? g****k. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Pertemuan yang selanjutnya gue sama dia punya—setelah kejadian gue gak sengaja nemuin cewek itu di gazebo dan berakhir Nindya yang minggat dari sana ninggalin gue dengan alasan keburu mau ke toilet—adalah hari Sabtu, tepatnya malam Minggu. Kayak malam-malam Minggu biasanya, Lima Hari lagi sibuk. Beneran, deh, kita kadang bersyukur juga kalau gak ada pacar karena gimanapun, kita emang sibuk. Gak kebayang aja kalau kita jadi anggota Lima Hari yang sekarang terus siapa tahu punya pacar yang gak pengertian. Nangis gak lo? Gue pernah, sih, punya pengalaman bergebetan—ga pacaran, dan emang gak sempet mengarah kesana karena gue udah terlanjur sumpek—sama cewek kekanakan yang sama sekali gak bisa gue pahami jalan pikirnya. Pertama, dia benera kekanakan alias dia emang masih anak-anak. Kejadian itu udah setahun yang lalu, sih, yang mana gue lagi jadi mahasiswa baru dan macarin anak kelas 10 SMA. Terpaut usia agak jauh—well itu kayaknya bukan agak lagi—gue kadang mencoba berusaha memaklumi kalau dia kekanakan. Tapi please, deh, selain childish, dia ini amat sangat manja. Bayangin gimana ribetnya jadi gue yang masih adaptasi sama perkuliahan setelah lulus dari SMA, belum lagi tugas yang belum apa-apa udah numpuk, serta dosen yang gak enak dipandang, dan makin jadi beban kala gue punya gebetan yang menuntut gue untuk selalu ngabarin dia dan gak boleh skip malam mingguan berdua? Gue ulangin, dia beneran gak ngebolehin gue skip malam mingguan ke rumah dia. Walaupun kebanyakan enaknya pas sama dia—i mean dari awal gu suka dia emang tertarik sama badannya—tapi lama-lama juga jenuh juga karena dilarang itu dan itu, juga harus ini dan itu, pokoknya semua manusia di dunia, nih, seolah harus nurut sama maunya dia. Parah, gak, sih? Oke, kenapa juga gue harus cerita yang lalu-lalu? So, balik lagi tentang gue dan pertemuan selanjutnya dengan Nindya adalah malam minggu kemarin. Bukan lagi ketemu di kafe punya dia, tapi kali ini kita ketemu di salah satu bar deket kampus. Yang sebenarnya gak bisa dibilang deket karena butuh waktu setengah jam lebih buat sampai disana. Bar yang gue sebut ini bukan bar semacam kelab malam, tapi asli bar. Maksud gue, emang tersedia minuman penuh dosa macem anggur merah sampai yang mahal sekalipun, tapi gak ada dance floor dan wanita striptease karena sekali lagi, ini bar, bukan kelab malam. Sebagai gantinya, perbedaan bar dengan kelab ini adalah dance floor di kelab diganti dengan panggung mini untuk bintang tamu yang diundang. Seperti kafe dan bar pada umumnya, emang biasanya cuman hari weekend aja, alias Jumat sampai Minggu doang, yang bakal mengundang bintang tamu. Strategi pasar, kan? Biasalah. Begitu cara orang-orang as pengusaha mencuri perhatian masyarakat. Lalu Sabtu ini, Lima Hari yang diundang. Bagusnya, gue ketemu Nindya disana, lagi dudukan rame-rame sama yang lain—yang gue tebak beberapa adalah anak kelas Sumberdaya Air juga karena mukanya familiar. Lo tahu segede aapa pengaruh dia buat gue? Gue bahkan dengan mudah bisa menemukan keberadaannya di antara banyak orang yang jadi pengunjung bar, padahal lampu bar juga gak lagi menyorot ke arah Nindya. Kayak-kayak, nih, mata gue kalau ngescan keberadaan cewek itu gampang banget. Gue dibuat tersenyum geli kala mendapati pada akhrnya cewek yang dari tadi gue lihatin itu noleh juga ke arah gue. Nindya terlihat agak kaget, sebelum kemudian memberi seulas senyum menyapa sebelum kembali mengalihkan fokus atensi pada teman-temannya. Senyumnya gak sampai sedetik, tapi efeknya bahkan sampai gue turun panggung. Kalau aja Jefran gak menendang tungkai kaki gue biar segera siapin bass dan ambil posisi, gue pasti bakal betah berdiri sambil natap cengo ke arah cewek cantik yang lagi ketawa-ketawa itu. Sial, dia pakai dukun mana, sih? Kenapa dalam waktu dua minggu bisa banget bikin gue begini? “Sabar, Bos, sabar. Nanti abis manggung disamper,” hibur Dafi sambil menepuk pundak gue sebelum dia mengambil duduk di bagian belakang drumnya. Gue cuamn ngangguk-angguk doang. Dalam hati gue banyak berdoa : Please, semoga dia gak balik duluan sebelum gue selesai manggung. Setelah berhasil membuat Nindya menaruh atensi ke arah gue—geer banget, padahal ke arah Lima Hari yang paling bener—dengan suara Satria yang membuka obrolan dan menyapa pengunjung, beberapa perempuan terdengar memekik senang, bahkan sampai berdiri dan tepuk tangan berlebihan. Dari sekian banyaknya cewek lain yang meneriaki namanya atau nama empat temannya, dia cuman terfokus sama cewek yang dibalut jaket kulit dengan rambut diurai, matanya menatap ke arah gue tapi gue gak bisa tahu artinya—please, gue bukan cenayang, menatap gue tanpa ada kagum sama sekali seperti yang dilakukan teman-temannya sendiri. “Sebagai pembukaan, lagu pertama yang kita bawain adalah lagu yang udah direquest sama Bos kita sendiri,” ujar Satria sambil noleh ke arah Garindra—pemilik bar—yang lagi ngerangkul pacarnya di salah satu kursi. “Here is for y’all. Creep.” Dan, damn. Walaupun belum pernah latihan secara ekskusif sama anak-anak buat cover lagu ini, tapi gue harap kami bisa tampil terbaik. Gue excited menunggu respon dari Nindya nanti kala melihat gue lagi menunjukkan performa di atas panggung dengan bass kesayangan begini. And that song tho... Nin, kayaknya lagu ini juga cocok dari gue, buat elo. So listen well, ya. When you were here before Couldn't look you in the eye You're just like an angel Your skin makes me cry You float like a feather In a beautiful world I wish I was special You're so fuckin' special But I'm a creep I'm a weirdo What the hell am I doin' here? I don't belong here I don't care if it hurts I wanna have control I want a perfect body I want a perfect soul I want you to notice When I'm not around So fuckin' special I wish I was special But I'm a creep I'm a weirdo What the hell am I doin' here? I don't belong here She's running out the door (run) * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN