Airin menutup pelan pintu kamarnya, melangkah ringan ke arah ruang tamu sembari mengikat tinggi rambut sebahunya. Gadis mungil itu mengembuskan napasnya samar, sekilas mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang mama yang sudah pulang kerja dari tadi. "Kamu mau makan apa, biar mama masakin," ujar mamanya melangkah keluar dari ruang kerjanya lalu berjalan ke arah dapur dan membuka pintu lemari es di sana. "Apa aja deh, mah." Balas Airin masih duduk bersilah di atas sofa. "Yasudah, mama masakin pasta ya?" Airin mengangguk saja, benar-benar tidak ada semangat. Ia pun menjatuhkan tubuhnya pada sofa sembari menyalakan televisi di hadapannya. Ia berulang kali mendecak merasa kesal saja karena Syahid beberapa hari ini mengacuhkan keberadaannya. Ia tidak habis pikir kenapa cowok itu selal

