Emily mengerjap beberapa kali, memperjelas pandangan pada sesosok makhluk yang memeluknya sangat erat. Bahkan karena saking rapatnya, dia bisa merasa embusan napas dan debar jantung yang beraturan di tubuh Aksa. Kantuk Emily musnah, sejak semalam kerjanya menatap wajah polos Aksa saat tidur. Tidak bosan dan terusik, Emily ingin menikmati kehangatan ini lebih lama sebelum sikap Aksa berubah menjadi makhluk gaib lagi. Yah ... makhluk gaib yang tidak tentu sikap dan perilakunya. “Mau diliatin sampe taun depan juga boleh, nggak bakal kadaluwarsa, kok.” Emily menjauhkan wajah dari Aksa mendengar penuturan lembut itu, tapi Aksa masih sigap menahan agar tidak berpindah ke mana pun. “Kalau udah bangun, kenapa pura-pura tidur? Ini udah mau siang, tau. Aku harus bantuin mama,” kata Emily. “Mas

