Mungkin ini yang dinamakan cinta, yang bisa membuat si perasanya buta. Begitulah Author menggambarkan si Caramel sekarang. Ternyata, tidak seperti hari kemarin yang mana ia bangun tidur terlewat pagi, namun sekarang ia bangun seperti hari malas sebelumnya. Bahkan Gisella suda beberapa kali bolak-balik kamar untuk membangunkannya. Untung saja kebiasaan Caramel yang suka mengunci pintu kamar sudah ditiadakan, jika tidak alamat dia tak bangun-bangun. Caramel turun ke bawah untuk sarapan, ia menguap lebar dan duduk di salah satu dari beberapa kursi yang tersedia di ruang makan. Untung saja Gisella yang tadinya membaca-baca buku di beranda, langsung menghampiri putrinya dan tau pasti permintaan putrinya itu. Caramel menidurkan kepalanya di meja, sepertinya matanya masih nagih untuk dipejamkan.

