"Apa maksud kamu, Della?" tanya Sinta tak percaya.
"Mereka tahu apa yang telah terjadi kepada kita, mereka tahu kalau ke rumah kita ini ada masuk seekor ular, dan mereka bilang itu sudah terjadi berkali-kali, tapi tidak ada yang mau mengatakan. Jadi mereka menaruh kecurigaan kepada kita kalau ada sesuatu yang terjadi pada keluarga kita. Danar hanya menyampaikan hal itu, dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang ada di sini, makanya dia memperjelas langsung padaku."
Adi dan Sinta terdiam, mereka tidak menyangka kalau warga akan berpikiran seperti itu kepada mereka, dan yang paling membuat mereka bingung, kenapa berita tersebut cepat menyebar dan menjadi topik pembahasan di Desa itu? Bukankah itu terlihat seperti hal biasa?
"Kenapa mereka bisa berpikiran seperti itu? Padahal kita juga tidak menginginkan hal itu, tidak ada yang ingin kalau sampai ada ular masuk ke dalam rumahnya, apalagi sampai mencelakai pemilik rumah. Ibu bahkan tidak bisa membayangkan jika kejadian itu sampai terjadi lagi, pasti Ibu tidak akan bisa hidup lagi sampai saat ini, begitu juga dengan bapakmu, tapi kenapa mereka bisa berpikiran kalau kita telah melakukan sesuatu yang tidak-tidak?"
"Tentu saja mereka akan berpikir seperti itu, Bu, karena rumah kita sangat jauh dari hutan atau kebun, bisa dikatakan rumah kita ini di tengah rumah para warga. Jadi kalaupun ada ular, seharusnya rumah yang pertama kali dituju adalah rumah warga yang paling dekat, atau mungkin rumah yang belakangnya hutan atau perkebunan, makanya mereka berpikiran seperti itu."
"Itu sangat tidak masuk akal. Memangnya ular itu memiliki pikiran dan memiliki akal sampai-sampai dia bisa memilih akan pergi ke mana? Namanya juga ular, mungkin saja ular itu sudah ada di tengah Desa ini, makanya dia mencari tempat aman supaya tidak ditemukan oleh warga. Mungkin saja ular itu masuk ke rumah ini karena ada warga yang melihatnya, tapi kenapa mereka langsung berpikir yang tidak-tidak? Bapak tidak terima akan hal itu."
Adi marah atas pemikiran warga yang ada di sana, pemikiran konyol yang membuat jelek nama baik mereka. Padahal, dia sama sekali tidak pernah melakukan apapun, dia juga sama sekali tidak pernah merugikan warga, dia juga tidak pernah muluk-muluk, justru dia selalu saja membantu warga yang kesulitan.
"Bukan hanya itu Pak, tapi Ibu Danar juga mengetahui apa yang kita bicarakan di toko tadi. Sepertinya beliau lewat dari toko kita dan mendengar apa yang kita bicarakan, tapi dia tidak begitu mengetahui detail pembicaraan kita, dia hanya mendengar sekilas atau mungkin saja dia menguping. Tapi aku tidak ingin suudzon, lebih baik berpikir positif saja demi kebaikan bersama. Kalaupun memang ibu Danar sengaja menguping, setidaknya kita harus melihat kebaikan Danar yang begitu peduli kepada kita dengan memberitahukan hal ini. Inilah yang aku takutkan, makanya aku bilang kepada bapak untuk mengatakan yang sebenarnya kepadaku, supaya aku tahu dan bisa menutup rahasia ini rapat-rapat. Kalau seperti ini, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menutupi semuanya. Lagi pula, kenapa Bapak dan Ibu menutupi semuanya dariku? Kalian mengatakan kalau aku berlebihan akan apa yang aku pertanyakan. Lalu bagaimana dengan orang-orang? Mereka saja bisa berpikir yang tidak-tidak hanya dengan melihat seekor ular masuk ke dalam rumah kita, kenapa aku tidak bisa bertanya-tanya dengan apa yang aku lakukan untuk menyembuhkan ibu dan bapak hanya dalam sekejap mata? Bukankah itu sangat tidak wajar?"
Lagi-lagi Adi dan Sinta bungkam karena ucapan Della. Meskipun mereka melihat kalau anaknya itu masih putri kecil bagi mereka, tapi tetap saja, mereka tidak bisa lupa kalau anaknya itu sudah menjadi gadis dan memiliki kemampuan tinggi menyembuhkan mereka dari gigitan ular berbisa yang dilakukan dalam sekejap mata, apalagi untuk mengetahui dan mencerna setiap apa yang terjadi untuk menjadi sebuah kecurigaan, pasti itu bukanlah hal sulit bagi Della.
"Sudahlah jangan diperpanjang lagi, sebaiknya kita lebih hati-hati lagi. Yang pertama, kita harus memikirkan bagaimana caranya menghilangkan rumor itu, dan yang kedua, kita harus hati-hati supaya ular itu tidak masuk lagi ke rumah ini. Kalau tidak, kita akan berada dalam bahaya dan pastinya kita akan menjadi bahan perbincangan orang-orang lagi. Bapak juga heran, kejadian membahayakan bisa menjadi rumor tak mengenakan, bukannya membantu, mereka malah mengatakan yang tidak-tidak. Dasar warga aneh." rutuk Adi sebelum pergi meninggalkan mereka.
Melihat suaminya pergi, Sinta juga mengikutinya, menyimpan beberapa barang yang memang harus disimpan di kamarnya sebelum kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara Della, dia memilih pergi ke kamarnya setelah mendengar kalimat dari bapaknya. Tentu saja kalimat itu sangat tidak mengenakan hati Della, karena dia masih sangat yakin kalau bapak dan ibunya pasti menyembunyikan sesuatu darinya.
Kenapa Bapak dan Ibu harus khawatir akan hal itu? Bukankah aku bisa menyembuhkan mereka dari gigitan ular? Seharusnya mereka tidak perlu memikirkan hal itu, yang harus mereka pikirkan adalah jawaban akan pertanyaanku, siapa diriku sebenarnya dan apa yang terjadi padaku hingga aku memiliki kemampuan itu. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa melakukan apapun untuk mengetahuinya. Bukan tak bisa, sih, hanya saja, belum waktunya akan mengetahui apa yang sebenarnya ditutup oleh Bapak dan Ibu, tapi aku yakin lambat laun aku akan mengetahui hal itu. Sejauh apapun atau bahkan sedalam apapun Bapak dan Ibu menyembunyikannya, aku pasti akan mengetahuinya kelak. Tidak bisa mengetahuinya dari mereka, pasti Tuhan akan memberikan petunjuk kepadaku aku sangat yakin itu, batin Della.
Sebagai orang tua yang sangat memanjakan Della, Sinta memasak sendiri makan malam yang akan mereka makan. Meskipun dia merasa sangat lelah, tapi dia melakukan itu dengan penuh cinta karena apa yang dia lakukan adalah untuk orang-orang yang sangat dia cintai, orang-orang yang selalu ada untuknya untuk saat ini, atau untuk selamanya. Jadi dia tidak begitu merasa terbebani untuk melakukannya, dia biarkan suaminya melakukan apapun yang diinginkan hingga dia selesai memasak makan malam mereka. Begitu juga dengan putrinya yang tidak pernah dibebankan dalam hal apapun.
Kalau untuk menenun di gubuk dan menghasilkan sejumlah uang dari hasil tenunan Della, itu sama sekali bukan permintaan kedua orang tuanya, melainkan permintaan Della yang ingin menghabiskan waktunya di gubuk saja, karena dia tidak pernah keluar rumah, dia ingin membuang rasa jenuhnya dengan melakukan aktivitas yang menjadi hobinya.
Sedang itu, di kamarnya Della langsung membersihkan dirinya, perutnya sudah terasa keroncongan meminta untuk segera diisi dan ingin segera pergi ke bawah dan menyantap makanan yang telah dimasak oleh ibunya. Dengan sangat santai dia membersihkan diri supaya tubuhnya terasa bersih, karena dia juga masih harus menunggu ibunya selesai memasak.
Namun di sela-sela kesibukannya dalam membersihkan diri, Della menemukan sesuatu yang tidak wajar bagi dirinya, sesuatu yang menjadi tanda tanya dalam benaknya selama ini. Apa yang dia temukan sangat mengejutkan dirinya, hingga ia tak mampu berkata-kata karena bibirnya seolah dibungkam oleh sesuatu. Dia hanya bisa mundur dari tempatnya berdiri dengan jantung yang berdegup kencang hingga dia harus berhenti mundur karena tubuhnya sudah menyentuh tembok.