Curiga

1050 Kata
"Della, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Apakah kamu ada waktu?" Danar baru saja kembali dari pos tempat dimana dia sedang nongkrong bersama temannya. Sudah menjadi kebiasaannya, setiap kali dia pergi pagi, pasti akan pulang sore hari. Sudah menjadi kebiasaannya dimanja kedua orang tuanya, tapi tetap saja, dia harus tahu batasannya. Mendapatkan kebebasan bukan berarti dia bisa brutal seperti anak muda lainnya yang ada disekitarnya, yang bahkan sampai mencuri atau bahkan melecehkan gadis di desa itu hanya karena kurangnya pengawasan orang tua. "Ada apa?" "Tidak di sini, aku ingin kita bicara di tempat lain." "Maaf, nak Danar, Della harus pulang. Kalau ingin mengatakan sesuatu, sebaiknya katakan saja disini." Terkadang, Danar merasa jengkel melihat sikap Adi, tapi lagi-lagi dia mengerti kenapa Adi melakukan itu, semata-mata karena ingin melindungi Della. Padahal apa yang ingin dia lakukan sama sekali tidak melukai Della atau bahkan menyakitinya. "Boleh saya minta waktu lima menit saja, Pak? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Della, saya mohon." "Saya tidak melarang kamu untuk bicara dengan Della, hanya saja, saya tidak mengizinkan kamu jika membawa Della pergi." "Baiklah, Pak, saya akan bicara disini." Danar menarik tangan Della, berniat untuk membawa Della menjauh dari tokonya. Tidak bisa bicara empat mata, setidaknya dia tak ingin kalau sampai kedua orang tua Della mendengar apa yang mereka bicarakan. "Maaf, nak Danar, tapi bisa tidak harus berpegangan tangan, bukan?" Dengan cepat Danar melepaskan tangan Della. "Ah … maaf, Pak, saya khilaf." Della mengikuti Danar yang berjalan mendahului dirinya, hingga Danar menemukan tempat yang menurutnya tepat untuk berbicara dengan Della. "Ada apa Danar? Kamu tahu 'kan kalau Bapak tidak mengizinkanku pergi keluar dengan laki-laki? Lalu, kenapa kamu masih memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu? Bahkan Bapak sudah pernah menolakmu, tapi kamu masih saja bersikeras dan membuat Bapak jengkel. Jangan sampai Bapakku marah padamu, Danar, yang ada dia tidak akan memberikan kita izin untuk saling berkomunikasi lagi." "Maafkan aku, Della. Aku juga tidak bermaksud begitu, tapi rasa penasaran membuatku lupa diri dan kembali melakukannya." "Penasaran? Apa maksudmu?" Danar terdiam, dia merasa tidak enak hati untuk menanyakan hal ini kepada Della, dia takut kalau sampai Della marah dan kedua orang tuanya sampai tahu hal ini, bisa-bisa dia akan menjadi bahan amuka Bapak Della. Namun, jika tidak menanyakannya, maka Danar tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dan bagaimana kebenarannya. "Danar, kenapa diam saja? Apa maksudmu mengatakan hal itu? Kalau kamu diam seperti ini, kamu tidak akan mendapatkan jawaban, yang ada, justru aku yang penasaran dengan kalimatmu." Danar tersentak, dia seperti lupa akan apa yang akan dia katakan. "Eh … kenapa?" "Kok malah tanya aku, sih? Apa yang terjadi? Kenapa kamu penasaran? Sebenarnya kamu ingin bertanya atau mencari alasan untuk bertemu aku? Maaf, bukannya aku besar kepala, tapi kamu sama sekali tidak mengatakan apapun, makanya aku berpikiran demikian." "Begini, Della …," Dengan sedikit keberanian dan rasa takut, Danar mengatakan apa yang mereka bahas di pos. Awalnya dia ragu untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Bapaknya, tentang apa yang didengar oleh ibunya saat sedang melewati toko mereka, tapi tetap saja dia mengatakan hal itu demi mendapatkan jawaban dari Della. Della terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Danar, apa yang sudah mereka sepakati untuk dirahasiakan, ternyata sudah diketahui oleh orang-orang. Hanya saja, tidak ada yang tahu kalau Della menyembuhkan orang yang hampir tewas. Kalaupun Sabrina tahu kalau Della menyembuhkan kedua orang tuanya, tapi Sabrina tidak tahu kalau yang Della sembuhkan adalah bekas gigitan ular berbisa, jadi dia masih bisa menutup rapat rahasia itu. "Mereka berpikir kalau ada sesuatu pada keluarga kalian. Maaf jika aku bertanya seperti itu. Bukan berarti aku percaya dan sependapat dengan mereka, hanya saja, aku juga ingin memastikannya dan membuktikan kepada semua orang kalau hal itu tidak benar." Syukurlah kalau kamu tidak sepemikiran dengan mereka, Danar, karena apa yang mereka katakan sangat konyol. Bagaimana mungkin mereka berpikiran seperti itu? Tidak mungkin kami memanggil binatang melata berbisa seperti itu ke rumah kami, bukan? Kami juga takut, ada-ada saja. Kalaupun itu datang ke rumah kami, itu diluar sepengetahuan kami, dan itu adalah sebuah musibah bagi kami. Aku heran deh sama warga disini, mereka tahu kejadian itu, mereka tahu kalau itu adalah binatang melata berbisa, kenapa mereka tidak datang untuk menyelamatkan keluarga kami? Kenapa malah berkomentar tidak mengenakkan hati seperti ini?" "Aku juga berpikiran seperti itu, Del, tapi mereka juga mengatakan hal itu. Bahkan, pak Lurah sudah meminta kami para pemuda disini untuk berjaga malam ini, kebetulan weekend, jadi pada libur. Padahal 'kan semua pemuda ini juga butuh memperjuangkan sesuatu di hari weekend." Canda Danar, tapi Della tidak begitu menghiraukannya. "Della, ayo kita pulang, Nak." Teriakan ibu Della menghentikan percakapan mereka, percakapan yang menurut Danar belum mendapatkan jawaban. Namun, dia tidak berani untuk menentang orang tua Della, jadi dia hanya bisa pasrah saja. "Terima kasih karena tidak percaya kepada mereka, terima kasih karena kamu masih berpikiran positif tentang keluargaku. Kalau begitu, aku permisi dulu." Della pergi meninggalkan Danar, sementara Danar memilih untuk kembali ke rumahnya. Meskipun dia sudah mendapatkan jawaban dari gadis itu, tetap saja dia masih ingin tahu kebenarannya. Ada kepercayaan di hatinya, tapi masih ada setitik curiga dan keraguan. Tak ada yang Della bicarakan hingga mereka tiba di rumah, sementara kedua orang tuanya merasa penasaran akan apa yang Della dan Danar bicarakan. Sepasang suami istri itu saling adu tatap, seolah saling meminta untuk mempertanyakan hal itu kepada Della. Bagi Sinta, sebagai seorang wanita, dia ingin menjadi wanita yang lemah lembut dan penyabar, serta mengalah dalam setiap masalah yang akan dia hadapi dengan suaminya. Sinta memilih mengalah dan menanyakan hal itu kepada Della. "Nak, ada apa? Apa yang dikatakan oleh nak Danar?" Sejenak Della terdiam, dia bingung apakah harus menjawab pertanyaan ibunya atau justru mencari topik lain. Jika harus membahasnya, dai taku kedua orang tuanya akan kepikiran dan semua akan menjadi masalah baru bagi mereka. "Della, ditanyain Ibu kok diam saja? Apa yang dikatakan oleh Danar?" ulang Adi. "Ah … tidak ada, Pak." Adi tahu kalau putrinya itu sedang berbohong. Karena kalau Della berbohong, dia akan memelintir ujung bajunya. "Kenapa harus berbohong pada Bapak? Katakan saja, apa yang dia bicarakan? Apakah dia menyakitimu? Apakah dia mengatakan sesuatu yang tak bisa kamu ucapkan kepada ibu dan Bapak karena kamu takut ketahuan? Jangan takut, Nak, apapun masalahnya, kita lewati bersama." Della menarik nafas dalam dan,membuangnya kasar, dia mencoba untuk menenangkan diri sebelum mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orangtuanya. "Orang-orang sudah mengetahui semuanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN