Danar terpengaruh

1024 Kata
"Danar! Kemarilah, ada yang ingin Bapak bicarakan denganmu." Danar Mahendra. Pria yang yang menjadi idaman para gadis di kampung itu, pria yang sangat sopan dan ramah, tapi sama sekali tidak tertarik dengan semua gadis itu kecuali dengan Della. Sudah sangat lama Danar menyukai gadis itu, bahkan saat mereka duduk di bangku sekolah dasar. Sejak kenal dengan Della, Danar sudah merasa penasaran, karena Della bukan tipikal orang yang suka berbaur dengan orang lain. Kalaupun Della berbicara dengan teman-temannya, itu hanya karena ada pembahasan yang penting saja, selain itu, dia memilih diam di kursinya. Sekarang, keduanya sudah beranjak dewasa, rasa penasaran semakin menjadi-jadi dan rasa cinta itu sudah muncul, entah sejak kapan dia merasakan hal itu, yang jelas sampai saat ini dia masih mengagumi gadis itu dan sudah semakin jatuh hati padanya. Pernah sekali Danar mencoba untuk mengajak gadis itu berkencan, tapi kedua orang tua Della tidak memberikan izin kepada Della, dengan alasan kalau Della tidak bisa keluar rumah dengan alasan apapun, kecuali bersama dengan kedua orang tuanya. Danar sempat bertanya-tanya akan alasan itu, tapi dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mempertanyakannya. Yang ada dalam benak Danar, mungkin kedua orang tua Della melakukan itu karena mereka tak ingin terjadi sesuatu kepada putri mereka. "Ada apa, Pak?" tanya Danar. "Kamu 'kan dekat dengan Della, apa kamu pernah melihat sesuatu yang aneh dalam dirinya? Maksud Bapak, apakah dia pernah bertingkah yang aneh-aneh?" "Bertingkah aneh seperti apa maksud Bapak? Danar tidak mengerti maksud dari pembicaraan Bapak." Sebenarnya Sony tak ingin membicarakan hal ini, tapi dia harus mengatakannya karena dia ingin memastikan apa yang dikatakan istrinya adalah tidak benar, dan dia sangat tidak menyukai tindakan istrinya itu, jadi dia ingin menghentikan apa yang saat ini sedang dicurigai istrinya. Sony menceritakan apa yang dikatakan istrinya kepada Danar, dengan sedikit gelak tawa yang membuatnya masih tidak percaya. Sementara Danar, dia hanya bisa bisa tepuk jidat dengan apa yang dipikirkan oleh ibunya itu, pemikiran yang sedari dulu selalu saja bertentangan dengan apa yang dia inginkan dan juga Bapaknya. "Pak, kenapa Bapak malah terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh ibu? Bukankah selama ini Bapak bilang kalau apa yang Ibu katakan tidak benar? Jadi biarkan saja, jangan terlalu ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh Ibu, yang ada Bapak akan sakit memikirkan sesuatu yang bukan urusan Bapak." "Bapak juga memikirkan hal itu, Nak, tapi melihat tingkah Ibu mu ini, Bapak merasa tidak tega terhadap keluarga pak Adi. Bapak merasa bersalah kepada mereka, Ibumu selalu saja suudzon kepada mereka." Sejenak Danar berpikir, mungkinkah ini karena dia dekat dengan gadis itu? Mungkinkah Ibunya semarah itu karena dia mendekati Della? Padahal Della terbilang anak baik-baik, tidak pernah ter-cap apapun,bahkan selalu dijadikan panutan bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya. Keluarga mereka juga selalu dijadikan contoh, entah mengapa Ibunya sangat membenci mereka. "Ya sudah, Pak, Danar mau pergi dulu, mau ketemu sama teman-teman Danar." "Iya, Nak. Ingat, jangan terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ibumu." "Pak, bukan Danar yang harus hati-hati, tapi Bapak. Buktinya, sekarang saja Bapak sudah seperti itu, sudah mulai terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh oleh Ibu." "Bapak tidak terpengaruh, Bapak hanya ingin mencari jalan keluar saja supaya Ibumu tidak seperti itu lagi." "Iya, Pak." Danar memilih mengalah, karena dia juga sama sekali tidak ingin mengurusi apa yang dikatakan oleh ibunya itu, dia tak ingin menambah beban pikirannya dengan hal yang tidak penting, apalagi itu menyangkut gadis yang disukainya, kejelekan gadis yang tidak pernah benar memiliki kejelekan itu. Danar menemui teman-temannya di pos nongkrong. Sudah menjadi kebiasaan mereka nongkrong di pos nongkrong setiap kali mereka libur, karena hanya bisa bertemu seperti ini di hari weekend saja. "Hei, Jul!" "Eh, Dan, kamu sudah datang. Tumben kamu lama, sedang sibuk, kah?" "Ah tidak, aku hanya berbincang dengan Bapak, ada sedikit pembahasan yang harus dibahas. Oh iya, Dito mana? Kok nggak ada?" "Tadi dia sudah datang, tapi pergi lagi, katanya dia mau nganterin pesanan Ibunya dulu." "Kayak nggak tau Dito aja, Dan. Dia itu kan anak yang paling berbakti sama orang tua, jadi dia akan selalu patuh dan nurut setiap kali Ibunya meminta sesuatu." Ledek Dion. "Justru itu bagus, itu artinya dia masih menghormati orang tuanya. Oh iya, kita ada rencana nggak malam ini?" "Nggak ada rencana sih, paling di sini saja. Tadi pak lurah datang kemari, kita disuruh jaga pos, para pemuda yang ada disini." Danar sedikit bingung mendengar apa yang dikatakan oleh Julnaidi, tidak biasanya pak Lurah meminta hal itu kepada mereka, kecuali ada kejadian di desa itu. "Kenapa tiba-tiba pak lurah datang dan minta kita berjaga? Nggak biasanya pak lurah seperti itu." "Iya, Dan, aku juga memikirkan hal yang sama," timpal Dion yang juga tak mengerti. "Belum tahu sih bagaimana kepastiannya. Namun, akhir-akhir ini, di desa kita sering didatangi ular, dan ularnya bukan sekali dua kali datang ke desa ini, tapi berkali-kali. Anehnya, ular itu tak pernah kemana-mana kecuali ke rumah Della, dan tidak ada yang tau akan hal itu." "Ke rumah Della? Kenapa selalu kesana?" "Kita juga nggak tau, makanya itu pak lurah meminta kita untuk berjaga-jaga. Itu terdengar sangat aneh bukan? Kenapa harus ke rumah Della? Padahal rumah Della masih terbilang jauh dari hutan, yang lebih dekat justru rumah Dito, bukan? Makanya pak lurah merasa aneh, jadi dia meminta kita untuk membuktikan apa yang telah menjadi kecurigaannya." "Kecurigaan? Apa maksudmu?" Danar semakin tidak mengerti, apa yang Julnaidi katakan sangat sulit untuk dia cerna. Dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, apalagi ini menyangkut Della, membuatnya sedikit khawatir dengan keadaan gadis itu. "Bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan bagi warga desa sini? Kenapa ular itu selalu datang ke rumah Della? Kenapa tidak ke rumah orang lain saja? Tentu saja itu terdengar saat ini dan ini perlu diselidiki, itulah yang dikatakan oleh Pak Lurah. Aku juga sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, makanya aku setuju untuk berjaga, siapa tahu saja dapat info penting setelah ini." Danar terdiam, dia kembali teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bapaknya, tentang apa yang didengar oleh ibunya. Apa yang tadi mereka bahas seolah sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Julnaidi, membuatnya menjadi penasaran seperti Bapaknya. Rasa penasaran itu membuatnya terdorong untuk mencari tahu apa yang terjadi, dia juga ingin mengetahui semuanya. Tidak mungkin Della jelmaan ular, bukan? batin Danar menerka-nerka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN