"Aku tidak habis pikir dengan keluarga itu, sepertinya mereka memang sedang menyembunyikan sesuatu," ucap Sabrina kepada suaminya.
Sony yang sedang menikmati secangkir kopi di teras rumahnya, terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Bagaimana tidak, istrinya baru saja kembali dari pasar, bukannya mengucapkan salam, tapi istrinya justru mengutarakan kalimat yang tak dia mengerti, hingga dia sempat berpikir kalau ada yang aneh dengan istrinya.
"Menyembunyikan sesuatu? Apa maksud ibu? Kenapa Ibu berbicara seperti itu? Ibu baru saja kembali dari pasar, kenapa berlangsung melontarkan kalimat yang tidak bapak mengerti? Kalau kembali ke rumah itu ucapkan salam dulu, Bu, baru berbicara. Kalau Ibu seperti ini, Bapak justru bingung."
"Tadi ibu melewati toko Pak Adi, dan ibu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, dan itu semua membuat Ibu merinding, bahkan sampai sekarang Ibu masih tidak bisa membayangkan apa yang telah mereka katakan."
"Apa yang mereka katakan? Apa maksudnya Ibu? Memangnya apa yang mereka bicarakan? Lagi pula, kenapa Ibu ikut campur dengan apa yang mereka bicarakan? Apakah itu menyangkut kita? Kalau tidak, kenapa ibu harus seperti ini? Jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, Bu, dan apa yang kamu lakukan itu adalah sebuah kesalahan, karena ibu telah menguping pembicaraan orang lain. Itu tidak baik, Bu, tidak sopan namanya. Mungkin saja itu privasi mereka, kenapa ibu harus menguping dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan?"
"Pak, ini berita yang sangat mengejutkan, Pak, dan kita juga harus hati-hati. Beruntung Ibu mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Bagaimana kalau tidak? Kita tidak akan tahu bagaimana keluarga itu. Apa yang ibu lakukan semua demi kebaikan kita, supaya kita tidak terkena mara bahaya dari mereka. Kalau sampai terjadi sesuatu pada kita karena mereka, bukankah itu akan menjadi sebuah penyesalan bagi ibu karena telah mengabaikan pembicaraan mereka?"
"Memangnya apa yang mereka bicarakan, Bu? Kenapa ibu sampai seperti ini?"
"Mereka membicarakan tentang kemampuan, dan aku tidak tahu kemampuan apa yang sebenarnya dimiliki oleh Della. Mereka berkata kalau Della mampu menyembuhkan mereka. Bukankah itu menjadi pertanyaan bagi kita? Kita tahu kalau Della itu hanya gadis rumahan, dia tidak tahu apapun, apalagi dengan ramuan-ramuan obat seperti itu, tidak mungkin dia bisa melakukan penyembuhan kepada Adi dan Sinta kalau tidak ada sesuatu, bukan? Ibu yakin kalau mereka sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak kita ketahui."
"Astagfirullah, Bu, kenapa ibu harus berpikiran sejauh itu? Kalau memang Della menyembuhkan mereka, apa salahnya? Mungkin saja mereka sedang terluka atau mungkin saja mereka sedang sakit, jadi Della yang mengurus mereka hingga mereka sembuh, makanya mereka bicara seperti itu. Tidak salah kan jika orang tua mengatakan hal itu kepada anaknya? Itu sebagai ucapan syukur mereka karena telah dirawat oleh anaknya, dan itu adalah tandanya Della anak yang patuh dan hormat dan tahu bagaimana caranya membalas budi baik kedua orang tuanya. Lalu, apa yang ibu permasalahkan? Bukankah itu sangat wajar?"
"Tentu saja tidak wajar Pak, mereka membicarakan hal itu dengan berbisik supaya tidak ada orang yang mendengarnya. Adi dan Sinta juga meminta Della untuk tidak mengatakan hal ini kepada orang lain. Bukankah itu sangat tidak masuk akal? Kalau memang Della merawat mereka saat sedang sakit hingga mereka sembuh, kenapa harus merahasiakan semuanya dari orang-orang? Lagi pula tidak ada kabar kalau mereka sedang sakit, bukan? Bahkan toko mereka selalu buka dan tidak pernah ada kabar kalau mereka sedang sakit parah atau semacamnya, itulah yang membuat ibu bertanya-tanya."
Sony tidak ingin terlalu menanggapi apa yang dikatakan oleh istrinya itu, karena menurutnya istrinya sangat berlebihan, dan apa yang dia lakukan itu benar-benar salah. Kalaupun Adi dan Sinta memiliki rahasia, itu adalah urusan mereka, bukan urusan Sabrina. Bagi Sony, tidak ada gunanya untuk mengurusi kehidupan orang lain, karena baginya mengurusi hidupnya saja sudah sangat rumit, apalagi harus ikut campur dengan urusan orang lain.
"Sudahlah Bu, itu urusan mereka, jangan terlalu ikut campur. Kalaupun ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tidak perlu berusaha untuk membongkarnya, biarkan itu menjadi urusan mereka dan mereka sendiri yang akan membongkarnya. Jangan merumitkan hidupmu dengan mengurus urusan orang lain, Bu, cukup urusi saja urusanmu dan urusan kita, karena jika kamu mengurusi urusan mereka pada akhirnya kamu sendiri yang akan lelah karena telah menambah beban pikiranmu yang seharusnya tidak perlu untuk kau pikir."
Sony kembali menikmati secangkir kopi yang ada di atas meja, dia tak ingin berdebat terlalu lama lagi dengan istrinya itu. Sementara Sabrina, memilih untuk pergi ke dapur dengan wajah yang sangat murung dan merasa jengkel kepada suaminya yang tidak sependapat dengannya bahkan bisa dikatakan tidak peduli dengan apa yang dia katakan.
"Sebenarnya dia itu suamiku atau bukan sih? Kenapa sih dia tidak pernah sependapat denganku? Kenapa sih dia tidak pernah membenarkan apa yang aku katakan? Padahal apa yang aku katakan padanya adalah berita penting, dan sudah pasti ini harus dicari tahu, tapi kenapa dia tidak peduli dan tidak mau ikut campur dengan hal itu? Bagaimana kalau memang dugaanku benar? Bagaimana kalau mereka sedang melakukan sesuatu yang tidak baik dan pada akhirnya akan mencelakakan kami dan warga yang ada di sini? Aku tidak tahu seberapa besar penyesalan Sony akan hal ini nantinya," gerutu Sabrina.
Sabrina masih saja memikirkan apa yang dibicarakan oleh Adi dan Sinta bersama dengan Della, dan juga masih bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan oleh Adi kepada Della untuk tidak memberitahukan apa yang terjadi kepada semua orang. Rasanya dia ingin mencari tahu apa yang terjadi, tapi dia takut kalau sampai suaminya mengetahui hal itu, dan pada akhirnya mereka yang akan bertengkar hebat.
Sony selalu saja melarang Sabrina untuk melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya, sementara Sabrina terus saja ingin ikut campur dengan suatu urusan yang menurutnya ada hubungannya dengan keluarganya meskipun itu tidak sepenuhnya benar.
Sabrina masih melakukan kesibukannya di dapur, tapi dia masih saja memikirkan hal itu hingga anak semata wayangnya muncul dan membuatnya terkejut.
"Bu!" Danar memanggil Sabrina, tapi dia malah tidak menjawab.
"Bu!" panggilnya lagi, masih tidak ada jawaban.
"Bu, apa yang Ibu pikirkan?" tanya pria itu.
"Eh … Danar, mengejutkan Ibu saja. Ada apa datang ke dapur? Apa kamu ingin membantu ibu memasak? Kenapa tidak pergi bekerja?"
"Bukan aku yang mengejutkan ibu, tapi Ibu yang terlalu banyak melamun. Dari tadi aku sudah memanggil ibu, tapi Ibu tidak menjawabnya."
Ya, memang sedari tadi Danar sudah memanggil ibunya, tapi ibunya terlalu sibuk memikirkan kejadian itu hingga tidak menghiraukan panggilan anaknya itu.
"Hari ini Danar libur, Bu, jadi tidak bekerja. Apa yang sedang Ibu pikirkan? Kenapa Ibu melamun seperti itu?"
Sabrina tidak menjawab, dia justru menatap putranya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu dia tersenyum devil seolah dia mendapatkan jalan keluar untuk apa yang kini sedang mengganggu pikirannya.