Adi dan Sinta saling pandang, tak tau apa yang harus mereka katakan kepada Della. Bahkan, Adi dan Sinta hanya menjawab dengan air mata, yang membuat Della semakin tak mengerti.
"Jawab aku ibu, ayah. Siapa aku?" tanya Della, membuat kedua orang tuanya semakin tidak mengerti harus mengatakan apa.
"Siapa kamu? Apa yang harus ibu dan ayah katakan, Nak? Kamu itu Della, anak Ibu dan Ayah."
"Kalau aku memang anak kalian, kenapa aku merasa kalau aku sangat berbeda? Aku tidak pernah bergaul dengan orang lain, aku hanya bisa di rumah dan mengurung diri. Aku hanya bisa pergi ke gubuk untuk merajut. Aku bingung, sepertinya ada yang ibu dan ayah takutkan, tapi ibu dan ayah tidak mau mengatakannya padaku. Kenapa kalian harus menutupinya dariku? Kalau memang ada yang perlu dikatakan, katakan saja padaku, aku juga ingin tau dan ingin membantu kalian menyelesaikan masalah ini."
Adi mendekati Della, menenangkan putrinya itu dengan sejuta kelembutan.
"Kenapa kamu harus ragu, Nak? Apa kamu berpikir kalau kamu bukan anak ibu dan ayah? Apa kamu berpikir kalau kamu memiliki orang tua yang lain? Della, kamu bisa membuktikan semuanya dari apa yang ayah dan ibu lakukan padamu, dari kasih sayang yang ayah dan ibu berikan, atau dari apapun. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Della, kamu adalah anak ibu dan ayah."
Kalimat lembut Adi mampu meluluhkan hati Della, hingga dia memilih diam dan tidak mempertanyakan apapun lagi. Ketiganya kembali seperti semula, merasakan keluarga harmonis sebagaimana layaknya di sebuah desa yang bisa dikatakan terpencil.
Makan malam selesai, Della pergi ke kamarnya karena dia ingin segera istirahat. Namun, pikiran Della masih tak tenang, dia terus saja memikirkan apa yang terjadi. Bayangan-bayangan apa yang terjadi hari ini membuatnya merasa ada yang aneh pada dirinya.
"Aneh, kenapa aku bisa menyembuhkan ibu dan ayah? Kenapa aku bisa pergi ke hutan dan bertingkah layaknya aku adalah pemilik hutan itu? Seharusnya aku tidak seperti ini kalau memang aku adalah gadis normal, tidak mungkin aku bisa melakukan semuanya dengan sangat mudah. Kalau memang aku berbeda, itu artinya kau bukan anak ibu dan ayah, bukan?"
Della terus saja mempertanyakan tentang jati dirinya pada dirinya sendiri, padahal dia tahu kalau dia tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Bagi Della, semua tidak masuk akal, bahkan sangat tidak masuk akal. Kedua orang tuanya adalah manusia biasa, tapi kenapa dia seolah memiliki kesaktian? Bahkan, Della juga sempat berpikir kalau dirinya memang bukan anak dari ibu dan ayahnya, melainkan anak yang mereka temukan entah dimana.
Ingin rasanya Della mempertanyakan hal itu kepada ibu dan ayahnya hingga semua benar-benar terungkap, tapi melihat wajah kedua orang tuanya yang seolah memintanya untuk tidak membahas hal itu, membuat Della tidak tega untuk memperpanjang pembahasan itu, dan memilih untuk menyelesaikannya.
Paginya, Della menyiapkan diri untuk pergi ke gubuk, karena memang sudah menjadi kebiasaannya untuk pergi ke gubuk setiap pagi, sementara kedua orang tuanya akan pergi ke toko.
"Della, hari ini kamu pergi ke gubuk, Nak?"
"Iya, Yah. Tiap hari kan Della pergi ke gubuk, dengan begitu ayah dan ibu bisa menjual hasil kerajinan tangan Della ke untuk tambahan kebutuhan kita sehari-hari."
Adi dan Sinta saling pandang, sebelum Adi mengutarakan maksudnya.
"Nak, apa kamu tidak ingin ikut ke toko bersama ibu dan ayah?"
Della terkejut mendengar ucapan ayahnya, ini kali pertama baginya diajak ke toko. Sudah dua puluh satu tahun usianya saat ini, dia sama sekali belum pernah pergi ke toko.
"Yang bener, Yah? Della bisa ikut ke toko?"
"Tentu saja benar, itupun kalau kamu mau. Sesekali berhenti merajut dan bantu ibu dan ayah di toko. Tidak membantu pun tidak apa-apa, setidaknya kamu bisa kesana bersama ibu dan ayah."
"Tentu saja Della mau, Yah, bahkan sudah sangat lama Della ingin pergi ke Toko, tapi Della tidak berani untuk mengatakannya kepada ayah dan ibu."
"Kenapa tidak berani, Nak? Kamu bisa pergi bersama ibu dan ayah kapanpun kamu mau. Kalau begitu, ayo kita pergi, nanti keburu siang, rezeki keburu dipatok ayam kata orang dulu."
Ketiganya tersenyum sebelum pergi ke Toko. Keluarga itu sangat harmonis, bahkan tak pernah menunjukkan cacat dalam keluarga mereka. Tak pernah terdengar gosip miring tentang keluarga itu, hingga tak sedikit yang bilang kalau mereka adalah keluarga harmonis yang patut dicontoh. Namun, tak sedikit pulang yang memandang mereka iri, hingga menyebarkan berita tak mengenakkan telinga tentang mereka.
Di toko, Adi kembali mendekati putrinya. "Del, perihal kejadian kemarin, ayah harap jangan sampai ada yang tahu, ya, Nak."
"Ayah, tentu Della tidak akan mengatakan hal itu kepada siapapun. Della juga tidak ingin ada yang tahu tentang kemampuan Della. Mereka pasti akan bertanya-tanya tentang Della karena bisa menyembuhkan ayah dan ibu dengan cepat. Jangankan mereka, Della aja masih bertanya-tanya."
Adi bernapas lega, setidaknya putrinya itu tidak akan menyebarkan kepada orang-orang tentang kemampuan yang dia miliki. Adi takut kalau akan ada orang yang akan menyalahgunakan apa yang putrinya miliki, atau bahkan akan ada yang menculiknya dan menjadikannya menjadi penawar akan setiap patukan ular berbisa.
"Yah, makanya Della mempertanyakan hal itu. Della juga takut kalau pada akhirnya Della tahu sesuatu dan saatnya itu sangat tidak tepat. Contohnya, saat Della dalam bahaya. Atau mungkin saat terjadi sesuatu kepada Ayah dan ibu, bukankah itu sangat menakutkan?"
"Della, kok ngomongnya gitu, sih, Nak? Nggak baik, kenapa kamu bisa sampai berpikir sampai kesana?"
"Bukannya begitu, Bu. Della bilang contohnya, bukan mendoakan. Makanya Della juga takut, kenapa kalian tidak katakan saja apa yang sebenarnya terjadi dan siapa aku ini sebenarnya? Aku juga ingin tahu dan ingin merasa lebih tenang tanpa harus penasaran dan bertanya-tanya seperti ini."
"Sudahlah, kenapa harus membahas tentang itu lagi? Ayah sudah mengatakannya, kamu ini anak ayah dan selamanya akan jadi anak ayah. Sebaiknya jangan bahas itu lagi, kalau membahas hal itu tidak akan ada habisnya."
Adi pergi meninggalkan Della dan melakukan kesibukannya, dia tahu kalau papanya itu sedang menghindarinya, membuat dirinya semakin penasaran akan jati dirinya yang sesungguhnya. Namun lagi-lagi Della memilih mengalah, dia tak ingin berdebat terlalu lama dengan kedua orangtuanya yang pada akhirnya akan membuat keluarga yang terkenal harmonis itu menjadi renggang. Tak bisa mendapatkan jawaban dari kedua orangtuanya, Della berniat untuk mencari tahu tentang jati dirinya, karena dia benar-benar sangat penasaran akan apa yang terjadi pada dirinya.
Tanpa mereka ketahui, ada sepasang telinga yang mendengarkan pembahasan mereka dari luar, seseorang yang sama sekali tidak menginginkan keluarga itu terus saja menjadi keluarga harmonis dan di bangga-banggakan warga sekitar.