Alden menggerutu tak jelas sejak pagi. Dia masih kesal dengan kelakuan Aiden yang mendadak datang ke kamar Kaleena dan memintanya membuatkan makanan. Memangnya dia pikir Kaleena siapa? Sampai harus masak untuk dia tengah malam? Alden yang istrinya saja belum pernah sama sekali.
Dan bahkan pagi ini dia duduk di depan Alden dengan wajah tanpa dosanya. Seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kaleena..," panggil Alden lantang.
Kaleena yang berada di dapur langsung berlari ke arah meja makan, sambil membawakan s**u vanila untuk Aiden.
"Iya den Al, ada apa?"
"Pasangkan dasiku!!" perintah Alden melempar gulungan dasi pada Kaleena.
Kaleena diam menatap gulungan dasi yang jatuh di bawah kakinya. Ini kalau bukan karena menyamar, mungkin Kaleena sudah marah-marah pada Alden.
Sebelum tangan Kaleena meraih dasi gulung itu, sebuah tangan keriput mengambil gulungan dasi itu dan menatap Kaleena sinis.
"Biar saya saja yang memasangkan dasi untuk cucuku. Kamu kembali bekerja." sinisnya.
Kaleena mengangguk dia kembali ke dapur dan menatap Alden yang menatapnya tajam. Dia tahu jika pria itu masih marah dengan adiknya.
Alden menepis lembut tangan Oma, dan merebut dasinya kembali. Padahal dia ingin Kaleena yang memasangkannya tapi yang ada malah Oma yang merebut dasi itu.
"Katanya mau dipasangin dasinya, sini Oma pasangin." ucap Maria menatap Alden.
"Nggak usah Oma, nanti saja pas di kantor."
Maria mengangguk, dia pun kembali duduk di samping Paul. "Jangan nyuruh dia lagi, Oma nggak suka."
Selalu saja seperti itu apapun yang Alden lakukan selalu salah dimata Oma-nya, termasuk hidup dan masa depannya.
Mendadak selera makan Alden bilang, dia pun mengambil roti selai dan juga meneguk minumnya.
"Aku berangkat ke kantor." ucap Alden dan berlalu begitu saja.
Magdalena ingin menghentikan langkah kaki Alden, tapi tangannya ditarik oleh Jonathan dan membuat Magdalena kembali duduk.
Oma-nya ini sudah cukup banyak mengatur hidup Alden dan juga Alden. Magdalena tidak suka, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali diam dan menahannya.
"Mi, Pi, aku berangkat dulu ke kantor." pamit Aiden dan bangkit dari duduknya.
"Kamu nggak sarapan dulu?" ucap Maria menatap Aiden heran.
"Di kantor aja Oma, aku lupa kalau ada meeting pagi ini."
Aiden segera pergi setelah tersenyum penuh kecewa pada Magdalena. Bukannya tidak suka dengan sifat Maria, hanya saja aturannya yang membuat Aiden tidak betah.
Cinta itu datang tanpa diminta, tapi Oma selalu meminta pasangan yang satu level dengan mereka. Memiliki harta yang melimpah, lulusan sekolah dari luar negeri, pemilih perusahaan itu paling penting. Karyawan dan sederajatnya itu tidak berlaku di depan Oma.
"Bang..," panggil Aiden saat masih melihat Al berada di garansi mobil.
Alden mendengus lalu menoleh. Baru saja dia mengirim pesan pada Kaleena untuk memasangkan dasinya. Tapi bocah satu itu selalu saja mengganggunya.
"Kenapa.."
"Nggak papa, gue bosen aja di dalam."
"Lo pikir lo doang. Nenek lo suka ngatur jadi gue males."
"Nenek lo juga kali Bang," jawab Aiden sewot. "Bang kapan sih kita hidup normal kayak yang lainnya. Pilih pasangan hidup sendiri, tanpa di pilihan kayak gini. Mendadak gue jadi mikir kita lajang seumur hidup kalau Oma nggak mati." ujarnya.
Walau terkadang kita saling bertengkar, dan Alden selalu beranggapan Mami-nya lebih menyayangi Aiden. Nyatanya pria setengah dewasa itu kadang masih suka mendengar curahan hati adiknya dengan tenang. Tanpa mencelanya sedikitpun.
"Gue juga nggak tau mau sampai kapan. Tapi jangan sampai lajang seumur hidup."
"Tapi gue pengen nikah bang, umur lo udah tiga puluh tahun. Gue udah dua puluh tujuh tahun kalau lo lupa."
"Sialan!! Jangan ingetin umur," umpat Alden menoyor kepala Aiden. "Kalau lo mau nikah mending nikah siri aja dulu, atau nggak nikah di catatan sipil." ujarnya.
Aiden menoleh bingung, kepalanya mencerna ucapan kata demi kata yang diucapkan oleh Alden. Setahu Aiden nikah siri itu tidak memiliki surat, dia hanya diwakili oleh teman atau mungkin hanya ada orang yang akan menikahkan mereka. Kalau di catatan sipil masih bisa dikatakan sah selama berkas ada.
"Bang emang boleh ya nikah siri?"
"Boleh aja kalau lo mau. Dari pada lo ngebet nunggu Oma mati, mending gitu. Nanti Oma mati baru deh nikah sah." jelas Alden enteng.
"Emang abang udah pernah nikah siri?" tanya Aiden dan membuat Alden menatapnya bingung.
-SecretWife-
Siang hari Kaleena memilih menikmati ice milo di salah satu kedai bersama dengan Tiara. Untung saja tadi Magdalena tidak meminta Kaleena untuk masak, dengan alasan jika dia ada arisan bersama dengan temannya.
Kaleena juga banyak cerita saat dia tinggal di rumah Alden. Mami-nya yang memiliki sikap lembut, sedangkan Papi-nya yang terlihat tegas dan tidak banyak omong. Walaupun Kaleena tidak pernah berbicara dengan Papi Alden.
Sedangkan dengan Oma, baru tadi pagi. Dan belum apa-apa Kaleena sudah di gas duluan.
"Haduh.. Kayaknya si Oma lagi mau memerankan tokoh antagonis." komentar Tiara.
"Nggak tau deh, gue juga heran. Padahal itu laki gue, cuma pengen pasangin dasi aja langsung di gas…"
Tiara tertawa, "Betah nggak lo tinggal disana."
"Baru juga dua hari, belum sebulan. Secara Mami-nya sih baik, nggak ada masalah juga. Kayaknya gue bakalan betah tinggal disana."
"Syukur deh kalau lo betah di sana Leen, gue ikut seneng."
Kaleena mengangguk dia pun menikmati ice milonya dengan santai. Berhubung dia masih punya banyak waktu, dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Tiara. Karena Kaleena tahu dia akan sibuk beberapa hari kedepan.
Banyak yang mereka bicarakan, dari Tiara yang ingin diangkut oleh pengusaha kaya agar dirinya tidak bekerja terus menerus. Atau mungkin menjadi simpanan om-om tidak masalah, asalkan tiap bulan ada pemasukan. Tidak harus bekerja dari malam hingga subuh, sebagai pengantar minuman. Belum lagi di bisa disentuh-sentuh tangannya saat menaruh gelas minuman.
Mendengar itu Kaleena pun tertawa dia pun meminta Tiara untuk sabar. Bekerja di club memang beresiko, tapi dia harus tau resiko apa yang dihadapi Tiara. Dan mengingatkan Tiara, jika dia bertemu dengan Alden juga saat Alden mabuk di club tempat dia bekerja.
Menjelang sore Kaleena pun memilih untuk pulang, jangan sampai Kaleena pulang sebelum Mami Alden pulang. Atau mungkin Oma-nya pulang, mengingat tadi mendadak Oma bilang jika dia ingin ikut Mami Alden, dab ingin pijat kesehatan.
"Gue balik dulu ya, takut majikan nyariin pembantu baru dua hari udah keluyuran." kekeh Kaleena.
Tiara ikut terkekeh, "Ingat ya status lo lebih tinggi dari pembantu."
Kaleena mengidikkan bajunya, dia pun memilih meraih tas kecilnya dan pergi dari kafe. Tapi tak sengaja Kaleena menabrak seseorang dan membuat beberapa kertasnya berjatuhan.
"Sorry gue nggak lihat." ucap Kaleena memungut kertas itu dan memberikan pada sang pemiliknya.
"Den Aiden…" ucap Kaleena saat tau siapa yang ditabraknya.
Aiden yang merasa di panggil pun mendongak, menatap Kaleena yang tampak berbeda siang ini, lalu tersenyum simpul.
"Kaleena, kamu disini juga." ucap Aiden.
"Iya den nemenin temen ngopi."
Aiden mengangguk dia pun menatap penampilan Kaleena dari atas hingga bawah. Baju putih yang menutupi leher, celana putih panjang, dan juga cardigan berwarna coklat kebesaran, cukup menarik perhatian Aiden.
Kemarin malam, dia juga melihat Kaleena yang menggunakan kemeja hitam kebesaran yang sangat kontras dengan kulitnya. Sedangkan sekarang tidak jauh beda.
"Hmm, den saya pulang dulu ya takut Nyonya nyariin pas saya nggak di rumah." ucap Kaleena berpamitan.
"Kamu pulang sama aku aja, tapi sebentar saya kasih berkas ini dulu. Kamu tunggu disini." jawab Aiden dan berlalu.
Kaleena ingin menolak, tapi belum juga suara nya keluar dari bibirnya, Aiden sudah pergi lebih dulu. Mengakibatkan dia menunggu Aiden bersama dengan Tiara.
"Cakep bener Leen majikan lo." Tiara menyenggol baju Kaleena berharap Kaleena tahu apa maksud dia.
Tarik nafas buang, lalu Kaleena menggeleng seakan tidak setuju dengan tingkah laku Tiara.
Sampai akhirnya Aiden pun kembali, pria itu langsung mengajak Kaleena untuk pergi dengan cara menggenggam tangannya.
Tentu saja Kaleena terkejut, dia pun dengan cepat menarik tangannya. Tapi yang ada Aiden malah menggenggam tangan Kaleena dengan erat. Dalam hati Kaleena berdoa jika tidak ada orang lain yang melihat hal ini, termasuk Alden dan juga Oma-nya.
-SecretWife-
Sampai di rumah, Kaleena langsung terjun ke dapur. Membuat makan malam untuk keluarga Alden. Malam ini Kaleen ingin sekali membuat ayam panggang, dan juga ikan, sayuran sedikit dan juga jus buah. Katanya setiap malam Mami Alden selalu meminta jus.
"Kaleena, buah naganya habis?" tanya Putri.
"Habis Mbak Put, aku jadiin toping puding tadi."
"Siapa yang bikin puding?"
Kaleena maupun Putri menoleh, menatap Magdalena yang masuk ke dapur dengan senyum lebarnya. Wanita paruh baya itu menghampiri Kaleena dan juga Putri.
"Siapa yang bikin puding?" tanya nya lagi.
"Kaleena Nyonya yang membuat puding." jawab Putri.
"Boleh aku cicipi? Sepertinya aku sudah lama sekali nggak makan puding."
Dengan senang hati Kaleeja mengambil puding nyatanya, dan memotongnya untuk Magdalena. Tak lupa juga dia mengambil taburan coklat sebagai pemanis.
Magdalena yang menatap hal itu tersenyum, dia pun langsung melahap satu potong puding yang baginya sangat lembut dan enak. Manisnya sangat pas, rasanya tidak mengecewakan sama sekali.
"Leena, taruh meja makan ya saya mau makan ini puding." ucap Magdalena.
"Siap Nyonya."
Untung saja dulu Suster panti selalu mengajari Kaleena memasak sejak kecil. Coba saja kalau tidak, mungkin dia juga tidak akan tahu mana bumbu dapur dan juga bumbu rempah.
Selesai menyiapkan makan malam di meja makan, Kaleena kembali ke dapur. Niat hati ingin segera makan, apalagi perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Maklum minum ice dan cemilan tidak akan membuat perut Kaleena kenyang. Tapi belum juga tangannya menyentuh makanannya, sebuah notif masuk ke benda pilih berwarna gold di sampainya. Ternyata pesan dari Alden, yang meminta Kaleena untuk tidak makan lebih dulu. Karena dia ingin makan malam bersama di kamar Kaleena. Tentu saja itu ada maunya, mana mungkin Alden berbuat baik tapi tidak ada maunya?
Kaleena akhirnya menyisihkan dua piring dan juga s**u coklat. Menatap sekeliling dapur ini sepi, Kaleena segera berjalan cepat menuju kamar nya, berharap semua orang tidak ada yang tahu dengan hal ini.
"Kaleena beres-beres."
Ucapan itu membuat Kaleena berlari cepat. Dia pun segera membantu babu yang lain membersihkan meja. Tapi pandangannya tertuju pada satu piring yang masih tengkurap.
"Mbak ini siapa yang belum makan?" tanya Kaleena pada Putri.
"Den Al kan belum pulang Kal, jadi belum makan."
"Perlu siapa makannya?" tanya Kaleena memastikan, tapi dia juga berharap kalau Putri menjawab tidak.
"Nggak usah Kal, nanti kalau lapar dia minta sendiri kok."
Kaleena mengangguk dia pun langsung membawa piring kotor dan menaruh di tempatnya. Lalu dengan cepat Kaleena pun segera menuju ke kamarnya. Dan betapa terkejutnya saat melihat Alden sudah ada di dalam kamarnya. Duduk manis dan menikmati secangkir coklat panasnya.
"Kamu.. Kok bisa masuk kamarku?" pekik Kaleena heran.
Kaleena masih ingat saat dia meninggalkan kamarnya, dia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang masuk. Dan sekarang bagaimana bisa Alden masuk ke kamarnya dengan gampangnya? Kamar ini tidak memiliki jendela besar, dua jendela dekat dengan pintu, tapi ada besi-besi besar sebagai penghalang maling untuk masuk.
"Kamu tinggal di rumah saya, jadi saya bisa masuk kapanpun saya mau." jawab Alden santai.
"Tapi pintu ini aku kunci Al."
"Lain kali jangan di kunci, atau saya akan mendobrak pintu ini hingga rusak," dengus Alden dan mengantongi kunci cadangan kamar Kaleena. "Sekarang duduklah, dan kita makan. Saya sudah lapar, karena melewatkan makan malam saya hanya demi kamu." ujarnya.
Kaleena tersenyum dia pun melupakan keheranannya dna duduk di depan Alden. Menikmati makan malam ini tenang. Sesekali melirik Alden yang tampak lahap dengan masakannya. Syukurlah kalau dia suka dengan masakan Kaleena.
Usai makan Kaleena segera membereskan bekas piringnya dan juga Alden. Lalu kembali lagi ke kamar, dan berharap Alden sudah pergi. Nyatanya pria itu masih duduk tenang di depan laptop milik Kaleena.
Kaleena sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, lagian Alden ini suaminya, jadi kalau pun dia lama dia ini tidak masakan. Hanya saja, Kaleeja takut jika ada orang lain yang melihat Alden berada di kamarnya. Yang ada Kaleena akan di usir dari rumah ini.
"Siang tadi, saya lihat kamu sama Aiden di cafe, ngapain?" tanya Alden tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Kaleena menatap Alden cemberut lalu mengusap dagunya perlahan, "Oh tadi, aku ngopi sama Tiara. Pas mau pulang, aku ketemu Aiden yaudah dia ngajakin balik bareng."
"Terus kamu mau?" Alden menatap Kaleena, dia ingin tahu bagaimana reaksi Kaleena kali ini.
"Ya mau lah Al, naik taksi online dari tempat aku ngopi ke rumah kamu itu hampir seratus ribu."
Alden menggelengkan kepalanya dia ini lupa atau bagaimana, kalau dia memiliki suami kaya raya yang setiap bulan mengisi kartu platinum dia dengan belasan juta rupiah.
"Lain kali jangan gitu lagi, kalau nggak mau naik taksi online kamu bisa telepon saya. Nanti saya jemput." ucap Alden datar dan membuat Kaleena bingung.
"Kamu kenapa sih, dia adik kamu. Harusnya kamu senang pas aku pulang sana dia, itu tandanya aku aman."
"Aman apa!! Saya nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia. Kamu belum tahu bagaimana sikap adik saya, jadi jangan menganggap jika semuanya aman!!"
Dahi Kaleena mengernyit dalam, matanya terus menatap Alden yang kembali sibuk dengan laptopnya. Seulas senyum terukir di wajah Kaleena, apa mungkin Alden cemburu saat Kaleena bersama dengan Aiden? Kalau iya berarti Kaleena berhasil dong buat Alden suka sama dia.
Alden yang merasa aneh dengan Kaleena pun menatap wanita itu dengan bergidik ngeri.
"Kamu kenapa senyum kayak gitu? Belajar gila?" tanya Alden heran.
"Bilang dulu Al kalau kamu cemburu lihat aku sama Aiden." ucap Kaleeja sambil memainkan alisnya.
Mendengar hal itu Alden pun langsung meletakkan laptopnya di tempat semula, dan dia pun segera pergi dari kamar Kaleena. Bukan cemburu, hanya kesal saja jika melihat Aiden bersama dengan Kaleena.
-SecretWife-