Sejak pagi Kaleena disibukkan di bagian dapur. Mami Alden bilang kalau tukang masak di rumah ini cuti, tapi sudah satu bulan ini dan tak kunjung datang. Makanya Kaleena diterima bekerja disini. Tidak masalah bagian pembantu, asal dia tahu apa saja yang biasanya dilakukan suaminya selama di rumah.
Selesai membuat sarapan, Kaleena menatap catatan kecil yang diberikan Magdalena. Dia pun menatap satu-persatu daftar minuman pagi keluarga ini. Baru kali ini Kaleena menemukan keluarga aneh, pagi harus ada aja yang diminta dan itu harus ada di meja makan.
Pertama Kaleena harus membuat kopi latte untuk Jonathan alias Papi Alden. Kedua Kaleena harus membuat s**u coklat untuk Aiden, entah dia siapa yang Kaleena yakin kalau Aiden ini adik Alden, karena namanya hampir sama. Ketiga membuat teh melati untuk Paul dan juga Maria. Dan terakhir dia harus menyajikan teh China untuk Mami Alden.
Kaleena menghitung semua gelas yang ada di depannya. Semuanya sesuai dengan apa yang ditulis, tapi Kaleena masih merasa aneh dengan note di tangannya. Rasanya ada yang kurang tapi apa?
"Eh bentar deh, ini Alden nggak ada minuman khusus untuk pagi hari?" guuman Kaleena saat menyadari jika nama Alden tidak ditulis disana.
Sekali lagi, Kaleena menghitung gelas itu dan menyamakan dengan notenya. Dan benar saja minuman untuk Alden tidak ada.
Kaleena bingung harus menyiapkan apa, tidak mungkin dia menyiapkan air putih untuk suaminya. Tapi tulisan untuk Alden tidak ada, berarti setiap lagi dia tidak minum kopi atau teh.
"Jangan-jangan kalau pagi minum soju." guman Kaleena pelan.
"Sembarangan!!" ucapan itu membuat Kaleena menoleh. Dia pun menatap Alden yang berdiri tegak di dekat lemari pendingin. "Saya tidak suka minum kopi atau teh dipagi hari, karena bisa membuat gigi saya kuning. Setiap pagi siapkan saja air putih, dan saat mau tidur kamu bisa menyiapkan coklat panas." jelasnya dan membuat Kaleena mengangguk.
Wanita itu langsung mencatat apa yang dikatakan oleh Alden. "Ada lagi yang perlu ditambah?"
"Saya nggak suka sayur, tapi saya suka wortel itu saja."
Kaleena kembali mengangguk paham, dan mencatat apa yang dikatakan Alden agar nanti dia tidak lupa.
"Sekarang pasangin dasi saya."
Ucapan perintah itu membuat Kaleena mendongak, dia pun menatap dasi hitam di genggaman tangannya dan memberikan pada Kaleena.
Bukannya tidak bisa memasangkan dasinya, hanya saja Kaleena takut jika ada orang yang melihatnya nanti. Dan mengira jika Kaleena menggoda anak pemilik rumah ini, yang masih terkenal dengan kata lajang.
"Kamu kan bisa pasang sendiri, kenapa harus nyuruh aku?" ucap Kaleena dan bersiap untuk pergi.
Tapi dengan cepat Alden menghalangi langkah kaki Kaleena. Tidak mungkin jika dia menarik tangan Kaleena yang tengah membawa nampan.
"Bukannya kamu istri saya? Harusnya ini pekerjaan kamu kan?" ucap Alden datar.
Perasaan pagi ini pria di depannya ini cukup berubah. Kemarin dia tampak baik-baik saja dengan sikapnya yang nyebelin. Saat ini berbicara saja suaranya terdengar tegas dan tidak ingin dibantah.
Kaleena mengalah menaruh nampan itu diatas meja dapur, dan meraih dasi Alden dan memasang kan dengan baik.
Setelah sudah wanita itu kembali mengambil nampan dan menyajikan minuman yang dia buat di atas meja makan. Hingga satu persatu anggota keluarga ini berkumpul, termasuk dua manusia beruban yang berjalan saling bergandengan tangan.
Ini masih pagi, tapi nyatanya mereka malah memamerkan kemesraan mereka di depan Kaleena. Semoga saja nanti saat Kaleena menua masih ada orang yang mau menggandeng tangan dia dan menemani dia sampai tua nanti.
"Al kamu kenapa kok dari arah dapur?" tanya Magdalena menatap Alden dengan curiga.
"Cuma mau mastiin aja Mi, kalau pembantu Mami ini nggak salah menyajikan minuman untuk kami." jelas Alden melirik Kaleena.
Tahan nafas Kaleena pun tersenyum canggung. Bisa-bisanya Alden bilang kalau Kaleena pembantu, tapi tidak masalah demi hidup dengan suami dan keluarganya Kaleena harus melakukan hal ini.
Terniat sekali!!
"Mana mungkin Kaleena salah Al, Mami udah ngasih dia note kok." jelas Magdalena.
"Nyatanya Mami nggak masukin nama aku disana. Dan dia bingung harus menyajikan aku apa."
Mendengar hal itu Magdalena langsung menepuk jidatnya. "Astaga Al, Mami lupa."
"Ya lah lupa, Aiden mulu yang di ingat." ucap Alden sewot.
"Perasaan gue mulu yang kena, gue diem Bang." sahut Aiden tidak terima.
"Sudah!! Oma sudah lapar, ayo kita sarapan. Kaleena tolong sajikan makanan untuk kami." lerai Maria dan membuat Kaleena mengangguk.
-SecretWife-
Setelah tidak ada kegiatan Kaleena memilih merebahkan dirinya di kamarnya. Dia hanya bagian masak dan ini belum masuk waktunya makan siang. Dia masih memiliki waktu cukup lama untuk merebahkan dirinya. Badannya benar-benar lelah saat ini.
Tangannya terulur mengambil benda pipih berwarna gold di sampingnya. Tidak ada pesan sama sekali, dan tidak ada notif sama sekali kecuali dari Tiara. Dia ini cukup bawel, dia sendiri yang mengiring Kaleena untuk menjadi babu di rumah Alden, dan sekarang dia juga yang minta Kaleena untuk pulang.
Tok.. Tok…
Ketukan pintu membuat Kaleena bangkit dari rebahannya, tangannya meraih engsel dan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Den Aiden ada apa?" ucap Kaleena saat tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tolong buatin minum buat temanku ya, tadi aku panggilin kamunya nggak nyaut."
"Oh maaf Den, iya saya buatkan."
Kaleena segera menuju ke dapur membuat tiga gelas minum untuk teman Aiden dan juga Aiden. Tidak mungkin hanya membuat minum untuk tamu, sedangkan pemilik rumahnya tidak.
Padahal rumah ini pembantu juga tidak hanya Kaleena, kenapa juga untuk membuatkan minum saja harus Kaleena?
"Maaf ya Kaleena tadi aku udah bilang, biar aku aja. Tapi Den Aiden nggak mau, maunya kamu yang buat." ucap Mbok Asih pembantu paling tua katanya disini.
"Nggak papa Mbok, kan udah tugas aku juga."
"Ya sudah sana Den Aiden nggak suka nunggu lama."
Kaleena mengangguk dia pun mengambil nampan yang isinya tiga sirup. Dan dihidangkan untuk kedua teman Aiden, tak lupa juga Kaleena memberikan cemilan ringan di atas meja sebagai pelengkapnya.
"Den pembokat lo? Cantik gini." ucap salah satu teman Aiden.
Aiden hanya mengangguk, hingga Kaleena pun memilih untuk pergi ke dapur. Sudah hampir memasuki makan siang dia harus memasak. Padahal baru kemarin dia menikmati menjadi ratu, dan sekarang turun lagi. Kalau bukan demi membuat Alden jatuh cinta, Kaleena mana mau berbuat seperti ini.
Mengeluarkan semua bahan di lemari pending, dan meneliti banyaknya sayur. Asalkan tidak ada sayur, tapi ada wortel.
Kaleena menimang dia bingung mau masak apa, tapi sebelum dia masak. Wanita itu menatap majikan perempuannya masuk ke dapur. Kalau di lihat Ibu Alden ini sangat baik dia lembut dan penuh kasih sayang. Tapi kenapa anaknya ngeselin sampai keubun-ubun?
"Kaleena kamu nggak usah masak ya, kita mau makan diluar soalnya. Tapi kalau mau masak sedikit saja buat Aiden sama Alden, apalagi disini ada temen Aiden juga. Masak buat mereka aja." jelas Magdalena.
"Iya Bu."
Melihat kepergian Magdalena, Kaleena pun segera memasak. Dia tidak mungkin masak dengan dua menu, lebih baik satu metu yang bisa dimakan oleh semua orang.
Hampir setengah jam Kaleena memasak, dan semuanya pun selesai. Kaleena segera menghidangkan masakannya di atas meja makan.
"Den Aiden makan dulu." ucap Kaleena lembut.
Aiden mengangguk, "Ayo kita makan. Baru habis gini ke kantor lagi."
Kaleena mengambilkan nasi untuk Aiden, begitu juga dengan kedua temannya. Tak lupa juga menyiapkan air minumnya dan menawarkan buah. Ternyata tidak ada yang mau sama sekali dengan buah.
"Saya nggak suka buah, jadi jangan di tawarin." ucap Aiden.
"Maaf."
"Nggak papa, kamu ingat-ingat saja sudah dari cukup."
Kaleena mengangguk paham, dia pun langsung memilih pergi ke dapur. Sekarang giliran menyiapkan makan untuk Alden. Menunggu dia pulang, kalau masakannya dingin tinggal di panaskan.
"Leena kamu disuruh anterin makan siang Den Alden ke kantornya." ucap Mbak Putri.
"Haa? Sekarang Mbak?"
"Besok Leen, ya sekarang lah. Den Alden nggak bisa pulang, jadi dia minta kamu yang anterin makan siangnya."
Merepotkan. Padahal dia bisa beli di restoran dekat dengan kantornya. Atau tidak sebenarnya dia punya waktu untuk pulang, tapi alasannya sibuk.
Terpaksa Kaleena pun mengantar makan siang Alden setelah mendapat alamat kantornya. Setelah mengganti bajunya yang lebih rapi, Kaleena pun pergi. Tapi baru juga beberapa langkah namanya sudah dipanggil dari arah belakang.
"Den Aiden butuh sesuatu?" ucap Kaleena menatap Aiden yang berlari ke arahnya.
"Nggak. Kamu mau kemana?"
"Saya mau ke kantor den Al, mau nganterin makan siang."
Aiden mengangguk dia menatap arloji mewahnya, "Bareng saya saja, kebetulan saya lewat kantor dia."
"Tapi den—"
"Udah nggak papa, ayo."
Aiden meminta dua temannya untuk segera pergi ke kantor. Rapat akan diadakan setengah jam lagi, Aiden tidak ingin kedua temannya ini terlambat dan kalah tender. Sedangkan Aiden dia harus mengantar Kaleena dulu baru dia akan pergi ke kantor.
Kaleena masuk ke mobil Aiden, niatnya pengen duduk di belakang tapi Aiden meminta Kaleena untuk duduk disampingnya. Di dalam mobil pun mereka berdua hanya diam, Kaleena yang sibuk memperhatikan pinggiran jalan, dan Aiden yang fokus dengan jalanan walaupun sesekali melirik ke arah Kaleena.
"Kata Mami kamu sudah menikah ya." tanya Aiden memecah keheningan.
Kaleena mengangguk, "Iya den, saya sudah menikah."
"Terus dimana suamimu? Dan kenapa membiarkan kamu bekerja?"
Suami gue abang lo. Ingin sekali Kaleena menjawab seperti itu pada Aiden, tapi dia tahan saat dia ingat jika keluarga Alden tidak ada yang tahu, jika dia sudah menikah.
"Suami saya pergi ninggalin saya den."
Aiden melirik Kaleena sebentar lalu fokus kembali dengan jalanan. Kalau dilihat wanita di sampingnya ini cantik walaupun cuma modal lipstik saja. Secara fisik tidak ada yang cacat. Body juga oke, bagaimana bisa suaminya meninggalkan dia saat ini?
"Bukannya pernikahan dilandasi dengan rasa cinta ya?"
Kaleena ingin tertawa tapi dia tahan. Hingga akhirnya dia hanya mampu tersenyum kecil sambil menunduk.
"Tidak sih den menurut aku. Nyatanya dia menikah dengan saya karena warisan."
Aiden bingung melihat Kaleena. Hingga Kaleena menjelaskan jika sebenarnya suaminya ini menikahinya karena warisan. Dulu, dia memiliki nenek yang sangat baik, dan neneknya itu meminta cucunya untuk membuat Kaleena jatuh cinta, kalau bisa menikah dengan Kaleena semua warisannya jatuh pada cucunya. Hingga akhirnya mereka menikah, tinggal beberapa bulan dan Kaleena pun ditinggal dengan pria itu.
"Dia hanya memanfaatkanmu ya." komentar Aiden.
"Ya begitu den," Kaleena menatap bangunan di depannya, yang bertuliskan Jonathan Crop. "Makasih ya den Aiden udah di anterin." ujarnya.
"Iya sama-sama kalau butuh jemputan telepon aku aja." kekeh Aiden dan membuat Kaleena tertawa dan turun dari mobil Aiden.
-SecretWife-
"Sebenarnya apa tujuan kamu tinggal di rumah saya?"
Alden menarik dirinya dari atas Kaleena dan tidur di sampingnya. Matanya menatap wanita di sampingnya yang masih ngos-ngosan dengan percintaan mereka tadi.
"Nggak ada, kenapa?"
"Saya tau kamu punya tujuan, tapi nggak gini caranya."
Ya Kaleena memiliki tujuan, dia ingin tahu kenapa Alden tidak memberitahu keluarganya kalau mereka sudah menikah?
"Memangnya salah ya, kalau aku mau tinggal sama suamiku? Aku sudah seperti simpanan yang didatangi saat kamu butuh pelepasan."
Alden memilih diam, dia pun mengambil beberapa helai tisu dan membersihkan cairan keruh di pangkal pahanya. Lalu mengambil beberapa helai tisu lagi dan dia berikan pada Kaleena.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan jawaban Kaleena, hanya saja Alden belum siap jika kedua orang tuanya tahu kalau dia sudah menikah. Apalagi kalau Kaleena sampai tahu, tujuan dia menikahi Kaleena apa.
Alden meraih bajunya dan memakainya asal, begitu juga dengan Kaleena yang langsung memakai kemeja kebesaran kesukaannya.
"Baru kali ini saya bercinta di rumah sendiri." ucap Alden mengalihkan pembicaraan.
Kaleena mendengus dia memilih meneguk minumnya di banding harus menjawab ucapan Alden. Tidak ada gunanya juga dia menjawab hal itu, yang ada Kaleena tidak mendapat jawaban apapun.
"s**u coklatnya sangat enak." ucap Kaleena aneh.
Alden meliriknya lalu meraih coklat panas yang seharusnya untuk dia, tapi dinikmati secara tidak adil oleh Kaleena.
"Ini punya saya." Alden meraih gelas itu dan meneguknya.
"Dan ini juga kesuka—"
Ucapan Kaleena terhenti saat mendengar pintu kamar ini di ketuk. Kaleena menatap Alden yang duduk di sampingnya, lalu menatap jam dinding kamar Kaleena. Ini susah jam dua belas malam, mana mungkin ada penghuni rumah ini yang masih bangun, kecuali Alden. Dan Alden juga memastikan jika dia datang ke kamar Kaleena tidak ada satu orang pun yang tahu.
"Kamu yakin pas kesini nggak ada orang?" tanya Kaleena memastikan.
"Hmm, pas kesini semua pada tidur."
"Terus siapa yang ketuk pintu kamarku?"
Alden mengedikkan bahunya tanda jika dia tidak tahu. "Jam segini mana ada yang bangun, ini sudah tengah malam."
"Kaleena kamu sudah tidur?" teriak seseorang di balik pintu kamar Kaleena.
Alden menatap pintu kamar Kaleena tajam, dia tahu betul suara siapa itu. Kalau bukan Aiden adik tengilnya utu.
"Sialan!! Bocah itu kenapa sih malam-malam begini kesini, ganggu orang saja." dumel Alden
"Aiden? Astaga gimana dong Al, jangan sampai adik kamu tau kalau kamu ada disini." Kaleena nampak panik, dia pun menatap sekeliling kamar yang sempit ini. Tidak mungkin Alden bersembunyi di kamar mandi. Tapi tidak mungkin juga Alden bersembunyi di lemari kamar ini.
"Al kamu sembunyi di bawah tempat tidur aja ya." ucap Kaleena tanpa sadar.
Alden mendengus, apa dia lupa kalau kamarnya ini tempat tidurnya di bawah. Walaupun dia sendiri yang minta tempat tidur dibawah tanpa ranjang.
"Sudah kamu buka saja pintunya, saya bisa bersembunyi di balik pintu, jangan lebar-lebar saat membukanya."
Kaleena mengangguk dia pun membuka knop pintu dengan tangan gemetar. Sesekali melirik Alden yang berdiri dibalik pintu dengan tenang.
Saat pintu terbuka muncullah wajah Aiden yang tampak menggemaskan. "Den Aiden…"
"Kal aku lapar, bisa buatkan makan?" ucap Aiden tanpa basa basi.
"Bisa den, mau dibuatkan apa?"
"Terserah, apa saja yang penting aku kenyang."
Kaleena mengangguk dia pun langsung meninggalkan Alden di dalam kamarnya yang terus menggerutu tak jelas di balik pintu.
-SecretWife-
bisa tab love dulu ya. InsyaAllah buldep udah rutin. tergantung Nanny to Mommy end di bulan apa hehe. yuk komen yuk...,