Satu Hari Menjadi Dirinya

1078 Kata
" Setiap orang membutuhkan sandaran untuk meletakkan lelah" Vya menaiki mobil menuju ke kantor besar untuk menemui seorang klien ayahnya, sementara Adita yang memakai seragam sekolah vya ia berjalan menuju sekolah bersama supir pribadi Vya. "Nona muda, apakah anda hari ini ingin menghibur diri dengan belanja di mall?." Adita mengerutkan alisnya heran "hah?!. Apakah aku sering pergi ke mall?." "Iya, nona muda. Apakah nona muda lupa?." Dengan geram Adita mengepalkan tangannya "dengan mudahnya dia membuang uang seperti sampah, apakah dia pikir tidak sulit untuk mencari uang?." "Apakah anda mengatakan sesuatu, nona muda?." "Ah, tidak. Lupakan." Seperti yang diduga, vya hanya bingung cengo mendengar klien ayahnya itu bicara dalam bahasa Inggris "Apakah anda setuju dengan apa yang dikatakan klien, nona Adita?." Tanya seorang sekretaris "Matilah kau vya, aku tidak mengerti apa yang orang ini katakan." Vya terdiam bengong seraya mengangguk atas apa yang telah klien ayahnya itu katakan "Nona Adita?." "Haha, oh iya. Aku, aku akan setuju." Adita datang ke sekolah adiknya dengan gayanya yang sedikit lebih bersahaja dari biasanya membuat semua teman-temannya bingung "Waah, kamu tampil berbeda hari ini, vya" "Hai" Adita membaca nama papan semua teman-teman sekolah adiknya demi mengatasi masalah di hari pertama mereka bertukar tubuh "Vya, kau sudah berjanji padaku untuk mengajariku caranya melukis, ayo!." Ajak Rainy sahabat dekat Vya "Tunggu nona, tadi katamu melukis?." "Hei, jangan bilang kamu ingin mengagalkannya lagi, kamu sudah berjanji padaku, Vy" "Baiklah, tapi…" Adita hanya dapat mengikuti apa yang sahabat adiknya itu inginkan demi menutupi identitasnya. "Nona Adita?. Tolong kerjakan semua data-data ini, sepertinya tuan Kyle tidak dapat pulang malam ini." "Mendata?.serahkan saja padaku!." "Waah, kami terlihat lebih bersemangat, nona Adita." Sekretarisnya itu membuka laptop dan menunjukan seperti apa data yang harus ia kerjakan "Silahkan nona Adita, aku tahu ini terlihat sangat mudah untukmu. Tapi, tidak apa sekali-sekali kamu mendapatkan pendataan mudah seperti ini." Adita mematung tepat di depan kuas, cat dan kertas canvas ia mengigit bibirnya itulah kebiasaan yang biasa Adita lakukan ketika ia sedang dalam keadaan penuh dengan tekanan "Vya?. Ayo, ajari aku caranya melukis." Melihat tatapan melas sahabat adiknya itu membuat Adita sedikit merasa sangat dihargai karena ia sama sekali tidak pernah memiliki seorang teman, ia hanya ditemani oleh setumpuk buku dan rasa kesepian. "Mengapa anda hanya diam, nona Adita?. Oh iya, mungkin kamu sedang bersantai karena kamu sudah mengetahui semua hasil dari pendataan ini, bukan?." Vya menelan ludahnya, keringat dingin mulai bercucuran ia terdiam mematung "Aku harap ini mimpi, kumohon ini hanya mimpi. Tuhan, tolong bantu aku" gumam vya ia mulai meletakkan jari jemarinya diatas papan keybord laptop. Adita memegang kuas ia langsung mengguratkan kuas itu diatas kertas canvas "Eh, kenapa tidak ada warnanya?." Adita sangat bingung alhasil apa yang ia lakukan itu membuat semua teman-temannya tertawa terbahak-bahak sontak ia berdiri dari bangku dan langsung berlari keluar ruangan untuk mengumpat di dalam toilet perempuan. Vya berupaya untuk mengurutkan semua angka-angka yang ada disana "Mengapa?. Mengapa semua yang aku hitung ini hasilnya tidak ada?." Sekretarisnya itu sedikit geram padanya "nona Adita, berhentilah untuk bermain-main, kita sedang dikejar deadline." Sekretaris itu berhasil membuat Vya mengenggam erat pinggiran bangku yang ia duduki seraya menangis. "Vya, kamu sudah berjanji padaku untuk memberikan pelajaran melukis hari ini. Seorang vya yang aku kenal tak pernah berbohong seperti ini." Adita semakin memupuk perasaan bersalah didalam hatinya. "Nona Adita?. Anda mau pergi kemana?." Vya berlari pergi kedalam toilet untuk menangis dan menenangkan dirinya didalam sana "Ini sangat menyakitkan, kak Adita tolong aku, kak." Tangis vya terus memanggil nama seseorang yang selalu membuatnya kesal Adita mendapatkan kekuatan dari dalam jiwanya, ia mengepalkan erat tangannya seraya tersenyum "Ayo kita hadapi ini bersama, adikku." Vya seperti mendapatkan kekuatan di dalam jiwanya setelah kakaknya mengatakan kalimat yang memiliki sihir untuk membangkitkan semangat. "Ayo kak, kita hadapi ini bersama. Meskipun tubuh kami bertukar namun jiwa kami tetap menyatu." Adita menjadi kekuatan untuk vya dan vya menjadi alasan Adita untuk bertahan kuat. "Nona Adita, maaf tadi aku sedikit keras padamu." Vya tersenyum ia menepuk sedikit pundak sekretarisnya itu "Gapapa, ayo kita kerjakan dengan cepat." Adita menonton streaming bagaimana caranya untuk melukis dan Vya membaca sebuah buku tebal mengenai bagaimana caranya untuk melakukan pendataan perusahaan, mereka berdua sama-sama sukses untuk menjalani permasalahan yang datang hari ini. "Aku pulang" Adita meletakkan tas nya di dalam kamarnya ia menatap rapih meja belajar adiknya Ibunya berdehem "wow, rapih sekali. Apakah kamu sedang kerasukan sesuatu hingga bisa seperti kakakmu?." Adita tersenyum ia segera memeluk ibunya "ibu berhenti meledekku, aku sudah besar aku juga punya tata aturan ku sendiri" "Apakah kakakmu juga yang mengajarimu untuk bersikap sopan dan memiliki aturan hidup?" Adita hanya tertawa "Oh iya vy, ayo bantu ibu memasak sesuatu makanan kesukaan kak Adita" Adita sedikit terkejut setelah ia melihat kalau ia ternyata mendapatkan perhatian dari seorang ibu yang selalu keras padanya, ia menghapus airmatanya "Mengapa kamu menangis, vya?. Ayo, bantu ibu kupas kentang ini." "Ibu?." "Ada apa?. Kenapa kau terlihat sangat serius seperti itu?." "Adita- Adita sangat menyayangimu!"jujur saja, baru pertama kali Adita mengatakan kalau ia menyayangi ibunya, meskipun ia menggunakan tubuh adiknya untuk mengatakan hal itu Ibunya terkekeh ia mengetuk kepala Adita "kamu harus memanggilnya dengan sebutan kakak, kamu tahu itu Vya?." Adita menghapus airmatanya ia lanjut tertawa "Sudahlah, ayo bantu ibu potong ini juga." "Baiklah" Vya pulang kerumah dengan wajahnya yang pucat "Kamu terlihat seperti akan mati" ledek Adita tertawa terbahak-bahak Sontak Vya menunjuk Adita dengan jari telunjuknya ia sangat geram "diam!!" "Vya, berhenti meledek kakakmu seperti itu. Adita, duduk dan makanlah sebelum adikmu menghabiskan seluruh makananmu." Vya melihat makanannya saja sudah sangat tidak selera "Ibu, suapin aku." Permintaan Vya membuat ibunya sedikit meliriknya dengan heran Vya terkekeh "maaf, tapi aku ingin kembali ke kamarku." Vya menaiki tangga untuk berada didalam kamarnya, ia mengalami hari yang sangat berat dan mendapatkan penolakan dari sang ibu membuatnya menangis sesenggukan hingga terdengar suara ketukan pintu "Vy?, Vya?."panggil Adita membawa sepiring nasi dengan sosis dan telur mentega diatasnya "Masuk aja pintunya gak dikunci" vya menjawab dengan suaranya yang getar "Ceklek" Adita masuk kedalam kamarnya ia melihat adiknya yang menangis sesenggukan "Sangat sedih rupanya" ledek Adita terhadap adiknya itu "Diamlah!" Kesal Vya Adita duduk diatas meja vya ia menyodorkan sesendok nasi di dalam mulut vya "Aaa buka mulutmu" "Aku gak mau." "Kamu ingin menyerah sekarang?. Ini baru sehari, belum sepenuhnya." Vya mengerutkan alisnya dengan kesal "siapa yang ingin menyerah?. Tentu saja tidak!. Sini piringnya, aku bisa makan sendiri" "Waah pintarnya, yakin gak mau disuapin?." "Sama sekali enggak!!." Vya memegang sepiring nasi ia memakannya dengan lahap ia terus melirik kakaknya dengan wajah penuh kesal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN