NTM-07

1925 Kata
Kalau dilihat-lihat sejak pagi kerjaan Debora tidak ada hentinya. Helena tahu jika Debora kerjanya hanya menjaga Giffard dan juga mengurusnya. Tapi disini Debora juga membantu Mbok Sri masak, dan juga beres-beres rumah. Semalam Helena menginap di rumah Kenzo, dia ingin melihat bagaimana Kenzo dan juga Debora. Tapi anehnya Helena sempat mendengar Debora memanggil Kenzo dengan sebutan Mas. Setahu Helena, Nadine tidak pernah memanggil Kenzo seperti itu. Bahkan semalam Kenzo juga bercerita jika dia yakin makan malam kemarin Debora yang masak. Walaupun sederhana tapi Helena melihat Kenzo makan dengan lahap. Bahkan dalam pandangan Helena, Kenzo seakan sedang menceritakan seorang istri yang bisa segalanya. Dan pertama kalinya Helena takut kalau Kenzo menyukai Debora nantinya. "Mbok Sri tiap hari lah Debora bersama Kenzo?" Tanya Helena dengan nada berbisik. Mbok Sri yang sejak tadi berada di dekat Helena pun mengangguk. "Iya Nyonya." "Terus kalau Kenzo suka gimana Mbok?" Mbok Sri pun tersenyum, "Nyonya tenang saja Debora sudah punya pacar kok. Dia sendiri yang bilang, katanya mau menikah." Mendengar hal itu bukannya lega Helena semakin khawatir. Dia takut kalau hal itu tidak mungkin terjadi. Helena yakin seperti apa anaknya, dulu waktu dipaksa menikah pun Kenzo masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Apalagi dengan Debora…. "Debora… " Panggil Helena akhirnya dan membuat wanita itu menghampirimu. "Iya kenapa Bu?" "Saya ingin makan salad buah dingin. Bisa kamu buatkan?" Debora mengangguk dan langsung pergi ke dapur. Sedangkan di sisi lain, Kenzo yang baru saja bangun tepat jam delapan pagi. Untung saja weekend, jadi dia bisa bangun siang berdasarkan dengan Giffard. Dan bocah kecil itu pun masih tertidur pulas di sampingnya. Kenzo segera turun ke bawah dan mendapati Mami-nya sedang duduk anteng di depan televisi dengan majalah fashionnya. "Selamat pagi Mi, Debora mana?" Ucap Kenzo celingukan mencari keberadaan Debora. Melihat hal itu membuat Helena menatapnya heran. “Kamu ngapain nyariin Debora?" Kenzo gelagapan dia pun menggaruk tengkuk lehernya dan berlari kembali ke atas tangga. Tingkahnya sudah seperti anak kecil yang ketahuan memberi sesuatu pada teman perempuannya. Apa mungkin…. "Bu ini saladnya.." Ucap Debora tiba-tiba dan membuat Helena mengangguk. "Tadi kamu dicariin Kenzo." "Hmm, kenapa ya Bu?" "Saya kurang tahu, coba kamu ke sana." Debora mengangguk dia pun segera naik ke tangga dan menuju kamar Kenzo. Mengetuk pintu hingga suara berat yang terdengar, membuat Debora masuk ke kamar Kenzo. "Bapak cari saya?" Tanya Debora menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Bapak lagi?" desah Kenzo kecewa, dan membuat Debora tertawa kecil. “Masuk Ra, tolong bereskan kamar aku ya, tapi jangan bagunkan Giffard.” ujarnya Debora mengangguk dia pun langsung membereskan kamar ini dengan cepat, tanpa membangunkan Giffard. Kalau di pikir ini pertama kalinya Debora menatap kamar Kenzo yang berantakan. Padahal jauh-jauh hari kamar ini sangat rapi dan tidak seberamtahkan ini. Nyatanya pagi malah lebih parah dari kapal pecah. Setelah dirasa beres, Debora mengambil T-shirt berwarna putih dan juga celana selutut berwarna coklat. Dia siapkan di atas tempat tidur dan segera pergi dari kamar ini. Lagian ada banyak kerjaan yang harus dia lakukan selain mengurus bayi besar dan juga bayi kecilnya. -NannyToMommy- Sore harinya setelah memandikan Giffard dan juga menyuapinya, Debora mengeluh jika baju Giffard banyak yang tidak muat. Lihatlah perut Giffard cukup besar akibat terlalu banyak makan. Bahkan bayi itu kadang tidak mau berhenti untuk makan dan ingin makan terus menerus. “Ya ampun Giffard bajunya sudah tidak ada yang muat loh…” Debora mengangkat baju Giffard tepat di hadapan bocah itu. Tentunya hal itu juga langsung membuat Giffard tertawa kecil. “Bilang sama Papa beli baju baru.” ujarnya lagi. Bocah kecil itu mengangguk sebagai jawaban, bahkan dia sampai berlari menuruni tangga dan berteriak memanggil nama Kenzo. Tentu saja hal itu langsung membuat Debora tertawa kecil. Belum lagi entah apa yang dibicarakan bocah kecil itu hingga membuat Keenzo melirik Debora. Tak lama kemudian GIffard langsung menghampiri Debora yang berdiri di pinggiran tangga. Menarik tangan wanita itu hingga kembali masuk ke kamar Giffard. “Nanny ganti baju kita belanja.” ucapnya dengan suara khas dirinya. “Belanja? Giffard aja sama Papa, Nanny di rumah saja sama oma.”Giffard menggeleng dia pun meminta Debora untuk ikut, dan memaksa Kenzo untuk membujuk Debora agar mau ikut belanja dengan dia. “Ra kamu ikut saja, aku nggak mau nanti di tengah jalan Giffard nyariin kamu ya.” ucap Kenzo tiba-tiba dan membuat Debora terkejut. Dia pun memberi alasan jika dia tidak bisa ikut dan hal itu langsung membuat Giffard hampir saja menangis. Melihat hal itu Debora pun tak tega dan membuat dirinya ikut belanja dengan Giffard dan juga Kenzo. Debora meminta izin pada Kenzo untuk mengganti bajunya lebih dulu, tidak mungkin jika dia pergi bersama dengan Kenzo dalam keadaan kucel. Maa Bosnya ganteng dan dirinya tampak seperti babu. Walaupun cuma Babysitter, dia juga harus terlihat cantik dan mempesona. “Astaga Debora ingat Zero.” gumannya pelan. Debora memilih keluar dari kamarnya dan menemui Kenzo dan juga Giffard yang ternyata sudah menunggunya di bawah bersama dengan Helena. “Bu Helena juga ikut?” kalaupun wanita tua itu ikut, mungkin akan lebih seru lagi dan terlihat seperti keluarga harmonis. Tapi sayangnya Helena tidak ikut, dengan alasan jika dia sedang tidak enak badan. "Mi kita berangkat ya, kalau mau titip sesuatu telepon aku." Ucap Kenzo membuat Helena mengangguk. Kenzo menggandeng Giffard menuju mobil begitu juga dengan Debora yang langsung mengikuti langkah Kenzo dan masuk ke mobil bagian belakang. "Kamu pikirkan aku ini supir kamu." Cibir Kenzo dan membuat Debora tertawa Tanpa turun Debora pun sudah berada di samping Kenzo bersama dengan Giffard. Tentu saja perlakuan Debora membuat Kenzo geleng kepala. Ternyata masih ada satu wanita bar-bar didunia ini. -NannyToMommy- Sesampainya di mall, Debora langsung menggandeng Giffard menuju salah satu tokoh baju anak. Memiliki banyak model, warna yang menurut Debora sangat cocok untuk Giffard. Tak hanya itu mengambil topi, waistbag, sepatu lucu dan keren. Bahkan karena khilaf mata, Debora mengambil sweater, jaket yang lucu-lucu. Kenzo yang melihat itu hanya mampu menghela nafasnya dalam. Baru kali ini Kenzo melihat wanita jika belanja sebanyak ini. Padahal Nadine kalau belanja tidak terlalu banyak, tapi dengan harga fantastik. "Ya ampun Mas aku bingung mau pilih yang mana, kenapa lucu banget sih." Ucap Debora heboh. Akhirnya dia pun mengambil di celana ripped sobek semua dan memasukkan ke keranjang belanja. Setelah itu kembali mengambil baju dengan kartun dragon Ball berwarna oren, dan ternyata baju ini sama dengan anak. Dengan iseng Denira mengambil baju dengan ukuran besar, berhubung dia tidak tahu ukuran baju Kenzo yang penting mah besar aja udah. Setelah puas berjelajah Kenzo pun langsung membayar tagihan belanjaan Debora yang isinya baju Giffard semua. Setelah itu barulah mereka meninggalkan toko baju. "Pah ice klim." Giffard menarik ujung baju Kenzo dan membuat Kenzo menundukkan. Apalagi bocah itu juga menunjukkan penjual ice cream di mall ini dengan wajah memelas. "Iya kita beli ice cream." Dengan senang Giffard pun berlari kecil ke arah penjual ice cream. Bahkan dia tidak peduli saat kakinya menginjak salah satu tali sepatunya dan membuatnya terjatuh. Tidak menangis, tapi mampu membuat Kenzo dan juga Debora tertawa kecil. Kenapa membeli tiga ice cream dengan rasa yang sama. Kalau beda yang ada Giffard yang mencoba satu persatu ice creamnya. Sambil berjalan dan mencari tempat duduk, mata Debora menatap salah satu toko kosmetik yang mampu membuat Debora tergoda. Tulisannya diskon 50℅ dan toko ini hampir saja ramai. "Mas titip belanjaan ya." Ucap Debora menyerahkan banyak belanjaannya pada Kenzo. "Eh kamu mau kemana Ra?" Peliknya saat menerima banyak barang Debora dan membuat beberapa barang itu jatuh di lantai. "Urusan perempuan Mas." Debora langsung berlari ke arah toko kosmetik yang tertulis diskon 50℅. Dia pun mengambil banyak lipstik kesukaannya dan langsung membayarnya. Toko sudah mau ramai jangan sampai Debora tenggelam dengan banyaknya wanita berburu diskon. Setelah bisa keluar dari kerumunan itu, Debora menatap sekeliling mall ini dengan teliti. Dia masih ingat dimana fisik meninggalkan Kenzo dan juga Giffard. Tapi yang ada dua pria itu tidak ada di meja sebelumnya, dan meja itu telah digantikan dengan dua orang lansia yang tengah menikmati ice cream dan juga roti kering. Melihat hal itu Debora jadi ingat Almarhum Mamanya, dulu Mamanya itu suka sekali menikmati secangkir Teh hangat di taman rumah dekat dengan kolam bersama dengan Papa nya dan juga Debora. Bercerita banyak hal kesukaan Debora. Mengingat hal itu mata Debora meneteskan air matanya dan tersenyum kecil. Dia jadi rindu dengan Mamanya dan ingin bercerita banyak hal. Hal yang membuat Debora kabur dari rumah, dan memilih hidup sendiri "Debora…" Panggilan itu membuat Debora menoleh, Debora pikir itu Kenzo tapi nyatanya itu adalah Papa Debora yang berada di dalam mall ini. "Oke, kita harus kabur." Sekali lagi Debora menatap pria tua itu dan tersenyum terpaksa, hingga hitungan detik Debora langsung berlari sekencang mungkin. Dia tidak peduli banyaknya orang yang ditabraknya, ada juga yang mengumpati Debora, lagian nyawa dia lebih berharga dari sebuah perjodohan. Debora menghentikan langkahnya saat dirasa nafasnya hampir habis, lagian lari dari lantai lima ke satu juga membutuhkan tenaga ekstra. Mana Debora juga belum makan sama sekali. "Gila itu Papa ngapain coba ke mall ini." Dengus Debora. Wanita itu memilih duduk di samping pilar dengan nafas yang terengah, hingga seseorang duduk di samping Debora dengan nafas terengah pula. "Kalau Non lupa saya ingetin, ini mall milik keluarga Papa Non." Tanpa sadar Debora mengangguk dia pun menyandarkan kepalanya di pilar sambil mencerna ucapan pria di sampingnya. Tapi saat sadar dengan ucapan itu, Debora menoleh cepat menatap pria di sampingnya dengan cengoh. Hingga pria itu juga menatap Debora dengan ekspresi yang berbeda. "Nona…." "Kamu…" Pekik mereka berdua secara bersamaan, hingga akhirnya Debora lebih dulu bangkit dari duduknya dan kembali berlari. Jangan sampai orang suruhan itu bisa menangkap Debora. Setelah dirasa aman Debora menghentikan langkahnya, dia pun menatap ke arah belakang dan ternyata orang itu sudah tidak ada, alias tidak mengejar Debora kembali. "Ya ampun ini aku udah kaya maling berlian sampai di kejar orang hanya. Gila!! Papa bener-bener gila!!" Gerutu Debora. Sambil mengatur nafasnya Debora menatap sekeliling mall, ternyata dia berada di parkiran luar mall ini. Dan dia baru saja sadar jika dia datang kesini bersama dengan Kenzo dan juga Giffard. Dan dua pria itu sekarang entah ada dimana, tidak mungkin juga kak Debora kembali masuk yang ada Debora akan bertemu kembali dengan Papanya. Dengan terpaksa Debora pun berjalan keluar parkiran mall dengan langkah gontai. Dia pun berdiri di pinggiran trotoar berharap jika akan ada orang yang dia kenal dan mengantarnya pulang. Tapi sudah setengah jam lamanya Debora berdiri di pinggiran jalan tak ada satu mobil, atau orang pun yang dia kenal. Jujur saja hal seperti ini yang membuat Debora takut dan hampir ingin menangis. Dia jadi teringat salah satu film penculikan anak. Dimana anak kecil atau dewasa diculik dan diambil organ tubuhnya untuk dijual. Dan bagaimana jika hal itu terjadi dengan Debora. Merasa ketakutan Debora sampai berdiri di dekat orang yang ramai. Kalaupun ada yang menculik, dia bisa berteriak sekencang mungkin dan meminta tolong pada semua orang. "Ampun Pak jangan culik saya, jangan ambil ginjal saya Pak walau harganya mahal, tapi saya belum nikah Pak. Jangan ambil jantung saya juga, saya belum pernah jatuh cinta." Debora memekik kaget saat seseorang menepuk bahunya. "Debora kamu ngomong apa sih." Suara berat itu membuat Debora membuka matanya, dia kenal suara itu s pertolongan suara Kenzo. Untuk memastikan jika itu adalah Kenzo, Debora pun memalingkan wajahnya dan menatap ke arah belakang.. Dan ternyata pria itu adalah Kenzo. "Mas Kenzo…." Pekik Debora dan reflek langsung memeluk Kenzo. Seperti diguyur air es tubuh Kenzo menegang sempurna saat Debora memeluknya. Bibirnya terbuka, dan jantungnya pun kembali berdetak begitu kencang. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi dengannya? Ini hanya sebuah pelukan, tapi kenapa efeknya sangat luar biasa. Tidak… Ini tidak beres sama sekali. Ada yang aneh dirinya dan juga…. Debora. -NannyToMommy-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN