Tepat saat jam istirahat makan siang, Nicole dan Gabriel selesai berkeliling dan menyapa dan berbincang dengan beberapa orang dan selama itu juga Nadine mengikuti mereka dari belakang hingga saat ini.
Nicole memilih untuk makan siang di kedai kesukaannya yang berada tidak jauh dari kantor. Berjalan kaki beberapa meter saja mungkin tidak akan terlalu melelahkan dan Nadine selalu berada di belakang mereka.
“Kenapa makan di luar?” tanya Gabriel sembari mengimbangi langkah kaki Nicole. “Udah lama nggak makan di kedai itu,” jawabnya sembari memperlihatkan senyuman manisnya.
Gabriel tidak berkomentar lagi dan kini keduanya melangkah bersamaan menuju kedai yang dimaksud Nicole. Nadine menghentikan langkahnya setibanya mereka di tempat tujuan. Nadine kembali memilih untuk menunggu di luar selagi Tuannya makan siang.
“Lo nggak masuk?” tanya Gabriel yang mengetahui Nadine berhenti di depan pintu masuk. Pertanyaan Gabriel itu juga membuat Nicole menghentikan langkahnya kemudian Gabriel menatap pria itu.
“Masuk!” perintah Nicole seakan mengerti maksud tatapan Gabriel karena terbukti dengan senyum yang langsung terpampang di wajahnya.
Nadine tidak menolak dan ikut masuk bersama. Kedai itu tampak seperti kafe tapi lebih besar dari kafe. Kedai ini hampir seperti restoran namun tidak terlalu mewah. Di waktu istirahat makan siang membuat kedai itu terlihat ramai. Bahkan para pelayan terlihat sibuk kesana-kemari mengantarkan pesanan ataupun melakukan hal lain.
Beruntung masih ada tempat tersedia yang berada paling sudut menuju dapur. Mau tidak mau, mereka akhirnya duduk di tempat itu dan menunggu pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka.
Gabriel mengangkat tangannya dan seorang pelayan pria datang menghampiri meja mereka. Nicole langsung menyebutkan pesanannya, begitu pun dengan Gabriel.
“Kamu tidak makan?” tanya Nicole kepada Nadine karena wanita itu tidak mengatakan pesanannya.
“Saya bisa makan nanti saja, Tuan.”
Nicole menatapnya datar kemudian menyebutkan pesanan yang sama dengannya. “Jika saya makan maka kamu juga harus makan!”
Nadine hanya menganggukkan kepalanya dan menatap ke lain arah karena yang ada di hadapannya saat ini adalah Nicole dan ia tidak ingin menatap pria itu terlalu lama.
Gabriel dan Nicole kembali berbincang mengenai banyak hal, mulai dari masalah di kantor, kehidupan Gabriel, cerita Nicole saat di Amerika juga tentang wanita-wanita yang melakukan one night stand bersama mereka.
Nadine sama sekali tidak ikut dalam cerita itu, ia bahkan memutar kepalanya agar tidak menatap kedua lelaki itu. Matanya kini menatap kearah dapur karena posisi duduknya yang memang menghadap kesana.
Dari tempatnya duduk, Nadine bisa sedikit melihat kegiatan yang dilakukan orang-orang di dapur itu. Mereka tampak sibuk karena memang kedai ini hampir penuh saat ini.
Nadine dapat melihat beberapa koki yang sibuk di sana serta beberapa pelayan yang berdatangan untuk mengambil makanan yang telah selesai dan membawanya kepada pelanggan yang memesannya.
Nadine menyipitkan matanya saat melihat seorang pria yang tampak mencurigakan masuk menuju dapur. Dia mengenakan seragam pelayan namun Nadine tidak pernah melihat sebelumnya.
Ya, Nadine memang sering mengunjungi kedai ini. Juga, ia adalah orang yang mudah sekali mengingat wajah. Jadi, sekali bertemu dengannya maka ia akan ingat wajah orang itu kembali meskipun ia tidak mengetahui namanya.
Selama duduk beberapa menit di sini dan menatap semua orang yang ada di dalamnya, Nadine sudah mengingat wajah mereka dan wajah asing itu tidak ia lihat semenjak ia duduk di tempat ini.
Pelayan itu kini memunggunginya kemudian berbalik dengan membawa pesanan pelanggan. Mata Nadine terus saja menyorot kemana pria itu akan pergi dan ternyata ia melangkah menuju mejanya yang berarti itu adalah makanan pesanan mereka.
“Selamat menikmati,’ ucap pria itu sambil memberikan senyuman ramahnya setelah meletakkan semua pesanan mereka dengan sangat baik.
Mata Nadine tidak bisa melepaskan pria itu hingga dia kembali ke dapur dan masuk ke ruangan koki berada. Nadine mengerutkan keningnya, kenapa pria itu masuk ke sana? bukankah pelayan harusnya menunggu di depan saja dan tidak masuk ke dalam sana?
“Kamu lihat apa? kenapa makanannya tidak kamu makan?”
Nadine sedikit tersentak karena suara Nicole. Dia akhirnya mengalihkan pandangannya menatap makanan yang ada di hadapannya. Gabriel sudah lebih dahulu menyantap makanannya dan Nicole pun segera melahapnya setelah menegur Nadine tadi. Akhirnya Nadine ikut menyantap makanannya, mungkin nanti dia bisa bertanya kepada pamannya dan mengirimkan sketsa wajah pria yang terlihat aneh itu.
¨¨¨¨¨
“Ayo pulang!”
Suara itu membangunkan Nadine dari tidurnya dalam posisi berdiri. Tidak biasanya dia tertidur saat bekerja apalagi dengan posisi berdiri. Apakah ia terlalu kelelahan seharian ini menemani Nicole kesana kemari? tapi biasanya ia melakukan hal yang lebih melelahkan dari ini dan ia tidak pernah ketiduran saat bekerja.
Nadine langsung mengikuti Nicole dari belakang, pria itu sama sepertinya, terlihat begitu kelelahan di hari pertamanya memulai pekerjaan uji coba ini.
Keduanya langsung melangkah keluar dari kantor dan mobil yang akan mengantar mereka kembali ke rumah sudah siap menunggu di luar. Nadine membukakan pintu Nicole terlebih dahulu kemudian barulah dia masuk dan duduk di samping sang supir.
“Langsung pulang, Pak!” perintah Nicole dan pria yang memegang kemudi itu hanya mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya.
Nadine menyandarkan tubuhnya dan mencoba menghalau rasa lelahnya kemudian menoleh menatap pria yang duduk di sampingnya. Seketika Nadine mengerutkan keningnya menatap pria yang ada di sebelahnya itu. Seingatnya pagi tadi bukan pria ini yang mengantar mereka. Apa Nicole memiliki banyak supir?
Nadine ingin menanyakannya kepada pria itu, namun saat ia melihat dari kaca di hadapannya ternyata pria itu tengah memejamkan matanya dan sepertinya ia tidak bisa mengganggu. Nadine memutuskan untuk menatap jalanan malam yang mereka lalui, mungkin nanti ia bisa menanyakan langsung kepada supir Nicole yang biasanya.
Tiba-tiba saja rasa kantuk itu kembali menyerangnya, matanya terasa berat sekali dan ia tidak sanggup menahannya. Matanya akan segera tertutup namun samar-samar ia melihat penunjuk arah yang ada di pinggir jalan yang seingatnya tidak pernah mereka lalui. Nadine kembali membuka matanya lebar dan menegakkan tubuhnya menatap pria di sampingnya dengan seksama.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Nadine dengan suara pelan karena ia tidak ingin membangunkan Nicole di belakang sana.
Pria yang ada di samping Nadine itu tersenyum miring, “tidurlah dan nikmati perjalanannya! Aku tahu kamu pasti sudah sangat mengantuk saat ini.”
Deg!
Nadine kecolongan!
Kali ini Nadine bisa melihat dengan jelas wajah pria itu saat ia menatapnya. Juga suara yang siang tadi ia dengar sekilas. Pria itu adalah pelayan aneh yang ada di kedai tadi. Bagaimana bisa ia berada di dalam mobil Nicole dan menjadi supir pria itu?
Nadine berusaha mengendalikan dirinya agar tidak mengantuk dan mencubit tangannya kuat agar rasa kantuk itu segera menghilang dan dia bisa menghabisi pria yang ada di hadapannya saat ini.
“Kemana kau akan membawa kami?” tanya Nadine yang masih menatapnya marah. Ia masih belum melakukan apa-apa karena ia juga tidak ingin membahayakan Nicole yang juga ada di dalam mobil itu.
“Ke tempat peristirahatan terakhir kalian,” jawab pria itu masih dengan senyum remehnya.
Nadine menggepalkan tangannya kuat dan terus mencubit lengan tangannya untuk menghalau rasa ngantuknya. Bahkan sudah terlihat beberapa jejak cubitan Nadine yang cukup kuat itu namun ia masih belum menghentikannya.
“Siapa yang mengutusmu?” tanya Nadine lagi.
Pria itu ini terkekeh pelan, “seseorang yang tidak ingin Nicole menjadi CEO.”
Nadine menggeram pelan, ia memutar otaknya agar bisa menakhlukkan pria di hadapannya itu dengan tidak membahayakan Nicole.
“Berapa mereka membayarmu?” tanya Nadine lagi.
Pria itu kembali terkekeh, “lepaskan Nic dan kamu bisa mendapatkan tubuhku.”
Pria itu langsung menatap Nadine dari atas hingga bawah kemudian tersenyum miring, “sudah berapa pria yang merasakanmu, heum?” tanyanya remeh yang berhasil menyulut amarah Nadine. Seumur-umur, belum ada pria yang berani menyentuhnya karena ia akan membuat pria itu tumbang terlebih dahulu.
Nadine menatap jalanan di depan yang tidak seramai tadi, sepertinya pria ini akan membawa mereka meninggalkan kota. Setelah merasa kantuknya sedikit berkurang, Nadine beranjak dari tempat duduknya dan berpindah duduk di pangkuan pria itu sehingga berhasil membuat pria itu menghentikan mobilnya secara mendadak.
“Ap-apa yang kau lakukan?” tanyanya gelagapan.
Kali ini Nadine yang tersenyum miring melihat pria itu tampak gelagapan dan tidak berani menatapnya. Pria itu terlihat masih muda dan juga lumayan tampan. Jadi, tidak ada salahnya Nadine bermain-main sebentar dengannya.
“Apa kau yakin tidak ingin bermain denganku dan melepaskan pria itu?”
Nadine semakin merapatkan tubuhnya dan memajukan kepalanya mendekati wajah pria itu yang saat ini tampak memerah. Tak lupa ia menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
Nadine dapat melihat pria itu kesulitan menelan ludahnya hingga tangan Nadine mengalung dengan mantap di leher pria itu. Matanya menatap kedua mata pria itu, ia semakin memajukan wajahnya hingga pria itu dapat merasakan hembusan nafas pelan Nadine dan perlahan ia memejamkan matanya.
Nadine tersenyum miring dan memulai aksinya setelah melihat Nicole yang masih terlelap dan jalanan yang sangat sepi bahkan tidak ada yang melewatinya. Pria itu bisa mengerang sepuasnya tanpa takut diketahui oleh orang lain nantinya.[]