7. Petroleum Group

1607 Kata
            Nadine tiba di sebuah gedung pencakar langit yang terdiri dari 120 lantai. Ia bahkan harus mendongakkan kepalanya untuk melihat bagian atas gedung itu. Terdapat tulisan di badan gedung yang begitu besar Petroleum Group.             10 menit waktu perjalanan yang diperlukan Nadine bersama Nicole yang tentu saja di bawa oleh supir Nicole. Mereka tiba tepat pukul delapan di kantor dan langsung mendapat sambutan hangat dari beberapa karyawan yang mengetahui Nicole adalah calon penerus yang akan memimpin perusahaan itu nantinya.             Sebelum memasuki lift, di sana sudah terlihat seorang pria yang menunggu kedatangan Nicole. Terbukti saat dia melihat keberadaan Nicole, senyuman langsung terpantri di wajahnya.             “Selamat datang di Petroleum Group,” ucap pria itu.             Nicole menyunggingkan senyuman miringnya, “antar gue ke ruang papa!” pintanya kemudian.             “Siap boss!” jawab pria itu dan melangkah bersamaan dengan Nicole.             Namun sebelum itu, ia sempat mengedipkan matanya kepada wanita yang berjalan di belakang Nicole, siapa lagi kalau bukan Nadine dan tanggapan yang diberikan wanita itu hanya tampak datar yang kemudian berubah menjadi menjijikan.             Pria itu adalah Gabriel, sepupu Nicole yang sangat menyebalkan bagi Nadine. Gabriel sudah bekerja di Petroleum Group dan nantinya akan menjadi sekretaris Nicole saat ia sudah menduduki jabatannya.             Petroleum Group merupakan perusahaan yang dibangun oleh Peter yang dibantu juga oleh adiknya yang bernama Aryo, papa Gabriel.             Aryo sudah meninggal saat Gabriel masih kecil, disaat Petroleum Group berusaha untuk naik daun. Aryo meninggal karena dibunuh oleh musuh saat Petroleum Group mulai menduduki peringkat teratas. Peter tidak dapat berbuat banyak dan bahkan tidak mengetahui bahwa hal itu akan terjadi.             Setelah Aryo meninggal, Peter melanjutkan perjalanan Petroleum Group seorang diri hingga saat ini. Keluarga Aryo mampu bertahan hidup dengan biaya dari Peter yang tentu saja berasal dari Petroleum Group.             Sehingga saat Gabriel telah menyelesaikan pendidikannya, ia langsung diperbolehkan bekerja di sana dan mempelajari semua hal serta mempersiapkannya untuk menjadi sekretaris dan membantu Nicole nantinya.             Ketiga orang itu tiba di depan ruangan Peter, sekretaris Peter tidak ada di tempat sehingga mereka tidak mengetahui apakah Peter berada di dalam ruangannya saat ini atau tidak. Tanpa menunggu waktu lama, Gabriel langsung mengetuk pintu ruangan itu.             “Lo yakin Papa ada di ruangannya?” tanya Nicole memastikan kembali karena di depan saja mereka tidak menemukan keberadaan sekretaris papanya sehingga kemungkinan mereka tidak berada di tempat saat ini.             Gabriel menganggukkan kepalanya, “Gue nggak lihat dia meninggalkan kantor setelah datang tadi karena Gue udah berdiri di sana sejak dia datang.”             Nicole hanya menganggukkan kepalanya kemudian menunggu apakah pintu di depannya itu akan terbuka dan tak berselang lama pintu itu terbuka dan memunculkan seorang wanita yang baru keluar dari dalam sana.             “Pak Peter ada di dalam?” tanya Gabriel kepada wanita itu.             Ia menatap Gabriel kemudian beralih menatap Nicole, ia langsung membungkukkan sedikit tubuhnya saat melihat keberadaan Nicole di sana.             “Tuan Peter ada di dalam, silahkan masuk!”             Wanita itu membukakan pintu lebar sehingga Nicole dan Gabriel bisa masuk ke dalam sedangkan Nadine memilih untuk menunggu di luar.             Wanita itu mengantar Nicole dan Gabriel menemui Peter yang tengah berkutik dengan beberapa dokumen yang berada di atas mejanya.             “Beritahukan kepada seluruh direktur untuk datang ke ruang pertemuan karena saya akan memperkenalkan Nic disana.”             “Baik Tuan.”             Wanita yang tadi mengantar Nicole dan Gabriel langsung membungkukkan tubuhnya dan segera pergi meninggalkan ruangan itu untuk menjalankan perintah atasannya.             Saat keluar, wanita itu sedikit terkejut ketika melihat Nadine yang masih berdiri di depan pintu masuk dengan posisi tegap dan wajah datar. Wanita itu menampilkan senyuman manisnya saat bertemu pandang dengan Nadine namun Nadine hanya membalas dengan senyuman tipisnya.             Wanita itu adalah sekretaris Peter yang bernama Marsha Nayala Permata. Nadine dapat melihat dengan jelas tulisan yang berada pada name tag wanita itu. Jika dilihat sepertinya usia wanita itu hampir sama dengannya atau mungkin seusia Nicole. Wanita itu cantik, ramping dan murah senyum. Itulah penilaian singkat dari penglihatan Nadine selama beberapa menit ini.             “Apa kamu tidak lelah berdiri di sana?” tanya Marsha memecah kecanggungan diantara mereka.             Nadine kembali memperlihatkan senyuman tipisnya, “saya sudah biasa seperti ini.”             Marsya hanya menganggukkan kepalanya dan tidak lagi menatap Nadine karena saat ini ia tengah melaksanakan perintah dari atasannya.             Sedangkan di dalam sana, Nicole dan Gabriel tengah berbincang dengan Peter. Beberapa menit lagi mereka akan pergi ke ruang pertemuan untuk memperkenalkan Nicole kepada para petinggi sekaligus menarik simpatik mereka agar mendukung Nicole untuk menggantikan jabatan Peter nantinya.             “Kamu mungkin akan di training dulu selama tiga bulan. Jadi selama itu, berusahalah untuk akrab dengan yang lainnya dan dapatkan ilmu sebanyak-banyaknya.”             “Gabriel juga akan membantumu nantinya, dia sudah lebih berpengalaman sehingga dia bisa menjadi mentor kamu nanti.”             “Apa kamu keberatan Iel?”             Gabriel tergelak mendengar pertanyaan Peter itu, “tentu saja tidak, Pak. Saya dengan senang hati akan mengajarkan Nicole dengan baik dan bersungguh-sungguh.”             Peter tersenyum bahagia, “baguslah karena nanti kamu juga akan selalu membantu Nicole. Saat Nicole mengambil alih jabatan saya nanti, kamu akan menjadi sekretaris.”             “Baik Pak!” jawab Gabriel penuh gairah. Pria itu selalu bersemangat kapan saja dan itu yang membuat Peter menyukainya dan menganggap Gabriel seperti anaknya sendiri.             “Kenapa harus Iel, Pa? Apa tidak bisa sekretarisnya wanita cantik saja seperti sekretaris Papa itu?”             Peter dan Gabriel sama-sama tergelak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Nicole.             “Sekretaris itu nantinya yang akan membantu kamu mengurusi semua pekerjaan kamu, jika Gabriel bisa kenapa harus mencari wanita cantik lagi?”             “Apa tidak cukup memiliki bodyguard cantik Nic?” tanya Gabriel yang kembali disambut tawa oleh Peter sedangkan Nicole hanya memperlihatkan ekspresi kesalnya.             Bodyguard-nya memang cantik dan bahkan seksi, tapi tidak mudah untuk ia takhlukkan.             Percakapan itu terhenti karena mendengar pintu yang diketuk dan tak berselang lama Marsha masuk ke dalam ruangan itu dan menghampiri ketiga pria itu.             “Para direktur sudah menuju ruangan pertemuan, Tuan.”             Peter menganggukkan kepalanya kemudian segera bangkit dari tempat duduknya, begitu juga dengan Nicole dan Gabriel.             Peter langsung memimpin jalan dan membawa Nicole dan Gabriel menuju ruang pertemuan. Di belakang mereka, Marsha dan Nadine juga turut mengekor.             Mereka memasuki sebuah ruangan yang memang diperuntukkan untuk pertemuan yang diadakan untuk membahas internal maupun eksternal perusahaan. Beberapa orang yang sudah ada di dalam langsung berdiri dan membungkuk hormat saat melihat Peter memasuki ruangan.             Nadine kembali menunggu di luar dan membiarkan pintu ruangan itu tertutup meninggalkan dirinya sendirian diluar.             Di dalam sana, terdapat beberapa direktur juga manager yang ada di perusahaan. Peter langsung duduk di tempatnya, di samping kanannya duduk Nicole dan di sebelah Nicole duduklah Gabriel. Di hadapan Gabriel duduk seorang wanita paruh baya yang sepertinya tidak asing bagi Nicole. Wanita itu mengingatkannya dengan seseorang saat melihat senyuman di wajahnya.             “Baiklah selamat pagi semuanya, langsung saja ke inti pertemuan hari ini. Seperti yang telah saya katakan di pertemuan sebelumnya bahwa hari ini saya akan memperkenalkan penerus Petroleum Group yang nantinya akan menggantikan saya.” Peter mengarahkan tangannya dan menepuk pelan bahu Nicole dan pria itu langsung berdiri.             “Selamat pagi semuanya,” sapa Nicole sopan sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.             “Ini anak saya, namanya Nicole Petroleum dan dialah yang nanti akan menjadi penerus perusahaan ini menggantikan saya.”             Semua yang berada di dalam ruangan itu langsung memberikan tepuk tangan yang tidak terlalu berlebihan.             “Nicole akan mendapatkan training terlebih dahulu selama tiga bulan sebelum dia menerima posisi saya dan saya mohon kerja sama dari semuanya untuk memberikan pembelajaran kepada Nicole mengenai semua hal di perusahaan ini.”             Setelah Peter memperkenalkan Nicole kepada para bawahannya di sana, mereka pun satu persatu memperkenalkan diri sehingga akhirnya Nicole tahu siapa wanita yang duduk di hadapannya itu.             Dia adalah Mona, ibunda Gabriel. Mona ditempatkan sebagai direktur keuangan di perusahaan itu. Pantas saja Nicole merasa tidak asing dengan wanita itu.             Pertemuan itu pun segera berakhir setelah semuanya memperkenalkan diri dan Peter yang memerintahkan mereka untuk kembali bekerja. Di dalam ruangan kini hanya tersisa Peter, Mona, Gabriel, Nicole dan Marsha tentunya.             “Bagaimana rasanya Nic? kamu akan segera memegang perusahaan besar ini.”             Nicole berusaha menampilkan senyuman manisnya kepada Mona yang terus menatapnya sambil tersenyum.             “Rasanya masih belum bisa di percaya Tan, juga aku masih perlu banyak belajar untuk mengelola perusahaan ini.”             Mona menganggukkan kepalanya, “baguslah. Kamu harus bekerja keras untuk itu.”             Nicole menganggukkan kepalanya.             Begitulah suasana mereka jika tidak ada pegawai lain yang berada di sana, mereka akan bersikap santai seperti keluarga tentunya.             “Iel, bawa Nicole berkeliling kantor untuk menyapa pegawai lain supaya mereka tahu dan kenal dengan Nic!”             “Siap Mam!” jawab Gabriel.             Nicole segera berpamitan kepada Peter dan juga Mona kemudian melangkah keluar dari ruangan itu bersama Gabriel. Nadine masih berdiri di sana-di depan pintu masuk saat Nicole keluar dari ruangan itu.             “Apakah sudah selesai Tuan?” tanya Nadine.             Nicole mengangguk, “kita akan berkeliling sebentar sebelum makan siang.”             Nadine hanya mengangguk dan mengikuti pria itu dari belakang, tidak memperdulikan keberadaan Gabriel di sana.             “Apa dari tadi lo berdiri di sana?” bisik Gabriel yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran Nadine. Gadis itu hanya menjawab dengan deheman kemudian menganggukkan kepalanya.             “Emangnya nggak capek? Gue punya ruangan khusus di sini, lo mau beristirahat di sana?” tanyanya lagi sambil terus berbisik.             Nadine memutar kedua bola matanya dan tidak menanggapi perkataan pria itu lagi kemudian mempercepat langkahnya menyusul Nicole.             “Ayola-aahh!”             Gabriel yang awalnya berniat merangkul Nadine itu malah berakhir dengan posisi kedua tangannya yang ditekuk ke belakang. Nadine langsung menepis dan memutar tubuhnya membuat lengan kanan Samuel terkunci ke belakang tubuhnya dan Nadine berdiri di belakang pria itu.             “Apa yang kalian lakukan?” tanya Nicole setelah mendengar teriakan Gabriel dan melihat sepupunya itu tampak kesakitan dengan tangan kanan yang ditekuk ke belakang.             “Maaf Tuan,” ucap Nadine kemudian segera melepaskan tangan Gabriel dan pria itu langsung mengelus tangannya.             “Jangan macam-macam sama dia, Iel. Bahaya.” Nicole kembali melanjutkan langkahnya saat Gabriel berada di dekatnya.             Kali ini pria itu berjalan bersisian dengan Nicole dan membiarkan Nadine berjalan di belakang mereka. Nadine mendengus kesal, ia sudah menduga pria itu akan melakukan hal itu dan tentu saja responnya selalu cepat. Ia tidak akan pernah lengah sedikitpun.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN