Nicole sudah kembali tenang dan berbaring di tempat tidurnya. Ia kembali memejamkan matanya setelah merasakan elusan lembut di kepalanya seolah menghipnotisnya untuk tenang dan kembali memejamkan mata.
Disaat Nicole sudah tenang, Nadine menjatuhkan dengan hati-hati tubuh pria itu hingga kembali tertidur di tempatnya. Sejenak Nadine menghapus keringat yang membasahi pelipis Nicole kemudian menatap wajah yang mulai tenang dan kembali terpejam itu.
Sepertinya pria itu mengalami mimpi buruk karena terlalu kelelahan, Nadine bahkan sempat panik saat mendengar teriakannya tadi. Namun, setelah melihatnya kembali tenang, Nadine pun ikut merasa legah.
Nadine yang duduk di sisi tempat tidur setelah merebahkan tubuh Nicole tadi perlahan beranjak dan berniat untuk kembali ke kamarnya karena ia belum memejamkan matanya sedikitpun. Namun, tangan dingin Nicole menghentikan pergerakannya dan membuat Nadine kembali menoleh ke arah pria itu.
"Jangan pergi!" lirihnya dengan mata yang masih tertutup rapat.
Nadine mencoba melepaskan tangan Nicole karena sepertinya pria itu kembali bermimpi dan mencegahnya untuk pergi. Namun perlahan mata itu terbuka hingga menatapnya teduh, "aku mohon untuk malam ini saja. Temani aku disini," sambung Nicole dengan tatapan memohon.
Nadine berdehem pelan dan mencoba menguasai dirinya. "Baik Tuan, saya akan tetap di sini menemani Tuan." Nadine kembali melepaskan tangan Nicole agar ia bisa duduk di sofa yang ada di kamar itu. Namun Nicole tetap kekeuh mempertahankan pegangan tangannya.
"Tidur di sini!" lirihnya pelan seraya menggeser tubuhnya hingga membuat tubuh Nadine tertarik dan malah terjatuh menimpanya. Bahkan bibir Nadine saat ini tepat mengenai bibir Nicole dan Nadine sama sekali tidak sempat menahan tubuhnya.
Nicole pun terkejut dengan hal itu, ia tidak bermaksud membuat Nadine melakukan hal itu. Namun dalam keadaan setengah sadar, pikirannya kembali melayang pada beberapa menit sebelum ia tidur tadi dan saat ini bibir yang ia pikirkan sebelum tidur itu datang dengan sendirinya. Nicole tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melahap bibir Nadine, ia bahkan menahan kepala Nadine agar gadis itu tidak bisa menariknya pergi.
Namun hanya sebentar saja ia bisa mengecap bibir manis itu karena setelahnya, ia merasakan cubitan yang diberikan Nadine pada perutnya dan berhasil membuatnya mengeluh kesakitan. Nadine langsung menegakkan tubuhnya dan merapikan penampilannya. Ia menatap Nicole marah, namun ia berusaha menjaga sikapnya.
"Maaf Tuan, saya harus kembali ke kamar."
Nadine langsung saja pergi dari kamar itu dan tidak mengindahkan panggilan Nicole lagi. Ia sangat tidak suka jika dilecehkan seperti ini. Bibirnya kembali bertemu dengan bibir pria itu dan kali ini bahkan pria itu dengan lancang menghisap dan melumat bibirnya.
Nadine langsung membersihkan bibirnya yang kembali ternodai itu. Dia yakin bahwa majikannya itu sadar akan tindakannya dan Nadine semakin merasa sangat dilecehkan karena hal itu.
¨¨¨¨¨
Pagi harinya, disaat Nadine baru saja keluar dari kamarnya. Dia langsung dikejutkan dengan penampakan sosok pria yang berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu menatapnya sambil tersenyum dan bahkan sudah terlihat rapi.
"Ada apa Tuan?" tanya Nadine. Ia mencoba bersikap biasa saja dan menganggap tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka.
"Hm, aku mau minta maaf untuk yang tadi malam."
Nicole menyampaikan permintaan maafnya, meskipun sejujurnya ia memang sangat menginginkan hal yang terjadi tadi malam. Tapi melihat respon Nadine yang langsung pergi begitu saja membuatnya merasa tidak enak hati dan juga sedikit bersalah.
"Saya sudah melupakannya, Tuan. Apakah Tuan sudah selesai? jika sudah berarti kita bisa langsung turun."
Nadine langsung melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawa mereka ke ruangan bawah. Nicole yang melihat respon dari gadis itu langsung menatap bingung dan mengikuti langkahnya.
"Jadi, kamu tidak marah sama saya?"
Pria itu kembali berbicara formal dengan Nadine.
"Tidak, Tuan."
Nicole mendesah pelan, "berarti saya bisa melakukan hal yang lebih dari itu?"
Nadine langsung melemparkan tatapan tajamnya kepada Nicole dan membuat pria itu langsung terkekeh pelan.
"Saya harap Tuan tidak akan melecehkan saya lagi. Tapi, jika Tuan memang ingin saya berhenti dari pekerjaan ini. Silahkan Tuan melakukan hal yang lebih, maka saya akan berhenti menjadi bodyguard Tuan."
Kekehan Nicole terhenti seketika setelah mendengar hal itu dari mulut Nadine.
Nadine tahu bahwa pria itu masih belum menerimanya sebagai bodyguard sepertinya sebelum-sebelumnya. Maka dari itu Nadine mengatakan hal itu agar pria itu tahu apa yang akan membuat ia mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Nadine bukanlah wanita sembarangan yang bisa disentuh begitu saja. Dia punya batasan dan peraturan akan hal itu. Jika tidak ada kepentingan maka ia akan menganggap jika ia dilecehkan. Namun berbeda jika ia tengah bertugas dan mendapatkan perlakuan seperti itu maka ia akan mencoba memakhluminya.
Misalnya seperti tugasnya saat ini yang berpura-pura menjadi kekasih Nicole. Jika pria itu menciumnya untuk meyakini orang-orang atau membuat mereka percaya dengan hubungan mereka maka ia tidak akan menganggap hal itu pelecehan karena saat itu ia tengah berperan. Namun beda halnya dengan tadi malam, mereka tidak sedang berperan dan pria itu tiba-tiba saja meraih bibirnya dengan mudahnya.
Nicole tidak lagi mengeluarkan suaranya setelah mendengar hal itu, dia bahkan sedikit menjaga jarak dengan gadis di sampingnya dan menunggu pintu lift terbuka sehingga ia bisa terbebas dari ruang kecil yang hanya berisikan dirinya dengan seorang gadis yang sejujurnya ingin dia terkam.
¨¨¨¨¨
Suasana ruangan yang diisi oleh tiga manusia itu tampak tenang, dua diantaranya sibuk bercerita sedangkan seorang lagi hanya duduk dan diam menatap mereka.
"Jadi, Ar adalah pelakunya?" tanya Gabriel tak percaya.
Nicole langsung menganggukkan kepalanya, "papa bilang dia itu sangat berbahaya karena papa tahu bagaimana busuknya dia. Papa dan Ar pernah melakukan kerja sama dulu namun tidak bertahan lama karena Ar mengingkari perjanjian yang mereka buat."
Gabriel menganggukkan kepalanya, "Iya gue juga pernah mendengar hal itu tapi gue belum pernah bertemu langsung dengannya."
"Itu yang jadi permasalahannya, keberadaannya memang tidak diketahui banyak orang. Dia biasanya lebih suka mengutus anak buahnya untuk menemui kliennya atau melakukan apapun dan dia hanya duduk saja dan terima bersih."
Gabriel mendecih pelan setelah mendengar hal itu, "berarti yang bahaya itu ya anak buahnya."
Nicole mengangguk setuju. "Lo pikir bagaimana bisa dia memiliki anak buah yang hebat? tentu saja karena dia memiliki sesuatu yang bisa menundukkan mereka, bukan?"
"Ya, maka dari itulah dia sangat berbahaya."
Nadine hanya mendengarkan pembicaraan kedua pria itu tanpa berniat menginterupsi dan memberitahukan banyak hal yang lebih ia ketahui mengenai pria yang mereka sebut Ar itu. Nadine bahkan juga mengetahui kelemahan pria itu, hanya saja ia tidak akan mengatakannya kecuali untuk kepentingan mendesak saja.
Entah sejak kapan, pembicaraan kedua pria itu sudah berganti topik dan saat ini mereka malah membahas mengenai wanita yang entah siapa itu. Nadine tahu, baik Nicole ataupun Gabriel itu sama saja. Mereka memang terlihat cocok bersama, dalam segala hal, terlebih lagi dalam hal wanita.
Seperti yang ia dengar saat ini, meskipun Nicole meliriknya sebentar kemudian berbisik kepada Gabriel. Nadine tetap bisa mendengarnya meskipun samar-samar. Sepertinya mereka akan kembali bersenang-senang bersama seorang wanita dan Nadine rasanya ingin memaki mereka karena dia juga seorang wanita dan rasanya ia benci saat ada wanita yang begitu mudahnya menyerahkan tubuh mereka kepada pria seperti Nicole, Gabriel, atau siapapun.
Merasa jengah, akhirnya Nadine beranjak dari tempat duduknya dan membuat kedua pria itu langsung menatapnya.
"Mau kemana?" tanya keduanya dengan begitu kompak.
"Saya ingin ke kamar mandi sebentar, Tuan."
"Pakai kamar mandi yang ada di ruangan ini saja!"
Nadine memutar bola matanya kesal karena alasannya untuk pergi dari ruangan itu tidak sesuai. Akhirnya Nadine melangkah menuju toilet yang ada diruangan itu.
"Jadi, lo berhasil menciumnya?" tanya Gabriel setelah melihat Nadine menghilang ditelan pintu toilet.
Nicole mengangguk dengan bangga, "bagaimana rasanya? apa sama seperti wanita lainnya?" tanya Gabriel antusias.
Nicole berpikir sejenak dan mengingat-ingat kembali kejadian tadi malam, meskipun setengah sadar namun ia dapat mengingatnya dengan baik. "Rasanya begitu kenyal saat gue menghisapnya, bahkan gue dapat mencium aroma vanila dari mulutnya yang begitu memabukkan," jawab Nicole sembari membayangkan hal itu.
"Ah! Curang lo Nic! Seharusnya gue yang merasakan hal itu lebih dahulu."
"Enak saja! Lo nggak akan bisa merasakan hal itu, jadi silahkan mundur dengan teratur dan biarkan Nicole Dave Petroleum yang mendapatkannya."
Gabriel menatap sepupunya itu kesal, "gue harus menunggu hingga nanti malam agar bisa menyicipi bibir itu juga."
Nicole menyipitkan matanya, "jangan main-main Iel! Gue nggak mengatakan kalau lo bisa menikmatinya nanti malam. Kita bermain dengan wanita lain, bukan dia!" tegas Nicole tak suka.
Gabriel langsung terkekeh, "kenapa?" tanyanya.
Air muka Nicole langsung berubah, "dia akan mengundurkan diri kalau gue melakukan hal lebih dari itu."
Gabriel kembali tergelak, "itu ‘kan kalau yang melakukannya lo. Jadi, kalau gue yang melakukan itu tidak akan berpengaruh apapun sama lo."
Nicole menganggukkan kepalanya menyetujui hal itu, namun kemudian ia kembali menggelengkan kepalanya.
"No! Lo nggak boleh melakukan itu kepadanya!"
Percakapan itu terhenti ketika mendengar pintu toilet terbuka dan Nadine keluar dari dalam sana. Nicole segera berdiri dari duduknya, "ayo kembali kerja!" perintahnya. Gabriel pun langsung mengikuti pria itu dan kembali bekerja.[]