12. Worried

1464 Kata
             Hari ini Nicole pulang lebih awal. Tepat jam 5 sore mereka keluar dari kantor. Nadine tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti pria itu. Mereka juga sudah berpisah dengan Gabriel saat tiba di parkiran.             "Masuk!" perintah Nicole saat mereka tiba di mobilnya.             Seakan mengerti, Nadine langsung masuk ke dalam mobil pada bangku di samping pengemudi karena sepertinya pria itu yang akan menyetir untuk pulang kali ini. Setelah menghidupkan mobil, Nicole tidak langsung menjalankannya dan membuat Nadine menatap pria itu penasaran namun tidak melontarkan pertanyaannya.             "Jika kamu merasa keberatan dengan permintaan papa saya yang menyuruh kamu menjadi pacar saya, kamu bisa mengatakannya. Saya tidak ingin membuat kamu menjadi tidak nyaman."             Nadine sama sekali tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Nicole. Seharian pria itu terlihat baik-baik saja dan bahkan memperlakukannya dengan begitu baik. Tapi, kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal itu? Padahal Nadine tidak pernah mengatakan bahwa ia keberatan dengan permintaan Peter.             "Saya tidak keberatan, Tuan."             "Kenapa? Apa kamu sebenarnya memang ingin menjadi pacar saya?"             Nadine mendengus pelan mendengar pertanyaan Nicole barusan. Menjadi pacar pura-puranya saja sangat merepotkan, bagaimana bisa ia ingin menjadi pacar sungguhannya?             Nadine mencoba mengatur emosinya dan menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaan tuannya. "Saya hanya melaksanakan pekerjaan saya, Tuan. Selagi saya bisa melakukannya maka saya tidak akan menolak. Jangankan hanya menjadi pacar, saya bahkan pernah berpura-pura menjadi istri majikan saya, Tuan."             Nicole cukup terkejut dengan jawaban gadis itu, padahal dia sudah sangat percaya diri mengatakan bahwa gadis itu mungkin memang ingin menjadi kekasihnya.             "Oke, baiklah!"             Nicole akhirnya menjalankan mobilnya dan membuat keduanya saling bungkam. Nadine memang tidak berniat lagi untuk berbicara dengan Nicole. Lebih baik diam daripada berurusan dengan pria yang cukup menyebalkan dengan kepercayaan diri yang tinggi itu.                                                     ¨¨¨¨¨             Malam harinya, setelah makan bersama keluarga Nicole, Nadine langsung kembali ke kamarnya bagitu juga dengan Nicole.             Saat makan malam tadi, Peter mengatakan bahwa mereka sekeluarga diundang untuk menghadari pesta pernikahan anak dari rekan bisnisnya dan Peter meminta Nadine untuk ikut serta menjadi pasangan Nicole ke pesta itu.             Nadine tentu saja tidak akan menolaknya, dengan begitu maka akan banyak orang yang tahu bahwa dia adalah kekasih Nicole sehingga mereka tidak akan mengetahui identitas aslinya. Nadine juga meminta agar mereka memanggilnya dengan nama depannya yaitu Nathalie, bukan Nadine. Agar ia bisa lebih mendalami perannya.             'tok ... tok ... tok ....'             Baru beberapa menit Nadine memasuki kamarnya, suara ketukan pada pintu kamarnya terdengar. Nadine langsung bangkit dari tempatnya dan segera membukakan pintu itu.             "Ada apa, Tuan?" tanya Nadine saat melihat sosok Nicole berdiri di depan pintu kamarnya.             "Aku akan keluar dengan Iel malam ini," ucap Nicole.             Nadine mengerutkan keningnya, "Tuan akan ke tempat kemarin lagi?" tanyanya.             Nicole menganggukkan kepalanya, kemudian berganti menggelengkan kepalanya. "Iya, tapi bukan ke tempat yang kemarin."             "Kalau begitu saya akan siap-siap, Tuan."             Nadine hendak menutup pintu kamarnya namun Nicole dengan segera menahannya dan membuat Nadine menatapnya bertanya.             "Kamu tidak perlu ikut," ucap Nicole kemudian.             "Kenapa Tuan? Bukankah Tuan Peter mengatakan bahwa saya harus selalu bersama Tuan kemanapun Tuan pergi?"             "Iya, tapi hanya malam ini saja. Kamu tidak perlu ikut karena saya akan pergi dengan Gabriel dan saya bisa menjaga diri saya sendiri."             "Tidak bisa Tuan. Apa Tuan akan pergi menemui wanita-wanita yang kalian bicarakan tadi? Bagaimana jika wanita itu seperti wanita kemarin, Tuan? Saya tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Jadi, saya harus tetap ikut bersama Tuan."             Oke, seharusnya Nicole sudah tahu dari awal jika percuma saja dia meminta baik-baik agar gadis itu mengizinkannya pergi sendirian. Gadis itu terlalu keras kepala dan sangat mematuhi perintah papanya.             "Baiklah, jika kamu ingin ikut maka kamu akan menjadi wanita saya malam ini."                                                           ¨¨¨¨¨             Suara musik yang begitu besar dan membuat jantung yang mendengarnya seolah berdegup mengikuti iramanya. Sorot lampu warna-warni yang semakin mendukung tempat itu membuat siapa saja yang ada di sana tertarik untuk berkumpul dan bergoyang bersama.             Tempat itu sangat ramai malam ini, tempat yang berbeda dengan yang mereka kunjungi terakhir kali. Tempat ini terlihat lebih mewah dan bahkan terlihat lebih banyak w*************a berkeliaran.             Nadine memasuki tempat itu bersama Nicole yang memeluk pinggangnya erat. Seperti perkataan Nicole tadi, Nadine harus bersikap seperti wanitanya malam ini. Bahkan Nadine mengenakan pakaian seksi yang dipilihkan oleh Nicole sendiri.             Suara musik yang begitu keras membuat Nicole harus meraih telinga Nadine untuk mengatakan sesuatu kepada gadis itu.             "Iel sudah memesan ruangan VIP untuk kita jadi kita bisa langsung kesana."             Nadine hanya mengikutinya saja dengan tubuh mereka yang saling menempel. Beberapa orang yang berada di sana terlihat memperhatikan mereka dan hal itu membuat Nicole dengan lancangnya mencium pipi Nadine seolah menggoda gadis itu.             Nadine tidak mempermasalahkannya karena saat ini ia tengah berperan sebagai Nathalie, kekasihnya Dave. Nicole memberitahu Nadine bahwa ia mengenalkan dirinya sebagai Dave kepada orang baru karena memang yang memanggil Nicole hanyalah orang-orang terdekatnya saja.             Mereka melangkah dengan diarahkan oleh seorang pelayan yang ada di sana menuju ruangan khusus VIP yang memang ada di tempat itu.             Seperti biasa, Nadine selalu meliarkan pandangannya menatap ke setiap sudut dan setiap orang. Tidak peduli jika ia akan melihat apa yang dilakukan orang-orang disana.             Kakinya terus melangkah beriringan dengan Nicole yang masih memeluk pinggangnya dan mengikuti langkah seorang pria yang menuntun dan memimpin jalan mereka.             Mereka tiba di sebuah tempat yang terdapat beberapa pintu, mereka melewati pintu pertama begitu saja dan saat akan melewati pintu kedua, seorang wanita dengan pakaian yang begitu menggoda keluar dari ruangan itu.             Wanita itu menatap kearah Nicole sejenak sembari memberikan tatapan dan kedipan menggoda namun Nicole sama sekali tidak menghiraukannya. Mata Nadine beralih menatap ke dalam ruangan itu saat pintunya terbuka.             Betapa terkejutnya Nadine saat matanya bertemu pandang dengan seorang pria di dalam sana. Pria yang tengah dikelilingi oleh beberapa wanita yang terlihat sibuk menggoda dan menikmati tubuh pria itu.             Nadine langsung mengalihkan pandangannya ketika mata itu menatapnya lama. Tiba-tiba saja perasaan khawatir datang menghampirinya dan Nicole seolah mengetahui adanya perbedaan dari raut wajah gadis di sampingnya itu.             "Ini ruangannya, Tuan," ucap pria yang memimpin jalan mereka tadi. Nicole hanya menganggukkan kepalanya kemudian pria itu pergi meninggalkan mereka.             Nicole melepaskan pinggang Nadine dan menatap gadis itu, "ada apa?" tanya Nicole khawatir.             Nadine langsung mengangkat kepalanya menatap pria di hadapannya. "Tidak bisakah kita pulang saja, Dave?" tanya Nadine.             "Kenapa? apa kamu merasa tidak enak badan? kamu terlihat pucat," ucap Nicole sembari mengelus lembut pipi Nadine dan menatap khawatir gadis itu.             "Aku baru saja melihat Ar," gumam Nadine pelan namun masih dapat didengar oleh Nicole.             Sontak Nicole langsung menatap sekelilingnya, mereka masih berdiri di depan pintu dan masih bisa melihat semua orang yang berada di tempat itu.             Nadine menggeleng pelan, "dia ada di dalam ruangan itu." Nicole langsung mengarahkan kepalanya menatap ruangan yang dimaksud oleh Nadine. "Kenapa kamu bisa tahu kalau itu dia? kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Nicole penasaran.             Nadine menganggukkan kepalanya, "aku pernah bertemu dia saat masih kecil."             "Dan kamu masih mengingatnya sampai sekarang?" tanya Nicole tak percaya. Dia saja bahkan sudah melupakan siapa saja yang pernah ia temui saat kecil.             Nadine menganggukkan kepalanya, "aku tahu banyak tentang dia dan dia itu bukan orang yang sembarangan." Nicole menatap Nadine cemas, "apa kamu juga takut kepadanya?" tanya Nicole.             Nadine kembali mengangkat kepalanya kemudian menggelengkan kepalanya cepat, "aku tahu kelemahannya."             Nicole langsung tersenyum mendengar hal itu. "Jadi, apa kelemahannya?" tanya pria itu antusias.             "Lebih baik kita masuk saja ke dalam dan membicarakannya juga dengan Gabriel karena bisa saja dia tiba-tiba keluar dari ruangan itu."             Nicole menganggukkan kepalanya dan langsung membuka pintu yang ada di hadapannya. Seketika mereka dapat melihat Gabriel tengah berciuman dengan seorang wanita yang duduk di sampingnya sedangkan wanita satu lagi tengak duduk di pangkuannya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.             Pria itu sepertinya tidak menyadari kedatangan Nicole dan Nadine sehingga membuat kedua orang itu langsung bertukar pandang karena Gabriel masih saja menikmati permainan kedua wanita itu.             "Iel!" panggil Nicole dan berhasil membuat pria itu menatap mereka.             "Loh? kok ada Nadine?" tanyanya sembari meminta kedua wanita itu menghentikan permainan mereka.             "Ada yang mau kita bahas, bisa minta wanita kamu untuk keluar terlebih dahulu?"             Gabriel mengerutkan keningnya kemudian menatap kedua wanita di sampingnya bergantian. "Nanti kita lanjutkan lagi," ucapnya sembari mengecup bibir wanita itu bergantian.             Kedua wanita itu langsung pergi meninggalkan mereka dan Nadine langsung mengunci pintu ruangan membuat Gabriel berdecak pelan dan berfikir yang bukan-bukan.             Nadine berjalan mengelilingi setiap sudut ruangan sembari memainkan tangannya, memastikan bahwa tidak ada kamera CCTV ataupun penyadap suara di ruangan itu.             Setelah memastikan semuanya aman, Nadine langsung melangkah menghampiri Nicole yang sudah terlebih dahulu duduk di samping Gabriel.             "Apa malam ini saatnya?" tanya Gabriel sambil berbisik kepada Nicole dan mengarahkan tatapannya pada Nadine.             Nicole hanya memutar bola matanya jengah dan tidak menjawab pertanyaan sepupunya itu karena Nadine sudah duduk di sampingnya. []   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN