13. Very Beautiful

1288 Kata
            Pagi ini Nadine mendapat berita mengejutkan dari Andi yang mengatakan bahwa Ar berkemungkinan akan hadir di pesta yang akan ia dan Nicole datangi. Dia telah meyakinkan tekad untuk melaksanakan rencana yang telah ia susun bersama Nicole dan Gabriel.             Seperti biasa, di pagi hari Nadine sudah bersama Nicole menuju kantor dan pria itu terlihat berbeda pagi ini meskipun tadi malam ia dan Gabriel harus membatalkan rencana mereka bermain dengan para wanita disana.             “Aku lebih suka kalau kamu memanggilku Dave saja meskipun hanya ada kita berdua,” ungkap Nicole sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.             Nadine sedikit mengerutkan keningnya, kenapa Nicole lebih suka dipanggil Dave olehnya daripada Nicole. Bukankah panggilan Nicole itu untuk orang-orang yang kenal dekat dengannya dan mereka saat ini, sepertinya cukup dekat.             “Tapi kamu juga bisa manggil aku tuan, jika di rumah.”             “Kenapa?” tanya Nadine.             Nicole menarik sudut bibirnya, “hanya ingin,” jawab pria itu singkat dan menimbulkan tanda tanya di kepala Nadine.             Sepertinya pria itu sedang dalam mood yang baik. Dia bahkan sudah memperlakukan Nadine dengan begitu baik dan terasa sedikit aneh bagi Nadine.             “Seharusnya dari awal saya tidak perlu menolak kamu ...,”             “Untuk jadi bodyguard saya.” Nadine kembali mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba pria itu kembali berbicara formal? Ada apa dengan pria di sampingnya itu?             “Jadi, mulai sekarang saya tidak akan membuat kamu mengundurkan diri lagi. Bekerjalah dengan baik dan ikuti semua perintah saya!”             “Baik Tuan.”             “No! Dave,” ralat Nicole.             Nadine menahan kesalnya karena pria itu tadi berbicara formal jadi ia berpikir untuk melakukan hal yang sama. Namun ternyata memang pria itu bisa dikatakan aneh.             “Oke, Dave.”             Nicole tersenyum sumringah mendengar jawaban itu dan kembali menatap jalanan yang mereka lalui.             Pagi ini, akan ada rapat bersama para petinggi perusahaan dan Peter meminta Nicole untuk turut serta. Bahkan pria paruh baya itu tidak bergabung bersama mereka untuk sarapan tadi sebelum berangkat karena ia sudah pergi terlebih dahulu.                                               ¨¨¨¨¨                         “Udah dong mesra-mesraannya,” ucap Gabriel disaat mereka sudah kembali memasuki ruangan Nicole setelah menyelesaikan rapat yang cukup lama itu.             Memang selama perjalanan tadi, Nicole memeluk pinggang Nadine dengan santai dan gadis itu juga mulai terbiasa dengan perlakuan Nicole terhadapnya Namun, berbeda dengan Gabriel yang selalu saja meminta mereka berhenti untuk bermesraan di depan umum, mengingat dirinya yang sendirian.             “Makanya cari wanita itu jangan cuman untuk melampiaskan nafsu saja,” ucap Nicole membuat Gabriel menatapnya tak terima.             “Sombong sekali anda, jika Om tidak meminta Nadine untuk menjadi pacar pura-pura anda, sudah saya pastikan bahwa anda juga akan mencari wanita hanya untuk melampiaskan nafsu, tuan Nic.”             Nicole mengacuhkan perkataan Samuel dan menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di sana kemudian diikuti oleh Nadine yang duduk di sampingnya.             “Jadi, nanti malam ke pesta sama tante lagi?” tanya Nicole sambil menatap Gabriel miring.             Namun yang ditatap malah membalas dengan baik, “ya nggak lah. Lihat saja nanti malam, akan ada wanita tercantik yang jadi gandengan gue. Jangan kaget ya,” ucap Gabriel percaya diri.             Nicole terkekeh pelan, “ditunggu kejutannya.” Nicole kemudian beralih menatap Nadine yang duduk tenang di sampingnya.             “Kamu sudah punya gaun untuk nanti malam?” tanya Nicole.             Nadine menganggukkan kepalanya, “gaun yang cocok untuk menarik perhatian Ar tentunya,” jawab Nadine.             “Lo yakin akan melakukan itu?” tanya Gabriel kini menatap ke arah Nadine.             “Kenapa tidak?” tanya balik gadis itu.             “Bagaimana jika itu tidak berpengaruh?” tanya Gabriel lagi.             “Tidak mungkin, karena aku tahu dengan pasti apa kelemahannya.” Nadine menjawab dengan penuh percaya diri.             Ya, seperti yang mereka rencanakan tadi malam. Sebenarnya ini adalah rencana Nadine, namun ia perlu bantuan Nicole dan Gabriel untuk melancarkan rencana itu.             “Bagaimana kalau dia tidak mau melepaskanmu?” tanya Nicole.             “Maka aku akan melepaskan diriku sendiri.”             Gabriel terdiam sejenak, “sebenarnya ini cukup berbahaya sih. Iya walaupun gue juga tahu, tidak ada yang bisa menolak pesona lo. Tapi, bagaimana jika dia menggunakan kekuasaannya untuk menahan lo?” tanya Gabriel yang ikut merasa khawatir.             Nadine tersenyum tipis mengetahui kedua pria yang tengah menatapnya itu begitu khawatir kepadanya. Rencana seperti ini bahkan bukan pertama kali ia lakukan, hanya saja targetnya kali ini yang memang cukup menakutkan.             “Kalau dia tidak mau melepaskan kamu, aku yang akan datang untuk ambil kamu kembali,” ucap Nicole dengan percaya diri dan bahkan berhasil membuat Nadine tidak dapat menahan tawanya.             Pasalnya, jika dia yang jago berkelahi saja tidak bisa melepaskan dirinya sendiri dari Ar apalagi Nicole yang bahkan dengan mudahnya ia kalahkan. Bisa-bisa Nicole malah menyerahkan nyawanya kepada anak buah Dare.             “Oke, kalian tidak perlu khawatir. Jika dia tidak melepaskanku kalian tunggu saja selama satu minggu. Jika aku tidak kembali barulah kalian bertindak ... dengan memberitahukannya kepada Om Andi."             Kedua pria itu hanya mengangguk pasrah, dari awal ini memang rencana dari gadis itu dan keduanya memang sudah sangat khawatir. Terlebih lagi dari yang diceritakan Nadine bahwa Ar ini cukup berbahaya dan memiliki anak buah yang terlatih juga.                                       ¨¨¨¨¨               Nadine menatap pantulan dirinya dari cermin di hadapannya. Dia mengenakan dress panjang dengan belahan pada sisi kanannya hingga batas atas paha. Make up yang ia poleskan tidak terlalu berlebihan namun sudah cukup membuatnya terlihat begitu menggoda malam ini. Dia sudah memantapkan niatnya dan tidak ingin rencana ini gagal, ia harus bisa menakhlukkan pria itu malam ini.             Ketukan pintu terdengar, Nadine langsung beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju pintu kamarnya. Dia sudah siap untuk melewati malam panjang yang akan ia hadapi.             'clek'             Nadine membuka pintu kamarnya dan memperlihatkan Nicole yang berdiri dengan gagah di depan kamarnya. Sontak saja pandangan keduanya bertemu sesaat. Bahkan, Nicole tidak mengedipkan matanya saat melihat gadis yang ada di hadapannya.             “Kamu bukan Nadine, ya?” tanya Nicole akhirnya setelah cukup lama terdiam menatap makhluk tuhan yang ada di hadapannya itu.             “Iya, malam ini panggil aku Nathalie.”             Nicole tidak bisa membohongi dirinya saat melihat sosok di hadapannya itu. Gadis itu terlihat semakin berbeda. Saat hanya mengenakan pakaian ke kantor dengan make up tipis saja sudah membuat Nicole berdecak kagum. Apalagi saat ini, bahkan rasanya gadis itu sudah mengalahkan bidadari jauh di belakangnya.             “Ayo!”             Nicole memberikan lengannya, bermaksud agar gadis itu menggandengnya dan ternyata Nadine menangkap hal itu dengan cepat. Nadine langsung meraih lengan Nicole dan memeluknya lembut.             Peter dan Raina sudah pergi terlebih dahulu dan membiarkan Nicole dan Nadine menyusul mereka belakangan. Kedua orang itu sama sekali tidak mengetahui akan rencana anaknya bersama bodyguard dan sepupunya.             “Tunggu sebentar!” tahan Nadine saat akan memasuki mobil yang sudah dibukakan oleh Nicole.             Gadis itu sedikit menyingsingkan dressnya dan menuntun heelsnya menuju seorang pria yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya. Nicole hanya diam di tempat dan menatap ke mana gadis itu pergi.             “Rocky!” panggil Nadine saat tiba di hadapan pria itu.             Pria yang dipanggil Rocky itu hanya menampilkan senyuman tipisnya. “Lo terlalu cantik malam ini dan Ar pasti tidak akan bisa menolak lo,” gumam Rocky sambil merapikan sedikit rambut Nadine yang berantakan karena angin.             Rocky sudah mengetahui rencana itu karena Nadine yang memberitahunya dan meminta pria itu untuk tidak mengatakannya kepada Andi.             “Jangan lupa dengan janji lo! ingat, kasih gue waktu seminggu untuk bebas dari dia, jika setelah itu gue nggak muncul, lo bisa bergerak.”             Rocky mengangguk mantap, kedua matanya masih saja menatap gadis di hadapannya itu. Ada rasa tak rela sebenarnya membiarkan gadis itu melakukan rencana yang sebenarnya cukup membahayakan dirinya.             “Apa boleh gue memeluk wanita cantik di hadapan gue ini?" tanya Rocky sembari terkekeh pelan.             Nadine tersenyum tipis dan langsung merentangkan tangannya membuat Rocky langsung meraih tubuh gadis itu. Gadis yang sudah lama bersamanya, gadis kuat yang bahkan tidak pernah terlihat menangis.             “Hati-hati!” ucapnya seraya melepaskan pelukan itu kemudian membiarkan Nadine melangkah pergi meninggalkannya. Ia masih terus menatap punggung gadis itu yang memang terbuka dan sebelum masuk ke dalam mobil, Nadine kembali menatap Rocky sambil memperlihatkan senyuman manisnya.             Rocky membalas senyuman itu tipis, entah kenapa perasaannya menjadi tidak menentu saat ini. Dia tahu bahwa gadis itu pasti bisa menjaga dirinya, tapi mengingat sosok Ar yang begitu berkuasa. Apakah gadis itu bisa keluar dari cengkramannya nanti di saat gadis itu dengan sukarela masuk ke dalam pelukan pria itu.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN