14. Got it

1318 Kata
            Suasana di dalam mobil tidak terasa seperti biasanya. Entah itu hanya perasaan Nadine saja, atau memang nyatanya seperti itu.             Semenjak Nadine masuk ke dalam mobil tadi, Nicole sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Bahkan menatap Nadine yang duduk di sampingnya pun tidak. Nadine seperti tidak ada saja di sana dan itu cukup menimbulkan pertanyaan di benaknya. Namun, Nadine tidak ambil pusing. Mungkin memang tidak ada yang ingin dibicarakan Nicole hingga tiba di tempat party pun, mereka tetap dalam keadaan hening.             Party itu diadakan di sebuah hotel berbintang yang terlihat sudah ramai. Bahkan beberapa awak media terlihat berdiri di pintu masuk hotel itu seolah menunggu siapa saja yang hadir di party itu.             “Ada wartawan, bagaimana?” tanya Nicole akhirnya membuka mulutnya namun tetap tidak menatap gadis di sampingnya.             “Tidak apa-apa,” jawab Nadine mantap.             Nicole menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari dalam mobil kemudian berjalan santai menuju sisi satu lagi untuk membukakan pintu mobil untuk Nadine.             Baru saja Nicole keluar, terlihat beberapa wartawan langsung menyorotkan kamera mereka ke arah Nicole hingga Nadine yang keluar dengan begitu elegan dari dalam mobil membuat banyak kamera semakin menyorot.             Beberapa penjaga yang ada di sana langsung bersiaga untuk menjaga Nadine dan Nicole dari para wartawan. Terlihat beberapa wartawan melontarkan pertanyaannya namun Nicole tidak menanggapinya dan hanya menjawab dengan senyuman tipis seraya terus memeluk lembut pinggang Nadine membelah keramaian itu hingga mereka berhasil masuk ke tempat acara diadakan.             Bahkan saat sudah masuk pun, mereka masih saja menjadi pusat perhatian beberapa orang di sana. Gosip mengenai kekasih Nicole itu ternyata benar adanya. Gadis yang ada di sisinya itu terlihat tenang dan anggun sekali malam ini membuat beberapa pasang mata bahkan menatapnya tanpa berkedip.             “Mari saya antar, Tuan!” seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menuntun mereka menuju tempat yang memang sudah disediakan untuk para tamu undangan khusus.             Nadine masih bertahan dengan senyuman manisnya, berusaha mencuri pandang menatap ke setiap sisi untuk menemukan target mereka malam ini.              Nicole dan Nadine diantarkan ke meja yang sudah dihuni oleh Peter dan Raina. Keduanya menyambut dengan hangat, Nicole dan Nadine pun langsung bergabung dengan mereka.             “Ini Nadine?” tanya Raina pelan saat Nadine duduk di sampingnya.             “Bukan, sayang. Nathalie ini," jawab Peter menggoda membuat Raina langsung menutup mulutnya sambil tertawa pelan.             “Oh iya, Nathalie. Cantik banget sih, jadi pangling lihatnya.”             Nadine tersenyum malu mendengar pujian itu, “terima kasih Tante.” Raina memang meminta Nadine untuk memanggilnya tante atau mama dan Nadine lebih memilih untuk memanggilnya tante.             “Iel udah datang?” tanya Nicole menatap ke arah Peter dan Raina bergantian.             “Tadi mama lihat, sudah. Dia juga bawa wanita cantik,” jawab Raina.             “Di mana dia?” tanya Nicole penasaran dan langsung menjelajahi setiap tempat duduk yang ada di sana.             “Tadi dia sempat ke sini, katanya kalau kamu datang dia akan ke sini lagi. Tunggu saja,” ucap Peter.             Nadine yang duduk di sana masih meliarkan pandangannya menatap ke setiap sudut ruangan dan berusaha menajamkan penglihatannya. Dia masih belum menemukan target mereka.             “Wow!”             Decak kagum itu berhasil menyadarkan Nadine dan membuat gadis itu akhirnya menoleh ke kanannya, Gabriel bersama seorang wanita berdiri di sampingnya.             “Nad-thalie, lo cantik banget malam ini.” Gabriel hampir saja kelepasan memanggilnya Nadine karena terlalu kagum dengan penampilan gadis itu malam ini.             “Terima kasih, Gabriel.”             “Jadi, ini?” tanya Nicole kepada Gabriel sambil menatap wanita yang ada di samping pria itu.             Gabriel terkekeh pelan dan memeluk pinggang ramping wanita di sampingnya itu. “Apa lo udah lupa sama dia?” tanya Gabriel.             Nicole mengerutkan keningnya dan menatap gadis itu dengan teliti. Wajahnya memang terlihat tidak asing, namun ia tidak bisa mengingat siapa gadis itu.             “Rabella Anggia,” gadis itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri dan berhasil membuat Nicole menatap tak percaya.             “Bel-la?" tanyanya tak percaya.             Gadis itu tersenyum manis, begitu pun dengan Gabriel yang langsung menampilkan senyum penuh kemenangan.             Bella adalah cinta pertama Nicole sebelum ia pindah ke luar negeri. Sudah lama sekali ia tidak melihat gadis itu, mereka memang tidak sampai berpacaran tapi Bella tahu jika Nicole pernah menyukainya.             “Sudah ingat sekarang?” tanya Gabriel dan Nicole kini menatap pria itu kesal. Bagaimana bisa Gabriel datang bersama gadis itu?             “Apa kabar Nic?” tanya Bella masih dengan senyuman manisnya menatap Nicole dengan tatapan yang terlihat berbinar-binar.             Nicole berdehem pelan, “baik. Lo apa kabar?” tanya Nicole sedikit canggung.             “Seperti yang lo lihat," jawab Bella kemudian beralih menatap gadis yang hanya diam sejak tadi. “Pacar lo?” tanyanya. Nicole menatap Nadine sejenak dan sedikit kesulitan menjawab pertanyaan itu. Namun Nadine dengan sigap mengacungkan tangannya ke hadapan Bella.             “Nathalie, pacarnya Nicole.”             Bella tersenyum masam dan menerima jabat tangan gadis itu sambil mengangguk pelan. “Kita pergi dulu, sebentar lagi acaranya di mulai. Nanti kita ke sini lagi," ucap Gabriel sambil memberikan sinyal kepada Nicole dan pria itu langsung mengangguk.             “Sampai jumpa lagi, Nic. Permisi Om, Tante,” pamit Bella yang kemudian diikuti oleh Gabriel dan melangkah kembali ke tempat mereka.             Nadine tentu saja bersikap biasa saja, dari penglihatannya dia tahu bahwa gadis itu menyimpan sesuatu hal terhadap Nicole dan Nadine dengan mudah mengetahuinya.             Acara pun dimulai dan kini mereka mengikutinya dengan tenang. Acara itu dibuka dengan formal membuat para undangan terfokus pada satu titik pada orang yang ada di atas panggung di depan sana.             Namun, tidak dengan Nadine. Wanita itu terus saja menatap ke setiap orang yang ada di sana. Dia masih belum melihat pria itu dan jangan sampai rencana mereka yang sudah matang itu gagal begitu saja.             Nadine sedikit tersentak saat ia merasakan tangannya digenggam oleh pria yang duduk di sisi kirinya. Kepalanya yang tadi menatap ke setiap sudut ruangan kini beralih menatap pria yang ada di sisi kirinya.             “Apa dia datang?” tanya Nicole dengan sedikit berbisik. Kedua orang tuanya tengah fokus menatap ke depan sana.             Nadine menggeleng pelan, “aku belum melihatnya sama sekali.” Nadine juga berucap dengan pelan yang hanya didengar oleh Nicole tentunya. Nicole semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nadine dan membuat Nadine menatapnya heran.             “Semoga dia tidak datang,” ungkap Nicole tenang namun membuat raut wajah Nadine kecewa.             “Jangan sampai! Kita sudah menunggu waktu ini, karena ini akan lebih memudahkan rencana kita,” ucap Nadine.             Nicole tidak lagi menanggapi namun tangannya masih menggenggam erat tangan Nadine seolah tak ingin melepaskan tangan gadis itu. Nadine yang merasakan tangan Nicole yang semakin erat menggenggam tangannya, membuatnya menjadi risih.             “Aku mau ke kamar mandi sebentar, Dave.”             Nicole akhirnya melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan gadis itu pergi. Dia tidak perlu khawatir karena ia yakin gadis itu bisa menjaga dirinya.             Nadine seolah kembali bernafas dengan legah setelah melangkah menjauhi tempat Nicole bersama keluarganya. Dia sebenarnya hanya ingin menghentikan tindakan Nicole yang menggenggam tangannya dengan begitu kuat seolah tidak ingin dia pergi ke mana pun.             Kenapa tingkah pria itu selalu berubah-ubah? tadi saat di mobil dia terlihat acuh kepada Nadine dan sekarang ia kembali lagi bersifat care dan mencemaskannya.             Acara formal itu masih berlangsung dan Nadine memasuki kamar mandi yang berada tidak jauh dari tempat itu. Ia menatap pantulan dirinya dari kaca besar di hadapannya.             Make up-nya masih oke, rambutnya pun masih terlihat seperti saat dia selesai merapikannya tadi. Nadine mengeluarkan parfum dari tas kecilnya dan menyemprotkannya pada titik tertentu seperti pergelangan tangan, leher, dan dadanya. Setelah menatap kembali pantulan dirinya dari cermin dihadapannya, Nadine kembali memasukkan botol parfum ke dalam tasnya dan melangkah keluar dari kamar mandi.             Dari tempatnya berjalan, ia bisa melihat ke tempat acara yang masih berjalan dengan khidmat. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya bertemu pandang dengan seorang pria paruh baya yang terlihat melangkah ke arahnya.             Tiba-tiba saja jantung Nadine berdegup dengan kencang, namun dengan cepat ia menetralkan ekspresi wajahnya dan menggantinya dengan ekspresi menggoda saat pria itu kini semakin mendekatinya.             Nadine melangkah cuek saat akan berpapasan dengan pria itu, namun saat ia akan melewatinya. Dia dapat merasakan sentuhan hangat yang bergerak menyusuri pahanya yang terbuka saat berjalan karena dress yang ia kenakan memang terdapat belahan tinggi pada sisi kanan kakinya itu.             Pria itu tidak menghentikan langkahnya sama sekali setelah melakukan hal itu, begitu juga dengan Nadine yang terus melangkah melanjutkan perjalanannya namun sebuah senyuman miring tercipta di wajahnya.             ‘Tepat masuk ke dalam jebakan!’ jerit batin Nadine bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN