Nadine kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum sumringah dan membuat beberapa orang yang melihatnya malah menatap kagum. Gadis itu sepertinya tidak menyadari bahwa kecantikannya seperti bertambah saat dia tersenyum.
Nicole yang melihat gadis itu menyunggingkan senyuman saat duduk di sampingnya langsung menatap heran. “Kamu kenapa?” tanya Nicole.
Perlahan Nadine mulai menetralkan ekspresi wajahnya hingga hanya menyisahkan senyuman tipis di wajahnya. “Dia berhasil masuk ke dalam jebakan,” ucap Nadine dan berhasil membuat Nicole melotot tak percaya.
“Jadi, dia benar-benar ada di sini?” tanya Nicole tak percaya.
Nadine mengangguk mantap, “aku melihatnya sendiri dan bahkan berpapasan dengannya saat akan ke sini dan dia merespon dengan baik.”
Entah kenapa, Nicole seperti merasa tidak ingin melanjutkan rencana itu. Dia seakan tidak rela melihat Nadine menggoda pria tua bangka itu yang bahkan hampir seumuran dengan papanya.
“Jadi, bagaimana selanjutnya?” tanya Nicole.
“Setelah acara ini selesai, aku akan mendatanginya.”
“Kamu yakin?” tanya Nicole lagi yang masih tidak rela jika pria tua bangka itu berhasil mendapatkan tubuh gadis di hadapannya ini.
Nadine mengangguk mantap, “kamu tenang saja. Jangan lupa dengan tugas kalian nanti,” jawab Nadine sembari mengingatkan.
Nicole hanya berdehem pelan dan tak berselang lama, acara formalnya telah selesai dan kini acara dilanjutkan seperti biasa. Para tamu undangan pun sudah bisa kembali menikmati makanan mereka ataupun saling bercerita dengan rekan mereka yang ada di sana.
Gabriel kembali menghampiri meja Nicole bersama gadis yang memang menjadi partner-nya malam ini.
“Jangan lupa rencana kita,” bisik Nadine saat pria itu baru saja tiba di tempat mereka.
Gabriel yang mendengarnya langsung menatap ke arah Nicole kemudian kembali menatap Nadine. “Dia datang?” tanyanya kemudian dan langsung mendapat anggukan dari Nicole begitu juga dengan Nadine.
Gadis yang datang bersama Gabriel tadi terlihat mengakrabkan diri dengan Raina dan wanita itu tentu saja menyambutnya dengan hangat. Beberapa rekan kerja Peter datang menghampirinya dan berbincang sejenak, bahkan yang punya acara malam ini pun datang ke meja mereka untuk menyapa. Hingga seorang pria paruh baya melangkah mendekati mereka dan berdiri tepat di samping Peter sambil membawa minuman di tangannya.
“Lama tidak berjumpa, Peter.”
Suara itu seakan menarik perhatian semua yang ada di meja itu, termasuk Nadine yang sejak tadi tengah berbincang dengan Gabriel. Seketika ia langsung menyikut kedua pria yang ada di samping kanan dan kirinya itu. Seolah berhasil menangkap sinyal yang diberikan oleh Nadine, sontak kedua pria itu melebarkan matanya menatap tak percaya.
"Ar, lama tidak berjumpa." Peter menyambut kedatangan pria itu dengan hangat seolah tidak memiliki dendam apapun. Ya, dia melakukan hal yang sama dengan Ar yang datang tanpa merasa bersalah menghampirinya.
“Kau terlihat semakin tua saja Peter,” ucapnya berbasa-basi dan membuat Peter menanggapinya dengan kekehan santai.
“Dan kau masih saja terlihat sama Ar,” jawab Peter menanggapi ucapan Ar.
Pria yang dipanggil Ar itu memang hampir seumuran dengan Peter, namun saat disandingkan dengan Peter, papa Nicole itu seakan terlihat jauh lebih tuan. Pria yang dipanggil Ar itu pantas dikatakan tampan di usianya yang sudah tidak muda itu.
“Apa ini anakmu?” tanyanya sembari menatap ke arah Nicole yang berada tepat di sampingnya.
“Iya, dia anakku satu-satunya. Namanya Nicole,” ucap Peter memperkenalkan. Nicole hanya memasang wajah datar dan menganggukkan kepalanya.
Ar menepuk pelan punggung pria itu kemudian menatap ke arah Nadine. “Lalu gadis yang cantik ini?” tanyanya kemudian.
“Dia kekasih anakku, namanya Nathalie.”
Nicole dapat melihat senyuman menggoda yang diperlihatkan oleh Ar kepada Nadine dan Nadine tentu saja tidak mau kalah, gadis itu bahkan sudah tersenyum manis sekarang. Nicole sedikit merasa kesal dan sontak langsung merapatkan tubuhnya dengan Nadine seolah memberitahu Ar bahwa gadis itu adalah miliknya.
“Wah, anakmu hebat sekali dalam memilih kekasih, sama sepertimu,” ucap Ar kemudian sembari melirik Raina sekilas kemudian kembali menatap ke arah Peter yang ada di sampingnya.
“Tentu saja, dia mewarisi semua sifat yang aku punya.”
Ar tertawa pelan, “benar sekali Peter.”
“Di mana istrimu? apa kau masih betah sendirian?” tanya Peter.
Ar kembali tertawa, Nicole yang berada di samping pria itu seakan bergidik ngeri mendengar tawa pria itu yang tidak henti-hentinya ia keluarkan.
“Aku tidak membutuhkan istri, Peter. Aku selalu menikmati hidupku yang dikelilingi oleh banyak wanita.”
Ya, dari jawabannya saja. Nicole sudah bisa mengetahui bahwa pria itu pasti akan bertekuk lutut kepada Nadine. Bahkan saat ini saja, ia terlihat terang-terangan melirik ke arah belahan d**a Nadine juga paha gadis itu yang terekspos dengan disengaja.
“Kau masih belum berubah ternyata, Ar.”
“Tentu saja Peter, itu adalah kenikmatan yang harus kita dapatkan dan tentu saja aku sangat menikmatinya.”
Peter tersenyum miring mendengarnya, ia sudah sangat tahu bagaimana kehidupan pria itu yang selalu dikelilingi oleh banyak wanita. Hal itu juga yang membuatnya memutuskan untuk tidak menikah agar ia bisa selalu bermain dengan banyak wanita.
Ar kembali melempar tatapannya kepada gadis yang berdiri di hadapannya yang saat ini tengah di peluk erat oleh Nicole. Melihat pria itu kembali menatap Nadine, Nicole langsung menjalankan rencana mereka dan meraih wajah gadis itu hingga menatapnya. Seakan mengerti, Nadine langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Nicole kemudian memajukan wajahnya hingga bibirnya bertemu dengan bibir pria itu.
Ar mengerutkan keningnya melihat hal itu, ia sudah tidak lagi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Peter kepadanya. Matanya terfokus pada gadis yang saat ini tengah menyecap bibir Nicole.
Permainan gadis itu berhasil membangkitkan gairahnya. Hanya dengan melihat gadis itu mencium bibir pria lain dengan begitu liar, seketika tubuhnya seolah mendapat sengatan, seperti dia sendiri yang tengah merasakan bibir itu melahap bibirnya.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Gabriel dengan sebaiknya sesuai rencana yang telah mereka susun. Raina tengah asyik berbincang dengan Bella dan memang tidak berniat bergabung dengan percakapan suaminya. Sedangkan Peter kini tengah membelakangi mereka karena saat ini tengah berbicara dengan rekan kerjanya yang lain.
Gabriel dengan sigap merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana kemudian langsung memasukkannya ke dalam minuman Ar yang ia letakkan di atas meja tadi.
Setelah mengetahui Gabriel selesai menjalankan tugasnya, Nadine pun membuka matanya dan merenggangkan ciumannya membuat Nicole yang sudah sangat menikmatinya mendesah kecewa.
“Nanti kita lanjutkan lagi,” ucapnya sambil memberikan gigitan lembut pada jari Nicole yang tadi berada di rahangnya. Bahkan tindakan gemas Nadine itu membuat tubuh Ar merinding.
Baru kali ini ia begitu lemah saat melihat permainan seorang wanita. Mungkin karena tadi ia sempat merasakan betapa halus dan lembutnya kulit paha gadis itu, membuatnya selalu dihantui oleh sentuhan itu.
Ia mengalihkan pandangannya dengan cepat saat Nadine menatap ke arahnya sambil menggigit bibirnya. Secara refleks, ia meraih minumannya dan langsung meneguknya hingga tandas.
Ia mengumpat dalam hati mengetahui gadis yang menjadi kekasih Nicole itu begitu menggoda dirinya padahal gadis itu sama sekali tidak terlihat menggodanya. Ia tidak dapat menahan gejolaknya lagi dan langsung beranjak pergi begitu saja dari tempat itu. Nadine terus saja menatap punggung pria itu hingga hilang ditutupi oleh punggung tamu lainnya.
Nadine kembali menyunggingkan senyuman di wajahnya saat mengetahui pria itu tengah kelabakan sekarang dan rencananya berjalan dengan mulus. Kini saatnya rencana terakhir mereka untuk menakhlukkan pria itu.[]