Pesta itu mulai berada di penghujung acara dan sudah semakin larut malam. Beberapa undangan terlihat mulai meninggalkan tempat, begitu juga dengan Raina dan Peter yang sudah bersiap untuk pulang.
Sedangkan Nicole dan Nadine, masih bertahan di sana bersama Gabriel dan Bella yang selalu setia di sampingnya. Mengenai Bella, dia mengatakan bahwa dia hanyalah seorang teman bagi Gabriel. Kedua orang tua Bella juga turut hadir dalam acara itu sehingga ia menerima tawaran Gabriel untuk menemani pria itu karena dia sendiri pun juga belum memiliki pasangan.
Kini hanya tinggal mereka berempat di meja itu, Bella sama sekali tidak mengetahui rencana mereka dan gadis itu hanya berada di sana karena Gabriel memintanya.
“Kalian udah mau pulang?” tanya Gabriel berbasa-basi.
“Ya, sebentar lagi Iel,” jawab Nicole.
Pria itu terlihat berbeda setelah tadi sempat berciuman dengan Nadine. Entah kenapa, dia menjadi canggung seperti ini dan tidak bisa menatap mata gadis yang ada di sampingnya. Padahal biasanya dia lah yang akan mencium para wanita dan membuat mereka tidak berdaya, namun pada Nadine semuanya terasa berbeda.
“Nic, kamu bisa pulang duluan karena aku masih punya urusan di sini." Nadine kembali melakoni perannya agar Bella tidak curiga.
“Lama? Nggak papa kalau aku harus menunggu sebentar,” jawab Nicole sambil menampilkan raut wajah kecewanya.
Jemari Nadine terulur mengelus lembut pipi pria itu. “Nggak perlu sayang, aku harus menemui kerabatku dan mungkin akan sedikit lama. Aku akan mengabarimu nanti.”
“Jangan terlalu mengekang, Nic.” Gabriel ikut menimpali percakapan Nadine dan Nicole.
“Hm baiklah, tapi ingat untuk selalu mengabariku,” jawab Nicole akhirnya dan Nadine langsung menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, Nic. Lo bisa antar Bella pulang, nggak?” Pertanyaan tak terduga itu dilayangkan oleh Gabriel dan membuat Nicole menatapnya tajam kemudian beralih menatap Nadine.
“Gue akan pulang sama mami dan kita harus ke suatu tempat dulu,” lanjut Gabriel menjelaskan.
“Lo sangat tidak bertanggung jawab, Iel.” Nicole menatapnya tajam.
“Nggak apa-apa, Nic. Cuman ngantar aja, ‘kan?" jawab dan tanya Nadine.
Nicole beralih menatap Nadine tajam dan berharap gadis itu menarik kata-katanya. Namun ekspresi yang diperlihatkan gadis itu membuatnya tidak bisa berkutik. “Hm, baiklah.”
Bella yang mendengar jawaban pasrah Nicole langsung tersenyum sumringah. Tak perlu waktu lama, keduanya bersiap untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan Gabriel yang kembali melangkah ke mejanya untuk menjemput maminya.
Sebelum pergi, Nicole menarik tubuh ramping Nadine dan memeluknya erat. “Aku akan menunggumu,” bisik pria itu kemudian memberikan kecupan singkat pada bahu kanan Nadine yang terbuka.
Nadine tersenyum tipis dan mengangguk. Sebenarnya, mengenai kepulangan Nicole dan Bella tidak masuk ke dalam rencana. Semua itu terjadi karena ulah Gabriel yang sepertinya sengaja menjebak Nicole agar bisa bersama gadis itu.
“Hati-hati dan jangan lupa mengabariku saat sudah sampai nanti,” ucap Nadine.
Nicole langsung menganggukkan kepalanya kemudian segera melangkah pergi bersama Bella di sampingnya dan meninggalkan Nadine yang masih bertahan berdiri di tempat itu.
Seketika wajah tersenyumnya menghilang begitu saja saat menatap punggung Nicole dan Bella yang semakin menjauh. Dia kembali memasang ekspresi datarnya kemudian mengedarkan pandangannya menatap beberapa orang yang masih berada di sana.
Nicole tidak akan pernah mengabarinya saat tiba di rumah nanti karena mereka sama sekali tidak bertukar nomor. Jadi, jelas semua yang mereka lakukan tadi hanyalah rekaan semata agar Bella yang berada di sana mempercayainya.
Nadine melangkah dengan ringan, beranjak dari tempat itu. Ia berjalan semakin masuk ke dalam hotel, dia yakin Ar masih berada di sana dan mungkin saat ini sudah menempati sebuah kamar yang ada di hotel itu bersama wanitanya. Mengingat apa yang ia lakukan tadi ternyata sungguh berhasil membuat pria itu turn on.
Ya, kelemahan Ar adalah wanita. Dia memang memiliki banyak wanita dan bahkan dia memiliki kuasa akan setiap wanita itu. Tapi, berbeda dengan Nadine jika dia menjadi wanita pria itu. Nadine sangat ahlinya dalam hal ini. Dia bahkan bisa membuat para lelaki mengalami o*****e hanya dengan menyaksikan tarian menggodanya, atau hanya dengan sentuhan serta bisikan desahan yang ia buat.
Nadine bukanlah gadis sembarangan, diusianya yang masih muda itu, dia sudah melalui banyak hal. Namun ingat, dia masih menjaga dirinya dengan baik karena dia selalu bisa memegang kendali akan pria yang ada bersamanya.
Nadine terkejut saat merasakan seseorang menarik tangannya dan menghempaskan tubuhnya ke dinding, Nadine bersiap melakukan perlawanan namun hal itu segera ia urungkan saat melihat sosok yang melakukan hal itu kepadanya.
“Hei seksi,” panggil pria itu sambil memperlihatkan seringaian penuh kemenangannya yang berhasil mengurung Nadine.
Nadine berusaha menguasai ekspresi wajahnya dan membalas tatapan pria di hadapannya. “Apa yang anda lakukan?” tanyanya seolah tidak suka dengan perlakuan pria itu.
Senyuman miring tercetak dengan menyebalkan di wajah pria itu, tangannya yang mengurung Nadine mulai bergerak menyusuri wajah cantiknya dan membuatnya menatap kesal jari pria itu.
“Ke mana kekasihmu? kenapa dia begitu bodoh membiarkan kekasihnya yang seksi ini berkeliaran begitu saja?” tanya pria itu. Tangannya berada di dagu Nadine dan mendongakkan wajah gadis itu.
Sebenarnya tinggi mereka hampir sama, bahkan mungkin Nadine lebih tinggi sedikit darinya. Tapi karena posisi pria itu yang tengah mengurungnya, membuat Nadine sedikit terlihat lebih rendah darinya.
“A-apa mau anda?” tanya Nadine sembari berpura-pura gugup. Ya, dia hanya berpura-pura dan kembali melakoni perannya.
Pasalnya, pria yang tengah mengurungnya saat ini adalah Ar. Entah darimana dia datang dan tiba-tiba saja sudah mengurung Nadine begitu saja.
Jemari Ar yang berada di dagunya itu bergerak naik dan mengelus lembut bibir merah Nadine. “Aku mau kamu ... memuaskanku.”
Nadine bersiap melayangkan tamparannya pada pria itu, namun dengan sigap pria itu menahannya dan malah membawa tangan Nadine mendekati wajahnya kemudian mengemut jari mungilnya.
Nadine memejamkan matanya saat jarinya dihisap dan dimainkan di dalam mulut pria itu sedangkan pria itu kembali menampilkan seringai miringnya.
Mengetahui Nadine memejamkan matanya, langsung saja Ar mengangkat tubuh gadis itu dan menyampirkan dibahunya. Nadine melakukan sedikit perlawanan dan pemberontakan sambil berteriak meminta tolong. Namun tetap saja pria itu berhasil membawanya.
Suasana hotel yang begitu tenang, juga posisi mereka yang saat itu berada di ujung lorong dan mungkin dengan bantuan anak buah Ar juga sehingga tidak ada yang melewati tempat itu.
Ar membawa Nadine memasuki sebuah kamar yang berada tidak jauh dari tempat itu. Benar dugaan Nadine bahwa pria itu sudah menyewa kamar di sana. Terbukti dengan aroma yang ia cium saat pertama kali memasuki kamar itu. Ia dapat mencium aroma bekas percintaan di dalam kamar itu yang begitu khas sekali.
Ar menjatuhkan tubuh Nadine begitu saja di atas kasur dan membuat dress gadis itu sedikit tersingkap di bagian belahannya. Nadine sedikit menarik dirinya hingga menyentuh dinding dan menatap Ar takut, pria itu terlihat seperti singa yang kelaparan saat ini dan bersiap melahap habis mangsanya.
Tangan dare mulai membuka ikat pinggangnya sambil terus memperlihatkan seringaian penuh kemenangannya terlebih lagi saat melihat ekspresi ketakutan dari wajah Nadine.
Ia terlihat siap menyantap makanan yang begitu lezat yang ada di hadapannya saat ini.
-----oOo-----
Saat ini, hanya ada Nicole dan seorang gadis di dalam mobil itu. Bukan gadis yang biasanya duduk di sana, melainkan gadis lain yang dulu sempat mengisi hatinya.
Suasana di dalam mobil itu terlihat tenang, tanpa banyak suara di sana. Nicole tidak berinisiatif untuk membuka suaranya selain menanyakan alamat rumah gadis itu dan memintanya untuk menuntun jalan mereka.
“Kamu banyak berubah, Nic.”
Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk memulai pembicaraan dan mengisi kekosongan diantara mereka. Keduanya mungkin terlihat canggung saat ini, karena sudah lama tidak bertemu.
Nicole tersenyum tipis, “setiap orang pasti akan mengalami perubahan.” Pria itu menjawabnya dengan mantap tanpa menatap lawan bicaranya.
Bella menganggukkan kepalanya menyetujui hal itu. “Tapi, kamu terlihat sangat berubah sekali.”
Nicole kini menatap gadis itu sejenak kemudian kembali menatap jalanan. Gadis yang ada di sampingnya itu tengah menatapnya dengan penuh kerinduan.
“Aku rindu kamu ya dulu,” lanjutnya kemudian seperti dugaan Nicole.
“Gue juga sangat merindukan lo,” balas Nicole yang memang tidak mengatakan suatu kebohongan. Dia memang sangat merindukan gadis itu.
Bella tersenyun miris, “ceritakan sama aku gimana kamu bisa pacaran dengannya!” pinta Bella.
Nicole sedikit mengerutkan keningnya mendengar permintaan gadis itu, apa yang harus ia katakan? Tidak mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya kepada gadis di sampingnya itu. Meskipun sebenarnya tidak masalah juga jika ia mengatakan kebenarannya karena ia yakin gadis itu bisa menjaga rahasianya.
“Lo udah punya kekasih?” tanya Nicole berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Bella terkekeh pelan kemudian menggelengkan kepalanya, “aku nggak bisa menjalin hubungan dengan orang lain karena harus menunggu seseorang yang dulu belum sempat menyatakan perasaannya kepadaku.”
Jawaban yang diberikan Bella cukup menyentilnya, entah kenapa rasanya gadis itu tengah membicarakannya. “Kenapa lo menunggunya? Padahal belum tentu dia akan tetap memiliki perasaan sama lo,” tanya Nicole.
“Karena aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya saat itu dan mungkin hingga saat ini, jadi aku akan selalu menunggunya.”
Nicole cukup terkejut dengan jawaban gadis itu. Dia tidak ingin terlalu percaya diri dan beranggapan bahwa orang yang dimaksud Bella itu adalah dirinya.
Nicole menghentikan mobilnya karena saat ini mereka telah tiba di kediaman Bella. Setelah melihat rumah gadis itu, ia baru ingat bahwa ia dulu sering sekali ke rumah itu. Bagaimana ia bisa lupa?
Nicole keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Bella. Gadis itu tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih kemudian melangkah perlahan menuju rumahnya.
Nicole masih berada di sana, menatap punggung gadis itu. Entah kenapa ia merasa sulit untuk kembali masuk ke dalam mobil dan segera pergi.
“Nic!”
Gadis itu kembali memutar balik tubuhnya dan menatap Nicole yang berjarak beberapa meter saja darinya.
“Apa aku boleh peluk kamu?” tanya gadis itu hati-hati mengingat bahwa pria yang ada di hadapannya itu telah memiliki pujaan hati.
Nicole tak menolak, ia melangkah dengan tegas menghampiri Bella dan memeluknya erat. Setetes cairan bening mengalir di pipi Bella tanpa diketahui oleh Nicole. Gadis itu membenamkan wajahnya di d**a bidang Nicole dan memeluknya erat.
Cukup lama mereka berpelukan hingga berakhir karena Bella merenggangkan tubuhnya. Gadis itu langsung menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya menatap Nicole.
“Orang yang aku maksud itu adalah kamu, Nic.”
Tubuh Nicole seketika menegang mendengar penuturan gadis itu. Ia menatap tak percaya, terlebih lagi saat melihat air mata gadis itu kembali turun menbasahi pipinya.
Jadi, selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia hanya terlalu takut untuk mengatakan perasaannya kepada gadis itu karena dia takut akan ditolak. Sehingga dia tidak mengatakannya hingga ia pindah keluar negeri, meskipun beberapa kali ia berniat untuk mengungkapkannya.
Nicole tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, dia seharusnya merasa bahagia mengetahui bahwa cinta pertamanya terbalaskan. Tapi, entah kenapa isi kepalanya malah dipenuhi oleh sosok gadis yang baru-baru ini hadir di dalam kehidupannya dan mungkin saja saat ini tengah bersama pria lain. Dia tiba-tiba saja mengkhawatirkan gadis itu setelah mendengar ungkapan perasaan gadis yang ada di hadapannya.[]