bc

ANAKKU MALANG, ANAKKU SAYANG

book_age18+
9
IKUTI
1K
BACA
HE
escape while being pregnant
stepfather
blue collar
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

"Anakku Malang, Anakku Sayang" mengisahkan Mika, seorang jurnalis terkenal yang hidup bahagia di luar negeri dengan suami, Daniel, dan anak mereka, Hasbi. Namun, segalanya berubah ketika kabar meninggalnya ibunya di Indonesia memaksa Mika untuk pulang ke kampung halamannya.Di sana, dia bertemu dengan putra pertamanya yang telah berusia 16 tahun, Adit, yang tidak pernah tahu bahwa Mika adalah ibunya. Mika memilih untuk menyembunyikan identitasnya dan berpura-pura menjadi tantenya. Konflik tumbuh ketika Zuhairi, ayah Adit dan mantan pacar Mika dari masa lalu, kembali ke kehidupan Mika.Kisah ini mengikuti perjalanan Mika untuk menjaga rahasia masa lalunya sambil mencoba memahami perasaan dan konflik di antara keluarganya yang rumit tentang cinta, pengampunan, dan usaha untuk memperbaiki hubungan yang terluka dalam keluarga yang sudah lama terpisah.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Angin malam yang sejuk menerpa wajah Mika saat dia melangkah keluar dari mobil sewa travel di jalan beraspal yang agak rusak di Medan, kampung halamannya. Matanya masih lelah setelah perjalanan panjang dari perantauan, dan perasaannya campur aduk ditambah suara tangisan bayi yang baru lahir di dalam gendongannya. "Mbak, nih kita udah nyampe, barang-barangnya jangan ketinggalan ya" kata sopir taksi dengan senyuman ramah. "Masuk gang itu sedikit lagi ya, pak." Mika menunjuk ke arah gang cukup lebar yang hanya bisa memuat satu buah mobil untuk melintas. Pak sopir segera menyetir memasuki gang itu di tengah malam hingga berhenti disebuah rumah nomor 10 dengan chat warna hijau, Mika segera keluar dari mobil dan tidak lupa memberikan sekeping uang sebagai bayaran, dan mengucapkan terima kasih sebelum melangkah menjauh dari mobil. Dia melihat ke sekelilingnya, mencoba mengenali lingkungannya yang telah lama dia tinggalkan. Dia berdiri di depan rumah tua nan sederhana yang sudah tak asing lagi baginya. Ini adalah rumah tempat dia dibesarkan oleh ibunya, Sri, seorang wanita yang telah merawatnya sejak bayi. Namun, saat ini, ada yang berbeda. Sesuatu yang sangat berbeda. Mika merenung sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekati pintu depan. Dia mengetuk dengan pelan, mencoba mempersiapkan diri untuk momen yang akan datang. Hatinya berdebar kencang ketika pintu terbuka, dan Sri muncul di ambang pintu, matanya terasa tajam saat menatap Mika. "Bu," sapanya dengan suara bergetar. Sri hanya kebingungan dan memberikan senyuman tipis. "Mika, kamu kok pulang sekarang gak ngabarin ibu?" Mika menangis terisak-isak sembari memberikan bayi laki-laki mungil itu di lengan Sri. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, yang terasa lebih kecil dan lebih ramai dengan berbagai kenangan. Sri membawa Mika ke ruang tengah, dan di sana, sebuah buaian kecil dengan bayi yang tidur dengan nyenyak berdiri. Mika menatap bayi itu, putra kecilnya yang baru berusia beberapa hari. Matanya terasa berkaca-kaca ketika dia melihat Sri membuai bayi itu. Dia mencium kening mungil bayi itu dan membiarkan air mata jatuh tanpa bisa dihindari. "Dia cantik, ya?" Sri berkata dengan suara lembut. Mika hanya bisa mengangguk, masih terlalu terkejut untuk berkata-kata. Dia tahu bahwa kehadiran bayi ini akan mengubah hidupnya selamanya. Setelah beberapa saat, Mika kembali menatap buaian kecil itu dan menatap ibunya. "Aku tidak bisa, bu. Aku gak bisa merawatnya. Aku terlalu muda." Sri mengambil tangan Mika dengan lembut. "Ibu mengerti, Nak. Ibu akan merawatnya dengan baik. Kamu tetap bisa melihatnya kapan saja." Mika hanya bisa menangis, terlalu emosional untuk bisa bicara. Dia tahu dia membuat keputusan yang sangat sulit, meninggalkan bayinya untuk merantau dan melanjutkan sekolah di perantauan. Tapi dia juga tahu bahwa dia belum siap menjadi seorang ibu. Jadi, dia memberikan bayinya kepada ibunya yang penuh kasih. Mika merasa ketakutan, bersalah, dan bingung. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam hidupnya. Yang dia tahu hanyalah dia harus menemukan cara untuk melanjutkan hidup, meskipun hatinya hancur karena keputusannya. Sementara itu, bayi kecil itu terus tidur dengan tenang di buaian, tanpa tahu bahwa takdirnya telah diubah oleh keputusan yang dilakukan oleh ibunya yang masih sangat muda. Sri menatap Mika dengan mata penuh kekhawatiran setelah melihat cucunya yang masih bayi itu dalam pelukannya. "Kapan kamu akan kembali ke Jakarta, Nak?" Mika terlihat bingung. Dia merasa khawatir tentang bagaimana ibunya akan mengurus bayi itu tanpanya. "Aku... aku akan kembali besok, Bu." Sri meletakkan tangan lembutnya di bahu Mika. "Tunggu dulu, Nak. Jangan terlalu tergesa-gesa. Kamu tahu, bayi ini butuh perhatian dan kasih sayang." Mika menatap ibunya dengan penuh ketidakpastian. Dia ingin kembali ke Jakarta, kembali ke hidupnya yang telah dia tinggalkan. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang ibu semakin terasa berat. "Aku tahu, Bu, tapi aku punya sekolah dan pekerjaan di Jakarta. Aku harus kembali," Mika mencoba menjelaskan. Sri merasa cemas dan ingin melindungi cucunya. "Kamu masih sangat muda, Nak. Bayi ini masih terlalu kecil untuk ditinggal sendiri. Dan aku bisa membantumu merawatnya." Mika merasa dilema. Dia mencintai ibunya, dan dia tahu ibunya adalah orang yang sangat baik. Namun, dia juga memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi di Jakarta. "Aku tahu ibu baik, tapi aku harus kembali besok." Sri mencoba meyakinkan Mika untuk tidak terburu-buru. "Mika, pikirkan lagi dengan baik. Kamu bisa menyelesaikan urusan di Jakarta terlebih dahulu dan kembali ke sini nanti. Bayi ini anakmu loh." Mika merenung sejenak, tetapi keinginannya untuk kembali ke Jakarta begitu kuat. "Aku janji aku akan kembali sesering mungkin, Bu. Aku hanya butuh menyelesaikan beberapa hal di Jakarta." Sri akhirnya mengalah, meskipun masih merasa cemas. "Baiklah, Nak. Tapi kamu harus sering-sering pulang ke sini, ya? Dan kita akan merawat bayi ini bersama-sama." Mika mengangguk dengan penuh rasa bersalah. Dia tahu bahwa keputusannya akan memiliki dampak besar pada hidupnya dan bayinya yang baru lahir itu. Dia mencium kening ibunya dan mengatakan, "Terima kasih, Bu. Aku akan kembali sesegera mungkin." Sri menatap bayi yang masih tertidur dalam buaian dengan penuh kasih sayang. "Cucu ibu ini sangat tampan loh. Apa kamu sudah memberinya nama, Nak?" Mika merenung sejenak sebelum menjawab, "Aku memberinya nama Aditya, Bu. Itu nama almarhum bapak." Sri mengangguk mengerti. "Aditya, nama yang bagus dan cucu ibu ini akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan hebat seperti bapakmu. Tapi, Nak, tentang ayah dari bayi ini, apakah dia bisa dihubungi? Apakah dia mau bertanggung jawab?" Mika menatap ibunya dengan ekspresi sedih. "Gak tahu aku, Bu. Ayahnya kabur dan gak mau bertanggung jawab. Dia sudah menghilang sejak dia tahu aku hamil." Sri meletakkan Adit di atas sofa disampingnya dan menggenggam tangan Mika dengan penuh simpati. "Apa kamu yakin tentang keputusan ini, Nak? Kamu akan menghadapi banyak tantangan sebagai seorang ibu muda." Mika mengangguk, meskipun air mata terus mengalir di pipinya. "Aku tahu, Bu. Tapi aku akan melakukan yang terbaik untuk Aditya. Dan aku akan selalu berusaha untuk memberinya segala kasih sayang dan perhatian yang dia butuhkan" Sri tersenyum lembut, merasa bangga pada putrinya yang telah dewasa dengan cepat dalam menghadapi situasi sulit ini. "Kamu pasti akan menjadi ibu yang hebat, Nak. Dan ibu selalu akan ada di sini untukmu." Mika merasa lega mendengar dukungan dari ibunya. Meskipun hidupnya telah berubah secara drastis, dia merasa bahwa dia tidak sendirian dalam perjalanan ini. Mika memeluk ibunya erat, bersyukur memiliki seseorang yang peduli dan mendukungnya dalam momen-momen sulit ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook