“Vania!!”
Ini adalah panggilan ke -empat yang Atina lakukan untuk cucunya. Namun, sama sekali belum ada tanda-tanda jika cucunya tersebut akan datang menghampirinya. Hal tersebut tentu saja membuatnya merasa kesal.
Sejak pagi tadi mereka selesai berbicara, Vania ada Zafran masuk ke dalam kamar. An sekarang sudah menuju jam dua belas siang mereka masih belum kembali menampakkan batang hidung. Atina jadi merasa kesal dibuatnya, padahal ia ingin menghabiskan waktu bersama cucunya tersebut.
Dengan langkah kaki yang lebar, Atina hendak meninggalkan ruangan utama. Namun, baru saja ia melangkah sebanyak sepuluh kali, ia bertemu dengan Vano yang tak lain adalah cucu laki-lakinya. Atina pun langsung saja menyunggingkan senyumannya yang sangat manis dan membuat kerutan-kerutan yang ada di wajahnya selain terlihat dengan jelas.
“Wahh, cucu Nenek, sini duduk yuk sama Nenek!”
Tanpa menunggu jawaban dari Vano, Atina langsung membawa pria muda itu untuk duduk bersama di ruang utama. Vano pun memang sama sekali tak melakukan upaya penolakan. Ia tersenyum dan dengan senang hati duduk di samping neneknya.
“Tadi aku denger Nenek manggil-manggil Vania ya? Kayaknya mereka tidur deh, soalnya gak kedegeran suaranya!” seru Vano seraya menoleh ke arah Atina.
“Ah sudah, namanya juga pasangan uda biarin aja!” Atina lupa akan keinginannya untuk menemui Vania. Kini, ia lebih tertarik untuk menggali perihal kehidupan cucunya yang ada di hadapannya kini. Tentu saja Atina tidak akan pilih kasih dengan hanya memedulikan perihal rumah tangga Vania saja. Ia pun akan turut memberikan perhatian sayang sama Vano agar cucunya tersebut tidak merasa jika Atina pilih kasih.
“Kau udah punya calon belum? Kalau udah punya bawa ke sini kenalin sama Nenek, masa adik kamu aja udah nikah tapi kamu mau sendiri terus?” Atia membuka percakapannya dengan suara yang girang, seperti ibu-ibu yang sedang bergosip bersama rekan-rekannya.
Namun, kalimat yang terlontar dari bibir Atina justru membuat Vano bergerak tak nyaman. Pria itu menggaruk tengkunya sendiri sembari melihat ke sembarang arah guna menghindari tatapan neneknya.
“Egh! Kalau Nenek lagi bicara itu liat ke Nenek, bukan ke yang lain!” Satu telunjuk Atina bergerak dan mengarahkan wajah Vano agar benar-benar menghadapinya.
Vano meringis seraya tersenyum tipis, sungguh canggung pembahasan yang diangkat oleh neneknya tersebut. Untuk menormalkan dirinya, Vano pun berdehem dan memperbaiki posisi duduknya. “Belum ada, Nek. Nanti kalau ada pasti aku kenalin sama Nenek dan aku bawa ke sini.”
“Yakin belum ada?” Atina memicingkan matanya, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh Vano.
Vano pun mengagukkan kepalanya dengan yakin. Untuk saat ini, ia memang tidak menjalin kedekatan dengan wanita mana pun, dan juga belum memiliki niat untuk melakukannya. Entah mengapa Vano merasa jika ia masih ingin menikmati waktu kesendiriannya sebelum menikah kelak. Lagi pula, ia belum menemukan wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta.
“Masa kamu kalah sama adik kamu sendiri? Tuh liat Vania, dia bahkan udah nikah!” tutur Atina, membandingkan kakak beradik tersebut.
Vano menghela napas. Menurutnya, soal jodoh tidak seharusnya orang membandingkan satu sama lain. Karena yang namanya jodoh itu adalah rahasia Tuhan yang mana sebagai manusia hanya bisa menjalaninya saja. Jika Tuhan berkehendak agar Vano bertemu dengan jodohnya, mungkin saja Vano pun akan menikah alam jangka waktu dekat.
Namun, untuk saat ini Vano tak mau pusing memikirkannya. Ia hanya akan menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya.
“Ya akan setiap orang beda-beda, Nek,” ungkap Vano, mencoba untuk memberikan pengertian pada wanita tua yang sangat disayanginya tersebut.
Atina pun menganggukkan kepalanya dengan lesu. Padahal, tadi ia sangat berharap jika dirinya akan mendapat jawaban bahwa Vano sudah mempunya calon istri. Namun, satu detik kemudian senyum cerah Atina muncul kembali kala sebuah ide menyeruak di dalam kepalanya.
“Gimana kalau Nenek jodohin kamu sama slah satu cucu temen Nenek?”
Kepala Vano kontan saja menggeleng mendengar penuturan yang baru saja disampaikan oleh Atina. Hanya dengan mendengarnya saja Vano merasa horor. Dijodohkan? Itu sama sekali tidak terdengar seperti sebagai ide yang baik. Vano tidak ingin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang mana hal tersebut sangat berpotensi membuat kedua belah pihak tak bahagia.
Belum lagi bayang-bayang perceraian yang menurutnya sangat besar potensinya. Pasangan yang awalnya saling mencintai saja bisa bercerai, apalagi degan pasangan yang sama sekali tak memiliki perasaan cinta bukan?
“Enggak, Nek! Vano gak mau kalau jodoh-jodohan! Kalau udah waktunya Vano bakal ketemu sama jodoh Vano, kok!” imbuh Vano dengan segera, berusaha meyakinkan Neneknya jika perjodohan tak perlu menjadi solusi dari apa yang terjadi padanya.
Lagi pula, banyak wanita di sekitarnya yang menyukainya. Vano merasa jika ia cukup aman untuk bisa mendapatkan wanita tanpa harus menerima bantuan dari neneknya.
“Padahal kalau kamu mau, Nenek kenal bayak cucu temen Nenek yang cantik-cantik, kamu pasti suka!” Atina asih saja berusaha untuk membujuk cucunya. Sekarang, di kepalanya ada seorang kandidat yang menurutnya akan cocok dengan Vano. Salah seorang cucu dari salah satu temannya yang Atina kenal dengan baik.
Vano tetap kukuh menggelengkan kepalanya. “Enggak, Nek. Vano gak mau! Pokoknya Vano baal ketemu sama jodoh Vano sendiri!”
Atina pun menghela napas kasar. "Ya udah kalau gitu, kalau kamu udah ketemu sama jodoh kamu nanti kamu bilang sama Nenek!”
Walau bibirnya berkata demikian, nyatanya Atina menyusu rencananya sendiri di dalam kepalanya. Ia akan menyusun sebuah pertemuan antara Vano dan juga cucu salah satu temannya agar reka bisa saling mengenal satu sama lain. Akan sangat baik hasilnya jika mereka berdua menemukan kecocokan satu sama lain. Namun, Atin tidak akan memaksakannya jika memang mereka sama sekali ta menaruh kecocokan satu sama lain.
“Iya, Nek! Yang namanya jodoh gak akan ke mana,” ungkap Vano dengan wajah penuh kelegaan. Tadi ia sempat merasa takut jika neneknya tersebut akan memaksanya untuk tetap dijodohkan. Ternyata dugaannya slah dan Vano merasa bersyukur untuk hal tersebut.
“Ya udah, sekarang coba kamu panggil Vania, Nenek mau ngobrol sama dia! Masa Nenek di sini tapi dicuekin?” titah Atina yang akhirnya kembali teringat pada sosok Vania.
Vano pun menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ia langsung bangkit dan pergi meninggalkan neneknya. Dalam hai ia bersyukur neneknya tersebut teringat akan sosok Vania. Jika saja mereka mengobrol lebih lama lagi, Vano yakin jika topik yang akan diangkat oleh Atina tak akan jauh dari perihal perjodohan. Dan itu tak akan baik bagi Vano yang masih belum mau memusingkan dirinya soal wanita.