Pernikahan
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Zafran Tri Cahyo bin Herman dengan Vania binti Bagaskara dengan mas kawin berupa tujuh gram emas dua puluh empat karat dibayar tunai."
Dengan lantang Vano mengikrarkan ijab di hadapan banyak orang. Sebagai seorang kakak laki-laki ia tengah menggantikan tugas sang ayah untuk menjadi wali nikah bagi gadis yang tak lain adalah adik kandungnya. Suara beratnya sedikit bergetar namun tetap terjaga. Detik ini bersamaan dengan kalimat suci yang ia ucapkan, ia telah melepas tanggung jawab yang diembannya kepada laki-laki yang menjadi jodoh adik kesayangannya.
Vano yang semula menunduk kini mendongak cepat ketika mikrofon yang semula didekatkan pada bibirnya kini berpindah tempat. Benda hitam itu kini tepat berada di depan bibir Zafran.
Nampak pemuda itu sempat mengulum bibirnya sebelum berucap, "Saya terima nikah dan kawinnya Vania binti Bagaskara dengan mas kawin tujuh gram emas dua puluh empat karat dibayar tunai."
Kabul yang lancar terucap dari bibir Zafran membuat semua orang mengucap syukur dalam hati. Terlebih Zafran yang tersenyum lega bersamaan dengan banyaknya orang berkata 'SAH'.
Hari ini, menit ini, dan detik ini ia telah mempersunting kekasihnya. Vania kini telah berstatus sebagai istrinya.
Penghulu yang menikahkan mereka membacakan doa yang membuat semua orang menunduk seraya mengangkat kedua tangan mereka. Hingga doa telah selesai dibacakan, mereka nampak tersenyum bahagia.
Vano bernapas lega meski jantungnya masih bertalu-talu. Di seberangnya ada Zafran yang tersenyum senang sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri. Mempelai pria itu pun tengah dirangkul oleh Herman dan Sulis.
Di tengah ruangan berkumpul anggota geng Zafran yang juga mendapat tugas untuk menjaga adik dari Zafran selama kedua orang tuanya tak bersama mereka. Rafa tersenyum tipis, di sampingnya ada Tegar yang tak hentinya berbisik, "Sabar, bukan jodoh lo!"
Riuh kebahagiaan bertambah ketika suara langkah kaki tiga orang perempuan berhasil membuat seluruh mata tertuju pada satu arah, Vania yang didampingi oleh Giselle dan Tasya. Ketiganya berjalan anggun dalam balutan kebaya dengan tema sama. Namun tentu saja kebaya milik pengantin yang paling istimewa.
Waktu seakan berjalan lambat, atau justru langkah ketiganya yang kurang cepat. Tapi satu hal yang pasti, Vania tak sabar untuk segera duduk di samping Zafran dan menandatangani surat nikah mereka yang sudah tersimpan rapi di meja.
Aldi yang memang sedari tadi duduk di belakang Vano tersenyum hangat menyambut pemeran utama dalam pernikahan kali ini. Ia memandang ketiga sahabat baiknya dengan penuh kebahagiaan yang sangat kentara di wajah.
Dan ketika Tasya dan Giselle kompak membimbing Vania untuk duduk, perasaan Vania membuncah. Dengan gerakan malu-malu ia melirik seseorang yang telah resmi mengubah statusnya dari lajang menjadi menikah.
"Sekarang kalian hadapan dulu," titah Sulis. Wanita paruh baya itu dengan semangat memutar tubuh Vania agar menghadap Zafran. "Vania sekarang cium tangan suami kamu, Sayang."
Vania mendongak menatap Sulis, kemudian ia melirik Vano yang memperhatikannya dengan intens. Timbul perasaan sedih ketika mengingat ketiadaan Marinka---sang Ibu dan Bagaskara---sang Ayah dalam hari bahagia ini. Seharusnya, mereka berandil besar dalam acara ini. Tapi semua tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Tanpa berpikir lama lagi, ia mengangkat sebelah tangan Zafran dan mencium punggung tangan tersebut dengan pelan, membiarkan lipstik berwarna merah muda yang dipakainya menempel di tangan kekar itu.
Sulis tersenyum sumringah, ia mengusap pelan kepala menantunya dengan penuh kelembutan. Tatapannya beralih pada Zafran dan ia pun berkata, "Sekarang Zafran, cium kening istri kamu."
Zafran nampak kaget, namun tak lama ia tersenyum canggung seraya mendekati Vania. Baru bibirnya akan bersentuhan dengan kening istrinya, Zafran terpaksa berhenti kala merasakan telunjuk Vania menahan dadanya.
"Jangan dikenain, nanti bedak aku rusak," bisik Vania tepat di depan wajah Zafran yang memang tak menjauh.
Mendengar alasan itu, Zafran merasa kesal dan konyol dalam waktu yang bersamaan. Tanpa memedulikan apa pun lagi ia dengan segera menubrukan bibirnya pada kening mulus yang terlapisi bedak tebal itu. Mengabaikan decakan kesal dari istrinya.
0o0o0o0o0o0
“Bangun!!” Telunjuk dengan kukku yang dicat menjadi berwarna ungu muda itu asyik menusuk pipi kanan seorang pria yang masih tenggelam dalam mimpi.
Vania, wanita itu menghela napas panjang setelah merasa lelah. Ini adalah kali ke sepuluh usahanya membangunkan sang suami. Padahal biasanya pria itu sangat mudah terbangun, mendengar suara cicak di dinding saja sudah mampu membuatnya terjaga.
Tapi berbeda dengan pagi ini, suaminya yang bernama lengkap Zafran Tri Cahyo itu sangat lelap. Atau mungkin saja Vania menggunakan cara yang terlalu lembut untuk membangunkan.
Suaminya itu pasti kelelahan, malam tadi ia baru saja selesai membeli bahan-bahan sembako yang akan dijual kembali di toko milik Zafran yang baru berdiri sekitar dua bulan lalu, tepatnya satu bulan sebelum pernikahan mereka.
“Bangun, Sayang!!” Kali ini Vania mengambil tindakan tegas. Tanpa rasa kasihan dia menggoyangkan tubuh Zafran dengan brutal. Dan aksi bar-bar yang dilakukannya tidak sia-sia.
Wajah kesal Zafran terbentuk seiring dengan matanya yang kian terbuka. “Apa?”
Suara parau terkesan ketus terdengar, Vania hanya tersenyum saja menanggapinya. Selama ini ia belum pernah menghadapi Zafran yang benar-benar marah. Suasana pengantin baru masih kental terasa, segala yang mereka lalui masih terasa manis.
“Udah siang, emangnya toko mau tutup?”
Zafran menarik napas kasar, ia mendudukkan dirinya dan melirik jam dinding. Kemudian tatapannya beralih pada sosok Vania yang masih duduk di bibir ranjang dengan penampilan yang sangat rapi.
“Mau ke mana?” tanya Zafran. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi di kamar.
Vania mengernyit seraya berdiri. “Aku?” tanyanya heran.
Tubuh kekar yang akan sampai di pintu kamar mandi terhenti dan berputar. Ia mengangguk dan menatap penampilan Vania dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Udah rapi.”
Vania tersenyum malu, kemudian ia berjalan mendekati Zafran. Kedua tangannya langsung ia kalungkan pada leher suaminya yang membuat pria itu dengan terpaksa harus menunduk. “Memangnya gak boleh ya aku tampil cantik untuk suami aku? Di luar sana kamu pasti ketemu banyak perempuan cantik, jadi aku harus cantik juga supaya kamu gak berpaling.”
“Aku gak akan berpaling,” tegas Zafran seraya mengecup singkat hidung Vania.
Tawa kecil menggemaskan Vania membuat Zafran kembali mengecup puncak hidung istrinya itu. Vania melepaskan belenggu tangannya dari leher suaminya dan membiarkan pria itu berdiri dengan normal.
“Ya ... siapa tahu bukan? Kamu sebagai cowok gak usah bilang lebih seneng liat istri gak dandan. Karena ketika mata kamu melihat perempuan cantik di luar sana, tetep aja mata kamu ini pasti berbinar.”
“Namanya cowok normal, kalau seneng liat perempuan cantik,” balas Zafran.
Namun, perkataan itu justru membuat Vania cemberut tak suka. “Tuh kan! Dasar cowok!! Bilangnya lebih suka sama cewek yang pakai bedak bayi, tetap aja kalau liat yang menor diembat juga!”
Zafran menghela napas, merasa malas untuk memperdebatkan hal yang sama sekali tidak penting. Ia memilih berbalik dan segera masuk ke kamar mandi. Membiarkan Vania yang masih asyik mendumel sendiri.
“Liat istri dandan cantik aja ditanya mau ke mana, awas aja kalau di luar liat yang bening dia terpesona!!!”
Pintu kamar mandi yang tertutup menjadi korban tatapan tajam Vania. Dia menghentak kakinya kesal sebelum pergi ke luar kamar.
Tadi, ia sudah memasak sarapan untuk dirinya, Zafran, dan Vano. Setelah menikah, Zafran dan Vania memang memutuskan untuk tinggal di rumah pemberian Paman Vania---yakni rumah yang ditinggali oleh Vania dan kakaknya,Vano.
Lagi pula, Vania merasa tak tega jika harus meninggalkan Vano sendirian. Meski kakaknya itu adalah sosok yang mandiri namun tentu akan lebih baik jika hidupnya ada yang menemani. Vania sangat berharap jika Vano akan segera menemukan kekasih hati agar tidak kesepian.
Dulu, Vano berkomitmen pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sebelum Vania menikah. Dan kini hal itu sudah terjadi, tanggung jawab atas diri Vania yang semula diemban oleh kakaknya kini sudah dilimpahkan pada Zafran.
Saat sampai di ruang makan, ternyata Vano sudah lebih dulu memakan makanannya. Vania sangat merasa senang ketika melihat laki-laki yang telah merawatnya itu makan dengan lahap.
“Enak gak masakannya?”
Vania bertanya meski ia sudah tahu jawabannya, masakannya memang tidak akan mengecewakan. Dan rasa puas merambati hatinya ketika melihat Vano menganggukkan kepala.
“Enak kok, mana suami kamu?”
Vania mendudukkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab, “Lagi mandi.”
Karena perutnya yang sudah lapar, Vania pun memutuskan untuk makan tanpa menunggu Zafran. Suaminya itu pun tak pernah mempermasalahkan jika mereka makan di waktu yang berbeda. Katanya, ‘Laper itu gak kerasa sama orang lain’, jadi siapa pun yang merasa lapar maka ia boleh makan lebih dulu.
Tapi belum sendok ke-lima, Zafran sudah menghampiri meja makan. Dan Vania merasa heran karena biasanya Zafran membutuhkan waktu lama untuk mandi. Bahkan lebih lama dari Vania. Terkadang Vania heran apa saja yang dilakukan Zafran selama mandi sampai bisa selama itu. Apakah ia menyabuni badannya berkali-kali? Atau Zafran menyikat giginya satu per satu? Atau mungkin Zafran berendam?
Pernah sekali Vania bertanya, tapi Zafran hanya menjawab bahwa mandi itu harus bersih. Dan Vania pun tak ingin mempermasalahkan itu, karena Zafran bukan satu-satunya manusia yang membutuhkan waktu yang lama untuk mandi.
“Tumben cepet?” tanya Vania di sela makannya.
“Iya, udah telat ini. Harus buru-buru,” jawab Zafran.
Vano menyahuti, “Padahal lo kan kerja di toko sendiri, bebas kali gak ada di bawah telunjuk orang lain. Telat gak telat gak ada yang marah. Beda lagi sama gue yang kerja di supermarket, telat dikit bisa langsung jadi masalah.”
Zafran mengangguk setuju. Ia memang tidak bekerja pada orang lain. Toko yang tengah dirintisnya ia dirikan sendiri dengan uang pemberian ayahnya. “Tapi yang rugi juga gue kalau gak disiplin, kalau ada customer yang datang pagi terus gak jadi beli karena tokonya tutup kan sayang. Sekarang, setiap rupiah bagi gue berharga karena ada perut orang lain yang harus gue isi.”
Vania tersenyum ketika Zafran meliriknya tepat saat pria itu menyelesaikan kalimat. Dengan senang hati Vania menimpali, “Belum lagi ada istri yang harus didandani, iya gak?”
Zafran dan Vano terkekeh. Sejak menikah Vania memang lebih memperhatikan penampilannya lebih intens dibanding dulu. Padahal, penampilan Vania sebagai perempuan sudah memukau.
“Nanti siang kalau mau ke toko bawain makan,” titah Zafran, istrinya memang kerap kali datang ke tempatnya mencari nafkah karena merasa bosan berada di rumah.
Namun Vania menggeleng, hari ini ia mempunyai janji temu dengan ketiga sahabatnya. “Hari ini Aldi, Tasya, sama Giselle mau main ke sini. Gak papa kan?”
Vania tersenyum hangat ketika Zafran mengangguk. Suaminya itu memang sangat pengertian dan penyayang. Vania sangat bersyukur bisa menjadi istri dari mantan ketua geng itu.