Kunjungan Teman

1965 Kata
Katanya, selalu ada cobaan menjelang pernikahan. Banyak orang menyebutnya sebagai ujian pranikah. Dulu Vania tidak percaya pada hal itu, ia hanya berpikir bahwa masalah yang dihadapi oleh para calon pengantin hanya kebetulan saja. Tapi kini ia merasakannya. Semakin mendekati hari pernikahannya dengan sang kekasih, semakin banyak pula cobaan yang ada. Dan cobaan itu datang dari berbagai pihak. Marinka, ibunya itu berkata bahwa ia tidak akan pernah merestui pernikahan Vania dan Zafran. Ibu yang telah menelantarkan kedua anaknya demi seorang laki-laki muda itu tidak ingin melihat kebahagiaan terpancar dari anak-anaknya. Vania dan Vano memang memiliki hubungan tak baik dengan sang ibu. Kelitnya hubungan mereka dimulai ketika Marinka menyelingkuhi ayah mereka. Sejak saat itu keluarga yang semula tercipta penuh kehangatan berubah. Tiada lagi tawa dalam rumah mereka, Vano dan Vania terabaikan. Hingga akhirnya kedua orang tua mereka bercerai. Sejak saat itulah kisah menyakitkan sepasang kakak beradik dimulai. Ayah mereka yang bernama Bagaskara pergi meninggalkan mereka tanpa berkabar, dan tak pernah memberi kabar lagi. Sedang Marinka, wanita paruh baya itu langsung menikah setelah masa iddah berakhir. Hidup Vania tak tenang, ayah tiri yang memang masih berusia muda itu menyukainya. Berulang kali pria itu mencoba melecehkannya. Hingga akhirnya kejahatan pria itu terendus polisi dan berakhir dengan jeratan hukum yang kini membelenggu Haris, begitulah namanya. Namun, kejahatan yang sudah jelas di depan mata itu nyatanya tak terlihat oleh Marinka. Ia tetap menyalahkan Vania yang menurut pandangannya telah menggoda Haris. Seperti saat ini, mata Marinka tak bisa memandang lembut putri bungsunya yang datang ke rumahnya bersama Vano dan calon suaminya. “Saya tidak peduli kamu akan menikah dengan siapa, karena dengan siapa pun itu saya tidak akan merestuinya.” Vania mengeram kesal, Vano yang duduk di sampingnya pun mencoba menahan amarah. Sedang Zafran tampak santai seraya mengusap bahu Vania. Ketiganya terpaksa datang demi meminta restu Marinka untuk pernikahan antara Vania dan Zafran. Karena bagaimanapun Marinka tetaplah seorang ibu. Vania tidak mau dicap sebagai anak durhaka karena tak meminta restu meski ibunya itu sudah mencapnya demikian. “Ma, tolong jangan mempersulit aku. Aku akan menikah,” mohon Vania. Ia mencoba bersikap lembut dan menurunkan egonya. Melupakan segala tindakan Marinka padanya. Marinka tersenyum sinis. “Kenapa saya harus mempermudah hidup anak tidak tahu diuntung seperti kamu? Anak yang sudah mempersulit hidup ibunya sendiri dengan menjebloskan Haris ke penjara!” “b******n itu masuk ke penjara karena kelakuan bejatnya sendiri!” balas Zafran dengan kasar. Ia melupakan fakta bahwa wanita di depannya adalah calon mertua. Persetan dengan statusnya, wanita paruh baya itu telah berbuat tidak sopan terlebih dahulu. “Lebih baik kita pulang, Van. Tidak apa-apa jika Mama gak merestui kalian, lagi pula Mama udah melepaskan kekuasaannya sebagai seorang Ibu pada kita. Tanpa restu dari Mama, kalian tetap bisa menikah.” Vano angkat bicara. Setelah berdiri ia menarik tangan Vania agar mengikutinya. Setelah menatap datar ibunya ia menarik Vania yang juga menarik Zafran pergi. Ketiganya pergi hingga mereka sempat berhenti sejenak di ambang pintu karena mendengar Marinka berkata, “Silahkan saja menikah tanpa restu orang tua. Allah pun gak akan meridhoi, pernikahan kalian gak akan bahagia, dan rezeki kalian pun akan sulit. Segeralah menikah, dan segeralah menjadi janda dan duda muda. Saya akan dengan senang hati mendoakan itu.” Suara nyaring akibat kaleng s**u yang tak sengaja terjatuh membuat Vania mengenyahkan pemikirannya tentang perkataan Marinka. Ia segera berjongkok sejenak untuk dapat menjangkau kaleng s**u di lantai. Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa takut. Takut jika perkataan ibunya menjadi kenyataan. Bukankah doa seorang ibu itu akan dikabulkan? Jika begitu maka benarkah kehidupan rumah tangganya bersama Zafran tak akan bahagia? Benarkah ia akan sulit mendapat rezeki? Dan yang paling buruk adalah ia akan menjadi janda muda? “Enggak-enggak!” Vania menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menginginkan itu semua. Vania harus berpikir jernih, apa yang dikatakan oleh Marinka tidak akan terjadi. Toh selama sebulan ia menikah dengan Zafran, ia merasa bahagia. Toko yang dirintis suaminya itu pun mengalami kemajuan. Jadi kehidupan rumah tangganya pasti baik-baik saja. “Lama banget, Van!” Aldi datang ke dapur dan menegur Vania yang tengah melamun. Bahkan belum ada segelas s**u pun terseduh. Padahal tadi Vania berkata bahwa ia akan menyeduh s**u sebelum pergi ke dapur. “Eh, iya maaf! Lupa ini gue gak bisa buka tutup kalengnya.” Vania menunjukkan kaleng s**u yang masih tersegel rapi. Ia meringis dalam hati karena melupakan kedatangan ketiga sahabatnya. Aldi, Tasya, dan Giselle. Tiga orang itu datang bersamaan ke rumahnya. Mereka berkuliah di tempat dan jurusan yang sama. Pantaslah mereka masih sering bersama-sama. Berbeda dengan Vania yang memilih menikah usai lulus sekolah, sekarang ia telah menjadi seorang istri dan tidak mempunyai banyak waktu untuk bersama sahabat-sahabatnya. “Ck, bilang kek dari tadi, Van!” 0o0o0o0o0o0o0o0 Empat orang bersahabat berkumpul di ruang televisi yang ada di kediaman Vania. Plastik-plastik kemasan berserakan di mana-mana. Mungkin Vania akan membereskannya nanti. Televisi yang menayangkan berita lalu lintas tak membuat mereka tertarik, ketiganya lebur dalam obrolan ringan yang tercipta. “Gimana rasanya setelah menikah? Enak gak? Bagi pengalaman dong, Van!” pinta Giselle tiba-tiba. Vania santai menjawab, “Enak.” “Enak apanya?” timpal Aldi, dan Vania tahu ke mana maksud pertanyaan itu mengarah. Vania memalingkan wajahnya pada televisi. “Ya enak segalanya dong!” Jawaban yang Vania berikan justru membuat Aldi semakin gencar menggoda. Bahkan pemuda itu berkata, “Enak ya apalagi ada yang kelonin.” “Ih Aldi! Udah ya, jangan bahas ke arah sana, itu rahasia dapur rumah tangga!!” kesal Vania. Dengan sengaja ia melempar remotivi ke arah Aldi. “Kan berbagi pengalaman, Van,” seru Tasya, “Tapi Vania, lo gak sayang gitu sama masa muda lo? Inget, waktu itu gak bisa diputar. Dan lo akan menghabiskan masa muda sebagai seorang istri, artinya gak bebas lagi.” Giselle berujar sembari menatap serius pada Vania. Tasya yang memang memiliki pemikiran yang sama seperti Giselle pun dengan segera berseru, “Betul itu, dan apa gak ada cita-cita yang mau lo kejar? Usia kita ini masih muda, masih waktunya untuk bersenang-senang, kuliah, atau gapai cita-cita.” Vania terdiam, apa yang dikatakan oleh kedua temannya memang benar. Usianya yang belum genap 19 adalah usia emas. Banyak orang yang menggunakan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, melakukan hobi, atau bekerja dan berusaha keras untuk mencapai cita-cita. Tapi apa salah jika Vania memilih untuk menikah muda? Meski Vania tahu dengan menikah maka pergerakannya tidak bebas lagi. Bahkan Zafran melarangnya untuk bekerja. “Kalau kuliah kan bisa nanti juga,” tutur Vania. “Ya tapi tetep aja—“ Ucapan Tasya terhenti ketika Aldi menyela. Pemuda itu cukup peka terhadap ketidaknyamanan Vania akan pembahasan ini. “Takdir setiap orang itu berbeda. Di usia yang sama, setiap orang punya pencapaian yang berbeda. Dan gak ada yang salah dengan itu, setiap orang punya waktu dan pencapaian masing-masing. Manusia aja yang kadang malah memusingkan pencapaian manusia lain, padahal dirinya aja belum capai apa-apa.” 0o0o0o0o0o0 Sepeninggal tiga sahabatnya, Vania beranjak untuk memasak. Ia memang terbiasa masak di sore hari. Selain karena Zafran yang akan pulang, Vania juga harus menyediakan makanan untuk Vano yang minggu ini kebagian bekerja di shift malam. Mempunyai keahlian memasak adalah salah satu hal yang patut disyukuri oleh seorang perempuan. Karena akan ada lidah yang harus dipuaskan nantinya. Menurut tulisan yang pernah dipublikasikan oleh seseakun, salah satu penyebab seorang pria berselingkuh adalah karena perutnya tidak terpuaskan. Dan Vania tentu tidak mau itu terjadi dalam pernikahannya. Sebulan menyandang status sebagai seorang istri, Vania mulai terbiasa dengan perannya. Tidak ada lagi waktu bebas untuk jalan-jalan bersama sahabatnya, tidak bisa lagi hanya rebahan seharian di rumah, dan tidak bisa lagi memakai pakaian semaunya. Hari ke-dua setelah ijab kabul, Vania harus merelakan baju-baju miliknya yang menurut Zafran 'kekurangan bahan' dibakar di belakang rumah. Meski sempat merasa kesal, namun Vania cukup berterima kasih pada Zafran setelah suaminya itu mengganti dengan pakaian-pakaian baru. Mengalihkan pikirannya dari pakaian baru, Vania kini sedang bingung untuk memasak menu apa. Perlu diketahui juga, sejak menikah Vania selalu memikirkan makanan apa yang sekiranya akan disukai oleh Zafran. Ia tidak peduli apakah makanan tersebut disukainya atau tidak, yang terpenting adalah Zafran menyukainya. Apakah semua istri di dunia mengalami masalah ini? Merasa dilema hanya untuk memikirkan akan memasak menu apa hari ini, dan akan memasak apa besok. Dan bukan sebuah hal tabu, banyak istri di muka bumi yang cenderung tidak peduli pada lidah dan perutnya sendiri. Memilih makan 'seadanya' hanya karena malas jika harus memasak menu yang disukainya juga. "Telur balado udah pernah, soto ayam ... pernah juga. Eumm ... masak apa ya enaknya?" Meski tahu tidak akan ada yang menjawab, Vania masih saja bersuara sembari berdiri di depan kulkas yang tertutup. "Kalau masak ayam kecap pedas Zafran suka gak ya?" Masih dalam kebingungannya, Vania membuka pintu kulkas. Nampaklah bahan makanan yang masih banyak, Vano yang belanja kemarin. Sejak kakaknya bekerja di supermarket, Vania tak perlu lagi belanja kebutuhan sehari-hari karena Vano yang akan membelikan sepulang kerja. "Ehh! Tapi Kak Vano gak suka pedes. Gak papa deh, masak dua menu aja kali ya. Satu ayam kecap pedes, satu lagi ... apa ya? Haaa! Bingung gue!" pekik Vania pada akhirnya. Ia merasa frustrasi hanya karena menu makanan. Sepertinya ia harus menghafal resep lebih banyak lagi, dan harus bertanya lagi pada Zafran apa saja yang suaminya itu sukai. "Buat Kakak telor dadar aja," seru Vano yang ternyata telah berdiri di belakang Vania. Tangannya terulur ke depan melewati tubuh Vania untuk mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas. Wanita yang masih berstatus pengantin baru itu menoleh sejenak, lalu kembali menatap bahan makanan dalam kulkas seraya tertawa kecil. Menertawakan tingkahnya sendiri yang kebingungan perihal makanan. Setelah meneguk setengah botol air, Vano kembali menyimpannya. Namun ia tidak beranjak pergi, tangan kuatnya merangkul pinggang Vania dan menikmati hawa dingin yang dikeluarkan kulkas. Sejak tadi Vano sudah memperhatikan kebingungan adik semata wayangnya. Dan hal itu sudah biasa ia lihat sejak sebulan lalu. Padahal sebelum menikah Vania sudah biasa memasak setiap hari, tapi adiknya itu tidak pernah sampai sepusing ini memikirkannya. "Ehem!!" Suara yang sengaja dibuat keras membuat sepasang kakak beradik yang masih berdiri di depan kulkas menoleh seketika. Penampakan Zafran dengan rambut yang tak begitu rapi, baju yang kusut, dan wajah yang dipenuhi keringat membuat keduanya tersenyum. Anehnya, senyuman kedua bibir tersebut tak berbalas. Setelah menyadari bahwa Zafran menatap tajam tangan Vano yang bertengger di pinggang Vania, barulah keduanya menyadari jika Zafran tengah dilanda cemburu. Vano segera melepaskan tangannya, dan Vania langsung menghampiri suaminya itu. Agak terbalik memang, tapi Vania itu mempunyai kebiasaan untuk mencium kening Zafran setiap pria itu berangkat atau pulang bekerja. Mengharap Zafran melakukan hal-hal romantis sesering mungkin nampaknya mustahil, jadi Vania berinisiatif untuk melakukannya. "Tumben pulang cepet?" Vania menelan ludahnya ketika mendapati Zafran yang masih menatapnya tajam meski satu kecupan selamat datang sudah ia daratkan di kening Zafran. Sambil menggigit bibirnya Vania menoleh pada Vano yang juga masih menatap Zafran. "Gak seneng aku pulang cepet?" tanya Zafran yang langsung direspons dengan gelengan kepala oleh Vania. Ia semakin yakin jika Zafran cemburu melihat keintimannya bersama Vano. Padahal itu adalah hal wajar, dan sering mereka lakukan. Hanya saja Zafran baru melihatnya sejak mereka tinggal serumah. "Seneng dong? Kamu ini gak boleh berburuk sangka sama aku!" rajuk Vania, mencoba membalik keadaan. "Ngapain berduaan depan kulkas?" "Gue abis minum, Vani lagi bingung masak apa," balas Vano cepat, ia menatap santai sang adik ipar. Zafran menarik pinggang Vania hingga tubuh mereka menempel. "Perlu ya posisinya kayak gini?" Vano tersenyum tipis. "Ya gak perlu, tapi gak salah juga kayaknya. Gue ini kakaknya Vania, tenang aja." Nampaknya anak sulung dari Bagaskara dan Marinka itu tidak mau memperpanjang kecemburuan Zafran, ia memilih pergi meninggalkan sepasang manusia yang masih saling menempel satu sama lain. Sepeninggal Vano, keduanya saling menatap satu sama lain masih dengan posisi yang sama. Vania menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum menggoda. "Cemburu akut ya Mas? Cinta banget ya sama aku?" "Gak cemburu, cuma gak suka aja," elak Zafran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN