“Kamu mau ke mana?” tanya Vania heran ketika melihat jika suaminya sudah rapi saat keluar dari kamar mandi. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seharusnya Zafran bersiap untuk segera tidur, bukan malah akan pergi ke luar seperti sekarang ini.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Vania pun seketika membuat Zafran menghampiri istrinya yang tampak cantik dengan gaun tidur panjang yang dikenakan olehnya. Zafran menyunggingkan senyum manis dengan tangan yang bergerak mengusap puncak kepala istrinya.
“Aku mau pergi ke rumah Mama, kamu mau ikut?”
Vania memutar bola matanya malas, Zafran memang sangat sering berkunjung ke rumah orang tuanya. Mungkin pria muda tersebut masih belum terbiasa untuk berpisah dengan kedua orang tuanya. Sebenarnya Vania sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut. Hanya saja, jika Zafran mengunjungi orang tuanya setiap hari, Vania merasa jika hal tersebut berlebihan.
Terlebih Zafran yang sering kali lupa waktu jika sudah berada di rumah orang tuanya. Pria itu sering kali tidak pulang.
“Aku mau ikut!” tukas Vania yang langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju lemari, mencari pakaian yang layak untuk dikenakannya ke rumah mertua. Vania tidak mau jika dirinya sampai mengenakan pakaian yang tak layak untuk dilihat orang tua dari suaminya. Ia tidak mau jika dirinya akan dilabeli sebagai menantu yang buruk.
“Tunggu sebentar aku mau ganti baju dulu!”
Satu dari dua jempol tangan Zafran acungkan ke arah Vania yang lari terbirit-b***t ke dalam kamar mandi. Ia sendiri merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar yang sudah ia tinggali sejak resmi menikah dengan Vania.
Ada perasaan lega dalam hatinya ketika menyadari jika kini ia telah berhasil mempersunting wanita yang telah menemani hari-harinya saat masa sekolah menengah atas. Wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya tiga tahun silam kini telah resmi menjadi istri sahnya.
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang pria muda sepertinya selain bisa menikah dengan wanita yang dicintai. Saat masa sekolah dulu, Zafran bukanlah siswa yang terkenal dengan tabiat baik. Sebaliknya, ia kerap kali dipamerkan di lapangan karena keterlambatan yang ia lakukan, bolos, dan atau kabur dari sekolah di jam pelajaran.
Dan kebiasaan buruknya tersebut tak hilang walau ia telah menjalin kasih dengan seorang Vania. Untungnya, wanita cantik tersebut masih mau menikah dengannya.
Zafran mengalihkan pandangannya dari langit-langit kala mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, tampaklah Vania yang terlihat cantik dengan celana jeans yang dipadukan dengan kaus oblong khas remaja. Mereka memang masih tampak seperti remaja pada umunya, Zafran yakin jika mereka tak menunjukkan surat pernikahan mereka, maka tak akan ada yang percaya jika mereka adalah sepasang suami istri.
Mungkin setiap orang yang melihat mereka akan menilai mereka sebagai sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara dan belum memikirkan jenjang serius dalam sebuah hubungan.
“Cantik banget,” puji Zafran dengan senyum tulus yang tersungging di bibir manisnya.
Kontan saja kalimat pujian yang baru saja dilontarkannya membuat Vania langsung tersipu. Namun, bukannya malu-malu, Vania justru melemparkan gaun tidur yang dikenakannya tadi ke arah wajah Zafran, dan baju tersebut pun mendarat di sasaran yang tepat.
Vania tertawa setelah melakukan aksinya. Ia menghampiri Zafran dan menarik pria tersebut agar bangkit. “Jangan cemberut gitu dong, jelek tahu!”
Vania memegang kedua pipi Zafran dan membuat lengkungan senyum yang ia paksakan. “Tapi kita jangan nginep di rumah Mama kamu ya? Nanti kita pulang aja, di sananya juga gak usah lama-lama.”
Zafran menghela napas dan menjawab, “Kamu kalau gak mau ikut, gak usah ikut. Aku pergi sendiri aja.”
“Dan kamu pasti gak pulang ‘kan?” Vania mendelik setelah mengungkapkan pertanyaannya. Ia sudah sangat tahu dengan kebiasaan suaminya yang akan pamit pergi ke rumah orang tuanya, lupa waktu, dan kemudian akan menginap di sana. Bahkan Zafran juga sering tak memberi kabar padanya.
Zafran biasanya akan mengirim pesan di pagi hari dan akan menyampaikan alibi jika ia tak sengaja ketiduran di rumah orang tuanya.
Vania sudah merasa kenyang akan alasan semacam itu!
“Enggak, aku pulang kok kalau gak ketiduran,” elak Zafran dengan cepat.
“Belum berangkat aja kamu udah niat ketiduran di sana, gak usah pergi deh kalau gitu. Lagian kamu mau apa sih ke rumah orang tua kamu setiap hari? Ya mending kalau rumahnya ada di samping rumah kini ini, rumah orang tua kamu ‘kan lumayan makan waktu setengah jam buat sampai di sana!” gerutu Vania seraya berjalan menjauhi suaminya.
Kini Vania berdiri di hadapan meja rias, tangannya mengoleskan bedak di wajahnya dengan tipis-tipis, setidaknya ia harus terlihat segar sebelum pergi ke rumah mertuanya. Melalui cermin yang tengah memantulkan bayangan tubuhnya sendiri, Vania menatap ke arah Zafran yang mengusap wajah.
“Kenapa?” tanya Vania dengan nada yang sangat cuek.
Pria muda yang baru akan menginjak usia 20 tahun itu menarik dan menghembuskan napas dengan lunglai. Ia berjalan ke arah Vania dan berdiri di belakang tubuh istrinya tersebut sehingga mereka bisa memandangi tubuh keduanya di cermin.
“Namanya juga anak, wajar dong kalau mau ketemu sama orang tuanya?” gumam Zafran pelan, melingkarkan tangannya di tubuh kecil Vania.
Jujur saja Vania senang dengan apa yang tengah dilakukan oleh suaminya tersebut. Hanya saja, ia merasa dongkol dengan jawaban yang baru saja diungkapkan oleh suaminya. Vania menganggukkan kepalanya dan menatap mata Zafran melalui cermin di hadapan mereka.
“Kamu memang anak mereka, tapi apa harus ya ke rumah mereka setiap hari? Apalagi kamu juga sampai sering nginep di sana! Kau sekarang udah nikah sama aku, kamu harus punya gaya hidup baru dong!”
Kalimat tersebut membuat Zafran melepaskan pelukannya pada Vania. Ia berjalan menjauh dari Vania dan duduk di atas sofa yang ada di kamar mereka. “Vania, dengerin aku. Kamu harus ngerti, kan kita nikahnya juga baru, jadi aku belum begitu terbiasa. Menurut aku, apa yang aku lakuin masih wajar kok.”
“Memang wajar kok.” Vania mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi kalau inget pulang,” lanjutnya.
“Kan aku juga inget pulang!” protes Zafran. Ia tidak terima dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Vania yang seolah menyiratkan jika dirinya adalah suami yang sering lupa pulang. Padahal, ketika Zafran mengatakan dirinya tak sengaja terlelap di rumah kedua orang tuanya, maka Zafran mengatakan yang sejujurnya.
“Kalalu gak ketiduran ‘kan?” tebak Vania dengan mimik wajah yang sangat menjengkelkan di mata Zafran.
“Yang namanya ketiduran kan gak diniat-niat, kalau udah tidur yang siapa yang inget pulang coba?” Zafran mencoba untuk membela dirinya sendiri yang sedang dipojokkan oleh istrinya. Ternyata selama ini Vania tidak begitu menyukai jika dirinya terus mengunjungi kedua orang tuanya. Padahal, Zafran merasa jika hal tersebut sangat wajar untuk dilakukannya sebagai seorang anak yang masih belum terbiasa untuk jauh dari kedua orang tuanya.
Setelah menghembuskan napasnya dengan cara yang kasar, Vania mendelik dan menyilang angannya di d**a.
“Gak sengaja itu satu kali, kalau gak sengaja berkali-kali itu apa?” dengus Vania.
“Jadi gak pergi?” tanya Vania dengan nada yang semakin ketus.
Zafran meliriknya sekilas lalu menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak akan benar jika membawa Vania e rumah orang tuanya malam ini. Bisa dibayangkan jika istrinya tersebut akan merengek minta pulang saat mereka baru sampai dengan alasan jika hari sudah malam.
“Gak usah, besok-besok aja,” balas Zafran, ia langsung menghampiri tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Tak peduli jika pakaian yang melekat di tubuhnya bukanlah pakaian tidur.
Decakan kasar Vania keluarkan, dengan dengusan kasar dan wajahnya yang semakin masam, Vania pun kembali mengambil gaun tidurnya dan membawanya ke kamar mandi. Di setiap langkahnya, Vania terus saja menggerutu karena kesal terhadap suaminya tersebut.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Vania telah kembali berada di kamar dengan pakaian yang kembali seperti semula. Wajahnya pun telah dicuci untuk membersihkan bedak yang tadi sempat ia poleskan.
Mata Vania melihat ke arah Zafran yang sudah lelap, atau mungkin hanya pura-pura terlelap saja karena Vanja merasa ada yang janggal dengan mimik wajah yang ditunjukkan oleh suaminya tersebut. Sama seperti dirinya, pasti Zafran pun merasa kesal. Ide jahil pun melintas begitu saja di kepalanya.
Dengan cepat ia membaringkan tubuhnya di samping Zafran dengan kepala Vania yang sengaja diletakkan di atas d**a bidang suaminya. Tangannya memegang ponsel dan ia membuka salah satu aplikasi yang biasa digunakan untuk siaran langsung.
“Hallo guys, sekarang aku sama suami lagi tidur, tuh liat dia udah tidur duluan.” Vania dengan sengaja mengarahkan kamera ke arah Zafran yang mana hal tersebut tidak bisa terlaksana karena Zafran yang langsung menepisnya.
Seketika itu pula Vania langsung tertawa, menyipan ponsel di belakang tubuh Zafran sedangkan tangannya sendiri ia gunakan untuk memeluk tubuh jangkung pria yang telah sah menjadi suaminya tersebut.
“Ngapain coba pura-pura tidur?” tanya Vania seraya memeluk tubuh suaminya dengan erat, tidak mau jika pertengkaran kecil mereka tadi menjadi sebab hubungan keduanya memburuk.
Zafran menggeleng. “gak pura-pura tidur kok, Cuma merem aja.”
Kedua tangan Zafran secara otomatis membalas pelukan hangat istrinya tersebut, ia pun tak mau jika suasana yang tercipta di antara mereka adalah ketegangan yang mana hanya disebabkan karena perdebatan kecil.
Vania tertawa ringan seraya menyandarkan wajahnya di d**a bidang yang sangat disukainya. “Sama aja sih kedengarannya bagi aku. Kita ke rumah orang tua kamu besok aja ya!”