Paginya Cerahku

1032 Kata
“Pagiku cerahku, matahari bersinar., kupandang suami tampanku di kamar ...” Vania bersenandung dengan riang seraya memandang wajah Zafran yang masih terlelap di sampingnya.  Betapa bahagianya Vania yang setiap pagi disuguhi pemandangan yang sangat indah. Wajah suaminya yang polos dan sangat tampan juga menyejukkan mata. Vania tidak tahu harus dengan cara apa ia mengungkapkan kalimat syukurnya tas seseorang yang telah menjadi suami sahnya kini. Senyuman yang muncul di bibir Vania kian muncul saja ketika Zafran sama sekali tak terpengaruh, wanita uda itu mendaratkan sebuah kecupan di pipi suaminya dengan cara yang kasar. Namun, apa yang dilakukannya sama sekali tak mempengaruhi suaminya. Zafran tetap lelap dalam tidurnya yang sangat nyenyak. Hal tersebut akhirnya membuat Vania mendesah lelah seraya bangkit. Melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bukan masalah baginya jam berapa pun sekarang, tetapi itu jelas masalah bagi Zafran yang harus segera membuka toko sembako yang dimilikinya. Pria tersebut harus segera bersiap, bahkan seharusnya Zafra sudah siap untuk pergi. Dengan segera Vania pun menggoyangkan tubuh suaminya agar ia bisa melihat mata yang selalu senang untuk dipandanginya terbuka. Dan beruntungnya Zafran langsung membuka matanya walau dengan gerakan yang sangat malas. “jam berapa?” tanya Zafran seraya menguap lebar. Ie engucek matanya singkat dan bangkit mengikuti sang istri. Tak mau menunggu jawaban dari istrinya, Zafran melihat sendiri jam dan seketika itu pula ia mendesah malas. Besar harapannya jika jarum jam masih menunjukkan pukul lima pagi agar ia bisa terlelap kembali walau tidak lama. Nyatanya, sekarang sudah pukul tujuh pagi dan ia harus segera bangkit meninggalkan tempat tidur. “Udah siang, kamu siap-siap sekarang!” titah Vania seraya menarik tubuh Zafran agar segera bangkit. Dengan gerakan yang sangat malas, Zafran pun bangkit dan berjalan malas meninggalkan tempat yang sangat nyaman bagi siapa saja, yakni kasur. Vania sempat terkikik geli melihat suainya yang berjalan malas-malasan ke kamar mandi. Sebari menggelengkan kepalanya, Vania lantas merapikan tempat tidur mereka yang acak-acakan. Pertama, ia melipat selimut besar dengan rapi, kedua ia penyusun bantal dan guling, dan terakhir ia merapikan sprei yang masih bersih dan wangi. Setelah itu, Vania bergerak mendekati lemari dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Sebenarnya, menyiapkan pakaian untuk suaminya sama sekali bukan kebiasaan Vania. Hanya saja, ia merasa untuk mencoba untuk melakukannya karena teringat salah satu adegan film yang pernah ia tonton. Menurut Vania, menyiapkan pakaian untuk suaminya adalah hal yang sangat romantis. Dan Vania ingin mencoba untuk berperilaku romantis sekarang. Kedua telapak tangannya saling bergosokan setelah ia meletakkan pakaian di atas kasur, Vania yakin jika suaminya akan menyukai pakaian yang dipilihkannya. “Zafran! Baju kamu udah aku siapin ya!” teriak Vania seraya pergi meninggalkan kamar. Ia harus segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Jangan sapai pria muda yang telah mempersuntingnya tersebut prgi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah dengan tangan kosong. Ia tidak mau jika Zafran merasa kelaparan saat mencari nafkah, walau bisa saja suaminya tersebut membeli makanan nantinya. Nasi goreng adalah menu andalan banyak orang di pagi hari. Dan Vania akan membuatnya sekarang. Masakan yang sangat mudah untuk dibuat itu akan cepat selesai jika dibuat, Vania akan memasaknya untuk porsi tiga orang. Namun, baru saja Vania sapai di dapur, ia justru mendapati tubuh kakaknya yang sibuk bekerja di depan kompor. Dengan dahi yang mengernyit, Vania pun menegur akaknya tersebut. ‘Kak, lagi apa?” Vano secara otomatis langsung memutar tubuhnya, tersenyum melihat kedatangan adiknya yang sangat jelas sekali belum sempat mencuci muka. “Kakak lagi masak nasi goreng buat kita.” Mata Vania pun langsung menoleh ke arah wajan yang ada di atas kompor. Memang ada nasi goreng yang sudah siap untuk dimakan. Vania langsung tersenyum dan menghampiri kakaknya. ‘Wah, baru aja aku mau masak, eh ternyata udah jadi duluan nasi gorengnya.” Vano terkekeh seraya menyiapkan tiga piring berwarna putih. “Abisnya kamu siang bangunnya, jadi kakak masak aja buat kita semua.” Sama sekali tak tersinggung dengan kalimat sindiran yang baru saja diucapkan oleh kakaknya, Vania dengan semangat menarik sendok yang langsung ia gunakan untuk mencoba nasi goreng tersebut. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman kala merasakan rasa nikmat di lidahnya. “Enak,” komentar Vania yang langsung membawa salah satu piring yang sudah penuh ke ruang makan. Rasanya ia tak sabar untuk segera menghabiskan nasi yang menjadi jatahnya sekarang juga. Vano tersenyum senang melihatnya. Ia pun menyusul sang adik degan satu piring yang ada di tangannya. Setelah sampai di meja makan, Vano langsung mendudukkan tubuhnya di samping Vania. Pria yang telah menjadi kakak yang sangat bai untuk Vania tersebut tersenyum senang melihat adinya yang makan dengan lahap. “Enak banget kayaknya?” tanya Vano seraya mencoba makanan buatannya. Dan ternyata benar saja, bukan maksud Vano untuk memuji dirinya sendiri tetapi makanan yang ia masak memang terasa sangat enak. Nasi goreng memang memiliki pesona yang sangat luar biasa bagi lidah Indonesia. “Enak banget, Kak! Aku aja kalau buat nasi goreng gak seenak ini!” balas Vania singkat, ia kembali sibuk dengan aktivitasnya. Vano mengangguk saja sebagai respons, lantas keduanya disibukkan dengan makanan masing-masing. Sempat tercipta keheningan selama beberapa saat, tetapi kemudian Vano kembali membuka suaranya kala ia mengingat sesuatu. “Oh iya, nanti nenek katanya mau e sini dan juga tinggal di sini. Katanya besok baru datang sama Paman,” ujar Vano memberitahu. Vania terlihat senang, terbukti dari ia yang langsung menghentikan kegiatan makannya. “Nenek mau ke sini?” Setelah mendapatkan anggukan kepala dari kakaknya, Vania pun terpekik senang. Ia sangat merindukan neneknya tersebut yang lama tak pernah bertemu. Setidaknya, dengan kehadiran neneknya yang ada di rumah ini maka Vania tak akan merasa bosan jika Vano dan Zafran tengah sibuk mencari nafkah di luar rumah. “Nenek mau berapa lama di sini?” tanya Vani dengan semangat. Vano menjawabnya dengan cara mengangkat bahunya singkat, ia sama sekali tidak tahu berapa lama wanita tua itu akan tinggal di sini dan juga tidak bisa memperkirakannya. “Seneng banget aku kalau ada Nenek, besok aku mau masa yang banyak dan enak buat sambut Nenek kalau gitu!” ungkap Vania, masih dengan senyum semangat. Vano mengangguk setuju. “Sekalian kamu kenalin Zafran sama Nenek, mereka kan belum pernah ketemu secara langsung. Nenek pasti mau tahu siapa suami dari cucunya!” “Pastinya dong! Aku yakin kalau Nenek bakal suka sama Zafran!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN