Arbani adalah satu-satunya pekerja yang Zafran perkerjakan di tokonya untuk membantunya. Pria itu ini tengah mengangkut produk-produk yang baru saja datang dari mobil ke toko. Dan tentu saja Zafran pun tak tinggal diam, ia dengan segera membantu pria tersebut. Tak mungkin bila Zafran hanya ongkang-ongkang kaki saja walau ia adalah seorang bos di tokonya.
“Masih banyak gak?” tanya Zafran ketika Arbani menyimpan tiga dus berukuran sedang sekaligus di hadapannya.
Tampaknya Arbani merasa lelah, hal tersebut terbukti dari pria tersebut yang tak langsung membalas apa yang ditanyakannya dan memilih untuk mengatur napasnya yang memburu. Arbani juga menyeka keringat yang ada di keningnya dengan kasar. Setelah merasa cukup normal, Arbani pun akhirnya menjawab, “Udah abis, ini yang terakhir.”
“Sekarang bantu s**u di dalam ya!” titah Zafran, Arbani pun kontan saja langsung menganggukkan kepalanya.
Keduanya kompak a*u ke dalam toko dan merapikan produk-produk yang baru datang. Tak banyak yang mereka bicarakan karena keduanya lebih memilih untuk sibuk dengan urusan masing-masing.
Namun, itu hanya bertahan sebentar saja. Karena tak lama kemudian muncullah sosok yang sangat Zafran kenali. Vania datang dengan napas ngos-ngosan, tangannya menenteng banyak belanjaan yang mana ada sayuran hijau yang muncul dari sana. Tanpa harus bertanya, Zafran tahu jika istrinya tersebut baru saja belanja untuk makan mereka di rumah nantinya.
“Kamu habis belanja?” Walau sudah tahu jawabannya, Zafran tetap melontarkan pertanyaan tersebut pada istrinya.
Vania pun mengangguk dengan dan masuk ke dalam toko. Ia menyimpan belanjaannya di salah satu sudut ruangan sedangkan dirinya sendiri duduk di atas kursi yang tersedia di depan meja.
“Iya, aku habis belanja. Katanya besok Nenek aku mau ke rumah, makanya aku belanja biar bisa masak banyak besok,” jawab Vania seraya mengelap keringat yang mengair deras di dahinya.
Cuaca di luar sangat panas dan hal tersebut membuat Vania merasa lelah. Pasalnya ia berjalan kaki dari pasar e toko suaminya. Sebenarnya bisa saja Vania langsung pulang, tetapi entah mengapa ia ingin menemani suaminya berjualan.
“Wah mau masak banyak ya? Boleh dong gue besok mampir?” tanya Arbani dengan semangat.
“Giliran makan gratis aja cepet!” dengus Zafran, mendelik ke arah sahabatnya tersebut yang hanya tertawa ringan.
Vania sendiri sama sekali tak mempermasalahkan pertanyaan Arbani. Justru ia mengangguk dengan cepat. ‘Iya, besok kamu datang aja ke rumah, aku mau masak yang banyak!!”
Zafran menghampiri istrinya dan duduk di samping wanita itu. Tangannya dengan cepat bergerak mengambil tisu yang ada di meja yang mana benda tipis itu langsung ia gunakan untuk menghapus jeja keringat yang ada di wajah Vania.
“Kamu jalan kaki ya?” tebak Zafran, dan ia menghela napas ketika melihat istrinya mengangguk.
‘Kenapa gak naik ojek?”
“Tadinya aku pikir kalau dari pasar ke sini itu gak begitu jauh, eh ternyata lumayan bikin capek kalau jalan kaki,” ujar Vania seraya mengambil alih tisu dari tangan suaminya.
“Lain kali kalau mau ke sini naik ojek, atau enggak telepon biar aku jemput!”
Zafran tak suka melihat Vania lelah, dan hal itu pun membuatnya selalu merasa khawatir setiap kali melihat Vania yang bercucuran keringat seperti saat ini.
“Atau enggak, telepon gue aja. Gue juga siap 24 jam buat antar jemput lo ke mana aja kok!” Arbani yang sudah selesai menyusun barang itu pun ikut menimpali dan duduk tak jauh dari sejoli yang masih menjadi pengantin baru tersebut.
“Siapa lo?” sinis Zafran.
Terkadang—atau bahkan selalu, Zafran cemburu pada Arbani yang kerap kali melibatkan dirinya dalam percakapan ketika ada Vania. Dan Zafran yang memang mudah merasa cemburu pun selalu merasa kesal pada pekerjanya tersebut. Ingin rasanya ia membuat pembatas agar Vania bisa jauh dari banyak pria.
“Gue? Yang dibilang temen boleh, dibilang selingkuhan juga boleh!” papar Arbani, seperti berbicara kepada teman dan bukan kepada bosnya.
Memang seperti itu hubungan yang tercipta di antara Zafran an Arbani, walau mereka atasan dan pekerja, nyatanya mereka bersikap seperti teman. Zafran memang bukan pribadi yang sombong, ia bersikap dengan sangat baik di hadapan pekerja satu-satunya tersebut.
“Dibilang babu juga boleh kali ya?” seru Zafran ringan.
Kalimat tersebut membuat Arbani mendengus dan menyilangkan tangannya di d**a.
“Pengen sih selingkuh, tapi nanti kalau Zafran selingkuh duluan!” tutur Vania dengan santai yang mana kalimatnya membuat Zafran langsung duduk tegak.
“Enaknya aja! Kamu mau selingkuh?” pekik Zafran.
Vania memutar bola matanya malas. “Kan aku bilang kalau kamu selingkuh, kalau kamu gak selingkuh ya aku juga gak akan selingkuh. Makanya kalau kamu ga mau aku selingkuh itu artinya kamu juga gak boleh selingkuh!”
Setelah mendengar penjelasan istrinya, Zafran pun merasa tenang. Kalau soal itu kamu tenang aja, aku juga gak akan selingkuh kok!”
Sejak menjalin hubungan yang dinamakan dengan ‘pacaran’ bersama Vania, Zafran tidak sekalipun jatuh cinta pada wanita lain. Ia memegang teguh janjinya pada wanita yang sangat dicintainya tersebut. Dan sekarang, ikatan yang ada di antara mereka bukan sekedar pacaran bela. Mereka sudah mengucap janji suci di hadapan Tuhan yang mana itu artinya ada tanggung jawab yang harus mereka emban.
Zafran bersungguh-sungguh saat menikahi Vania, sebisa mungkin ia akan menjaga kerukunan rumah tangganya agar selalu harmonis tanpa gonjang-ganjing dan konflik. Zafran ingin agar pernikahannya bersama Vania adalah yang pertama sekaligus yang terakhir.
“Tapi kalau udah ada niat selingkuh, jangan datang ke cowok lainya!” Arbani menaik turunkan alisnya sembari menatap ke arah vania yang langsung mengangguk seraya tertawa.
Berbeda dengan respons yang ditujukan oleh istrinya, Zafran justru mendelik dan merasa sangat kesal. Ingin rasanya ia mendaratkan sebuah pukulan ke salah satu pipi Arbani.
“Boleh aja, tapi nanti gaji lo gue potong!” dengus Zafran yang membuat Arbani meneguk ludahnya kasar.
“jangan main potong gaji dong, Bos! Kalau mau makmur, sejahterakan karyawan supaya perusahaannya juga maju! Siapa tahu kalau gue naik gaji, tiba-tiba aja toko sembako ini jadi punya seratus cabang?” Arbani mencoba untuk bernegosiasi.
“Aamiin paling keras!” teriak Vania seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
“Tuh kan, Vania aja bilang aamiin!”
Zafran mendengus kesal. “Kalau bagian punya seratus cabang semoga terkabul, tapi kalau Vania selingkuh? Amit-amit! Gak akan bahagia hidup seorang suami kalau istrinya selingkuh, mau sekaya apa pun juga! Vania istri gue, kebahagiaan gue!”
“Itu lagi gombal wpa gimana ya?” goda Arbani, tersenyum menjengkelkan.
Sedangkan Vania, wanita muda itu tersenyum malu mendengar kalimat yang diungkapkan oleh suaminya. Ternyata, suaminya yang sangat jarang berlaku romantis itu bisa mengatakan hal demikian.