Membawa Kabur Vania

2052 Kata
Zafran mengusap wajahnya dengan kasar, ia membaringkan tubuh di dalam kamarnya yang ada di rumah kedua orang tuanya. Sudah terhitung dua hari Zafran tak pulang ke rumah Vania, sudah dua hari pula ia tak menjalin komunikasi apa pun dengan istrinya cantiknya itu. Vania sama sekali tak bisa dihubungi, bahkan ponselnya tak aktif sekalipun. Tanpa harus banyak bertanya, Zafran tahu jika hal itu pasti disebabkan oleh Atina yang melaang Vania untuk menyalakan ponsel. Memikirkan hal tersebut, Zafran semakin merasa jengkel saja pada wanita tua yang telah membuat keretakan dalam rumah tangganya itu. Belum lagi Sulis yang malah menyarankan agar Zafran menuruti apa yang diinginkan oleh Atina, tentu saja Zafran tak akan mau melakukan hal itu. Sampai kapan pun, ia tidak akan menceraikan Vania tanpa alasan. Dan keegoisan Atina, bukanlah alasan yang tepat untuk menceraikan Vania. Dan Zafran berharap jika ia tak akan menemukan alasan apa pun untuk menceraikan Vania. Ia ingin agar pernikahannya akan berlangsung seumur hidup, dan cukup satu kali saja. Yang Zafran inginkan, ia dan Vania akan hidup bersama hingga maut memisahkan. “Gue gak bisa gini terus!” Zafran bergumam, lalu ia bangkit dan mengambil jaket miliknya.  Malam ini, Zafran akan mendatangi rumah istrinya. Ia sudah tidak bisa menahan rasa rindu yang bersarang di hatinya untuk Vania. Tak lupa Zafran pun langsung mengambul kunci motor yang tergeletak di atas meja. Zafran dengan segera melangkahkan kakinya dalam kecepatan yang sedang. Ia berjalan menuruni tangga untuk sampai di lantai satu. Namun, langkahnya langsung terhenti kala ia melihat Sulis dan juga Herman yang tengah mengobrol di ruang tamu. Keberadaan mereka membuat Zafran harus berhenti, merek pasti akan bertanya mengenai ke mana akan perginya Zafran sekarang. “Mau ke mana, Zafran?” Dan tebakan yang Zafran lakukan dalam hati tak melesat sedikit pun, Sulis langsung bertanya pada Zafran, wanita paruh baya itu bahkan langsung bangkit dan membimbing tubuh Zafran agar duduk bersamanya. Tak ada penolakan yang diberikan oleh Zafran, ia pasrah duduk di samping tubuh Sulis dengan mimik wajah yang tampak lelah, mengarah ke frustrasi. “Zafran mau ke rumah Vania.” Jawaban yang diberikan oleh Zafran langsung membuat Herman yang tadinya bersikap cuek langsung mengangkat kepalanya dengan tatapan yang menajam. “Untuk apa kamu datang ke sana? Kalau kamu datang ke sana, yang ada kamu bakalan diusir lagi sama neneknya Vania! Sebagai laki-laki, kamu harus punya harga diri!” Sulis langsung menganggukkan kepalanya untuk menyetujui apa yang dilontarkan oleh sang suami. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap punggung kokoh putra sulungnya dengan sangat lembut. “Zafran, benar apa yang dibilang sama ayah kamu. Kalau kamu datang ke sana, kamu hanya akan mendapatkan penghinaan atas kedatangan kamu. Dan pada akhirnya, kedatangan kamu ke sana hanya akan berakhir sia-sia.” Sulis mencoba untuk menggoyahkan niat yang ada dalam hati Zafran. Namun, Zafran yang pada dasarnya sudah sangat merindukan Vania, ia menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Enggak, Yah, Bun, Zafran akan tetap datang ke rumahnya Vania. Kalau bisa, aku bakal bawa Vania keluar dari sana.” Tak mau jika niatnya terus saja digoyahkan, Zafran pun langsung bangkit, ia kembali melangkahkan kakinya ke luar rumah tanpa mau memberikan kesempatan kepada kedua orang tuanya untuk berkata apa pun lagi. 0o0o0o0o0 Zafran sengaja menghentikan laju motornya d depan rumah orang lain, sedangkan ia akan melanjutkan langkahnya untuk menuju ke rumah Vania dengan berjalan kaki. Hal itu dimaksudkan agar kedatangannya tak disadari. Setelah berpikir sepanjang jalan, Zafran memutuskan jika ia akan mendatangi Vania secara diam-diam. Zafran akan memanjat dinding dan akan masuk ke dalam kamar Vania melalui jendela. Semoga saja Vania berada di kamar, sehingga ia bisa langsung berbicara dengan wanita yang telah ia nikahi itu.  Zafran mulai memelankan langkah kakinya ketika ia sampai di halaman depan rumah Vania. Zafran dengan sangat berhati-hati memperhatikan pintu rumah untuk memastikan apakah akan ada seseorang yang keluar dari sana atau tidak.  Untungnya, suasana sepi sangat mendukung Zafran untuk melanjutkan aksinya. Ia pun langsung melangkah ke samping rumah. Tak ada tangga yang bisa membuatnya naik ke atas, tetapi Zafran tak mau menyerah. Ia langsung memanjat dinding dengan berpegangan dan juga menginjak jendela-jendela yang tersusun secara bertingkat. Hingga akhirnya Zafran sampai di jendela kamar Vania, beruntungnya Zafran saat tahu jika jendela itu terbuka lebar dan sama sekali tak terkunci. Tanpa mau menunggu lama, Zafran pun langsung saja masuk. Tubuhnya tertegun ketika ia mendapati tubuh Vania yang tengah berbaring sambil menangis tersedu-sedu. Ternyata, keadaan istrinya pun tak lebih baik dari Zafran. Dengan langkah kaki yang pelan hingga tak menimbulkan suara, Zafran pun langsung melangkahkan kakinya menuju kasur. Ia mendudukkan tubuhnya dengan pelan, membuat kasur yang ditempati oleh Vania sedikit bergoyang. Vania yang menyadari ada gerakan di kasurnya langsung membalikkan tubuh. “Za—Zafran,” kaget Vania. Matanya langsung membola, tetapi ada gurat bahagia yang jelas tercipta. Tubuh Vania pun langsung bangkit, ia tersenyum lebar dengan tangis yang semakin kencang. Tanpa mau berpikir panjang, Vania langsung memeluk tubuh Zafran dengan sangat kuat, tak peduli jika sosok Zafran yang ada di hadapannya hanya sebuah bayangan sekalipun.” “Zafran,” lirih Vania, terdengar sangat menyedihkan di telinga Zafran. Dengan senang hati Zafran pun membalas pelukan yang diberikan oleh istrinya. Tak kalah erat, hingga tubuh keduanya kini merapat tak ada jarak. Napas keduanya sama-sama memburu, Zafran melepaskan pelukan di antara mereka secara perlahan.  “Aku gak nyangka kamu bakal datang. Ka--kamu datang lewat jendela?” Vania masih tak bisa menghentikan tangisnya. Hal itu membuat Zafran langsung mengerakkan kedua tangannya untuk menangkup wajah cantik istrinya dengan penuh kasih sayang. “Kamu baik-baik aja?” Kontan saja pertanyaan yang dilontarkan oleh Zafran membuat Vania langsung menggelengkan kepalnya. Bagaimana mungkin ia bisa baik-baik saja ketika dirinya dipisahkan secara paksa dengan pria yang sangat dicintainya? Vania yakin tak akan ada wanita yang baik-baik saja jika mengalami hal tersebut. “Aku mau sama kamu!” Seolah takut jika Zafran akan pergi kembali, Vania langsung memeluk tubuh suaminya kembali degan sangat erat. Ia tak mau jika Zafran kembali meninggalkannya sendirian. Apalagi Vania juga tak bisa pergi ke mana-mana dan tak bisa menghubungi Zafran. Atina, neneknya itu dengan tega menyita ponsel milik Vania dan mengurung Vania di dalam kamar. Atina hanya akan mengunjunginya setiap jam makan, dan itu pun hanya untuk mengantarkan makanan saja. Selebihnya, Vania akan menghabiskan waktunya sendirian untuk menangis di dalam kamarnya. Zafran tahu jika istrinya sangat terpukul dengan keadaan ini, ia membiarkan dadanya basah oleh air mata yang terus saja berjatuhan dari sudut mata istrinya. Zafran berulang kali mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening istrinya, wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan yang kini terbayar tuntas dengan tangannya yang bisa memeluk tubuh Vania dengan sangat erat. “Aku kangen sama kamu, aku mau sama kamu, gak mau pisah lagi, gak mau!!” raung Vania, Zafran langsung menutup mulut istrinya itu karena khawatir jika kalimat yang dilontarkan oleh Vania akan membuat Atina datang ke sini. Mengerti akan keadaan, Vania langsung menganggukkan kepalanya sebagai isyarat jika ia tak akan mengatakan apa-apa lagi. Vania menghentikan kegiatan menangisnya dan duduk dengan tegak, ia perlu berbicara serius pada Zafran. “Kamu tinggal di rumah orang tua kamu?” “Iya, aku tinggal di rumah orang tua aku. Apa nenek kamu selama ini memperlakukan kamu dengan baik.” Air mata Vania kembali menetes. “Nenek kunci aku di dalam sini, dan dia sama sekali gak izinkan aku ke luar dari sini. Bahkan, makanan pun dia yang bawakan ke sini. Aku mau ketemu sama kamu, tapi Nenek terus larang aku, bahkan dia juga sita ponsel aku!” Seolah anak yang tengah mengadukan nasibnya pada orang tua, Vania kembali menangis. Ia menggenggam tangan Zafran dengan sangat erat dan tak mau melepaskannya walau hanya satu detik saja. “Kamu mau sama aku?” tanya Zafran dengan mimik wajah yang menunjukkan keseriusan yang sangat dalam. Tanpa berpikir panjang, Vania langsung menganggukkan kepalanya. “Kamu gak mau cerai sama aku?” Vania kembali menganggukkan sebagai jawaban yang ia berikan pada Zafran. Zafran menarik napas menangkup kedua pipi istrinya dengan cara yang lebih lembut lagi. “Kalau gitu, sekarang kita kabur, kita pergi ke rumah aku. Kamu harus pergi dari jeratan Nenek kamu kalau kamu benar-benar mau menyelamatkan rumah tangga kita.” Kini Vania terdiam, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebagai upaya otaknya untuk memproses kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Zafran dengan baik. Setelah mengerti dengan apa yang diungkapkan oleh Zafran pun, Vania tetap terdiam. Zafran yang tak sabar untuk menunggu jawaban langsung bertanya, “Kenapa diam? Kamu gak ma—“ “Aku mau! Ayo, kita pergi sekarang!” sela Vania, ia langsung bangkit dan menarik tangan Zafran. Betapa senangnya hati Zafran ketika Vania mau menuruti keinginannya. Ia pun langsung membawa tubuh Vania ke jendela. “Aku bakal lompat duluan ke bawah, nanti kamu lompat dan aku bakal tangkap kamu dari bawah. Ngerti?” Walau merasa takut dengan ide yang baru saja diusilkan oleh Zafran, Vania tetap menganggukkan kepalanya.  Lau Zafran mulai turun dari sana, ia berpijak pada jendela-jendal yang memili dinding menonjol di bagian atasnya. Vania yang memperhatikan suaminya dari atas sampai merasa ngeri sendiri hanya dengan melihatnya. Hingga, kini tiba bagiannya untuk meloncat turun. Vania merasakan debaran jantung yang sangat kuat saking takutnya. Tubuhnya bergetar. Apakah jika ia meloncat Zafran akan bisa menangkap tubuhnya dengan tepat? Bagaimana jika nanti ia terjauh? Vania yakin jika ia tak akan selamat. Namun, tekad Vania sudah bulat, ia tidak mau jika Atina akan memisahkannya dengan Zafran. Vania tak mau jika Atina akan menciptakan perceraian dalam pernikahannya. Setelah sempat menoleh ke belakang beberapa kali untuk memastikan tak ada yang datang ke kamarnya, Vania pun langsung menaiki jendelanya.  Di bawah sana, Zafran sudah memberikan isyarat ada Vania agar segera meloncat. Rasanya, kini Vania tengah melakukan aksi yang sangat membahayakan, dan memang begitu kenyataannya. Dengan segera, Vania memejamkan matanya erat, tak mau melihat ke bawah hingga akhirnya ia pun melompat sambil menahan teriakannya. HAP! Vania langsung bernapas dengan lega kala Zafran menangkapnya dengan tepat. Tangannya langsung memeluk tubuh Zafran sebagai bentuk ungkapan perasaan leganya. Jantungnya masih bertalu-talu cukup cepat, adrenalinnya masih terpacu akibat lompatan yang ia lakukan. “Buka mata kamu, Vania, kamu udah selamat!” Zafran tertawa ringan melihat Vania yang masih saja menutup matanya. Secara perlahan, Zafran pun menurunkan Vania. Akhirnya Vania pun membuka matanya dan tersenyum ke arah Zafran. “Sekarang kita berangkat, motor aku gak ada di depan rumah ini, ada di depan rumah sebelah,” ujar Zafran. Vania pun langsung menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Sebelum melangkahkan kakinya, Zafran dan Vania saling berpegangan tangan satu sama lain, sangat erat hingga jari-jari mereka terasa sakit karenanya. Sialnya, baru dua langkah keduanya melangkah, pintu rumah terbuka yang membuat keduanya mundur dengan segera. Muncullah Vano yang tampak santai dengan jaket bomber yang melekat di tubuhnya. Naasnya lagi, Vano langsung menyadari keberadaan adik dan juga adik iparnya yang tengah berpegangan tangan. Dengan kening yang berkerut, Vano langsung menutup pintunya dengan cepat dan berjalan menghampiri keduanya. Kontan saja kedatangannya itu langsung membuat Vania ketakutan, berbeda dengan Zafran yang hanya menarik napas panjang., “Kalian lagi apa?” Vano bertanya dengan nada panik, tetapi berbisik. Mungkin ia menjaga suaranya agar tak menimbulkan kecurigaan dari Atina. Vania yang takut jika Vano akan melarangnya untuk pergi langsung bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Sedangkan Zafran langsung menjawab, “Gue sama Vania mau pergi ke rumah orang tua gue, mungkin untuk sementara lebuh baik kita tinggal di sana. Gue dan Vania gak mau bercerai, apalagi hanya karena Nenek.” Di luar dugaan Vania, Vano langsung mengangguk dan menepuk bahu Zafran dengan gaya yang sangat bersahabat. “Demi kebaikan rumah tangga kalian, lakukan aja, gue bakal pura-pura gak tahu kalau kalian pergi e sana.” Jawaban yang diberikan oleh kakaknya itu membuat Vania akhirnya memunculkan tubuhnya dan memeluk tubuh Vano dengan sangat erat. “Makasih, Kak.” Vano menangguk, ia membalas pelukan yang diberikan oleh adiknya itu tak kalah erat. Merasa jika mereka tak punya banyak waktu, Vano langsung melepaskan pelukan di antara mereka. “Gue titip Vania sama lo, sekarang sebaiknya kalian pergi, jangan terlalu lama di sibi atau Nenek bisa tahu kalian akan pergi!” Zafran mengangguk, ia langsung menarik tangan Vania pergi. Vano hanya diam saja melihat kepergian adik dan juga adik iparnya. Ada sebuah senyum tipis yang muncul di bibirnya. Vano berharap, semoga dengan cara ini Zafran dan Vania bisa mempertahankan rumah tangga mereka dengan sangat baik. “Vano, kamu lagi apa diam di sana?” Teriakan Atina langsung membuat Vano menolehkan kepalanya dengan cepat. Sejak kapan Atina berada di ambang pintu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN