Percobaan Bunuh Diri

1475 Kata
"Suci… sayang, buka pintunya. Ada Nino sama Rere di bawah," ucap Eva seraya mengetuk pintu kamar Suci. "Suci kemana ya? Gak biasanya dipanggil gak nyautin," batin Eva. "Nak… buka pintunya. Tumben kok dikunci." Eva mencoba sekali lagi. "Ada apa tan?" tanya Rere yang tiba-tiba sudah berada di belakang Eva. "Eh… nak Rere. Ini loh, dari tadi Tante ketuk pintu kamar Suci gak ada jawaban. Mana dikunci. Tante jadi khawatir nak." Eva mulai cemas. "Ada kunci serepnya tan?" tanya Rere. "Ya Allah, tante baru ingat nak. Sebentar ya, tante ambil dulu." Eva menuju meja panjang dan membuka laci khusus kunci serep di setiap ruangan yang ada di lantai atas. "Ini nak kuncinya," ucap Eva sambil menyerahkan kunci pada Rere saat sudah kembali. Rere langsung membuka pintu kamar Suci. Gelap. Itu yang pertama kali ia lihat. Kemudian ia melangkah masuk untuk mencari saklar lampu. Tidak sulit, karena Rere sudah hafal betul segala letak di dalam kamar Suci karena Rere sering menginap di rumah Suci. Dan, saat lampu dinyalakan. Rere dan juga Eva berteriak histeris mendapati Suci yang tergeletak di lantai dengan mulut yang mengeluarkan busa. "Astagfirullah Suciii…." Eva berteriak dan menghampiri Suci. "Suciii, bangun sayang!" Eva menepuk pipi Suci berharap agar Suci tersadar. Perbincangan Nino dan juga Damar tiba-tiba terhenti saat mereka mendengar suara jeritan dari Eva yang memanggil nama Suci. Tanpa pikir panjang, Nino dan juga Damar langsung bergegas menuju kamar Suci. "Ada apa mah?" tanya Damar saat sudah sampai di depan pintu kamar Suci. "Ya Allah Suci." Nino panik. "Suci kenapa tante?" tanya Nino. "Tante gak tau nak. Begitu Tante sama Rere masuk, Suci sudah tergeletak. Mata Nino menangkap sebuah botol berisi cairan pembersih lantai yang tergeletak tak jauh dari tempat Suci pingsan. "Kita bawa Suci ke rumah sakit tan, semoga belum terlambat." Nino mengangkat tubuh Suci dan membawanya ke rumah sakit menggunakan mobil miliknya. *** Tidak membutuhkan waktu lama, Nino sudah sampai di rumah sakit. Nino langsung membawa Suci agar Suci cepat mendapatkan pertolongan. Suci pun diperiksa oleh tim medis. Nino, Damar, dan juga Rere menunggu dalam keadaan yang begitu cemas. Mereka tak tau sejak kapan Suci tergeletak di lantai dengan mulut yang berbusa. Semoga Allah masih berbaik hati memberikan kesembuhan untuk Suci. "Gimana dok keadaan anak saya?" tanya Eva saat dokter sudah keluar dari ruang UGD. Matanya sudah sembab akibat terus menerus menangis. "Alhamdulillah pasien masih bisa diselamatkan. Kami sudah mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuhnya. Untungnya, dia juga tidak terlalu banyak meminum racun tersebut," ucap dokter tersebut. "Alhamdulillah," ucap syukur mereka semua hampir bersamaan. "Bu, pak. Mengingat kondisi pasien yang belum lama keluar dari rumah sakit akibat kecelakaan yang dialaminya, hingga membuat kedua matanya tidak dapat melihat. Ditambah pasien juga habis jatuh dari lantai dua. Saya sarankan untuk kalian supaya menjaga pasien lebih ketat lagi. Saya rasa, pasien mengalami depresi atas apa yang sedang ia alami. Saya takut, pasien bisa melakukan hal-hal nekat lainnya yang tidak pernah kita pikirkan." "Kami harus bagaimana dok?" ucap Damar. "Seperti yang saya bilang tadi. Jaga pasien lebih ketat lagi. Kalau bisa, jangan biarkan dia sendiri di dalam kamar. Temani pasien, ajak ngobrol agar ia merasa ada yang memperhatikan dirinya." "Baik dok. Kami akan melakukannya," ucap Damar. "Apa pasien bisa dijenguk dok?" tanya Nino. "Boleh. Tapi satu-satu ya. Dia masih belum sadar soalnya. Nanti, setelah sadar dan kondisinya membaik, bisa dibawa ke kamar inap. Pasien harus menginap beberapa malam sampai kondisinya benar-benar stabil," ucap dokter tersebut. "Baik dok. Terimakasih kalau begitu ya dok." Nino dan Damar menjabat tangan dokter. "Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit dulu ya." Dokter pun meninggalkan Nino, Eva, Damar dan juga Rere. "Tante sama om masuk duluan ya. Tante belum tenang kalau belum melihat Suci," pinta Eva seraya menangis. "Iya om, tante," jawab Nino. Damar dan Eva pun masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan Suci. Sementara Nino dan Rere menunggu giliran mereka masuk ke dalam. "Apa lagi ini re…" Nino frustasi hingga menarik rambutnya. "Sabar no, sabar. Kita doakan saja supaya Suci cepat sadar dan cepat membaik." Rere menguatkan. "Kenapa Suci bisa ngelakuin hal bodoh seperti itu coba? Apa yang ada di dalam pikiran dia? Memangnya dia udah gak sayang lagi sama gue, re?" Nino sudah mulai kesal. "Bukan gitu no. Lo tau kan Suci gak bisa lihat. Gue yakin dia pasti tertekan dengan keadaannya. Gak gampang no nerima itu semua. Pastinya berat buat Suci dan pasti bisa ganggu mentalnya juga. Ditambah perilaku bokap Lo waktu itu ke dia. Dia jadi ngerasa semakin gak berguna hidup di dunia dengan kondisi dia yang gak bisa melihat. Gak usah Lo berpikiran Suci gak cinta atau gak sayang sama Lo. Karena itu gak mungkin. Gue tau Suci gimana," ucap Rere. "Kalau dia sayang sama gue, kenapa dia coba untuk bunuh diri re. Kenapa?" ucap Nino hampir berteriak. "Seperti yang gue bilang. Dia merasa gak berguna hidup karena kondisinya yang gak bisa melihat. Lo harus ngerti itu no. Tugas kita, membuat dia lupa akan semuanya. Membuat dia merasa berguna kembali, meskipun dengan keadaannya yang seperti itu. Bukannya malah Lo mikir yang enggak-enggak ke dia." Nino tak menjawab. Ia hanya tertunduk dengan menumpukan kepalanya di kedua tangannya. Ia pun menangis. "Lo yang sabar ya. Gue yakin Lo sama Suci kuat jalani ini semua." Rere mengusap punggung Nino untuk sekedar memberikan ketenangan. Nino masih terus terisak. Benar apa yang dikatakan Rere. Beban Suci pasti sangat berat. Ia benar-benar tak bisa membayangkan apa yang Suci rasakan. Setiap hari Suci harus bertarung di dalam kegelapan yang menyelimutinya. Ditambah lagi, Suci mendapat hinaan dari Hermawan yang pastinya akan membuat mental Suci semakin down. "Udah, Lo jangan nangis no. Gimana lo mau nguatin Suci kalau Lo sendiri aja rapuh kayak begini," ucap Rere karena melihat sahabatnya itu terus menangis. Nino mengangkat kepalanya dan menatap Rere dengan wajah yang sudah basah. "Benar kata Lo re. Beban Suci pasti sangat berat. Gue gak bisa bayanginya. Gimana dia yang harus menjalaninya," Nino kembali terisak. "Itu dia no. Suci butuh kita buat support dia. Biar dia ada semangat untuk hidup. Lo gak boleh cengeng kayak begini. Yang ada, Suci malah tambah berpikir dia makin gak berguna karena tau orang yang dia sayang sedih karena memikirkan dirinya. Lo kuat, Lo bisa kasih semangat buat Suci tanpa netesin air mata." Nino mengusap air matanya. "Iya re. Gue akan kasih support ke Suci. Gue akan cari pendonor mata buat dia, biar dia secepatnya bisa kembali melihat dan mewujudkan semua impian yang udah kita buat bersama," janji Nino. "Nah, gitu dong. Udah, Lo cuci muka sana. Muka Lo bengkak, jadi jelek banget," Rere sedikit tertawa dan meledek Nino agar Nino tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. "Sialan Lo. Ya udah, gue ke kamar mandi dulu ya," ijin Nino lalu beranjak menuju kamar mandi. Setelah kepergian Nino, gak terasa Rere meneteskan air mata. Butiran bening yang mati-matian ia tahan di depan Nino akhirnya lepas dari pertahanannya. Rere sudah tak mampu lagi membendung air matanya. Ia benar-benar rapuh melihat ujian yang dihadapi oleh kedua sahabatnya. "Gue gak nyangka, kalian bisa dapet ujian yang begitu berat seperti ini. Gue gak bisa bantu apa-apa. Tapi gue janji gak akan pernah ninggalin kalian. Semoga kalian bisa melewati ujian ini dan mendapatkan kebahagiaan yang kalian inginkan," ucap Rere sambil terisak, lalu kemudian ia buru-buru mengusap air matanya karena takut ketahuan oleh Nino. Tak lama, Nino telah kembali dari toilet dan bertepatan dengan keluarnya Eva dan juga Damar dari ruang UGD. "Gimana tante, om? Suci baik-baik saja kan?" tanya Nino. "Dia masih belum sadar no," jawab Damar. "Saya dan Rere ijin masuk ya om, tante." "Silahkan." Nino dan Rere pun masuk ke dalam ruang UGD. Sampai di dalam, langkah Nino terasa berat melihat Suci yang lagi-lagi terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hampir saja ia menangis jika Rere tidak mengingatkannya. "Lo harus kuat ya no," bisik Rere tepat dibelakang telinga Nino. Nino mengambil napas dan membuangnya perlahan. Lalu, ia menghampiri Suci. Menggenggam tangan Suci yang terasa dingin dan mengecup keningnya sejenak. Lalu, ia duduk di kursi yang terdapat di sisi ranjang. Rere hanya memperhatikannya dengan jarak yang tidak terlalu dekat. "Sayang, ini aku. Kamu bangun ya!? Ada Rere juga nih disini mau ketemu. Jangan tidur mulu. Kemarin kata Rere kamu nelpon Rere suruh dia buat main. Tapi, giliran dia udah main ke rumah kamu, kamunya malah tidur begini," lirih Nino. "No, udah. Jangan." Rere menyentuh bahu Nino dan memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya. "Kamu harus sembuh. Aku, Rere, mamah dan papah kamu akan selalu ada buat kamu. Sembuh ya!? Nanti, kalau kamu sudah sembuh, kita akan langsung terbang ke Jakarta dan mencari pendonor mata untuk kamu. Aku janji, kamu pasti bisa melihat kembali. Itu janji aku." Nino mengecup tangan Suci yang ada di dalam genggamannya dengan erat. Rere yang menyaksikannya pun terharu dan tak sadar meneteskan air mata. Buru-buru ia mengusap air matanya yang jatuh agar Nino tidak melihatnya. Rere tidak mau, Suci atau Nino melihat jika dirinya pun sedih, sama seperti mereka. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN