"Sayang…" ucap Nino sedikit panik setelah ia mengetuk pintu kamar dan masuk ke dalam kamar inap Suci, diikuti Dian yang berada di belakangnya. Nino langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Darma kalau Suci terjatuh. Dian yang mengetahuinya pun meminta untuk ikut bersama Nino untuk melihat keadaan Suci.
"Nino…" seru Suci.
"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Nino.
"Aku gak apa-apa kok." Suci mengulas senyum.
"Om, tante. Gimana Suci bisa sampai jatuh?" tanya Nino khawatir sambil menatap sendu kedua orang tua Suci.
"Semua ini salah aku sayang. Aku yang tidak hati-hati," sela Suci dan Nino langsung beralih menatap dirinya.
"Kenapa bisa sayang?"
"Aku tadi mau turun ke bawah, mau sarapan bareng sama mamah sama papah. Waktu aku menuruni anak tangga, aku tersandung dan aku langsung terjatuh," jelas Suci.
"Astagfirullah. Kenapa kamu gak minta tolong mamah, papah atau bibi yang ada di rumah?" ucap Nino sedikit kesal akibat kecerobohan yang Suci lakukan.
"Aku mau coba usaha sendiri. Aku gak mau nyusahin orang lain."
"Ya Allah nak. Mamah kan sudah sering bilang ke kamu, kalau butuh bantuan panggil mamah atau bibi. Kenapa kamu malah nekat," ucap Eva yang mengetahui alasan kenapa Suci bisa sampai terjatuh.
"Kamu dengar kan apa kata mamah kamu? Kenapa kamu nekat begini sih? Ingat, kamu baru sembuh dari kecelakaan yang kamu alami. Kamu harus banyak istirahat, kalau butuh apa-apa kamu bisa panggil orang yang ada di rumah. Lihat hasilnya karena kamu nekat. Untung cuma luka kecil, kalau parah gimana?" Nino sedikit membentak dan merasa kesal.
"Maaf…" lirih Suci sambil tertunduk lesu.
Melihat itu, Nino langsung menghampiri Suci dan memeluknya.
"Maafkan aku," ucap Suci yang terisak di pelukan Nino.
"Jangan diulangi ya? Kamu membuat kami semua khawatir." Nino mengecup pucuk kepala Suci.
"Aku hanya ingin berusaha sendiri. Aku gak mau merepotkan orang lain," Suci terus terisak.
"Kamu gak pernah merepotkan kami sayang, gak pernah sama sekali," ucap Nino.
***
Karena kondisi Suci tidak terlalu parah, dokter mengizinkan Suci untuk kembali pulang dan menjalani rawat jalan. Dua hari setelahnya, Suci harus kembali ke rumah sakit untuk kontrol jahitan yang ada di keningnya. Karena hal itu, rencana Nino membawa Suci ke Jakarta harus diundur hingga kondisi Suci benar-benar stabil.
Hermawan yang mengetahui jika Nino masih memiliki hubungan dengan Suci, ia bertekad akan memisahkan Suci dengan menjodohkan Nino dengan wanita pilihannya secepat mungkin sebelum Nino pergi ke Jakarta.
"Besok kan hari Sabtu, kamu ikut papah makan malam diluar bertemu dengan teman papah," ucap Hermawan seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Aku gak bisa pah. Aku mau ke rumah Suci," tolak Nino.
"Kamu masih berhubungan dengan gadis cacat itu?" Hermawan melirik Nino dengan tajam.
"Gadis itu punya nama pah. Namanya Suci jika papah lupa," ucap Nino kesal.
"Sama saja lah. Apa bedanya."
"Pah, sudah." Eva menegur suaminya agar tidak memancing kemarahan Nino.
"Pokoknya papah gak mau tau ya, kamu harus ikut papah besok untuk makan malam bersama rekan kerja papah. Papah sudah janji dengan mereka mau mengenalkan kamu dengan putri mereka yang baru saja kembali dari Singapura."
Nino menjatuhkan sendok dan garpu diatas piring hingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.
"Maksud papah apa?" tanya Nino.
"Papah mau menjodohkan kamu dengan putri rekan kerja papah."
"Nino gak mau!"
"Kamu harus mau!"
"Coba kasih Nino alasan kenapa harus menerima rencana perjodohan papah dengan gadis pilihan papah!" tantang Nino.
"Alasannya cukup sederhana." Hermawan menaruh sendok dan garpu lalu menenggak air di dalam gelas. "Karena papah mau calon menantu papah nanti sempurna semuanya. Dari bibit, bebet dan bobotnya. Dan yang paling utama, gadis itu tidak cacat!" lanjut Hermawan.
"Apa papah bisa menjamin aku bahagia hidup bersama wanita yang gak aku cintai?" tanya Nino sinis.
"Kamu pasti akan mencintai dia seiring berjalannya waktu. Kenalan dulu, habis itu sering jalan bersama, pasti lama-lama akan timbul rasa cinta di hati kamu dengan gadis pilihan papah. Dia cantik, papah yakin kamu akan langsung terpesona saat melihatnya nanti."
Tak mau menjawab, Nino memilih untuk mengakhiri makan malamnya. Ia memilih untuk pergi keluar untuk mendapatkan udara segar. Berada di ruang makan bersama sang ayah rupanya cukup membuat dadanya terasa sesak. Namun, ketika ia berdiri hendak meninggalkan meja makan, langkahnya terhenti saat Hermawan menahan dirinya.
"Mau kemana kamu? Papah belum selesai bicara!" cegah Hermawan.
Nino membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah. "Kalau papah mau terus bicara tentang masalah perjodohan papah, aku gak mau dengar!"
"Apa sih yang kamu lihat dari gadis cacat seperti Suci? Dia itu sudah tidak ada harapan lagi bisa menjadi istri kamu yang sempurna."
"Tidak ada manusia yang sempurna pah, karena kesempurnaan hanya milik Allah."
"Terserah apa kata kamu. Yang jelas, papah mau besok kamu ikut papah dan mamah bertemu dengan rekan kerja papah dan anak gadis mereka. Jangan membantah!"
Tanpa menjawab, Nino langsung pergi meninggalkan ruang makan yang sedari tadi sudah terasa sangat panas. Ayahnya selalu saja merusak moment disaat makan dengan pembicaraan yang tidak penting menurut Nino.
Nino mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota Yogyakarta. Tak lama, ia kemudian berhenti di alun-alun kota Yogyakarta. Tempat dimana yang paling sering dikunjungi bersama dengan Suci, sebelum Suci mengalami musibah. Nino menepikan mobilnya, lalu berjalan santai menuju bangku kosong yang ada di alun-alun tersebut. Menikmati udara malam yang begitu sejuk ditemani riuhnya kota Yogyakarta pada malam itu.
Sejenak, Nino memejamkan kedua matanya seraya mendongakkan kepalanya ke atas. Nino merenung, mengingat moment-moment indah bersama dengan Suci. Hari dimana ia mengajak Suci untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi. Hari dimana mereka membuat rencana besar bersama. Namun, semua harus tertunda karena keadaan Suci. Dan yang lebih parahnya lagi, sang ayah berniat membatalkan semua yang sudah disiapkan dengan matang dengan menjodohkan dirinya dengan wanita lain.
"Apa aku bisa terus bersama dengan kamu, sayang?" lirih Nino yang sudah tertunduk lesu dengan kepalanya bertumpu pada kedua tangannya.
"Nino…" ucap seseorang seraya menepuk bahu Nino dari belakang yang refleks membuat Nino menoleh ke arahnya.
"Rere…" ucap Nino saat mengetahui siapa orang yang telah mengganggu lamunannya.
"Lo ngapain disini, sendirian?" tanya Rere yang sudah duduk disebelah Nino.
"Lagi menikmati udara malam. Lo sendiri ngapain?" Nino menoleh ke arah Rere.
"Gue tadi laper, abis cari makanan. Eh pas jalan pulang, gue liat Lo lagi galau disini. Ya udah gue samperin. Lo kenapa sih? Mikir Suci?"
Nino mengangguk. "Re… kira-kira, Suci bisa melihat lagi gak ya?" tanya Nino dengan nada yang terdengar putus asa.
"Kok Lo ngomongnya gitu? Kenapa?" tanya Rere heran.
"Gak apa-apa. Gue hanya ingat apa yang dikatakan dokter. Pendonor mata harus yang baru meninggal selambatnya dua belas jam. Cari kemana coba," Nino mengacak rambutnya frustasi.
"Sabar. Pasti ada kok. Biasanya, yang memiliki riwayat penyakit yang udah gak bisa disembuhkan lagi. Kalau dia dan keluarganya bersedia itu juga. Mending, kita berdoa saja supaya Suci bisa kembali melihat seperti dulu, walaupun gak tau kapan," ucap Rere yang juga terlihat putus asa.
"Ya… kita berdoa saja."
"Saat ini, yang dibutuhkan Suci itu adalah orang-orang terdekat yang sayang sama dia. Kita bisa terus kasih support, supaya dia gak putus asa. Supaya dia gak merasa dikucilkan," ujar Rere.
"Lo benar re."
"Oh ya, gue dengar dari tante Eva, bokap Lo dateng marah-marah ke Suci dan nyuruh Suci buat jauhin Lo dengan kata-kata yang nyakitin hati Suci. Benar emang?"
"Ya… gue juga gak tau bokap gue ke rumah sakit buat bicara kayak gitu."
"Ya Allah, kok tega ya om Hermawan." Rere menggelengkan kepalanya.
"Gue juga gak habis pikir re. Tiap hari selalu ngajak gue berdebat. Bikin gue gak betah di rumah. Kalau gak mikir nyokap, gue udah pergi kalo dari rumah."
"Jangan bilang, sekarang Lo disini karena habis berantem sama bokap Lo?" tebak Rere.
"Lo emang paling pandai menebak dengan tepat re. Salut gue!" Nino menepuk-nepuk bahu Rere beberapa kali sambil tersenyum.
"Gue gitu loh." Rere membanggakan dirinya. "Oh ya, ngomong-ngomong Lo kan katanya mau ngajak Suci ke Jakarta. Kapan?" lanjut Rere.
"Belum tau nih. Ngeliat kondisi Suci dulu. Dia belum lama keluar dari rumah sakit karena kecelakaan yang menyebabkan matanya tidak bisa melihat, dan harus masuk lagi ke rumah sakit karena terjatuh dari lantai dua rumahnya."
"Hahh… Suci jatuh? Serius Lo?" Rere terkejut.
Nino mengangguk.
"Kok gak ada yang ngabarin gue?" Rere manyun. "Terus sekarang gimana keadaan Suci?" lanjut Rere.
"Udah pulang lagi kok ke rumah. Hanya menginap semalam saja. Gak parah juga kok lukanya. Hanya luka sobek di keningnya dan butuh beberapa jahitan."
"Ya Allah Suci. Ada-ada aja sih. Besok gue harus main ke rumahnya."
"Ide bagus tuh. Biar dia merasa terhibur dengan kekonyolan Lo," Nino tertawa.
"Sialan Lo." Rere menoyor kepala Nino. "Anterin gue balik yok, Lo sekalian pulang kan?"
"Gue masih pengen disini."
"Udah, mendingan Lo pulang aja. Marahannya ditunda lagi besok. Lagian, udaranya lagi dingin banget nih, tar Lo malah sakit. Kalau Lo sakit gak ada yang jagain Suci gimana. Masa sahabat gue dua-duanya pada sakit. Kan gak lucu," cerocos Rere.
Nino terdiam sejenak dan tak menanggapi ucapan Rere. Namun, sesaat kemudian ia berdiri dan hendak menuju mobil.
"Eh, mau kemana Lo?" tanya Rere.
"Katanya Lo mau pulang. Gak jadi nih?" ucap Nino.
"Ehh... jadi lah. Ayo..." ajak Rere yang sudah melangkah menuju mobil Nino.
Bersambung…