Insiden

1320 Kata
Pagi menjelang, sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar Suci. Kokok ayam pun nyaring terdengar. Suci terbangun dari peraduannya. Perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan untuk membuka pintu balkon agar udara pagi yang sejuk bisa masuk ke dalam kamarnya. Meskipun ia tidak dapat melihat, namun ia dapat merasakan hangatnya sinar matahari yang masuk ke kamarnya. Suci bergegas untuk mandi sebelum ia turun untuk sarapan bersama dengan keluarganya. "Sayang…" Eva memanggil saat berada di dalam kamar Suci. "Mungkin Suci sedang mandi," gumamnya karena mendengar keran air yang menyala. Tak berapa lama terdengar suara ketukan tongkat yang mengenai lantai dan juga dinding. Eva menoleh dan didapati Suci yang baru saja selesai mandi. "Kamu sudah bangun rupanya." Eva menghampiri Suci untuk membantunya. "Mamah…" "Mamah bantu ya," tawar Eva. "Gak usah mah, aku bisa sendiri." Suci terus melangkah dengan perlahan. "Hati-hati…" "Oh ya mah, aku bisa minta tolong ambilkan baju di lemari?" tanya Suci. "Tentu sayang. Kamu mau pakai baju apa?" tanya Eva saat sudah berada di depan lemari milik Suci. "Celana jeans saja mah sama kaos," ucap Suci. Eva pun mengambil baju yang dimaksud oleh sang anak. Setelah didapat, Eva langsung memberikannya kepada Suci. "Mau mamah bantu pakaikan?" tawar Eva. "Gak usah mah, aku bisa sendiri. Aku bisa minta tolong gak mah keluar sebentar selagi aku pakai baju." Suci bicara malu-malu. "Gak apa-apa kalau mamah tinggal memangnya?" "Gak apa-apa mah." "Ya sudah, mamah ke bawah dulu. Oh ya, sarapan kamu mau dibawa ke atas atau mau makan bareng sama mamah sama papah di bawah?" tanya Eva. "Bareng aja sama mamah sama papah di bawah. Nanti kalau aku sudah siap, aku panggil mamah ya," ucap Suci. "Ya sudah, mamah duluan ya. Nanti mamah balik lagi, jangan lupa panggil mamah. Jangan turun sendiri ya," pesan Eva. "Iya mah." Eva pun pergi meninggalkan Suci. Sementara Suci lekas memakai baju yang sudah disiapkan oleh Eva. *** "Suci mana mah? Sudah bangun dia?" tanya Darma yang sudah siap menunggu di meja makan. "Sudah pah, lagi siap-siap," jawab Eva. "Kok gak mamah tungguin? Nanti gimana dia turunnya?" tanya Darma sedikit kesal. "Mamah disuruh keluar pah karena dia mau pakai baju. Nanti kalau sudah selesai, dia panggil mamah dari depan kamarnya," jelas Eva. Darma membuang napas kasar. "Anak itu, dari dulu memang tidak pernah mau menyusahkan siapa pun. Jika dia masih mampu untuk melakukan apa pun sendiri, dia pasti akan melakukannya," ucap Darma. Tiba-tiba saja terdengar suara seperti benda jatuh yang cukup keras dibarengi dengan suara teriakan dari Suci. "Pah… Suci kenapa pah?" ucap Eva panik. "Gak tau mah, ayo kita lihat," ajak Damar yang sudah beranjak dari kursi. Darma dan Eva berlari hendak menuju kamar Suci. Namun, saat hendak mendekati tangga, mereka sudah melihat Suci tergeletak di lantai. "Suci…." Eva berteriak histeris saat melihat darah segar yang mengalir dari kening Suci. "Suci bangun nak…" Eva mengguncangkan tubuh Suci yang sudah ada di pangkuannya. "Kita bawa Suci ke rumah sakit mah," ujar Darma. Dengan sigap, Darma mengangkat tubuh Suci yang terkulai lemas. Eva berlari lebih dulu menuju mobil dan disusul Darma yang membopong tubuh Suci. Dibukanya pintu mobil, lalu Darma memasukkan tubuh Suci di kursi penumpang yang ada di tengah. Eva masuk, dan menaruh kepala Suci di atas pangkuannya. Disusul Darma yang masuk di bangku kemudi dan menjalankan mobil menuju rumah sakit. "Bertahan ya nak. Kamu kuat!" Eva menangis sambil terus mengusap kepala Suci. Darah yang kuat tak mau berhenti hingga akhirnya Eva menutupnya dengan tisu. "Pah, bawa mobilnya cepat sedikit. Mamah takut terjadi apa-apa dengan Suci," ucap Eva khawatir. "Iya mah. Ini papah sudah semaksimal mungkin, papah juga harus tetap jaga keselamatan kalian. Mamah sabar ya, berdoa sama Allah semoga gak terjadi apa-apa sama Suci," pesan Darma yang fokus menyetir. Tak lama kemudian, Darma sudah sampai di pelataran rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya asal lalu turun dan meminta bantuan para petugas untuk membantu membawa Suci ke ruang UGD. "Pak, tolong bantu anak saya!" ucap Darma pada salah satu security. Security itu pun dengan sigap mengambil bangkar rumah sakit dan membantu Darma mengeluarkan Suci dari dalam mobil, lalu meletakkan tubuh Suci yang lemas di atas bangkar tersebut kemudian mendorongnya ke ruang UGD. Beberapa perawat pun berdatangan. "Sus, tolong anak saya. Anak saya jatuh dari tangga lantai dua rumah kami," ucap Eva pada salah satu perawat rumah sakit tersebut. "Baik Bu. Tunggu di luar saja ya, biar dokter memeriksanya terlebih dahulu," ucap perawat tersebut lalu menutup pintu ruang UGD. "Pah… mamah takut," lirih Eva yang masih menangis. "Sabar mah. Kita berdoa saja ya." Darma mencoba menenangkan sang istri. "Papah keluar sebentar ya, mau parkir mobil di tempat parkir," ucap Darma yang kemudian pergi meninggalkan Eva di depan ruang UGD. Tak lama, Darma kembali lagi. Saat Darma kembali, tepat saat dokter keluar dari ruang UGD. "Bagaimana keadaan anak saya dok?" cecar Eva. "Alhamdulillah, kondisinya tidak terlalu parah. Dan untungnya pasien tidak mengalami benturan yang cukup keras. Hanya luka kecil yang ada di dahinya akibat goresan. Sudah saya jahit juga. Jadi, tidak perlu ada yang terlalu dikhawatirkan. Tapi, untuk pemeriksaan lebih lanjut saya sarankan pasien dirawat semalam." ucap dokter menjelaskan. "Alhamdulillah…" jawab Eva dan Darma mengucap rasa syukur. "Lakukan yang terbaik untuk anak kami dok," lanjut Darma. "Kita boleh melihatnya dok?" tanya Eva. "Boleh silahkan. Saya permisi dulu ya Bu, pak." Dokter ijin pamit meninggalkan Eva dan juga Darma. Darma dan juga Eva bergegas masuk ke ruang UGD untuk bertemu dengan Suci. Nampak Suci yang tengah berbaring dengan kening yang dibalut perban. "Sayang, maafkan mamah ya yang gak becus jagain kamu," ucap Eva lirih seraya mengusap kepala Suci. "Mah, sudah…" Darma menyentuh bahu Eva. "Jangan menyalahkan diri mamah atas apa yang dialami Suci," lanjut Darma. "Tapi pah, seandainya Suci gak mamah tinggal ke bawah kejadian ini pasti gak akan terjadi," jawab Eva pelan. "Sudah… sudah mah." Darma mencoba menenangkan istrinya. Suci tiba-tiba saja bergerak dan membuat Darma serta Eva beralih padanya. "Sayang… ini mamah nak," ucap Eva. "Mah…" ucap Suci dengan suara parau dan hampir tidak terdengar. "Jangan banyak bergerak dulu ya sayang, kamu harus banyak istirahat," cegah Darma saat melihat anaknya ingin bangun dari pembaringannya. "Badan Suci sakit semua mah, pah." Suci memegangi seluruh tubuhnya bergantian karena merasakan rasa sakit dan ngilu yang amat sangat menyiksa. "Maafkan mamah ya nak. Maafkan mamah," ucap Eva. "Mamah gak salah. Suci yang salah mah." "Kamu kenapa bisa terjatuh dari atas sayang?" tanya Darma. Suci tersenyum mengingat tingkah konyolnya. "Aku kesal pada diriku sendiri mah, pah. Aku mau belajar untuk mencoba menuruni tangga sendiri tanpa bantuan siapa pun. Tapi ternyata hasilnya malah begini." Suci tersenyum kecut. "Kamu kan bisa memanggil mamah, papah, atau bibi." Darma sedikit kesal. "Aku ingin usaha sendiri pah. Gak mau merepotkan orang lain terus. Buat jaga-jaga juga karena aku gak tau sampai kapan aku tidak bisa melihat seperti ini." "Kamu gak pernah merepotkan kami nak. Sama sekali gak pernah. Jadi, mamah minta tolong ya. Jangan pernah punya pikiran seperti itu lagi. Kondisimu belum stabil nak, kamu masih harus banyak istirahat karena kecelakaan yang kamu alami. Dan karena kecerobohan kamu, mengakibatkan sampai kamu terjatuh seperti ini. Beruntung kamu gak mengalami cedera yang serius." "Maafin Suci ya mah, pah." Suci menangis. "Iya sayang. Jangan diulangi lagi ya. Mamah sama papah gak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu. Kami berdua hanya punya kamu, hanya kamu nak." Eva mencium tangan Suci sambil tak henti-hentinya menangis. "Apa yang dikatakan mamah itu benar sayang. Jangan diulangi ya," lanjut Darma. "Malam ini, kita tidur dulu di rumah sakit ya seperti saran dokter. Besok pagi setelah sarapan, kamu harus melakukan ronsen untuk mengetahui apa ada yang patah di bagian tulang-tulang kamu, mengingat kamu terjatuh dari ketinggian yang cukup tinggi," ucap Eva. "Gak bisa pulang aja mah? Belum lama aku keluar dari rumah sakit masa harus tidur di rumah sakit lagi," Suci merungut. "Hanya semalam sayang." Suci mengangguk lesu. "Ya sudah," jawab Suci. Tak lama, Suci pun dibawa ke kamar inap. Darma sengaja memesan kamar kelas VIP agar Suci bisa beristirahat dengan nyaman tanpa gangguan dari orang lain. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN