***
"Mbak Fany."
Persis ketika pintu utama terbuka, sapaan tersebut lantas Indira lontarkan pada Tiffany yang kini berdiri persis di depannya. Bukan tanpa tujuan, minggu siang ini Tiffany datang setelah semalam Indira memintanya datang dan yaps! Alasan indira meminta sang rekan kerjasama datang ke rumah adalah; untuk menandatangani surat perjanjian kerjasama yang sudah dibuat oleh Marvin.
Tak sembarangan, Marvin melibatkan pengacara dalam pembuatan surat perjanjian karena memang bukan hal yang main-main, kerjasama diantara dia juga Indira dengan Tiffany bisa dibilang kerjasama yang sangat serius sehingga kekuatan hukum jelas diperlukan.
"Selamat siang, Mbak Indira."
"Siang," sapa Indira dengan raut wajah ramahnya. "Ayo masuk, Mbak. Mas Marvin sama pengacaranya udah nunggu di dalam."
"Iya, Mbak."
Tak banyak menunda, setelahnya Indira membawa Tiffany masuk ke dalam dan tak di ruang tamu, mereka bergegas menuju ruang tengah—tempat Marvin juga sang pengacara menunggu.
"Duduk, Mbak," pinta Indira yang selanjutnya meminta Tiffany duduk bersebelahan dengannya.
"Iya, Mbak."
Tak ada raut wajah ramah, Marvin terlihat begitu dingin tatkala Tiffany datang karena memang jika boleh jujur, sampai detik ini rasanya Marvin masih belum sepenuhnya setuju dengan keputusan Indira yang keukeuh menjadikan Tiffany ibu pengganti.
Namun, dia pun tak bisa menolak karena Indira pasti dilanda kesedihan sehingga mau tak mau Marvin maju dan tetap menjadikan Tiffany ibu pengganti untuk anaknya dengan Indira.
Tak cuma-cuma, Marvin tentu saja memberikam syarat pada Tiffany untuk tak macam-macam pada Indira selama kerjasama berlangsung dan tak ada bantahan, Tiffany setuju dengan apa yang dia minta karena memang tak punya niat buruk, dia melakukan semuanya pure demi mendapatkan uang.
"Ini kontrak kerjasamanya dan kamu bisa baca-baca sebelum tanda tangan karena ketika kamu tanda tangan, itu berarti kamu setuju dengan semua poin yang ada dan kalau melanggar, kamu bakalan dapat penalti," ucap Marvin sambil memberikan map berwarna hijau pada Tiffany dan hal tersebut tentunya membuat Tiffany dengan segera mengambil map untuk kemudian dibaca.
Tak ada yang buka suara, untuk beberapa menit semua orang di ruang tengah diam sambil memperhatikan Tiffany hingga tak berselang lama, perempuan itu tersenyum sambil menutup kembali map yang sempat dia buka.
"Gimana, Mbak, apa ada yang memberatkan Mbak point-pointnya?" tanya Indira yang pertama kali buka suara dengan raut wajah penasarannya.
"Aman, Mbak, enggak ada," kata Tiffany. "Semua pointnya aman dan enggak ada yang merugikan saya. Jadi saya setuju sama semua pointnya."
"Termasuk kamu yang enggak boleh sembarangan pergi setelah nanti hamil anak aku dan Indira?" tanya Marvin. "Aku mau anak aku dan Indira selalu dalam kondisi baik. Jadi untuk makanan kamu pun nanti Indira yang atur. Enggak masalah?"
"Enggak, Vin, aku enggak masalah," kata Tiffany. "Cuman kalau Mbak Indira yang atur, itu maksudnya gimana? Mbak Indira datang ke rumah aku setiap hari apa giman-"
"Aku sewain kamu rumah yang letaknya enggak jauh dari rumah ini biar Indira enggak jauh bolak-baliknya dan enggak cuman itu, aku nanti sewain juga art buat jagain kamu," ungkap Marvin. "Cuman yang tinggal di sana kamu doang. Enggak ada orang lain termasuk Mama kamu sendiri."
"Oh oke."
"Enggak apa-apa, kan, Mbak?" tanya Indira. "Aku sebenarnya setuju-setuju aja kalau nanti Mbak Fany ajak mamanya, tapi Mas Marvin enggak mau karena beberapa alasan. Jadi nanti Mbak cuman ditemenin ART aja."
"Iya, Mbak. Enggak apa-apa," kata Tiffany. "Lagian kan nanti hutang keluargaku lunas. Jadi kayanya enggak masalah kalau Mama tinggal sendiri karena enggak akan ada rentenir yang datang."
"Satu lagi yang perlu ditekankan adalah; kamu enggak bisa keluar dari rumah tanpa seizin Indira karena anak yang kamu kandung nanti anak biologis aku sama dia dan kamu harus patuh sama semua ucapan Indira," kata Marvin. "Bisa?"
"Bisa, Marvin," ucap Tiffany.
"Ya udah kalau gitu silakan tanda tangan di atas materai yang udah disediain di situ karena aku sama Indira udah tanda tangan sebelumnya."
"Iya," ucap Tiffany. Menoleh pada Indira, setelahnya dia berkata, "Mbak, aku tanda tangan ya."
"Iya, Mbak. Silakan."
Tersenyum tipis, Tiffany mengambil bolpoint kemudian tanpa ba bi bu, sebuah tanda tangan dia bubuhkan di tempat yang seharusnya dan setelah tanda tangan selesai, kerjasama diantara dirinya dan Indira juga Marvin, dinyatakan resmi.
Tak cukup sampai di situ, setelahnya Tiffany juga mendapatkan hak yang sudah Marvin juga Indira janjikan yaitu; uang sebesar tiga ratus juta yang dikemas ke dalam amplop coklat.
Antara sedih dan terharu, itulah yang dirasakan Tiffany ketika meraih uang tersebut karena tanpa perlu menunggu lama, setelah ini dia bisa segera melunasi semua hutang sang mendiang ayah dan hidupnya akan benar-benar tenang setelah ini.
"Semoga Mbak bisa segera melunasi semua hutang Mbak ya," kata Indira. "Dan jangan pulang sendiri, habis ini Mbak biar dianterin Pak Komar biar enggak ada sesuatu terjadi karena kan Mbak bawa uang banyak."
"Iya, Mbak Indira," kata Tiffany. "Sekali lagi makasih banyak ya untuk uangnya. Saya janji akan lakuin yang terbaik dan nanti ketika tiba waktunya saya hamil, saya akan jaga anak Mbak sama Marvin sebaik mungkin."
"Iya, Mbak."
"Habis lunasin hutang, jangan lupa urus pasport karena dua minggu lagi kita ke New york," kata Marvin yang membuat atensi Tiffany beralih. "Semua prosesnya makan waktu lima minggu dan mungkin kita akan menetap di sana selama tiga bulan sampai kondisi kandungan kamu stabil. Jadi dari sekarang tolong siapkan semuanya."
"Iya, Marvin."
"Enggak apa-apa, kan, Mbak kalau kita perginya dua minggu lagi?" tanya Indira. "Saya pengen semuanya lebih cepat soalnya."
"Iya, Mbak Indira enggak apa-apa," kata Tiffany. "Lagian kan seperti yang saya setujui di kontrak, saya harus siap sama apa pun yang Mbak dan Marvin putusin. Jadi aman. Setelah dari sini saya ke tempat orang yang dipinjemin uang buat lunasi semuanya terus habis itu saya urus pasport biar nanti bisa langsung pergi."
"Makasih banyak, Mbak."
"Saya yang makasih sama Mbak Indira, karena berkat pertolongan Mbak malam itu, saya bisa lunasin semua hutang saya."
Tak banyak berbincang, setelah dua puluh menit menetap, Tiffany akhirnya berpamitan dan tak pulang sendiri, dia diantar supir Indira, Pak Komar sampai ke tempat orang yang dipinjami uang oleh mendiang sang ayah.
"Udah, Pak. Bapak pulang aja karena saya udah sampai," kata Tiffany setelah turun dari mobil. "Nanti pulangnya saya naik ojeg aja."
"Oh baik, Mbak."
Meninggalkan Pak Komar, Tiffany masuk ke pekarangan rumah sang rentenir kemudian tanpa mau menunda, dia bergegas menemui sang empu rumah untuk memberikan uang yang dibawanya dan tanpa banyak drama, semua hutang keluarga Tiffany akhirnya lunas tanpa sisa.
"Ya Tuhan akhirnya semua hutang Papa lunas," ucap Tiffany persis setelah meninggalkan rumah sang rentenir. "Mulai hari ini aku enggak akan terancam apa pun dan-"
Tak selesai Tiffany bicara, ponsel di saku celana lebih dulu berdering dan hal tersebut membuat dia dengan segera merogoh benda pipih miliknya itu untuk mengetahui siapa yang menelepon.
"Marvin," gumam Tiffany setelah mendapati nama Marvin terpampang di layar sehingga dengan segera dia pun menjawab panggilan dari pria itu. "Halo, Marvin."
"Kamu udah di rumah?" tanya Marvin. "Saya mau kirim paket ke rumah kamu."
"Paket?"
"Iya paket, dan ini cukup kita berdua aja yang tahu—dalam artian Indira enggak boleh tahu," kata Marvin. "Kalau dia sampai tahu, kamu tahu akibatnya."
Tak langsung menjawab, yang dilalukan Tiffany setelahnya adalah; diam selama beberapa detik sebelum kemudian buka suara.
"Paket apa kalau boleh tahu, Vin?"