8). Suara Hati Indira

1051 Kata
*** (Hai, Mas. Maaf ganggu waktu kerja kamu. Aku cuman mau sampein sesuatu dan yang mau aku sampaikan adalah; isi hati aku selama ini yang selalu berusaha mati-matian nahan iri lihat para perempuan lain di luaran sana punya anak. Enggak cuman iri, sering juga aku nahan rasa sakit ketika tetangga di rumah selalu mempertanyakan kapan aku punya anak, kapan aku hamil dan semacamnya. Aku tahu dan sadar keputusan aku buat cari ibu pengganti itu mungkin terkesan egois, tapi aku mohon sama kamu setuju ya? Aku udah capek nahan semuanya selama tiga tahun dan aku juga pengen kaya perempuan lain yang bisa punya anak meskipun faktanya rahim aku enggak bisa mengandung seorang bayi. Aku sayang kamu, Mas, dan maaf kalau aku mendadak chat gini dan mungkin ganggu kamu. Love you) Terdiam dengan perasaan yang heran, itulah Marvin setelah pesan panjang lebar tersebut dikirim Indira ke ponselnya beberapa waktu lalu. Heran? Ya, tentu saja. Merasa ada yang tak beres dengan Indira, itulah pikiran Marvin setelahnya sehingga tanpa banyak menunda, yang dia lakukan setelah itu adalah; menghubungi sang istri untuk bertanya tentang apa yang terjadi di rumah sana dan tak perlu menunggu lama, panggilannya dijawab. "Halo, Mas." "Are you okay?" tanya Marvin tanpa basa-basi. "Kenapa mendadak chat gitu? Apa ada sesuatu terjadi sama kamu di rumah? Kalau iya, bilang sama aku biar aku ban-" "Enggak ada, Mas. Aku enggak kenapa-kenapa dan enggak ada sesuatu terjadi sama aku," potong Indira. "Aku baik-baik aja sekarang cuman ya aku mendadak pengen chat kaya gitu aja ke kamu biar kamu semakin yakin sama keputusan aku buat jadiin Mbak Tiffany ibu pengganti yang nantinya mengandung anak kita dan aku harap kamu enggak mencoba buat gagalin keinginan aku, karena aku juga pengen kaya perempuan lain yang bisa punya anak terus bawa anak mereka keluar. Ngerti, kan?" "Iya aku ngerti dan aku enggak akan gagalin keinginan kamu," kata Marvin. "Kamu tenang aja." "Beneran?" tanya Indira. "Maksudku tuh kamu serius dan enggak cuman omdo doang, kan? Enggak tahu kenapa aku mendadak khawatir kalau kamu tuh iya-iya di depan aku, tapi lakuin sesuatu di belakang." "Kenapa ngomong gitu?" tanya Marvin sambil menaikkan sebelah alis. "Ada sesuatu ya nih pasti sama kamu atau mungkin ada yang ngomong macam-macam, kan, ke kamu? Kalau iya, ayo bilang karena aku tahu kamu dan kamu enggak bisa bohong sama aku. Kamu beda dan kamu kaya nyimpen sesuatu." "Enggak ada apa-apa, Mas, aku serius," kata Indira. "Khawatir kan wajar, iya enggak? Apalagi kan pagi tadi bahkan semalam kamu kelihatan enggak setuju sama keputusan yang aku ambil. Jadi aku ngomong gitu deh." "Beneran bukan karena ada yang ngomong aneh-aneh sama kamu?" tanya Marvin. "Jujur aja padahal. Aku enggak bakalan marah dan mungkin aku bisa perbaiki diri kalau emang aku ada salah sama kamu." Tak ada jawaban, setelahnya yang Marvin dengar adalah hening dan hal tersebut tentunya membuat dia kembali buka suara—memanggil sang istri agar tak menghilang dari obrolan. "Indiraku." "Jangan minta Mbak Tiffany buat batalin kerjasamanya sama kita, Mas," ucap Indira yang pada akhirnya jujur, karen memang pada dasarnya perempuan tersebut sangat buruk dalam menyembunyikan sesuatu, dan sekarang apa yang dikatakannya membuat Marvin kembali teringat pada kejadian tadi siang. "Aku sama dia tuh saling membutuhkan. Aku butuh ibu pengganti buat ngandung anak kita dan Mbak Tiffany butuh uang buat bayar semua hutangnya. Jadi enggak ada salahnya kan saling membantu?" "Tiffany datang ke rumah?" "Iya dan dia mohon-mohon sama aku biar kerjasamanya enggak dibatalin karena dia pengen banget lunasin semua hutang biar hidupnya aman," kata Indira. "Saling membantu yuk, Mas. Bagaimanapun juga dia teman kamu kan waktu kuliah? Dan membantu teman, aku pikir perbuatan yang baik." Tak tahu harus menjawab apa ucapan Indira karena rasa bingung yang kini melanda, selanjutnya Marvin kembali diam sambil merutuki diri sendiri yang kurang detail ketika meminta Tiffany menjauh dari istrinya, dan yaps! Jika sudah begini rasanya Marvin sulit menjauhkan Tiffany dari Indira. "Mas, kok diem?" tanya Indira. "Kamu enggak setuju ya sama apa yang aku minta?" "Bukan enggak setuju, tapi enggak mau dipikirin lagi emangnya?" tanya Marvin. "Aku cuman takut kamu salah ambil keputusan yang ujung-ujungnya ngerugiin kamu dan kamu tahu artinya apa? Itu artinya aku sayang sama kamu." "Tapi aku pengen punya anak, Mas, dan dapatin ibu pengganti buat ngandung anak aku itu enggak mudah," ucap Indira dengan suara yang terdengar bergetar dan hal tersebut tentunya mulai membuat hati Marvin dilanda rasa tak tega. "Kamu bisa ngomong ke aku kalau aku enggak usah dengar omongan siapa pun yang nyinggung soal anak bahkan kamu juga bilang kalau kamu enggak masalah buat childfree, tapi itu sama sekali enggak bikin aku tenang. Aku pengen punya keturunan dan aku udah mati-matian buat nahan diri selama tiga tahun ini. Kamu pikir pas tahu Mbak Agnes hamil ketika usia Andante masih enam bulan, aku enggak iri? Aku iri, Mas, tapi aku berusaha buat sabar seperti yang kamu minta sampai akhirnya kesabaran aku semakin menipis karena aku cuman manusia biasa. Aku cuman mantan penyakitan yang pengen punya darah daging sendiri dan-" "Indira udah," potong Marvin yang matanya mulai memanas usai mendengar ucapan panjang lebar Indira. "Aku minta maaf buat apa yang aku lakuin dan aku janji enggak akan lakuin hal itu lagi. Apa pun keputusan kamu, aku setuju asalkan kamu jangan nangis lagi karena aku selalu ngerasa gagal sebagai suami setiap kali kamu nangis." "Kenapa tahu aku nangis?" "Suara kamu beda kalau nangis," kata Marvin. "Udah ya? Aku enggak akan macam-macam lagi sama rencana kamu dan kita akan lanjutin rencana kita buat pake Tiffany sebagai ibu pengganti. Kamu jangan sedih." "Makasih banyak, Mas." "Sama-sama," kata Marvin. "Sekarang karena aku harus kelarin kerjaan, teleponnya aku matiin dulu enggak apa-apa, kan? Kamu mau nitip apa biar nanti aku beliin pas pulang." "Aku mau sushi di tempat biasa aja, Mas." "Oke, nanti aku beliin." "Makasih banyak." "Sama-sama, Sayang." Tak terlalu lama lagi mengobrol, setelahnya Marvin memutuskan sambungan telepon dengan Indira sebelum kemudian menghubungi Tiffany dan tak lama, panghilannya dijawab. "Halo, Marvin." "Puas kamu bikin Indira bergantung sama kamu?" tanya Marvin. "Kalau bukan karena Indira, aku enggak akan mau nitipin anak kamu di rahim kamu, Tiffany, tapi karena ini untuk kebahagiaan dia, aku izinin kamu buat jadi ibu pengganti untuk anak aku." "Serius?" tanya Tiffany dengan suara yang terdengar antusias. "Makasih banyak, Marvin. Makasih banget! Aku jan-" "Tapi dengan satu syarat," potong Marvin sebelum Tiffany selesai bicara. "Syarat?" tanya Tiffany. "Syarat apa, Marvin?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN