Lenard ditempatkan pada kamar tidur utama, tempat yang luas dengan banyak kemewahan; ranjang besar dengan kasur dan bantal bulu angsa, sofa-sofa besar berlapis beludru lembut, lampu gantung besar terbuat dari berlian, dan interior lain yang sulit dijabarkan oleh orang sederhana.
Di kamar itu, Lenard dibaringkan. Dua pengawal dengan telinga dan ekor singa berwarna abu-abu, senantiasa menjaga di samping jendela dan samping pintu.
Kiyo ada di sana ketika Francis dengan nada sinis mengucap peringatan, “Aku membiarkanmu di sini supaya Tuan Muda tidak panik ketika terbangun nanti.”
“Iya, iya.”
Namun, bukannya segera pergi, Francis malah merapal mantra dan membuat tangan Kiyo terikat ke belakang menggunakan benang sihir. Kiyo yang sudah menduga akan selalu diperlakukan seperti itu, hanya memutar bola mata.
“Meskipun kau tamu Tuan Muda, tapi kau tetap orang asing yang perlu diwaspadai,” jelas Francis.
“Iyaaaaa, Paman Francissssss.” Kiyo mengucapkannya dengan nada panjang kekanakan.
Francis hampir meradang, tapi ia menahannya karena tahu jika marah Kiyo akan semakin gembira. Benar-benar orang yang menjengkelkan.
Pada akhirnya, Francis keluar dari kamar Lenard untuk mengurusi semua masalah yang belum ia selesaikan. Emeteria yang selalu menjadi tangan kanannya di hari-hari biasa, membeberkan semua hal yang terjadi di Aurum selama Francis tidak ada.
Bahkan ketika sampai di ruang rapat, Francis sudah ditunggu para bangsawan yang berada di bawah kekuasaan Aurum. Rasanya, untuk memijat pelipis saja, Francis tidak punya waktu.
Sementara itu, di ruangan yang sama dengan Lenard, Kiyo memilih untuk berleha-leha. Tangannya yang terikat memang terasa tidak nyaman, tapi hal seperti ini sudah biasa ia lalui ketika dulu menjalani misi. Apalagi, ayahnya juga bukan orang yang lembut, seringkali kenakalannya dihadiahi rantai atau borgol di tangan dan kaki.
“Ternyata Ayah yang seperti itu pun bisa mati, ya?” gumamnya seorang diri. Dua pengawal di dalam ruangan hanya meliriknya, tidak ingin berinteraksi.
Pada akhirnya, Kiyo pun memejamkan mata seraya menunggu Lenard terbangun nanti.
.
.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Kiyo yang masih terpejam bisa mendengar suara Lenard yang mulai melenguh. Sepertinya bocah singa itu akan bangun sebentar lagi, sehingga Kiyo pun memilih untuk membuka matanya dan beranjak ke sisi Lenard.
Benar saja, ketika Lenard bangun, yang pertama ia panggil adalah nama Kiyo.
“Kiyo?”
“Apa?”
Lenard mengucek matanya, jemarinya yang kecil terlihat seperti kucing. Betapa lucunya.
“Kiyo apa kita sudah sampai di rumahku?” tanya Lenard pelan, suaranya serak ketika ia bicara. Ia beranjak duduk dengan susah payah.
“Kau lihat sendiri. Apakah ini rumahmu atau bukan?” Kiyo pun duduk di tepi ranjang, menemani Lenard yang masih celingak-celinguk linglung.
“Ini kamar Papa dan Mama,” jelas si mata biru.
Kiyo tidak berkomentar banyak, ia ikut membaringkan tubuhnya sembarangan di samping Lenard. “Baguslah.”
“Papa dan Mama sekarang di mana, ya?” tanya Lenard dengan suara pelan. Kepalanya menunduk seraya melihat kedua tangan mungilnya yang sedang terkepal.
“Mungkin ada di ruangan khusus? Bukankah biasanya bangsawan selalu punya peti mati spesial?”
“Ya. Kakek dan nenek buyut, semuanya diletakkan di kuil milik Aurum,” jelas Lenard. “Berarti Papa dan Mama juga ada di sana! Aku harus ke sana!”
Namun, sebelum Lenard turun dari ranjangnya, Kiyo menyahut. “Jangan gegabah. Posisimu sekarang sangat rawan. Kalau kau pergi ke mana-mana seorang diri, seseorang akan menjegalmu di tengah jalan. Tunggu saja Paman Francis datang menjemput.”
Mendengar itu, Lenard kembali duduk tenang di atas ranjang. Ia bersila dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Mungkin rindu, mungkin bersedih, mungkin semuanya.
“Kiyo. Apa yang sebaiknya kulakukan setelah ini, ya? Aku tidak mengerti.”
“Kenapa kau bingung? Bukankah kau anak ayahmu, ayahmu seorang pemimpin, ‘kan? Sudah jelas kau akan dapat warisan. Kau akan jadi pemimpin menggantikan ayahmu.”
Dengan mata biru berkilat penasaran, Lenard bertanya, “Berarti aku akan menjadi Duke of Aurum, ya?”
“Iya.”
“Pekerjaan Papa sangat banyaaaaaak. Aku tidak tahu apa pun.”
“Ya gampang, kau tinggal belajar. Tidak ada pemimpin yang langsung mengerti pekerjaannya di awal. Mereka semua belajar dulu. Kau juga bisa dengan belajar.”
“Benarkah?!”
“Ya. Percaya padaku.”
Lenard mengangguk bersemangat. “Aku percaya padamu, Kiyo! Kau memang sangat sangat hebat. Kau tahu segalanya.”
“Heh. Aku tahu dan bisa segalanya.”
Lenard tertawa bahagia. “Kiyo aku lapar. Apa kau juga lapar?”
“Biasa saja. Tapi kalau kau ingin makan, akan kutemani.”
Kali ini Lenard segera beranjak untuk menarik bel di samping ranjang tidurnya, memanggil pelayan yang akan bekerja untuk membawakannya makanan. Ia harap, Paman Francis segera menemuinya lagi, dan menjemput Lenard untuk menemui ayah-ibunya.
.
.
Sampai malam tiba, Paman Francis tak kunjung datang. Entah seberapa sibuk orang itu, tapi pasti banyak yang harus dilakukan. Dua pengawal yang pagi tadi berjaga, sudah diganti dengan prajurit lain. Sedangkan Lenard yang lelah menunggu, akhirnya tertidur setelah lama berbincang dengan Kiyo.
Saat itu, Kiyo memilih untuk tidur di ranjang yang sama dengan Lenard, menemani bocah singa itu supaya tidak merasa kesepian. Namun, meskipun matanya terpejam, Kiyo tidak sepenuhnya hilang kesadaran.
Srak! Suara jendela kamar tiba-tiba terbuka, Kiyo sedikit membuka mata.
Dua pengawal yang berjaga, lantas siap siaga. Salah satu dari mereka mengecek ke dekat jendela, tapi tidak menemukan siapa-siapa. Merasa bahwa hanya ada angin lewat, pengawal tersebut pun menutup lagi jendela yang terbuka.
Akan tetapi, ketika jendela sudah ditutup, sebuah benang tipis terlihat tersorot cahaya rembulan, dan kepala pengawal tersebut tiba-tiba putus seperti terpenggal.
Melihat kepala temannya menggelinding ke lantai, pengawal yang tersisa segera mengaktifkan batu sihir di pergelangan tangan, menggunakan sihir pemanggil darurat.
Suara sirine pun berbunyi sepanjang lorong kediaman Aurum, dan orang-orang mulai panik tidak keruan.
Akan tetapi, belum sempat pengawal tersebut menyelamatkan diri, kepalanya pun terpenggal dengan cepat.
Dari balik bayangan, beberapa orang muncul ke permukaan. Mereka adalah orang-orang dengan berbagai macam telinga tetapi tidak memiliki ekor, seseorang dengan karunia setengah-setengah.
Pakaian hitam melekat sebadan-badan, dan langkah kaki mereka tidak terdengar.
Ketika salah satu dari mereka mulai mengeluarkan belati, suara seseorang menginterupsi cepat.
“Hooo, kalian bekerja berkelompok?”
Orang-orang berpakaian hitam, lantas tersentak, tahu jika seseorang di samping Lenard masih sadar sepenuhnya. Tanpa bicara, seseorang menembak jarum dari sumpit di mulut. Jarum tersebut diarahkan kepada Kiyo yang tampak tidak berdaya.
Namun, dengan gerakan terlalu santai, Kiyo mampu menghindar. Jarum bening itu pun menancap ke kasur yang lembut.
“Orang-orang ini, tidak sabaran.” Ketika Kiyo berkata demikian, sehelai benang sudah melilit lehernya.
Sayangnya, ketika benang tersebut ditarik oleh pemiliknya, benang itu hanya menyayat angin kosong.
Kiyo tertawa gembira. Ia yang tadinya berbaring, sudah berdiri tegap di samping ranjang. Sayang sekali kedua tangan masih terikat, sehingga ia tidak dapat bergerak sesukanya.
“Jangan begitu pada orang sepertiku. Aku ini orang asing yang tidak tahu apa-apa, malah jadi target pembunuhan berencana.”
“Siapa kau?!” salah seorang berpakaian hitam, bertanya cepat. Tampak mengabaikan Kiyo yang berdiri leha-leha, tidak terlihat takut maupun tersudut.
“Ha? Kau bicara? Berani sekali mengeluarkan suara saat melakukan misi. Tidak takut identitasmu terbongkar?” Mata Kiyo mengernyit dalam, tampak heran dengan pembunuh dalam bayangan yang sembrono seperti itu.
Dua kawan orang yang tadi bertanya, melotot ke satu rekannya tersebut, seolah memarahi dari jauh.
“Kukira kalian pro, ternyata amatir. Huuuu.” Dengan bibir maju dan nada mengejek, Kiyo bicara seenaknya.
Tiga orang berpakaian hitam itu tampak meradang. Satu demi satu mereka mengeluarkan senjata pamungkan.
Seorang mengeluarkan benang tipis, seorang mengeluarkan sumpit beracun, dan seorang lagi mengeluarkan belati kecil yang pasti sudah dilapisi racun khusus. Tanpa basa basi, mereka melakukan serangan bersamaan.
Namun, satu serangan pun hanya menemui udara kosong. Apalagi, tiba-tiba Kiyo sudah berada di belakang salah satu dari mereka. Dengan gerakan sendi bahu yang aneh, ia mampu memutar tangannya dari belakang ke depan. Kuku-kuku jarinya memanjang, dan dengan cepat mampu memotong leher orang di depannya.
Ah, sudah lama Kiyo tidak melakukan ini. Rasanya … “Haaah, aku jadi bersemangaaaaat!” teriaknya girang.
Dua pembunuh bayangan yang tersisa, membeku oleh keadaan yang berbalik. Kaki mereka siap untuk melaju keluar jendela, tetapi Kiyo tiba-tiba sudah berada di sana.
Tersenyum lebar, Kiyo pun memetik dua nyawa di sana. Keduanya tewas dengan d**a berlubang.
“Kiyo?” Itu adalah suara Lenard yang terbangun oleh kericuhan yang terjadi. Ia mengucek matanya, dan melihat keadaan sekitar dengan wajah lugu dan mengantuk.
“Kau terbangun, ya? Aku terlalu berisik, sih.” tanya Kiyo seraya mengembalikan sendi-sendinya seperti semula. Posisi kedua tangannya yang terikat, kini ada di belakang tubuhnya lagi. Darah menetes-netes dari ujung kukunya.
“Kiyo menghajar orang jahat?”
Kiyo hanya mengangguk.
Namun, belum sempat Kiyo kembali ke atas ranjang, pintu kamar sudah dibuka dengan tenaga ekstra. Dari sana muncul Francis, Emeteria, dan beberapa orang lainnya.
“Tuan Muda!” Suara Francis yang paling keras terdengar. Akan tetapi, suara itu hanya menjadi kebisingan beberapa detik saja. Sebab, setelah ia melihat kondisi kamar Lenard yang dipenuhi mayat tergeletak, matanya lantas membulat lebar.
“Paman Francis? Ada apa?” tanya Lenard tanpa dosa.
Francis memandang Lenard dengan mata yang nanar dan tubuh gemetar, ia dengan cepat menghampiri keponakannya dan memeluk dengan lembut. Ia dapat merasakan bagaimana debaran jantungnya yang terlalu cepat sampai rasanya bisa meledak.
Namun, di tengah hiruk-pikuk yang terjadi, suara seseorang pun menginterupsi. “Ck. Kau ke mana saja? Keponakanmu menunggumu sejak pagi, dan kau sama sekali tidak menampakkan batang hidungmu.”
Itu adalah suara Kiyo, yang berdiri santai di dekat ranjang dengan tangan masih terikat ke belakang. Beberapa orang menodongkan senjata padanya, bahkan Emeteria mengarahkan segel sihir ke arahnya.
“Tidak apa-apa, Paman. Kiyo sudah menolongku. Dia sangat hebat dan tidak terkalahkan. Paman jangan khawatir, ya,” ucap Lenard memecah sunyi yang ada.
Mendengar itu, hati Francis tiba-tiba terasa perih. Tuan mudanya ternyata lebih mengandalkan orang asing yang memang lebih bisa diandalkan. Seandainya Aryeh masih ada, kepala keluarga Aurum itu pasti lebih memilih menemani putranya untuk memberi penghiburan.
Namun, Francis bukan Aryeh. Ia tidak kompeten untuk sekadar bisa membagi waktu seperti itu. Ia memang belum bisa bekerja sendiri. Ia butuh Aryeh di depannya, yang memimpinnya, yang mengarahkannya dalam berbagai macam hal.
“Maafkan saya, Tuan Muda. Maafkan saya.”