15. Orang Baru di Aurum

1248 Kata
Ketika Francis membuka pintu ruang istirahat, Lenard tengah duduk di depan perapian seraya membaca buku dongeng. Seorang pelayan dan ksatria menemaninya, berdiri di pojok ruangan sambil memperhatikan gerak-gerik tuan mereka. “Paman Francis! Apa Paman sudah selesai berbicara dengan Kiyo? Di mana dia sekarang?” tanya Lenard cepat. Francis menghampiri, menepuk dan mengelus puncak kepala Lenard dengan lembut. “Sepertinya dia ingin melihat-lihat tempat ini sebelum pergi bersama kita ke Aurum.” “Benarkah?! Aku juga ingin melihat tempat ini kalau begitu. Berjalan-jalan sama Kiyo sangat menyenangkan. Dia tahu apa pun dan bisa apa saja!” Lenard berujar semangat. Kaki kecilnya melompat ke lantai, seolah siap sedia berlari kapan saja. “Tuan Muda, tapi Kiyo sepertinya sedang ingin bermain sendiri. Mengapa Tuan Muda tidak di sini saja bersama saya? Saya sudah lama tidak melihat Anda, saya sangat merindukan duduk berdua bersama Tuan Muda.” Lenard yang awalnya berwajah sangat ceria, tiba-tiba memandang Francis dengan tatapan yang lembut. Ia juga sangat menyukai pamannya ini, tapi entah mengapa setiap melihat Francis, ia segera teringat papanya. Ah, papanya sudah tidak ada. “Paman Francis?” “Ya, Tuan Muda?” “Setelah ini apakah aku akan hidup seorang diri? Papa dan Mama tidak bisa menemaniku tidur di malam hari lagi?” Napas Francis tercekat, ada rasa panas mengaliri dadanya. Tanpa menunggu, ia segera berlutut dan memeluk tubuh Lenard ke dekapan. Ingin menangis, tapi harus menguatkan diri. Ingin meraung, tapi ada yang lebih bersedih. “Saya akan menemani Tuan Muda ketika Anda merasa kesepian. Saya akan selalu bersama Tuan Muda. Saya berjanji, saya benar-benar berjanji.” Di pelukan Francis yang hangat, Lenard mulai meneteskan air mata. Namun, air mata yang pelan itu lama-lama mengalir seperti hujan musim semi, membanjiri pipinya yang merah. Perasaan kehilangan datang kembali, rasanya sulit menerima tapi harus ia tampung dalam hati. Sedih ini baru pertama kali, dan Lenardy tidak tahu harus bagaimana. . Pada akhirnya, Francis tidak tega membiarkan Lenard berdiam diri saja. Ia pun menemani keponakan lucunya itu untuk menjemput Kiyo yang entah sekarang ada di mana. Ketika ditemukan, Kiyo rupanya ada di taman belakang, melihat-lihat ikan yang berenang di kolam. Telinga fakir itu sudah kembali tertutupi kain, sehingga orang-orang sekitar tidak terlalu mempermasalahkan kehadirannya. “Kiyooooo!” Lenard berlari dengan tergesa, berusaha menubruk punggung Kiyo dan bergelandotan di sana. “Apa yang kau lakukan? Menubruk orang sembarang seperti ini tidak sopan,” ucap Kiyo memperingatkan. Lenard segera melepas rangkulannya, dan mengatakan maaf dengan sopan. “Kiyo! Kiyo! Aku tidak sabar untuk pulang dan menunjukkan rumahku padamu!” Ia pun dengan cepat melupakan ketidaksopanannya. Beralih topik seperti bocah polos tanpa mengenal dosa. “Memangnya sebesar apa rumahmu?” tanya Kiyo dengan nada sedikit menggoda. Seraya merentangkan tangannya lebar-lebar, Lenard menjelaskan, “Besaaaar sekali. Di sini tidak sebesar rumahku. Rumahku lebih besar.” “Aku tidak percaya sebelum melihatnya sendiri. Jadi sebaiknya kau tidak berbohong padaku.” “Aku tidak bohong! Aku tidak akan berbohong di depan Kiyo!” Melihat betapa lucu Lenardy yang menggoyangkan ekor, Kiyo tidak tahan untuk tertawa lepas. “Kenapa kau mirip kucing peliharaan ayahku?” Dengan pipi menggembung, Lenard menyangkal, “Aku bukan kucing, aku singa!” “Apa bedanya? Kalian sama-sama kucing. Kucing besar dan kucing kecil.” Godaan Kiyo semakin membabi buta, dan kaki pendek Lenardy menghentak-hentak tanah. “Aku singaaaaa!” Di belakang dua orang yang sedang bersenda gurau, Francis memperhatikan dengan d**a sedikit lega. Entah mengapa, walaupun kesal pada Kiyo dan tetap menaruh curiga, tapi dia cukup senang ketika tuan mudanya dapat tertawa lepas setelah tadi menangis pilu. Mungkin, membiarkan Kiyo bersama Lenard adalah keputusan yang bijaksana. Anak itu perlu seseorang untuk menghiburnya saat bersedih. Setidaknya, dapat mengobati sedikit luka karena tiba-tiba ditinggalkan orang tua. Untuk identitas asli Kiyo, Francis akan mencarinya pelan-pelan. Setidaknya jika di Aurum, ada banyak orang yang bisa menjaga Lenardy musuh dalam bayangan. . Lenard sudah sehat, Francis pun merasa lebih baik. Para prajurit telah cukup beristrihat meskipun masih sangat penat. Portal di kediaman Grimmwolf telah siap digunakan. Pintu berbentuk tiga perempat lingkaran itu, berada di ruangan khusus dengan kunci dipegang kepala pelayan. Pintu itu telah dilengkapi berbagai macam rumus sihir, sehingga bisa dipastikan dapat mengangkut serombongan prajurit sekali jalan. Kiyo yang juga ikut dalam rombongan, hanya mengawasi dengan takjub. Rasanya senang melihat hal baru, dan diam-diam mencoba menerka-nerka, bagaimana pintu teleportasi seperti itu dibuat? Apakah orang yang tidak punya sihir seperti dirinya bisa membuat juga? “Enak sekali ya, orang yang bisa sihir,” celetuknya pelan. Bisa dipastikan, hanya Francis di sampingnya yang dapat mendengar. Francis hanya melirik Kiyo sekilas, sudut bibirnya terangkat sedikit, merasa bangga pada kelahirannya yang diberkahi sihir begitu melimpah. “Sejak dulu memang begitu. Betapa malang orang yang tidak mampu menggunakan sihir sepertimu,” sahut Francis tak kalah pelan. Namun, Kiyo hanya terkekeh. “Ah, kau tidak tahu saja, Paman Francis. Orang sepertiku ini mana bisa cemburu pada manusia biasa seperti kalian. Kesombonganmu kurang tepat diletakkan. Lain kali, carilah waktu yang pas untuk menyombongkan diri. Jika tidak tahu caranya, kapan-kapan akan kuberi tahu.” Francis mengepalkan kedua tangannya, tapi ia tidak membalas apa-apa. Portal sihir sudah diaktifkan, dan Francis lah yang memimpin perjalanan. Ia masuk terlebih dulu seraya menggendong Lenard yang merangkul lehernya erat. Satu demi satu prajurit ikut masuk pula, Kiyo salah satunya. oOo Kiyo sedikit teringat ketika ia dulu masih memiliki keluarga dan banyak pengikut. Ketika pulang dari berbagai tempat, serombongan pelayan akan menyambutnya dengan hormat. Mereka membungkuk setengah badan hingga lambang teratai hitam di punggung kimono terlihat berjejer, tidak ada yang berani menatap matanya sampai ia berlalu ke dalam rumah. Biasanya, kakek buyutnya akan menjadi teman minum teh di kala sore, menceritakan tentang hal-hal indah kehidupan, juga keburukan paling dasar manusia. Kakek buyutnya yang entah sudah hidup berapa ratus tahun, adalah orang dengan senyum paling lembut dan mata paling teduh. Namun entah mengapa, orang yang begitu baik, hanya memuja setan. ‘Yah, penampilan luar memang hanya kamuflase. Frankenstein saja sebenarnya orang yang lembut’ batin Kiyo setelah puas mengenang masa silam. Mau bagaimana lagi, pemandangan di depannya sekarang memang mengingatkannya pada masa lalu. Lihat itu, para manusia dengan telinga dan ekor kucing, berbaris rapi dan menyambut tuan mereka dengan serempak. ‘Apa sekarang sudah sampai Aurum?’ batin Kiyo lagi, matanya menelisik sekitar. Beberapa prajurit tampak terhuyung-huyung, mungkin mabuk kendaraan. Oh, mabuk teleportasi. Kiyo hampir tertawa karena itu. Lenard tampak tidur pulas di dekapan Francis, sepertinya sengaja ditidurkan untuk menghindari gesekan energi yang terlalu besar. “Tuan Francis, Anda datang membawa Tuan Muda!” Seorang singa dengan rambut coklat terang dan warna mata biru pudar, menghampiri Francis tergesa. Wajahnya tampak lega setelah melihat Lenardy yang sepertinya tanpa luka apa-apa. “Tuan Muda, apakah baik-baik saja?” tanyanya kemudian. Francis mengangguk. “Tuan Muda sehat, Emeteria. Beliau tidur karena menerima sihir perlindungan dariku. Apa ruangan Tuan Muda sudah dibersihkan?” tanyanya seraya melangkahkan kaki. Singa muda yang dipanggil Emeteria, mengikuti Langkah Francis yang tenang. Mau tidak mau, Kiyo juga mengekor di belakang ekor sungguhan. Emeteria yang merasa asing dengan kehadiran seseorang berambut perak, segera mengungkap keingintahuannya. “Kakak, dia siapa?” bisiknya. “Seseorang yang harus kita tampung,” jawab Francis cepat. Nada bicaranya seakan menyimpan emosi tersendiri. Mungkin masih kesal karena sempat kalah adu kata dengan Kiyo sebelum memasuki portal tadi. Emeteria melirik Kiyo sekilas, dan dibalas cengiran lebar tidak tahu malu. “Apakah dia orang rendahan?” tanyanya kepada Francis sekali lagi. Francis pun mengangguk tanpa ragu. Namun, Kiyo yang tahu tengah dibicarakan hanya terkekeh kecil di belakang mereka. Lucu juga melihat cara pandang bangsawan pada rakyat jelata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN