Manusia yang tidak terberkati, ialah para fakir yang hidup dalam bayang-bayang gemerlapnya dunia ciptaan dewa. Mereka adalah entitas tidak sempurna yang selalu dikait-kaitkan dengan dosa masa lalu. Meskipun tidak tercatat dalam kitab suci, tetapi orang-orang percaya bahwa mereka yang terlahir sebagai fakir pasti di kehidupan lampau adalah pendosa yang tidak terampuni.
Sebagai akibat dan balasan dari dosa-dosa yang tidak diingat, mereka pun tidak diberkahi oleh keagungan Raja Binatang. Ibu Bumi mau memberikan nyawa, pastilah karena sifat welas asih-Nya yang tiada terkira. Ibu Bumi tidak akan membiarkan ruh-ruh tersesat itu selamanya dalam kegelapan, sehingga dipanggil kembali untuk dilahirkan.
Kepercayaan seperti itulah yang membuat para fakir selalu diperlakukan semena-mena, tersingkirkan di manapun mereka berada. Tidak ada pendidikan, tidak ada pekerjaan. Orang tua yang malu seringkali mengambil nyawa putra-putri mereka sendiri dengan sengaja. Daripada menjadi beban keluarga, sebaiknya dimusnahkan sebelum dewasa.
Bahkan jika dibiarkan hidup, ujung-ujungnya hanya akan dijual. Dijadikan b***k orang-orang kaya, dipekerjakan sebagai makhluk rendahan yang bisa diperlakukan tanpa moral.
Untuk apa mengasihani pendosa? Untuk apa memberikan simpati pada fakir yang sengsara?
Oh, Ibu Bumi yang maha bijaksana. Mengapa melahirkan kembali orang-orang durhaka? Apakah benar Engkau ingin melepas mereka dari kegelapan, atau hanya ingin memberi anak-anakmu pelajaran. Mereka pasti ingin mengumpat di depan wajahmu, tapi takut kualat dan dilempar lagi ke neraka yang bahkan sudah lupa sepanas apa.
.
Francis lebih sering menjumpai fakir yang bahkan tidak bisa hidup dengan layak dan sewajarnya manusia. Ia tidak pernah menemukan fakir seperti Kiyo, yang begitu percaya diri, pandai bicara, tidak punya rasa takut, dan bahkan berparas seindah dewa.
Kiyo adalah fakir, ciri-cirinya nyata. Namun, mengapa dia begitu berbeda?
“Jadi kau benar-benar fakir?” Francis ingin memastikan. Walau dia sudah tahu jawaban sebenar-benarnya, tapi mulutnya tidak bisa mengatup diam.
Namun, Kiyo mengedikkan bahu. Seperti orang yang tidak begitu tahu. “Aku tidak tahu kenapa kalian menjulukiku seperti itu. Apa ada yang salah jika aku tidak memiliki telinga dan ekor sepertimu?”
Satu alis Francis terangkat. “Pertanyaanmu aneh. Apakah kau sedang menunjukkan kebodohanmu sebagai seorang fakir?”
“Heh, beginikah caramu bicara dengan orang yang menyelamatkan nyawa tuanmu? Tidak tahu terima kasih.” Cengiran Kiyo sangat tinggi.
Francis mengepalkan tangannya. Ia pun menarik napas panjang, dan menyamankan tubuhnya. “Kau benar. Aku memang cukup tidak sopan padamu. Tapi, bisakah kau juga bersikap sopan padaku? Aku akan berdamai denganmu jika kau bisa menjaga sikap.”
“Aneh sekali. Aku adalah tamu yang selalu dituduh dan diberi lemparan kata-k********r olehmu. Sekarang, kau menyuruhku bersikap sopan padamu? Kau merasa lebih tinggi dariku karena kau bukan seorang fakir? Pikiranmu ini agak … apa ya aku menyebutnya? Tidak tahu diri.”
Ekor singa Francis melecut spontan, gelagat bahwa dia sedang meluapkan emosi yang hampir membuncah. Namun, jika dia tetap bersikeras, dia pun tidak akan mendapat apa-apa. Walaupun sebagai bangsawan tinggi, dan seorang manusia yang sejak lahir sudah dipandang hormat oleh orang lain, rasanya sulit mengakui kekalahan kepada fakir seperti Kiyo.
Bukannya Francis gila hormat, tetapi … rasanya agak asing ketika ia menundukkan kepala kepada makhluk paling rendah. Ia mau membantu b***k, tapi tidak dengan menjadi lebih rendah daripada mereka.
“Jangan membuatku habis kesabaran, fakir Kiyo.”
Sebelah alis Kiyo terangkat. “Oh, jadi kau harus menyebutku begitu, ya? Fakir Kiyo? Harus diperjelas mengenai statusku sebagai fakir?” Ia menggelengkan kepalanya dramatis. “Aneh sekali … bangsawan dengan martabat setinggi dirimu, bisa semudah itu menggunakan julukan rendahan?”
Hampir saja taring Francis memanjang, tetapi ia dengan cepat menggigit ujung bibirnya untuk menyadarkan diri. “Baiklah, kurasa aku memang bersikap terlalu berlebihan padamu. Mari akhiri perseteruan tidak penting ini dan saling menghargai.”
Kiyo hampir saja meledakkan tawa, tapi ia menahannya dengan baik dan hanya mengangguk-angguk seperti bocah SD yang imut. “Kau benar-benar punya harga diri tinggi, Paman Francis. Padahal ucapanku tadi hanya bercanda.” Ia pun terkekeh tanpa malu.
Lagi-lagi Francis harus menahan kesal. Di mana letak ucapan Kiyo yang seperti bercanda? Bagi Francis, semua yang laki-laki perak itu katakan selalu penuh hujatan.
Kau orang terhormat, Francis. Jangan terpancing oleh orang yang moralnya jauh di bawahmu.
“Mari lupakan perselisihan kita sebentar. Aku mengucapkan terima kasih padamu karena sudah mau menolong Tuan Muda.” Dengan sedikit menekan harga dirinya, Francis mengalihkan pembicaraan, senyum kecilnya sedikit dipaksakan. Bukankah para orang rendahan mudah melupakan kesalahan jika sudah dipuji? Ya, Francis sedang mencoba.
“Baiklah … baiklah. Aku kasian melihat wajahmu dari tadi. Sepertinya tertekan dan sedang banyak pikiran. Aku akan mengalah.”
Saat Kiyo menaikkan sudut bibirnya, kedua tangan Francis mengepal sangat kuat. Namun, meskipun hampir melecutkan ekor singanya, Francis masih dapat mengontrol deru napas. Sekali lagi, ia bisa menahan diri. Mungkin Francis harus berterima kasih kepada mendiang Aryeh karena sudah menularinya dengan kesabaran sebanyak air di lautan.
“Bagaimana kalau kita mulai bicara lebih sungguh-sungguh?” bujuk Francis.
Kiyo hanya mengangguk seperti bocah bandel, potret manusia kurang ajar yang sangat ingin Francis tampar.
“Saat kita membicarakan tentang kelompok Behemoth, kau tidak berbohong bahwa kau bukan anggota kelompok tersebut. Aku percaya karena sihir yang kuberikan padamu tidak menunjukkan gejala kebohongan. Hanya saja, kau adalah seorang fakir, bagaimana bisa kau berada di antara orang-orang Behemoth?” tanpa basa-basi, Francis segera mengajukan pertanyaan.
Kiyo yang tahu bahwa Francis sangat bersungguh-sungguh, tidak tega untuk menjawab asal-asalan. “Aku ada di dalam sumur, kau ingat?”
Francis mengangguk.
“Jadi aku tidak tahu kenapa aku ada bersama mereka. Aku juga keluar dari batu, kau masih ingat?”
Francis mengangguk lagi.
“Dari situ saja, aku sudah tidak bisa menjelaskan keadaanku.”
Francis mengembus napas sekali. “Siapa nama lengkapmu?” tanyanya.
“Kiyo Hakai.”
“Nama belakangmu tidak seperti orang sekitar sini. Kau dari benua mana?”
Kedua bahu Kiyo mengedik. “Dulu sih seingatku, aku masih orang Asia.”
“Asia … apa itu nama kota kelahiranmu?” tanya Francis lagi.
“Kau tadi bertanya benua asalku, ‘kan? Aku dari benua Asia. Itu bukan nama kota, tapi nama benua.”
Ekor Francis melecut tidak sabar. “Jangan bermain-main denganku. Tidak ada yang seperti itu di sini.”
Namun, Kiyo hanya terkekeh. Francis kira, Kiyo sedang mempermainkannya lagi, tetapi laki-laki fakir itu lantas berucap. “Memang sudah tidak ada. Dulu sih, itu benua paling besar di bumi. Tapi kalau sekarang … aku bahkan tidak tahu nama-nama benua di sini.”
Kedua alis Francis menekuk tajam. “Apa maksud perkataanmu?”
Kiyo hanya mengedik bahu seperti biasa. Terlihat ingin menjawab tapi juga tidak ingin membeberkan diri lebih banyak lagi. “Sudah kubilang bahwa aku tidur sangat lama. Memangnya, ada berapa benua sekarang?”
“Lima,” jawab Francis cepat. Namun, dalam khayal terdalamnya, ada banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab oleh Kiyo. Ia semakin ingin tahu. “Jika kau memang tertidur lama, apakah kau … orang dari masa dahulu?” Merasa pikirannya sedikit berlebihan, Francis meralat ucapannya dengan cepat. “Tapi tidak mungkin. Kemungkinan paling besar, kau mungkin hanya orang kurang waras yang kebetulan menolong Tuan Muda.”
Kiyo mengangguk bersemangat. “Nah, itu dia. Sepertinya aku memang hilang ingatan dan mengalami gangguan pikiran.” Ia pun melanjutkan. “Aku bahkan tidak tahu di mana rumahku.” Ia bahkan tiba-tiba bangun dengan menggaruk-garuk kepalanya seperti kera. “Jangan-jangan aku sudah tidak waras!! AAAAAARRRG!!!”
Francis menggelengkan kepalanya, pandangan matanya sedikit prihatin. “Kau memang sudah gila. Para fakir memang sepertimu. Kukira kau pintar, ternyata hanya orang gila.”
Kiyo kembali duduk seperti semula, ketika Francis tiba-tiba berkata, “tapi orang gila mana yang bisa lolos dari markas Behemoth.”
Sekarang Kiyo diam seperti patung, tapi sedetik kemudian ia nyengir seperti biasa. “Wah, kau tidak tahu. Begini-begini, aku pandai berlari. Kukira belum ada orang yang bisa menyaingin kecepatanku berlari.”
“Ck.” Decihan Francis terdengar lelah. Ia pun beranjak dari kursinya, dan berjalan keluar begitu saja. “Aku akan bertanya kepada Tuan Muda saja.”
“Oke.” Kiyo memegangi perutnya seraya terbahak keras setelah Fracis meninggalkannya. “Dia pasti sangat marah padaku. Kasihan, sudah sungguh-sungguh ingin bertanya malah tidak dapat apa-apa.”
.
Namun, tidak seperti yang Kiyo pikir. Di tengah perjalanannya menuju ruang istirahat Lenard, Francis sebenarnya sudah mencatat apa-apa saja yang dirasanya benar dari ujaran Kiyo. Walau ada keraguan, tapi mana mungkin ia percaya bahwa Kiyo hanya orang gila yang sedang hilang ingatan.
“Konyol.”