13. Kau Sudah Tahu, 'kan?

1153 Kata
Di wilayah Grimmwolf, Francis tidak ingin tinggal terlalu lama. Setelah membawa Lenard dan rombongan ke mansion yang dipinjamkan Duke of Grimmwolf, mereka hanya beristirahat satu hari di sana. Bukan karena ingin, melainkan untuk memulihkan tubuh Francis dan pasukannya yang diforsir melakukan teleportasi terlalu sering. Seraya menjaga Lenard yang tidur pulas sambil memeluk Kiyo, Francis menulis surat terima kasih kepada Velvela Grimmwolf, putra pertama Duke of Grimmwolf yang menjadi teman baiknya sejak bersekolah dahulu. Setelah pena bulu diletakkan di atas nampan, dan surat yang dicap lilin dikirimkan menggunakan sihir, Francis terduduk diam di depan mejanya. Mata yang sewarna emerald, menatap lembut pada Lenardy yang tengah meringkuk seperti anak kucing. Namun, sekian detik kemudian, ia mengernyit saat memperhatikan si rambut perak yang seolah tidur sambil menjaga Lenard dengan begitu alami. “Orang yang tidak tahu, mungkin menganggap mereka sepasang ayah dan anak.” Francis menggerutu ringan. Hanya saja, meskipun memandangi Lenard adalah sesuatu yang menyenangkan, Francis sebenarnya memikirkan sesuatu yang sedikit membuatnya janggal. Menurutnya, pria berambut perak itu, Kiyo, memiliki pancaran aura yang aneh. Seperti orang yang tidak memiliki sihir, seperti para fakir, tetapi sama sekali tidak terlihat begitu. Ia tidak menemukan ekor atau sayap, kepala pria itu juga ditutupi kain seperti sengaja menyembunyikan sesuatu. Bahkan saat tidur, penutup itu tidak juga dilepaskan. Namun, jika memang benar Kiyo adalah fakir, lalu mengapa baunya sedikit berbeda? Ada aroma yang kuat, seperti patung dewa di dalam kuil, tapi juga mirip bebauan orang-orang berdosa. Mengambil napas dalam, Francis pun beranjak mendekat ke arah tempat tidur. Ia mengulurkan tangan kanan, dan dari ujung jari tengahnya sebuah benang sihir keluar, lalu bergerak-gerak sendiri seperti memiliki kehidupan. Benang berpendar keemasan itu meliuk menuju dahi Kiyo, tetapi sebelum itu terjadi, satu tangan Kiyo sudah mencengkeram pergelangan tangan Francis dengan sangat erat. “Mau apa?” tanya si perak masih dengan memejamkan mata. “Jika ingin memeriksaku, tanyakan dulu pada Lenard. Jangan mengganggu tidurku.” Gigi gerahan Francis bergesekan. Menahan kaget, juga sedikit amarah. Meskipun enggan, ia akhirnya menarik benang sihirnya. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah pergi ke luar. Pintu kamar yang besar, ia tutup dengan pelan. Kiyo yang tahu bahwa Francis menyerah padanya, lantas kembali memeluk Lenard yang mendengkur di dadanya. … Entah karena sudah mengalami banyak perkara selama beberapa hari ini, Lenardy tidur sehari penuh. Anehnya, Kiyo pun demikian. Baru di hari berikutnya, mereka terbangun dengan wajah cerah dan senyum jenaka. Ketika berada di ruang makan, dengan meja panjang yang terisi tiga orang saja, Francis baru bisa menyapa tuan mudanya. “Apakah Anda tidur nyenyak, Tuan Muda?” tanya Francis sebelum makanan utama dihidangkan ke atas piringnya. Lenard mengangguk cukup pelan, bola mata berwarna biru mengawasi seorang pelayan yang meletakkan sepiring steak di depan mejanya. “Kiyo bersamaku sepanjang waktu. Aku merasa bisa tidur dengan nyaman,” jawabnya kemudian. Sudut bibir Francis sedikit berkedut, agaknya kurang senang ketika Lenard membawa-bawa Kiyo terus-menerus dalam percakapan mereka. “Syukurlah … saya harap Tuan Muda sehat dalam waktu yang lama.” “Apa Paman Francis juga tidur nyenyak? Paman terlihat kurang tidur. Kiyo bilang, orang yang kurang tidur tidak bisa tumbuh tinggi dengan baik. Jadi Paman harus tidur juga, ya.” Francis hanya terkekeh canggung. Kiyo lagi … Kiyo lagi. “Paman Francis, kau tampak tersiksa setiap kali Lenard bicara. Sedang sakit perut, ya?” Dan tiba-tiba, Kiyo nyeletuk tidak sopan. Cengiran sarat ejekan di bibirnya, benar-benar menjengkelkan untuk dilihat orang. Francis yang saat itu duduk berhadapan dengan Kiyo pun lantas membelalakkan mata. Tatapannya menyiratkan bahwa Kiyo seharusnya tutup mulut, karena setiap si perak itu bicara, hanya ada rasa kesal di benak Francis. “Aku sedang tidak sakit perut, dan tolong diamlah jika tidak ada yang mengajakmu bicara,” pungkas Francis. Namun, walau ditatap sangat sinis, Kiyo tidak kunjung melunturkan cengirannya. Wajah usilnya itu selalu membuat Francis hampir muntab. Di tengah suasana berat sebelah itu, Lenard tiba-tiba bicara. “Apa Paman Francis tidak suka pada Kiyo? Paman kelihatan kesal setiap Kiyo mengatakan sesuatu.” Sialnya, pertanyaan itu dilantunkan dengan nada melas dan mata sarat kekhawatiran. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin Francis tega menyayat hati rapuh seorang anak kecil selugu Lenard. “Bukan begitu, Tuan Muda. Kadang, orang dewasa memang suka berdebat, tapi kami tidak saling membenci.” Mendengar itu, wajah Lenard menjadi semringah kembali. “Baguslah, he he.” “Karena makanan sudah disajikan, bagaimana jika kita menikmatinya dulu? Hari ini Tuan Muda akan pulang ke rumah. Perjalanan menggunakan teleportasi membutuhkan banyak tenaga.” Lenard mengangguk cepat. “Aku mengerti, Paman Francis.” Francis tersenyum lembut, tapi kemudian menatap tajam Kiyo yang sedang menyeringai kesenangan. Dia benar-benar diejek sepenuh hati. … Kiyo tahu jika Francis tidak mungkin melepasnya sembarangan. Orang dengan sikap terlalu santun dan bertata krama seperti Francis adalah yang paling pandai menyembunyikan taring. Kiyo bahkan sudah siap jika sewaktu-waktu dicakar sampai pingsan. Meskipun ia tidak semudah itu membiarkan seekor kucing mencakarnya, tapi tidak apa-apa jika bermain dengan mereka, bukan? Lihatlah sekarang, bahkan ketika Francis menguncinya di dalam ruangan berlapis sihir, Kiyo tetap duduk tenang dengan wajah agak bosan. Lagi pula, di dalam ruangan itu bukan hanya dia seorang. Ada Francis juga di sana, menemani Kiyo seolah tak takut jika orang di depannya bisa mencekiknya sampai tewas di tempat. Ruangan itu tidak besar, hanya sebuah ruang kosong dengan dua tempat duduk berhadapan. Yang satu adalah kursi empuk dari kayu pinus, tapi yang satu lagi hanya kursi kayu sederhana yang sengaja dibuat asal-asalan. Tentu saja, kursi yang mewah untuk Sir Francis Aurum. Sementara sisanya adalah untuk Kiyo, si orang asing yang tidak bisa dipercaya. “Sekarang apa lagi, Paman Francis? Ingin melakukan apa lagi padaku?” tanya Kiyo dengan intonasi terdengar main-main. Kedua kakinya ia naikkan ke atas kursi, duduk bersila dia. Sambil mendecak melihat kelakukan Kiyo yang selalu jauh dari sopan santun, Francis menghardik, “Sudah kubilang jangan seenaknya memanggilku.” “Baiklah … baiklah.” Kiyo terkekeh saja. “Aku membawamu ke sini supaya tidak ada seorang pun yang dapat menguping. Jadi, jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja dengan benar,” ujar Francis kemudian. Dahi Kiyo mengerut, memandangi Francis yang tumben bicara dengan nada lebih halus dan agak ramah. “Memangnya, apa yang kau harapkan, Paman Francis? Kau tidak berpikir aku akan membeberkan semua masalah hidupku padamu, ‘kan? Kenapa kau tiba-tiba mau jadi psikolog?” Francis mendecak. “Sulit sekali bicara denganmu.” Satu alis Kiyo terangkat. “Kau bisa mengerti bahasaku, ‘kan? Apanya yang sulit?” Kedua tangan Francis pun mengepal, tahu jika setiap ucapan Kiyo hanya kata-kata jahil. “Mari bicara intinya saja. Sekarang, aku ingin bertanya padamu, dan jawablah dengan benar.” “Oke oke.” Memandang kedua mata Kiyo, Francis pun berucap, “Kau ini seorang fakir.” Dia tidak bertanya, dia menegaskan. Seraya menyeringai, Kiyo pun menelengkan kepalanya. “Kau pasti sudah tahu, ‘kan?” Ia pun terkekeh, lalu dengan santai melepas kain yang menutupi kepala dan telinga ‘manusia’-nya. “Sekarang kau bisa melihat sendiri, dan menyimpulkan sendiri, ‘kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN