12.2 Francis Aurum

1094 Kata
Francis Aurum baru saja mendengar Tuan Muda-nya berkata bahwa seseorang telah keluar dari batu. Entah pendengaran Francis yang bermasalah, atau Tuan Muda Lenard yang hilang akal. Yang jelas adalah seseorang mustahil bisa keluar dari batu. Tapi, tunggu dulu. Mungkinkah pemahaman Francis dan Lenard berbeda? Jangan-jangan, Lenard sebenarnya mengatakan hal yang lain. Mungkin Francis hanya salah paham. “Tuan Muda, mari masuk ke dalam kereta terlebih dulu. Kita harus segera pulang,” pinta Francis pada akhirnya. “Bersama Kiyo juga, ‘kan?” Lenard masih kukuh dengan keinginannya. Mau tidak mau, Francis pun mengiyakan. Tidak berani membuat Lenard semakin bersedih dengan semua masalah keluarga Aurum yang datang seperti badai. . Di dalam kereta kuda bangsawan yang nyaman dan megah, Lenard duduk di sebelah Kiyo, menempel seperti anak kucing yang butuh perlindungan seekor induk. Bahkan, ekor anak itu pun bergelung erat di lengan Kiyo, memberi tanda bahwa seseorang di sampingnya adalah yang paling disukainya. Francis benar-benar tidak tahan melihat itu. Anak majikannya tertidur pulas bersandar pada lengan orang asing. Dan bisa-bisanya, orang mencurigakan itu juga ikut tidur pulas di dalam kereta kuda, mengabaikan Francis yang sejak tadi memincing curiga. Suara dengkuran Lenard menandakan bahwa anak itu tertidur pulas. Francis pun mengeluarkan pistol dari sabuknya, dan menodongkannya langsung ke depan dahi Kiyo. Kiyo yang sebenarnya tidak tidur, membuka matanya perlahan. Dengan cengiran kecil, juga dengusan bosan, ia pun berucap, “Paman Francis sangat waspada.” Otot dahi Francis mengerut, gigi gerahamnya bergesekan. “Jangan seenaknya memanggil namaku. Jika tidak ingin kepalamu berlubang sekarang, jawab pertanyaanku dengan jujur.” “Untuk apa?” tantang Kiyo. Tanpa ingin menjawab, Francis pun mulai mencoba menarik pelatuknya. Namun, Kiyo dengan cepat berucap, “Baiklah, baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Pemarah sekali, Paman Francis.” Sebelah tangan Francis mengepal kuat. Ingin sekali ia menonjok mulut Kiyo yang suka bicara seenaknya. “Tidak tahu diri!” pungkasnya. Kiyo hanya menguap kecil. “Iya … iya. Mau tanya apa?” Francis tak langsung bicara. Ia merapalkan mantra, lalu menggigit ujung jarinya hingga berdarah. Darah yang keluar ia usapkan dengan kasar ke atas bibir Kiyo, dan sengatan sihir segera merasuk ke tubuh si rambut perak. Pistol pun diturunkan, dan dimasukkan kembali ke samping celana. “Itu adalah mantra sihir supaya kau tidak bisa berkata dusta. Kebohongan akan membuat satu persatu organ tubuhmu berhenti berfungsi. Mulai dari mata, telinga, hidung, hingga jatung dan otakmu.” Kiyo mendecak kesal. “Baiklah aku mengerti. Lagi pula aku tidak pandai berbohong,” jawabnya asal. Bahkan dengan sikap yang terlalu santai, ia menyamankan dirinya dengan semakin menyender ke kursi. Walaupun agak kesal dengan sikap Kiyo yang seenaknya, tapi Francis sudah tidak begitu peduli. Ia pun mulai membuka mulut. “Jawablah dengan sejujurnya, apakah kau adalah anggota kelompok Behemoth?” Satu alis Kiyo naik, mengernyit, lalu menjawab, “Ah … maksudmu kelompok yang menculik Lenard?” Francis mendecak. “Jawab saja dengan benar!” “Bukan.” “Bukan apa?” “Aku bukan anggota kelompok Behemoth,” jawab Kiyo lebih serius. Francis tidak lantas memberi pertanyaan lain. Ia menunggu reaksi dari sihir yang ditanamkan pada Kiyo. Namun, sudah satu menit berlalu, Kiyo masih tampak sehat-sehat saja. “Rupanya kau tidak berbohong,” ucap Francis. Ia mengembus napas panjang, terlihat lega dan bersyukur. Bahkan pertahanan dirinya sedikit mengendur. Kiyo hanya mengedikkan bahu. “Ya, pertanyaan selanjutnya?” Entah mengapa, malah seperti Kiyo yang mengendalikan pembicaraan ini. Francis sedikit mengernyitkan dahi, tapi tak lantas naik pitam. “Lalu, bagaimana caramu bertemu dengan Tuan Muda?” “Sepertinya karena kebetulan.” “Apa maksudmu? Ceritakan dengan rinci dan jelas.” Kiyo menegakkan tubuh, lalu menggaruk lehernya. “Hmm … bagaimana ya? Saat itu Lenard sedang menangis di dalam sumur. Dan karena dia sangat berisik, aku jadi terbangun. Setelah itu, aku membawanya pergi.” “Di dalam sumur?” Kedua mata Francis semakin menyipit. “Kenapa Tuan Muda bisa ada di dalam sumur?” “Oh. Dia dikurung di dalam kerangkeng. Lalu orang-orang yang kau sebut Behemoth itu, melempar Tuan Mudamu ke dalam sumur.” “Apa?! Beraninya mereka!” Tanpa sadar, Francis melecutkan ekornya. Bahkan taring binatangnya sudah keluar seolah ingin mencabik seseorang. Kiyo cukup tertarik melihat pemandangan di hadapannya. Rasanya seru melihat manusia separuh binatang mulai mengeluarkan sisi binatang mereka. Ia jadi teringat nenek buyutnya yang juga bisa mengeluarkan taring. Tapi jika dipikirkan lagi, bukankah Kiyo juga bisa mengeluarkan cakar? Hanya saja menurut Kiyo, dalam kasusnya, yang dikeluarkannya bukanlah cakar, hanya kukunya saja yang memanjang dengan struktur yang lebih kuat dari kuku manusia pada umumnya. Tunggu, apa itu sama saja dengan cakar? ‘Kenapa aku dulu tidak bertanya pada Ibu, ya?’ sesalnya dalam hati. “Lalu, jika kau tahu Tuan Muda dikerangkeng, mengapa kau tidak membantunya dari awal?” tanya Francis. “Mana aku tahu kenapa dia dikerangkeng. Saat dia dilempar ke dalam sumur dan aku bangun, dia sudah di dalam kerangkeng. Kenapa kau seperti menyalahkanku?” Francis mengambil napas panjang, taring dan ekornya mulai terkendali. Ia pun duduk dengan lebih tenang. “Maafkan aku. Rasanya sulit mengendalikan diri ketika mendengar Tuan Muda diperlakukan buruk oleh orang lain.” Kiyo hanya mengangguk-angguk seolah memberi empati, padahal dia mengangguk supaya Francis tidak lagi bertingkah yang bukan-bukan. “Jadi menurut cerita yang kau tuturkan, kau bertemu Tuan Muda di dalam sumur. Mengapa kau bisa ada di dalam sumur? Dan mengapa kau tidur di dalam sana?” Kiyo mengedikkan bahu seperti biasa. “Aku juga tidak tahu, aku tidur sudah sangat lama.” Francis memincingkan mata. “Menurut penuturan Tuan Muda, kau keluar dari dalam batu?” Kiyo mengangguk. “Ya.” “Bagaimana hal itu bisa dilakukan? Mengapa kau berada di dalam batu?” “Sudah kubilang, aku juga tidak tahu. Aku tidur sudah sangat lama.” Tidak menemukan titik temu, dan meskipun menjawab jujur, Kiyo pun tidak ingin bercerita lebih jauh, sehingga Francis memilih mengakhiri pembicaraan. “Terima kasih sudah mau menjawab pertanyaanku. Meskipun bagiku kau masih cukup mencurigakan, tapi untuk saat ini, aku tidak akan menekanmu. Sihir yang kuberikan padamu akan hilang sendiri dalam satu jam.” Kiyo mengangguk-angguk saja. “Oke.” Francis mengembus napas penat. Ia mengendurkan pertahanan dirinya, lalu menyandar pada kursi seraya menutup mata sejenak untuk menenangkan pikirannya sendiri. Bicara dengan Kiyo sangat tidak menyenangkan. Mungkin karena pemuda itu tidak sopan dan berkata sesukanya, seperti orang-orang biasa di luar sana. Bahkan orang-orang biasa itu lebih baik daripada Kiyo dalam urusan bertutur kata. Entah mengapa Lenard mau menampung orang seperti itu, Francis tak habis pikir. Rasanya, kepalanya semakin ingin meledak dari waktu ke waktu. Ia hanya bisa berharap dapat bertahan lebih lama. Setidaknya, sampai ia melihat Lenard naik takhta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN