ANCIENT NEWBORN
JOURNEY TO THE NORTH
.
Usai bermeditasi untuk menentukan arah perjalanannya, Kiyo pun melipat peta kusam yang sudah ia bentangkan semalaman. Kini hari sudah pagi, langit yang semula gelap perlahan mulai membiru. Di samping Kiyo, ada Lenard yang tidur meringkuk tanpa selimut, tampak kedinginan tapi mencoba bertahan.
Pelan-pelan, setelah menyelipkan peta ke dalam saku celana, Kiyo pun merengkuh Lenard dan mendekapnya dalam gendongan. Sesekali meniup tangan kecil bocah singa itu supaya merasa lebih hangat. Namun, belum sampai tiga menit ia melakukannya, Lenard sudah membuka matanya.
“Mama … Mama.”
Kiyo geleng-geleng kepala. Rupanya, Lenard masih belum sadar sepenuhnya. “Jangan mengigau. Sekarang kau tidak berada di rumahmu.”
Lenard mengucek matanya perlahan. Saat ia sadar di mana kini, wajahnya seketika menjadi murung dan tidak bersemangat. Ia kembali ingat bahwa ibu dan ayahnya sudah tidak ada, dibunuh perampok ketika mereka akan pulang ke wilayah Aurum. “Mama … Papa ….” Ia pun meneteskan air mata tanpa sengaja.
Kiyo menghela napas lelah. “Apa kau lapar?” tanya Kiyo tiba-tiba.
Dengan air mata yang masih berjatuhan, Lenard mengangguk. “Ya … dan sebenarnya aku sangat haus sejak kemarin,” jawabnya jujur.
“Tunggu sebentar di sini.”
Lenard menelengkan kepalanya. Saat ia berkedip ke dua kali, Kiyo tiba-tiba sudah tidak ada di hadapannya. “Ki-Kiyo?” Wajahnya yang sempat bersedih berubah panik. Ia menoleh ke kanan dan kiri, berusaha menemukan keberadaan Kiyo yang seperti ditelan bumi. “Apa kau pergi?” tanyanya pada udara kosong. Meskipun ia sempat merasakan sapuan angin kencang sekelebat, tapi tidak menyangka jika Kiyo bisa menghilang secepat itu.
“A-aku akan menunggu di sini,” ucap Lenard sekali lagi, bermaksud bicara pada Kiyo meskipun sebenarnya tengah sendiri.
.
.
.
Kiyo sebenarnya tidak pergi untuk sekadar mencari makan. Selama pelariannya bersama Lenard, tidak mungkin ia lolos begitu saja dari orang-orang di markas. Selain karena Kiyo sudah menyembelih orang-orang mereka, ia juga membawa kabur sandera yang berharga. Bahkan, dengan entengnya ia melewati jembatan yang penjagaan lumayan ekstrem.
"Badak-badak itu pasti sudah melapor." Kiyo bicara sendiri di tengah hutan yang sepi dan sedikit berkabut. Padahal sudah pagi, tapi memang benar apa yang sering ditakutkan orang-orang, hutan di manapun, selalu memberikan nuansa mencekam yang berbeda. Apalagi, di dunia yang diliputi kemagisan tinggi begini, pasti hutannya pun lebih tidak masuk akal lagi.
Benar saja, ketika Kiyo sudah masuk lebih dalam, ia dapat melihat beberapa rombongan orang dengan pakaian berlambang khas, seperti gambar seekor gajah dengan gading yang melengkung hingga kepala, mirip pakaian yang dikenakannya, yang ia rampas semalam.
Wajah Kiyo lantas tertekuk malas. Orang-orang yang mengejarnya tampak lebih kuat dari sebelumnya. Entah karena mereka mengeluarkan kemampuan magis dengan lebih bersungguh-sungguh, atau memang orang-orang yang lebih mumpuni sengaja dikerahkan untuk menangkapnya.
Mau bagaimana lagi, Kiyo tidak begitu mengerti dengan konsep sihir di dunia ini, sehingga dari awal pun ia hanya menduga-duga kekuatan lawannya. Walaupun mata kanannya cukup sakti, tapi bukan berarti ia tahu segala hal di dunia.
Itulah mengapa, sekarang ia lebih memilih bersembunyi, menutupi hawa keberadaannya dan menyatu dengan bayangan sekitar. Jika tentang kemampuan besembunyi, Kiyo bisa membanggakan diri. Salah satu kemahiran turun-temurun keluarganya adalah tidak terlihat meskipun musuhmu ada di depanmu. Selama ada bayangan yang bisa dimasuki, Kiyo tidak khawatir apa pun lagi.
'Yah, kecuali jika seorang dengan kemampuan suci tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya. Orang-orang yang dekat dengan Tuhan begitu, entah kenapa mudah sekali merasakan hawa keberadaanku'
Ia menggerutu sendiri seraya mengawasi dari balik pohon, mengintip seperti penguntit.
Walaupun memiliki kemampuan lebih dari manusia biasa, bukan berarti Kiyo adalah seorang dewa. Sebagai pembunuh bayaran yang terlatih dan diberkahi keahlian spesial, tetap membuat Kiyo harus waspada dengan segala mara bahaya.
Ia jadi sedikit teringat, jika dulu ia sempat hampir menjadi bubur jika tidak tiba-tiba diselamatkan nenek buyutnya. Mimpi buruk tentang peluru laser dari udara yang ditembakkan padanya secara bertubi-tubi, masih menjadi momok besar yang sulit ia lupakan.
Semua itu ingatan masa lalu yang cukup mengerikan baginya. Apalagi, usianya baru dua belas tahun ketika menerima pengalaman pertama menjadi musuh sebuah negara.
Tiba-tiba saja badan Kiyo terasa merinding sekujur-kujur. ‘Aku tidak ingin mengingatnya’
Ya, Kiyo tidak ingin mengingat hal di luar nalar yang hampir menewaskannya begitu. Ia sekarang hanya harus fokus pada tujuan di masa kini, pengalaman di masa lalu biarlah menjadi pelajaran meskipun agak mengesalkan.
Kembali fokus, Kiyo pun memungut beberapa kerikil di sekitar kakinya. Setelah mengambil napas panjang, ia menembakkan satu demi satu kerikil di tangannya ke beberapa orang yang sedang mencarinya.
Satu kerikil mengenai kepala, menembus hingga otak. Satu lagi mengenai leher, melubangi kerongkongan hingga berdarah. Namun, tembakan ke tiga ditangkal oleh seorang bertelinga kucing.
Melalui mata kanannya, Kiyo bisa melihat bahwa seseorang dengan telinga kucing itu seperti membuat perisai dari sihir di udara. Meskipun dengan mata biasa tidak terlihat, tetapi yang tampak di mata kanan Kiyo adalah selubung merah yang memadat.
Lapisannya tidak begitu tebal, tapi lebih dari cukup untuk menangkis serangan dari Kiyo yang sama sekali tak memakai sihir.
Berkat kegagalan itu pula, orang-orang yang tersisa akhirnya mengalihkan perhatian ke tempat Kiyo berada. Seseorang dengan sisik di sekitar wajahnya menjulurkan lidah bercabang, lalu mengeluarkan senapan dan mulai menembak ke tempat Kiyo secara beruntun.
Seperti biasa, tembakan yang dikeluarkan adalah peluru sihir. Mereka menembus beberapa batang pohon dan membakar ujung dedauan kering yang terserempet.
Peluru seperti itu sangat menakutkan, karena hampir tidak terlihat setelah ditembakkan, dan baru memadat ketika sudah mendekati sasaran. Untung saja Kiyo bisa segera melompat ke atas. Ia mendarat di salah satu dahan pohon sembari tetap bersembunyi di antara bayangan, membuatnya tetap tidak terlihat meskipun keberadaannya pasti sudah dirasakan.
“Keluar kau! Kami akan mengampunimu jika kau tidak berontak!” Si telinga kucing, seorang laki-laki kurus yang terus membuat dinding sihir mulai berteriak. Suaranya paling nyaring di antara hutan yang hening.
Kiyo ingin tertawa mendengar betapa mudah orang itu memberi penawaran. Ucapan yang dituturkan sekilas begitu, memangnya siapa yang mau percaya?
Namun, jika Kiyo tidak menampakkan diri, ia tidak tahu akan sampai kapan permainan petak umpet ini berakhir.
Kiyo pun melompat ke bawah, memperlihatkan dirinya yang tampak baik-baik saja meskipun dengan kedua tangan terangkat ke atas. Wajah ayunya terlihat lemah dan tidak berdaya, seolah meminta pengampunan.
“Sekarang aku sudah keluar, bisakah kalian mengampuniku?” pinta Kiyo memelas.
Beberapa orang di sana saling berpandangan, lalu menyungging senyum miring yang cukup samar.
“Ooh, apakah ini seorang fakir yang dibicarakan para badak? Boleh juga.” Si pria bersisik menyeringai lebar. Temannya yang lain ikut mengembangkan lengkung bibir. Beberapa yang taringnya panjang tampak antusias.
Pria kurus bertelinga kucing pun menghilangkan perisai buatannya. Setelah itu, rombongan para Behemoth berjalan penuh percaya diri mendekati Kiyo dengan wajah berseri-seri.
Melihat betapa lengah musuh-musuhnya, Kiyo hanya bisa tertawa dalam hati. Ingin mengasihani, tapi apa yang patut ia kasihani? Toh, mereka juga tidak akan segan mengambil nyawanya jika ia lengah dan pasrah begitu saja.
Pada akhirnya, ketika jarak di antara mereka hanya tinggal selangkah kaki, wajah Kiyo yang tadinya seperti putus asa pun berubah secara drastis. Senyumnya kecil, matanya berbinar, dan ketika orang-orang dari Behemoth sadar, mereka sudah sangat terlambat. Sebab, dengan gerakan bagai kilat yang menyambar ujung besi, Ksecepat itu pula Kiyo memotong kepala musuh-musuhnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima, satu kepala dengan wajah bersisik, dan satu kepala bertelinga kucing. Semuanya ada tujuh, dan habis dalam sekejap mata.
“Haaah.” Napas Kiyo panjang dan lega. Ia selalu suka melihat bagaimana musuh-musuhnya lengah padanya. Nenek butunya bilang, wajah cantik adalah salah satu kekuatan alami seorang pembunuh sepertinya. Lawan yang garang bagai raja hutan pun akan mengendurkan waspada jika sudah melihat wajahnya. Benar-benar keberuntungan alami, bukan?
“Astaga, dari kemarin orang yang kuhabisi bahkan lebih banyak daripada misi harianku.” Kiyo menggaruk kepalanya menggunakan tangan kiri yang bersih.
Tanpa peduli pada kepala-kepala yang menggelinding di bawah kakinya, ia berlalu begitu saja. Tujuannya adalah mencari makan untuk Lenard, dan ia tidak ingin terlalu lama membiarkan bocah lugu itu sendirian.