Mata Lenard berbinar bahagia ketika melihat Kiyo datang tak lama setelah menghilang. Apalagi, Kiyo juga membawa buah-buahan di kedua tangan. Saat Kiyo mendekat, Lenard yang sebelumnya duduk merenung seperti batu, langsung berdiri dan menghampiri pria fakir berambut perak itu.
“Kiyo, kau datang!” Seru Lenard. “Kau tiba-tiba menghilang, lalu dengan cepat kembali. Ke mana kau sebenarnya pergi?” tanyanya penasaran. Kepalanya bergerak-gerak lucu, membuat rambut emasnya bergoyang-goyang ringan. Sebenarnya ia sangat ingin mendekap Kiyo, lalu mengatakan jangan tinggalkan aku sendirian. Namun, orang yang suka merengek cenderung tidak disukai, dan Lenard tidak ingin Kiyo tidak suka padanya.
“Kau kehausan, ‘kan?” tanya Kiyo balik. Ia memberikan sebuah apel besar berwarna merah untuk Lenard, sedangkan ia sendiri mulai mengigit apel miliknya.
“Terima kasih,” ucap Lenard ketika menerima apel pemberian Kiyo. “Manisnya! Manis sekali!” Serunya ketika menggigit apel merah yang lebih besar daripada kepalan tangannya. “Enak sekali. Meskipun apel di Aurum juga enak, tapi ini tidak kalah enak.”
“Apel di hutan kadang rasanya tidak tertebak. Aku mengambilnya dari pohon yang paling sedikit buahnya,” jelas Kiyo. Meskipun sebenarnya tidak perlu menjelaskan, tapi rasanya senang melihat Lenard yang mendengarkan setiap ucapannya dengan sungguh-sungguh.
“Oh, berarti kau dari dalam hutan?” dengan pipinya yang menggembung karena apel di dalamnya, Lenard mencoba bicara. Seolah-olah sedang membuat mochi dari kedua pipi gembulnya.
“Ya,” jawab Kiyo singkat. Entah mengapa, matanya tertarik dengan pipi Lenard yang sepertinya terasa kenyal ketika digigit. Namun, Kiyo tidak pernah mencoba mengigit seorang bocah, dan tidak ada untungnya untuk melakukannya. Oh, apakah ia harus mencobanya sekarang mumpung ada kesempatan?
“Cepat makan apelmu, kita harus segera pergi dari sini sebelum orang-orang yang menculikmu sadar sudah kehilanganmu,” ujarnya tenang, sedikit mengalihkan pikiran anehnya yang terlihat seperti orang tidak bermoral.
Tanpa tahu apa yang sebenarnya ada di benak Kiyo, Lenard mengangguk patuh. Ia pun dengan cepat mengunyah apelnya meskipun mulutnya menjadi sangat lelah. Ia tidak pernah makan secepat ini, dan sejujurnya ia sedang memaksakan diri. Sebab, jika ia tidak melakukannya, ia takut Kiyo akan kesal dan meninggalkannya. Saat ini, hanya Kiyo lah orang yang bisa dia jadikan sandaran. Hanya Kiyo lah yang dapat ia andalkan.
.
.
.
Setelah menunggu Lenard berusah payah menghabiskan sebutir apel, dengan cekatan Kiyo pun menggendong Lenard menggunakan satu tangannya. Ia mendekap Lenard tanpa beban, seperti menggendong boneka yang tidak ada bobotnya. Meskipun sebenarnya, tubuh Lenard memang tidak begitu berat. Kiyo yakin, ia sebenarnya bisa mengangkat Lenard hanya dengan jari kelingking.
Tidak, dia tidak sedang meracau. Jika mau bukti, Kiyo bisa membuktikannya.
Namun, berbeda dengan Kiyo yang menganggap remeh tindakannya, Lenard malah terkesan menaggapi dengan sangat serius. Bocah singa itu sampai bertanya, “Maaf Kiyo, kau harus terus menggendongku. Aku berat, bukan? Paman Francis bilang aku sudah terlalu berat untuk selalu digendong ke mana-mana.”
Saat itu, Kiyo tidak tahu harus menjawab bagaimana. Nyatanya, ia sudah terlatih untuk mengangkat sesuatu yang bahkan berkali-kali lipat lebih berat dari bobot tubuhnya. Jangankan Lenard, menggendong sebuah batu seukuran rumah pun ia sanggup mengatasinya. Saat latihan dulu, ia bahkan harus menggendong satu demi satu beruang untuk dipindahkan dari gunung satu ke gunung seberang.
Namun, Kiyo tidak mungkin menjawab dengan cerita tidak masuk akal begitu, ‘kan? Pada akhirnya, ia pun hanya bisa menjawab dengan candaan. “Hari ini kau hanya makan sebutir apel. Jadi beratmu pun hanya seperti apel.”
Lenard menelengkan kepala, matanya yang beriris biru berkedip menggemaskan. “Apakah bobot tubuh kita ditentukan dari apa yang kita makan?”
Kiyo mengedikkan bahu. “Tentu saja,” jawabnya asal.
Meskipun terdengar sangat tidak meyakinkan, tapi saat itu Lenard benar-benar percaya dengan ucapan Kiyo. Sedangkan Kiyo sendiri tampak tidak menyadari bahwa dia sudah menyesatkan pemahaman seorang bocah lugu yang haus pengetahuan.
Kemudian, karena tidak ingin diberi pertanyaan aneh-aneh lagi, Kiyo pun segera melangkahkan kakinya menuju hutan batuan di depannya.
.
OOo
.
Kiyo jadi teringat, jika dulu ia pernah ke Madagaskar untuk liburan dan menemukan pemandangan yang hampir serupa dengan sesuatu di depannya sekarang. Di sana, ada hutan batu yang terbentuk secara alami. Batuan karst menjual tinggi dan runcing, setinggi tebing-tebing dan sangat sulit untuk didaki. Kadang ketika ia ditugaskan ke China, ia juga suka mengunjungi tempat yang serupa, karena baginya seru untuk melompat-lompat di atas tempat yang ekstrem.
Namun, dibanding dengan batuan karst di Madagaskar maupun China, hutan batu di tempat ini lebih tidak masuk akal. Tidak ada tumbuhan yang terlihat, bahkan sepucuk tunas pun tak ada. Mungkin karena seluruh permukaan tanah ditutupi batuan, sehingga tidak ada celah untuk flora yang ingin berkembang. Semuanya adalah batuan runcing, dari bawah hingga atas, menyebar luas seperti hutan, tetapi gersang tanpa kehidupan.
Saat Kiyo melangkah ke dalamnya, telapak kakinya langsung tertusuk ujung-ujung tajam. Bahkan, meskipun ia harus mendaki dan melompat dari satu batu ke batu lain, ia yakin, kakinya akan tetap berdarah-darah. Batuan runcing di sini seperti karpet jarum yang sengaja digelar oleh tangan Tuhan. Memang ngeri, tapi juga menakjubkan.
“Pantas saja di sini sangat sepi. Siapa juga yang mau mempertaruhkan nyawa di tempat begini.” Kiyo bergumam sendiri, matanya menerawang, memperhatikan panorama asing yang membuatnya merinding.
Melihat Kiyo menggerutu, Lenard jadi tidak enak hati. “Kiyo … apa kakimu tidak sakit?” tanyanya ragu.
Untung saja, Kiyo menggeleng dengan santai. “Biasa saja.”
Lenard cukup lega mendengarnya. Namun, saat Kiyo lanjut berjalan, Lenard bisa melihat bekas-bekas darah yang mengucur dan menempel di ujung-ujung lancip batuan. Lenard pun mengernyit ngeri, merasa ngilu sendiri ketika membayangkan kulitnya yang tersentuh batuan-batuan tajam tersebut.
“Kiyo, kakimu berdarah!” Lenard hampir menangis ketika menyerukan rasa terkejutnya.
Meskipun begitu, Kiyo tetap menjawab seolah ia sedang tidak terluka. “Ya memang. Batunya sangat tajam, tidak mungkin kakiku tidak berdarah.” Sebelum Lenard lebih khawatir, ia pun melanjutkan, “Tapi tubuhku bisa sembuh dengan cepat, jadi tidak masalah.”
“Tapi tetap saja … pasti rasanya sakit.” Mata Lenard yang biru itu mulai berkaca-kaca, sedikit lagi mungkin air matanya akan tumpah.
Tanpa sadar Kiyo menggaruk kepalanya, tidak bisa menjelaskan atau meyakinkan Lenard bahwa dia memang benar-benar tidak merasa sakit. Sulit rasanya menerangkan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan serupa. Umpamakan saja orang yang tahan makanan pedas dan tidak.
Orang yang tahan pedas tidak akan paham betapa tersiksanya lidah seseorang ketika mencicipi setetes minyak cabai. Dan orang yang tidak tahan pedas juga tidak akan mengerti betapa biasa dan mudahnya orang yang doyan pedas untuk mengunyah segenggam paprika. Keduanya tidak akan bisa benar-benar mengerti, tapi setidaknya bisa saling menghargai.
Intinya, Kiyo tidak bisa memberikan pemahaman yang tepat untuk Lenard. Ah, lagi-lagi, Kiyo harus berusaha keras untuk mencoba menghibur seorang bocah yang hampir menangis.