“Tidak sakit,” ucap Kiyo singkat pada akhirnya.
“Benarkah? Jangan coba membohongiku, Kiyo. Aku pernah tertusuk duri saat sedang bermain di taman, dan rasanya sangat menyakitkan.” Lenard pun masih bersikukuh dengan pendapatnya sendiri.
“Tapi memang tidak sakit. Aku tidak sedang menghiburmu.” Kiyo berusaha meyakinkan sekali lagi, lebih gigih dan terdengar sedikit tidak acuh.
Namun, melihat mata bulat Lenard masih juga menatap tidak percaya, Kiyo pun memulai dengan pendekatan yang berbeda. “Bukankah aku ini seorang fakir yang kuat?”
Kali ini Lenard mengangguk. “Kau sangat sangat sangat kuat!” serunya bangga.
“Orang sekuat aku, yang bisa menyelamatkanmu dan membunuh perampok dengan mudah, pasti juga bisa bertahan dari rasa sakit, ‘kan?” Entah mengapa, rasanya Kiyo jadi memuji dirinya sendiri. Sangat memalukan jika ada orang lain yang mendengarnya berkata begitu.
Namun, berkat omong kosong itu, Lenard dengan lugu mengangguk. “Kau benar, Kiyo. Kau memang sangat hebat, dan kuat, dan cepat!”
“Heh, tentu saja. Siapa lagi kenalanmu yang lebih kuat dariku?”
Lenard mengangguk-angguk bersemangat. “Kiyo memang yang paling kuat!!!” Ia pun berseru lebih riang.
Kiyo tidak tahu harus bersikap bagaimana, sehingga ia hanya bisa menyombongkan diri supaya Lenard tidak terus-terusan khawatir padanya. “Jadi, karena aku adalah yang paling kuat, kau tidak perlu merasa cemas. Jika aku bilang tidak sakit, berarti memang tidak sakit.”
“Tapi jika sakit, maukah kau mengatakannya padaku?” pinta Lenard.
Kiyo mengangguk. “Baiklah … aku akan mengatakannya padamu. Mulutku ini sangat mudah berkata jujur.”
Mendengar itu, Lenard tertawa dengan riang. “Biasanya, aku sering mendengar bahwa orang lebih mudah berbohong. Kiyo memang sangat berbeda, ya? Kau bilang sangat mudah berkata jujur. Aku senang mendengarnya.”
Sudut bibir Kiyo tertarik ke atas. “Ooh, kau suka orang yang jujur?”
Lenard mengangguk sangat cepat. “Tentu saja! Aku keturunan Aurum. Martabatku ada pada kejujuranku.”
Kiyo benar-benar hampir tepuk tangan. Terheran-heran dengan cara seorang anak kecil berbicara mengenai martabat dan kejujuran. “Orang tuamu mengajarimu dengan baik. Kau seorang bangsawan, bukan?”
Lenard mengangguk kecil.
“Martabat seorang bangsawan memang bisa dilihat dari perkataan yang mereka lontarkan.”
Kepala Lenard meneleng sedikit. “Apakah Kiyo seorang bangsawan? Kau terlihat paham dengan apa yang kukatakan mengenai martabat. Orang-orang dari golongan rakyat biasa, terkadang sulit memahami apa yang kubicarakan. Mereka tidak mengerti mengenai etiket dan harga diri kami sebagai bangsawan.”
Kiyo terkekeh ringan. “Aku bukan bangsawan, tapi aku sangat pintar.”
Lenard mengangguk lagi. “Kiyo memang sangat pintar. Kau adalah fakir pertama yang sangat pintar, sangat kuat, dan baik hati.”
“Benarkah?”
“Ya. Kau tidak memandangku dengan kebencian, bahkan kepada orang-orang yang menculikku pun, kau juga tidak mengernyitkan mata. Kau juga tidak takut berbicara meskipun kau seorang fakir.”
“Hooo. Aku memang spesial, ya?”
Kepala Lenard mengangguk berulang-ulang. “Sangaaaaaaat spesial!”
Kiyo hanya tertawa menanggapi. Sebenarnya sedikit malu karena selalu dipuji-puji.
.
Setelah membanggakan diri untuk menenangkan Lenard yang hampir menangis, Kiyo melanjutkan perjalanannya melewati hutan batu karst yang keras dan tajam. Untuk mempercepat tujuan, ia berlari dengan setengah kecepatan. Ia memperhitungkan Lenard yang ada di gendongannya, khawatir jika bocah singa ini akan kehilangan napas jika ia membawanya berlari terlalu cepat.
Untuk memperluas pandangan, kadang Kiyo melompat ke batuan yang paling tinggi, berdiri di puncaknya untuk melihat arah. Jika angin bertiup sedikit lebih kencang, ia akan memilih jalur dengan batuan yang menyebar di bawah.
Jika dipikir-pikir, seharusnya Kiyo tidak pernah takut akan tiupan angin atau apa pun itu yang membahayakan dirinya sendiri. Ia jadi lebih berhati-hati gara-gara Lenard ada bersamanya, menjadi seseorang yang perlu ia jaga.
Padahal ia tidak punya kewajiban untuk terus-terusan bersama bocah ini.
‘Jangan-jangan selama aku tidur, ada dewa yang membisikkan sutra padaku?’ pikiran Kiyo jadi ngelantur tidak tentu. Meskipun memang, selama tidur, ia sering dihantui oleh sesuatu yang magis. Kadang diperdengarkan tangisan-tangisan orang berputus asa, lalu jika ia abai, mimpinya akan membawanya ke tempat yang buruk. Namun, ketika ia mau mengulurkan tangan, ia akan dibawa ke tempat yang menyenangkan.
Jutaan tahun Kiyo mengalami hal seperti itu dalam mimpinya, jadi ia pikir, wajar jika kepribadiannya pun sedikit berubah. Padahal yang dilakukannya hanya tidur, tapi psikisnya bisa terbentuk sedemikian rupa.
.
.
.
Setelah kurang lebih dua jam Kiyo berjalan di bebatuan runcing, akhirnya ia melihat daratan berpasir. Lenard di gendongannya tertidur dengan nyenyak, bahkan sepertinya lebih nyenyak dari tidur malamnya tadi malam.
“Apa dia pikir aku ini kendaraan pribadinya?” Kiyo tidak bisa menahan cibirannya, tapi nada suaranya pun tidak terdengar marah. Ketika menghentikan langkah karena telah sampai di perbatasan antara hutan batu dan padang pasir, Lenard di gendongannya mulai membuka mata.
Anak singa yang kecil dan manis itu mengucek matanya perlahan, melihat Kiyo seolah akan mengucapkan selamat pagi, lalu tersenyum dengan lebar. “Kiyo … maaf aku tertidur,” gumamnya lirih.
“Ya, aku memang kendaraan yang nyaman.”
Lenard hanya nyengir kuda.
“Apa kau bisa berjalan sendiri? Lihat di depanmu.”
Lenard akhirnya memperhatikan sekitar, dan baru sadar jika mereka telah keluar dari hutan batu yang tajam dan menyeramkan. Namun, di depannya kini adalah gurun pasir yang tidak terlihat ujungnya. Lenard tidak tahu harus merasa senang atau tidak kali ini. Sebab, melewati gurun pasir juga bukan sesuatu yang mudah, bukan?
“Apakah kita akan berjalan melewati gurun?” tanya Lenard kemudian.
Kiyo berpikir sejenak, lalu menjawab tanpa ragu. “Ya. Di peta, jalan ini paling cepat untuk sampai ke laut. Lagi pula, tempat ekstrem seperti ini biasanya juga jarang dilewati orang. Bahkan tempat ini ditandai sebagai wilayah berbahaya. Jika para perampok itu menandai tempat ini sebagai lokasi yang tidak boleh dilewati, berarti orang lain pun tidak akan pergi ke sini.”
Lenard tidak begitu mengerti, tapi ia sedikit mengerti. “Baiklah, aku akan berjalan sendiri, Kiyo.”
Kiyo pun menurunkan Lenard dari gendongannya, meletakkan bocah kecil itu di atas pasir yang lembut.
Namun, setelah menginjak pasir, Lenard jadi bisa melihat betapa kaki-kaki Kiyo dipenuhi darah. Wajahnya pun seketika merengut ingin menangis. “Ki-Kiyo … kakimu sangat berdarah. Apakah benar tidak sakit jika sudah begitu?”
Seperti biasa, Kiyo hanya mengedikkan bahu. “Biasa saja. Sudah kubilang sebelumnya kalau ini biasa saja, ‘kan?”
Meskipun masih khawatir, tapi Lenard mengangguk saja. Takut dimarahi dan membuat Kiyo kesal untuk hal yang tidak perlu. Yah, mungkin Lenard hanya butuh membiasakan diri dengan perilaku Kiyo yang tidak begitu normal.