ANCIENT NEWBORN
Bertemu Makhluk Langka
.
Dibanding gurun-gurun yang pernah Kiyo datangi, gurun di tempat ini lebih tenang. Benar-benar berbeda dengan hutan batuan yang sudah dilewati sebelumnya. Entah mengapa bisa seperti itu, padahal saat dilihat dari peta, gurun ini mengarah langsung ke laut, yang artinya angin dari laut seharusnya lebih cepat menjangkau ke tempat ini daripada hutan batuan tadi.
“Aneh sekali.”
Ya, dunia ini dan segala isinya memang sangat aneh. Orang-orang punya telinga dan ekor hewan, sihir digunakan seperti seseorang menghirup udara, dan dia yang seharusnya normal malah dianggap tidak normal. Kiyo juga sangat ingat sebutan untuk orang seperti dirinya.
Fakir.
“Fakir … seperti nama orang yang tidak punya harta benda. Lebih miskin daripada orang miskin.” Seraya mengawasi Lenard yang berjalan dengan ceria mengikuti intruksinya, pikiran Kiyo mengawang tidak tentu arah.
“Kiyo, Kiyo! Pasir di sini lebih halus daripada yang ada di pantai!” Dengan wajah riang, Lenard mencoba berlarian di padang pasir. Sesekali, kakinya yang kecil tersangkut ke dalam pasir dan tidak bisa keluar, Kiyo harus menariknya supaya ia bisa berlarian kembali.
“Kau tidak pernah ke padang pasir?” tanya Kiyo seraya berjalan menyejajari Lenard yang masih berlarian.
Lenard menjawab setelah berputar-putar dan menendang pasir ke udara. “Tidak pernah. Paman Francis bilang padang pasir bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi. Ada banyak monster kuat yang bisa dengan gampang memakan anak kecil sepertiku.”
“Oh, sepertinya Paman Francis sangat ketat dengan jadwal harianmu.”
Lenard mengangguk cepat, pasir yang beterbangan menusuk matanya. Ia pun mengucek-ngucek mata seraya berjalan pelan. “Paman Francis sangat seram. Dia selalu mengatur jadwal makan harianku, jadwal belajar, jadwal bermain, tidur, mandi, cara berpakaian, kapan harus menemui Mama dan Papa, dan masih banyak lagi. Dia sangat-sangat … urm … apa ya namanya?”
“Tegas dan disiplin?” tanya Kiyo ketika berjongkok di depan Lenard dan meniup-niup mata bocah yang sedang kesulitan melihat itu.
Setelah matanya lebih segar, Lenard berseru riang. “Iya! Tegas dan disiplin.” Lalu melanjutkan, “Terima kasih, Kiyo.”
Kiyo mengedikkan bahu, tapi mendengarkan cerita Lenard dengan saksama. “Apa dia jahat padamu?”
Lenard menggeleng. “Tidak … dia bukan orang jahat. Paman Francis sangat-sangat baik. Dia bahkan sering mendongengiku sebelum tidur, menggendongku jika aku menangis, dan membelikan kukis manis saat pulang dari luar kota. Hanya saja dia sangat tegas dan disiplin.”
“Oh, dia orang baik.”
Lenard mengangguk dengan kencang berkali-kali. “Dia sangat baaaaiiiiiik.” Setelah nyengir begitu lebar, lagi-lagi kakinya terjebak di pasir dan ia tidak bisa keluar sendiri.
“Hati-hati dengan langkahmu.” Kiyo pun harus sekali lagi mengangkat Lenard ke atas pasir. Sesekali melihat ke sekitar, mewaspadai apa pun itu yang bisa saja muncul dari keheningan.
“Tapi, setelah bertemu dengan Kiyo, kini Kiyo adalah yang paling baik nomer satu,” ujar Lenard dengan pipi yang merah muda, tampaknya malu mengatakan hal seperti itu dan sengatan matahari yang intens semakin memperparah kemerahan yang menggemaskan itu.
Mendengar bagaimana Lenard menyanjungnya, Kiyo tiba-tiba tersenyum. Rasanya cukup bangga dan menyenangkan ada seseorang yang memujinya dengan tulus, walaupun selama ini ia pun cukup kenyang dengan pujian-pujian yang dilontarkan padanya. Bedanya hanya, setiap pujian selalu diselipi rasa iri dan ketakutan, sedikit berbeda dengan Lenard yang melontarkan pujian tulus dan bersih.
“Ya … itu bagus jika kau menempatkanku di urutan pertama.” Kiyo nyengir kuda.
Lenard tertawa-tawa seraya berlari dengan gembira. Namun, di tengah tawa yang murni di padang pasir yang sebenarnya tidak begitu panas, tiba-tiba sesuatu terbuka dari bawah. Pasir di sekitar terisap ke sesuatu yang seperti lubang dari dalam tanah. Lenard yang kecil juga hampir masuk ke dalamnya. Untung saja, Kiyo segera tanggap dan mengambil singa kecil itu ke gendongannya.
Ketika berhasil menghindar, lubang dari dalam tanah itu tiba-tiba bergerak ke atas, memperlihatkan sosok besar bersisik merah dengan mulut menganga lebar menghadap ke langit.
.
Itu … seperti kadal?
Kiyo menelengkan kepala seraya bertanya-tanya. “Komodo? Di padang pasir?”
Kali ini giliran Lenard yang menelengkan kepala, menatap Kiyo juga dengan mata sama penasarannya. “Komodo? Apa itu komodo?”
“Komodo adalah kadal berukuran raksasa. Makhluk purba yang belum punah dan hanya ada di Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Semua itu hanya bisa dijumpai kalau kau berkunjung ke Indonesia.”
Lenard semakin tidak mengerti, pasalnya, nama tempat yang Kiyo sebutkan pun ia tidak kenal.
“Itu ada di cerita dunia lama, kau tidak akan tahu meskipun kuceritakan hingga mulutku berbusa,” jelas Kiyo.
Lenard mengangguk-angguk saja karena kurang mengerti.
“Lagi pula, meskipun dulu Komodo disebut makhluk purba, nyatanya sekarang semua itu hanya cerita di masa lalu. Bukankah bumi baru ini punya makhluk-makhluk yang jauh berbeda? Bahkan jenis manusianya.”
“Kiyo tahu banyak hal, ya.” Lenard memuji dengan matanya yang berbinar.
Namun, belum sempat Kiyo menanggapi ucapan Lenard, kadal bersisik merah dengan ukuran sedikit lebih besar dari komodo itu mulai berlari ke arah mereka berdua.
Kiyo pun melarikan diri seraya menggendong Lenard yang memeluknya erat. Setelah beberapa langkah, ia melompat tinggi ke atas, lalu terjun bebas ke dalam pasir.
Sebelum tubuhnya terendam pasir, Kiyo membungkam hidung dan mulut Lenard, juga menyuruh anak itu untuk menutup mata.
Di dalam pasir yang menekan tubuh mereka kuat, Kiyo mendorong tubuhya untuk bisa bergerak lebih ke depan. Ketika ia merasa Lenard sudah tidak bisa menahan napas lebih lama, ia muncul ke permukaan dan berlari lebih cepat untuk menghindari komodo merah yang terus mengejarnya.
Untung saja, setelah sepuluh menit berlari menghindar, komodo yang tadinya mengejar sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Kiyo pun menghentikan langkah.
“Apa kita sudah selamat?” tanya Lenard cepat.
Kiyo mengedikkan bahu. “Mungkin saja.” Setelah melihat ke belakang, ia pun melanjutkan langkahnya dengan berjalan ringan.
“Kenapa tadi kita menenggelamkan diri di pasir?” tanya Lenard lagi. Tampaknya, ada banyak hal yang ingin sekali ia ketahui mengenai perilaku Kiyo ketika menghadapi bahaya.
“Kadal seperti itu biasanya punya penciuman yang tajam. Dengan menenggelamkan diri ke dalam pasir, setidaknya kita menyamarkan aroma tubuh meskipun sebentar.”
Lenard mengangguk. “Apakah jika nanti aku bertemu dengan kadal yang kau sebut komodo itu, juga bisa melakukan hal yang sama?”
Namun, Kiyo terkekeh ringan. “Kau harus berlatih untuk menjadi kuat dulu. Mengubur diri di pasir bukan sesuatu yang mudah, dan untuk keluar lebih sulit lagi. Jika tenagamu habis di tengah jalan, kau malah akan cepat mati. Apalagi, kadal yang tadi juga bisa bersembunyi di dalam pasir. Kemungkinan besar dia juga punya keahlian untuk menggali dengan baik.”
Mata biru Lenard terlihat membulat ketakutan. “Menakutkan.”
Kiyo mengangguk. “Berhadapan dengan reptil selalu menakutkan, tapi bukan berarti tidak bisa. Mereka sulit dijinakkan.”
“Bahkan Kiyo pun sulit menjinakkannya?”
“Aku sih bisa menjinakkan apa pun jika mau.” Meskipun sedikit membual, tapi entah mengapa Kiyo mengatakan hal seperti itu dengan percaya diri.
Lenard yang mendengar pun percaya begitu saja tanpa sedikit pun curiga.
Namun, baru juga berjalan beberapa langkah, sosok besar dari dalam pasir tiba-tiba keluar di depan keduanya.
Kiyo oun menghela napas lelah.