7.2 Bertemu Makhluk Aneh

1161 Kata
Monster apa lagi ini? Kiyo membatin lelah. Meskipun sudah ia perkirakan hal-hal seperti ini akan terjadi, tapi dari lubuk hatinya sebenarnya ia ingin melalui perjalanan yang damai-damai saja. Jika bisa, tidak ada satu pun rintangan yang berusaha mengganggunya. Itulah sebabnya, ketika bertemu dengan komodo bersisik merah sebelumnya, ia lebih memilih kabur daripada memberi perlawanan. Namun, mau bagaimana lagi. Dunia ini saja sudah aneh, pasti masalah yang ada di masa depan juga sama anehnya. Di hadapan Kiyo yang sedang menggendong Lenard, seekor monster setinggi hampir lima meter tengah memamerkan wujudnya. Monster itu, jika dilihat secara saksama, kepalanya mirip sekali dengan angler fish yang mulutnya lebar bergerigi dengan wajah menyeramkannya. Akan tetapi, bagian tubuhnya seperti katak berekor panjang, dengan sisik-sisik tebal berwarna merah menyala. Kenapa semua monster yang Kiyo temui hari ini memiliki sisik merah? Apakah karena kondisi wilayah di sini yang menyebabkan makhluk-makhluknya memiliki ciri khas tertentu? Tidak ingin ambil pusing, Kiyo berusaha untuk melarikan diri. Lagi. Sayangnya, monster angler itu malah mengejernya seiring langkah kakinya. “Apa-apaan makhluk itu?! Tidak membiarkan orang kabur darinya?” di tengah pelariannya, Kiyo menggeram jengkel. Lenard pun menyahut dengan suara yang hampir mirip teriakan. “Paman Francis bilang, monster di gurun suka memakan orang. Mungkin monster itu ingin memakan kita.” Mendengar betapa lugu jawaban Lenard, Kiyo malah terbahak sangat keras, tidak bisa menahan diri. “Mungkin dia kelaparan karena jarang ada manusia yang lewat sini,” tambahnya semakin mendramatisir. “Jika begitu kasusnya, dia tidak akan membiarkan kita kabur.” Tubuh Lenard seketika merinding, pelukannya pada Kiyo mengerat dengan kuat. “Me-menakutkan. Aku bisa masuk ke mulutnya dalam sekali hap.” Kiyo tertawa lebih keras. “Hampir saja kau jadi camilan monster, ya?” Namun, setelah tertawa-tawa tidak jelas, tiba-tiba Kiyo merasakan bahwa pengejar di belakangnya bergerak semakin cepat. Monster angler itu bukan sekadar berlari, tetapi kini melompat seperti katak. Bahkan, meskipun tubuhnya sangat besar dengan tinggi yang luar biasa, lompatannya begitu tinggi dan lincah. Kiyo benar-benar kewalahan untuk menghindar, terlebih sekarang ia ada di padang pasir, tempat yang cukup sulit untuk membuatnya berlari cepat. Pada akhirnya, bosan karena harus terus kabur, Kiyo pun menghentikan langkah, lalu detik berikutnya ia melompat ke tubuh monster angler berwarna merah. Ia naik ke atas monster, menggendong Lenard di punggung, lalu dengan cekatan memereteli sisik si monster satu demi satu. Ketika merasakan sisik tubuhnya dicopot oleh Kiyo, entah mengapa monster angler itu tidak lagi berlarian ke sana kemari. Ia berputar-putar seraya mengeluarkan suara geraman. Mirip dinosaurus di bioskop, sangat memekakkan telinga. “Tangisanmu benar-benar tidak cocok dengan wajah garangmu. Salah sendiri mengejarku,” ujar Kiyo sambil tertawa-tawa. “Jika kau diam, aku akan berhenti mencabut sisikmu.” Entah bagaimana caranya monster tersebut berkomunikasi, tapi dia benar-benar menuruti perintah Kiyo. Ia diam dengan suara yang masih merintih-rintih pedih, geramannya berubah menjadi lengkingan kecil, minta dikasihani. “Ki-Kiyo, dia bisa mengerti omonganmu?” tanya Lenard penasaran. Namun, Kiyo hanya mengedikkan bahu. “Sepertinya hanya kebetulan,” jawab Kiyo seadanya, tidak ingin mengatakan pada Lenard bahwa ia memang bisa berkomunikasi dengan memahami batin binatang. Warna energi mereka yang tertangkap mata kanannya dapat ia proses sedemikian rupa, sehingga ia terkadang bisa mengerti apa yang makhluk selain manusia inginkan. Tidak selalu bisa dilakukan, karena membutuhkan konsentrasi yang lumayan, dan sering kali membuatnya kehabisan energi. Benar-benar kemampuan unik dari Hakai yang sampai sekarang selalu membuat Kiyo terheran-heran. “Kau turun dulu, Lenard.” Kiyo menurunkan Lenard dari gendongannya, meletakkan bocah singa itu di atas punggung monster angler. “Eeeeh!! Tidak mau tidak mau, aku nanti bisa dimakan!” Namun Lenard memprotes dengan cepat, ia langsung merangkul kaki Kiyo dan bergelayut di sana, tidak membiarkan kakinya menyentuh sisik monster ganas di bawahnya. “Ooh, jadi kau tidak ingin menikmati pemandangan padang pasir dari atas sini? Kasihan monster ini … sudah berniat mengantar kita sampai ke laut, tapi kau malah takut padanya.” Lenard mendongak dengan mata bulat penuh tanya.”Mengantar kita ke laut? Monster ini?” Kiyo mengangguk. “Tapi, dia tadi mau memakan kita?” kepala Lenard meneleng menggemaskan. “Itu kan tadi, sebelum sisiknya kucabuti.” Kini mata Lenard lebih bersinar. “Waaah, Kiyo memang benar-benar kereeeen! Sangat kereeen!” Ia pun tidak lagi bergelayut di kaki Kiyo, dan malah melompat girang di atas sisik monster angler. Perasaan takutnya teralihkan dengan mudah. “Ya, sekarang duduklah dengan tenang.” Lenard mengangguk bersemangat. Ia menuruti Kiyo yang menyuruhnya duduk, dan wajahnya berseri-seri ketika Kiyo duduk di sampingnya. “Benar-benar kereeeen, Kiyo!” Lenard memuji lagi, matanya menatap Kiyo dengan binar yang sangat terang. “Ini pertama kalinya aku melihat seseorang bisa mengendarai monster dan bahkan bicara dengan mereka!” “Yang benar? Memangnya keluargamu tidak memiliki monster untuk dipelihara?” Kepala Lenard meneleng ke kanan. “Keluargaku punya banyak singa peliharaan, mereka besaaaaar sekali. Tapi, kami tidak pernah memiliki monster liar untuk dipelihara. Kerajaan sepertinya melarang hal seperti itu.” “Yang benar? Berarti, jika sekarang aku ketahuan bisa mengenalikan monster, aku bisa ditangkap, dong.” Lenard mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu, Kiyo. Coba saja nanti tanya pada Paman Francis. Dia tahu banyak hal. Aku yakin, dia juga bisa menjawab pertanyaanmu dengan mudah.” “Sebenarnya aku tidak begitu ingin bertemu dengan Paman Francismu itu.” “Eh?!! kenapa?” Wajah Lenard yang terkejut terlihat menarik di mata Kiyo, sehingga tanpa meminta izin, Kiyo mencubit pipi Lenard dengan kedua tangannya. “Paman Francismu galak. Dia pasti akan memarahiku karena aku suka berbuat nakal.” “Adududuh.” Lenard mengusap-usap pipinya yang memerah. “Paman Francis memang galak, tapi seperti yang kau pernah bilang kan? Dia orang yang tegas dan disiplin. Paman Francis tidak akan memarahi orang lain tanpa alasan.” “Yang benar? Contohnya seperti apa?” Kali ini Lenard mengedikkan bahu. “Aku tidak bisa memberi contoh. Tapi Paman Francis hanya menghukumku jika aku memang melakukan hal yang salah. Aku sendiri tahu kok kalau aku salah.” “Yang benar?” Kali ini Lenard tidak tahan untuk menggembungkan pipinya. “Kiyo! Kenapa kau selalu bertanya ‘yang benar yang benar’ terus?” Mendengar itu Kiyo malah terbahak-bahak. “Hanya kebiasaan, kebiasaan. Kenapa kau jadi kesal padaku?” “Aku tidak kesal, Kiyo. Aku hanya bertanya.” “Yang benar?” “Tuh, kau melakukannya lagi.” Kiyo semakin tergelak. “Maaf-maaf … aku tidak akan menjahilimu lagi. Ayo, kita mengendarai monster ini lebih cepat supaya cepat sampai.” “Bisakah?!” Mata Lenard yang sempat terlihat kesal, kini kembali berbinar. “Gampang … gampang.” Kiyo tersenyum miring. Ia pun mulai memusatkan energinya untuk kembali bisa berkomunikasi dengan monster angler yang ia kendarai. Beberapa saat kemudian, monster tersebut berlari dengan cukup cepat. “Uwaaa, hebaaat hebaaat!” Lenard berseru girang. “Let’s go!!” seru Kiyo sambil mengepalkan tangannya ke atas. Lenard yang melihat juga ikut mengepalkan tangannya. “Le-letgo!” Bahkan ia menirukan ucapan Kiyo yang terdengar asing. Kiyo tertawa, dan Lenard ikut tertawa. Bersama-sama, mereka berseru berulang ulang, “LETS GO! LETS GO!” Benar-benar pemandangan yang sangat kekanakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN