8. Mencari Paus, Menyeberangi Lautan

1090 Kata
ANCIENT NEWBORN . Langit biru membentang sejauh mata memandang. Padang pasir di depan mata seperti brown sugar yang tumpah dari toples kaca. Angin yang menerpa wajah tidak begitu kencang, hanya semilir kecil dan sebenarnya terasa menyegarkan. Sepanjang menaiki monster besar yang seperti angler fish, Kiyo dan Lenard bernyanyi-nyanyi sesuka hati, keduanya berteriak seperti menikmati pesta karaoke. Padahal, Kiyo tidak pandai bernyanyi, dan Lenard hanya tahu lagu anak yang biasa didengar saat pergi ke acara amal. Namun, siapa yang peduli. Bukankah kesenangan konyol semacam ini adalah salah satu cara terbaik menikmati kehidupan? Bahkan, monster angler yang mereka kendarai juga ikut melompat-lompat girang. Dalam hati, Lenard sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa jika nanti sudah sampai di rumah, dia akan menceritakan pengalaman serunya ini pada Paman Francis. Ia yakin, bahkan Paman Francis pun belum pernah menaiki monster mengerikan di padang pasir seperti dirinya. Hingga setelah kurang lebih tiga jam berada di atas punggung monster, sesuatu mulai terlihat dari kejauhan. Lenard yang antusias tidak tahan untuk segera berteriak, “Itu laut! Kiyo, itu laut!” “Oho… lebih cepat dari yang kuperkirakan. Kebetulan sekali, sebentar lagi matahari pasti akan semakin terik. Setidaknya kita sudah keluar dari gurun.” Lenard berdiri lalu bergoyang-goyang seru. “Laut, laut, laut.” Pinggulnya yang kecil bergerak ke kanan dan kiri, dan ekornya melecut-lecut mengikuti gerak tubuhnya sendiri. “Kiyo, apakah kita akan menyeberangi laut?” tanyanya kemudian. Kiyo mengangguk, lalu menjelaskan. “Sebenarnya akan lebih mudah jika ada dermaga di sekitar, tapi akan sangat beresiko jika kita berada di keramaian. Aku akan cari cara lain untuk menyeberang ke benua Gallisia.” “Apa kita akan naik monster lagi?” tanya Lenard semakin penasaran. Nada suaranya dipenuhi harapan. Melihat bagaimana mata Lenard yang penuh binar, dan memikirkan betapa gembiranya bocah kecil ini saat menaiki monster di gurun, Kiyo pun dengan sembarangan menjawab, “Akan kucarikan.” “Hm?” kepala Lenard meneleng ke kanan dengan sangat menggemaskan. “Akan kucarikan monster yang bisa membawa kita menyeberang.” “Sungguh?! Sungguh, sungguh, sungguh?! Kita akan naik monster lagi?” Kiyo mengangguk acuh tak acuh. “Gampang lah. Banyak cara untuk sampai ke seberang.” Lenard segera menerjang Kiyo dan memeluk leher penyelamatnya itu dengan sangat erat. “Kiyo memang yang paling keren. Sangat sangat keren.” “Daripada hanya memujiku dan mencekik leherku, kenapa tidak memijat bahuku? Aah, pegal sekali menggendongmu sejak kemarin.” Bibir Kiyo tertarik ke atas, saat Lenard melihatnya ia berpura-pura merasa lelah. Tanpa banyak berkomentar, Lenard segera ke samping tubuh Kiyo, lalu memijat sebelah kiri bahu Kiyo menggunakan tangan kecil dan mungil miliknya. “Aku akan memijatmu kapan pun kau mau, Kiyo. Katakan padaku jika kau membutuhkanku.” Sebenarnya, Kiyo ingin terbahak-bahak. Namun, melihat wajah Lenard yang bersungguh-sungguh, ia hanya nyengir lebar. . . . Pada akhirnya, mereka sampai di pantai sepuluh menit kemudian. Setelah turun dari monster angler dan membiarkan monster itu kembali ke gurun, Kiyo menggandeng Lenard untuk berjalan di tepi lautan. Menggunakan mata kanannya, Kiyo mencari arah yang tepat untuk mengantar Lenard pulang. Aura serupa emas memanjang dari tubuh Lenard sampai ke lautan yang tidak terlihat ujungnya. Saat Kiyo menutup mata kirinya, mata kanannya melihat semakin jauh dan jauh, dan menemukan aura emas serupa yang terkumpul di satu titik dalam jumlah luar biasa besar. “Masih terus ke utara … menyeberang laut ke utara.” Kiyo menggaruk-garuk kepala. “Kau duduk di sini dulu, aku akan mencari sesuatu di bawah sana untuk membawa kita menyeberang.” Ia menunjuk ke arah laut, lalu melepas pakaian atasnya. Lenard yang sudah terlalu nurut pada Kiyo, kali ini pun menerima perintah dengan lapang d**a. Ia duduk di pasir pantai yang lebih kering, sedikit menjauh dari ombak karena takut tiba-tiba terseret. Ia tidak mau mati konyol ketika Kiyo sedang pergi darinya. “Berapa lama kau akan ke sana, Kiyo?” tanya Lenard ketika melihat Kiyo melakukan sedikit peregangan. “Tidak akan lama. Aku juga tidak bisa terlalu lama di dalam laut, napasku tidak begitu panjang.” Lenard mengangguk-angguk. “Aku akan menunggumu, Kiyo.” “Jika ada apa-apa, teriak saja, aku pasti mendengarmu.” Kepala Lenard meneleng ke kiri. “Paman Francis bilang, di dalam laut kau tidak bisa mendengar suara dari atas. Apakah kau bisa mendengar suaraku, Kiyo?” Kiyo mengedikkan bahu. “Bisa dengar, mungkin. Jika suaramu cukup keras, sepertinya bisa,” jawabnya asal. “Lagi pula, bukankah aku ini spesial? Memangnya apa yang tidak bisa kulakukan?” Wajah Lenard yang sempat terlihat khawatir mulai kembali cerah. “Kau benar, Kiyo. Aku percaya padamu. Kau selalu memperlihatkan keajaiban padaku, aku tidak akan meragukanmu.” Tawa Kiyo lantas terdengar jelas. “Kau benar-benar penurut. Aku jadi khawatir kau akan kembali diculik karena terlalu penurut.” Tiba-tiba saja Lenard tampak panik. “Mana mungkin! Aku … Paman Francis bilang aku cukup pintar. Mana mungkin gampang diculik.” Setelah mengatakan itu, ia terkesiap sendiri, lalu menundukkan kepala. “Aku memang mudah diculik. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa ketika disekap.” Menghela napas kecil, Kiyo pun menepuk kepala Lenard pelan. “Tidak mudah bagi anak kecil untuk berhadapan dengan orang dewasa. Kau masih punya banyak waktu untuk belajar dan berlatih menjadi lebih hebat.” Mengusap ujung-ujung matanya, Lenard pun tersenyum kembali. “Aku akan berusaha keras, supaya ketika besar nanti, aku bisa sehebat Kiyo.” Tangan Kiyo pun menggusak rambut Lenard dengan keras, lalu tertawa dengan ringan. “Ya ampun, aku jadi geli mendengarnya.” Lenard hanya menelengkan kepala. “Sudahlah, aku pergi dulu. Mendengarmu curhat tidak akan ada habisnya.” Meskipun mendapat tanggapan yang sedikit kasar, tapi Lenard malah terkekeh riang. Entah mengapa, cara bicara Kiyo yang seenaknya, seolah sudah terbiasa diterima telinganya. . . Tanpa banyak bicara lagi, Kiyo pun mulai menyelam ke lautan. Mencari warna aura yang energinya paling besar. Semakin ke dasar, semakin ia menemukan banyak entitas dengan energi yang luar biasa. Namun, demi keamanannya sendiri, ia memilih sumber energi yang warnanya paling damai. Tidak begitu jauh, ia menemukan warna biru muda yang terang menyelimuti sesuatu. Di balik bebatuan kristal, di kedalaman 150 meter, Kiyo mendapati seekor paus yang tampak tidur nyenyak seperti seorang ratu. ‘Bagaimana bisa mamalia satu ini tidur di bawah air begini? Tidak mungkin dia sedang tenggelam, kan?’ Meskipun keheranan, tapi Kiyo selalu mengingatkan dirinya sendiri, bahwa di dunia ini semua bisa terjadi berkat sihir yang melimpah ruah. Manusia binatang saja ada, jadi paus yang mampu hidup di dasar laut dalam waktu lama sambil tiduran pun pasti ada. Perlahan dan sedikit hati-hati, Kiyo pun mulai bergerak semakin mendekat. Ia harap, ia dapat bernegosiasi dengan makhluk itu tanpa banyak drama menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN